3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Tiga Hari, Lima kota Dijelajahi – Beberapa minggu yang lalu, saya bersama keluarga melakukan perjalanan ke luar kota yang bisa dibilang cukup melelahkan. Rencana perjalanan ini sebenarnya sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya ketika suami menerima surat undangan pernikahan dari temannya di kota Tangerang. Acara puncak digelar hari minggu malam. Maka kami memperkirakan akan berangkat hari Sabtu dan pulang hari Senin. Kami mulai menimbang-nimbang, berapa budget yang perlu kami sediakan, mau naik apa, nginep dimana dan lain sebagainya. Kami berempat : saya, suami, si sulung kelas 3 SD dan si kecil masih Batita.

Ada plan A, B dan C yang kami susun. Semuanya berdasarkan pertimbangan ini itu. Yuk, mari kita bahas satu persatu. 🙂

Plan A

Dari Jogja ke Tangerang naik pesawat pulang pergi.

Dengan catatan : harga pesawat pas promo murah.

Saya sempat mengintip harga pesawat dari satu maskapai penerbangan yang terkenal murah saat promo sebulan sebelumnya, cukup terjangkau, beda tipis dengan harga kereta api eksekutif. Cukup Rp. 320.000 saja. Dari segi waktu jelas ini murah dan selisih  yang cukup lumayan bila dibandingkan dengan kereta api eksekutif tujuan Jakarta seharga Rp. 350.000. Setidaknya kami sudah ada gambaran, tapi tak perlu buru-buru pesan tiket.

Plan B

Dari Jogja ke Jakarta naik kereta api. Lalu naik TransJakarta ke Tangerang

NB : Jika waktunya cukup longgar, tak terburu-buru

Keuntungannya jika naik kereta api, tentu lebih bisa menikmati suasana. Apalagi si kecil belum pernah merasakan naik kereta api. Harapannya, tentu supaya semua senang dan bahagia menikmati perjalanan yang cukup jauh.

Plan C

Dari Wonosari naik bus jurusan Tangerang

NB : Opsi terakhir jika repot harus ke bandara atau ke stasiun dulu yang cukup menyita waktu

Jadi, kondisinya kan saya dan suami itu buka usaha di rumah, ada toko yang harus dijaga. Jika 3 hari toko tutup, bisa dikatakan omset akan menurun cukup lumayan. Kalau rencananya hari Sabtu siang berangkat dari depan rumah, berarti kan toko bisa buka setengah hari tuh. Lalu tinggal duduk manis di depan toko menunggu bus datang langsung deh sampai Jakarta. Iya, lho..hampir setiap saat bus besar jurusan Jakarta lewat di depan toko kami. Jadi kan cukup menghemat waktu ke bandara atau stasiun jika naik pesawat atau kereta api. Berangkat dan pulang sudah langsung sampai depan rumah.

Tapi, naik bus itu kan lumayan melelahkan ya. Perjalanan 10 jam, belum kalau di jalan macet. Lalu jika si kecil muntah bagaimana. Lha wong pernah si Kecil saya ajak naik bus dari Wonosari ke Jogja aja muntah kok. Hadeuh..Terbayang deh repotnya. Hm..sebaiknya naik apa dong?

Baca : Ada Apa Dengan Pantai Baron?

Ternyata Muncul Plan D

Waktu terus berjalan, tinggal menghitung hari nih. Masih bingung belum menentukan pilihan mau pesan tiket apa. Sebelumnya, saya sudah mengontak satu saudara sepupu di Cileungsi barangkali waktunya longgar, saya sekeluarga bisa mampir dan singgah di rumahnya jika urusan sudah kelar. Dia merespon dengan sangat baik dan bersiap akan menjemput di bandara ataupun stasiun atau dimana saja yang dekat daerahnya supaya saya bisa sampai rumahnya. Ok, siap..

Lalu, tak lama berselang, ada pesan via WhatsApp dari mama saudara sepupu yaitu tante saya yang tinggal di Jabong dekat Bandung. Beliau mendengar kalau saya dan keluarga akan ke Jakarta.

Maka muncullah opsi,”Mba Yuli naik kereta api ke Bandung aja, nanti dijemput di stasiun. Nanti siangnya diantarkan ke rumah Nurul (saudara sepupu).”

Hm..saya berembug dengan suami bagaimana sebaiknya dengan masukan seperti ini. Ternyata suami bersedia, dan langsung saya menjawab iya. Segera saya pesan tiket kereta api secara online di tiket.com untuk keberangkatan hari Jumat malam, kereta Lodaya malam bisnis harga 215 ribu. Saat saya pesan , tiket yang eksekutif seharga 285 ribu sudah habis. 🙁 Tentunya lebih nyaman dengan kursi eksekutif ya, apalagi selisih harganya tidak terlalu jauh dengan yang bisnis. Tapi gimana lagi, sudah habis. Yo wis. Karena si Kecil masih batita, maka tidak kena biaya jadi cuma bayar 3 tiket plus ada diskon 15 ribu. Lumayan yah..

Untuk pulangnya, saya pesan tiket pesawat secara online via Traveloka. Hari senin malam pukul 19.00 dengan maskapai penerbangan Lion Air. Harganya 333 ribu, naik 13 ribu dari harga semula 320 ribu. Tak apa, masih terhitung murah. Nah, karena si Kecil sudah diatas 2 tahun, maka tiket pesawatnya sudah bayar full. Jadi kalikan saja 4 x 333 ribu. Ok, fix. Plan D telah dipilih.

Naik Kereta Api..Tut..Tut..Tut..

Tibalah hari jumat yang dinanti. Berhubung mobil lagi rusak dan masuk bengkel, maka kami memutuskan naik kendaraan umum dimulai dari Gunungkidul. Tadinya, saya  bermaksud akan naik GrabTaxi dari Wonosari, tapi ternyata belum ada driver-nya. Ya sudah..

Sekitar jam 15.15, kami diantar naik motor sama karyawan toko kami sampai terminal Wonosari. Iya, kami naik bus jurusan Jogja sampai terminal Jogja. Ongkos bus Wonosari – Jogja 10 ribu/orang. Kami membayar 3 karena si kecil belum kena ongkos. Bus berangkat pukul 15.30. Karena bus berjalan pelan bin lambat, kami sampai terminal Jogja pukul 17.30. Dua jam-an, bo..Biasanya cukup satu jam-an lewat dikit. Hm..

Sampai di terminal Giwangan Jogja, kami langsung menuju halte bus TransJogja. Dengan tiga ribu lima ratus rupiah per orang, kami bisa keliling Jogja dan sampai stasiun Tugu Yogakarta pukul 18.30. Masih cukup waktu untuk makan malam dulu karena kereta api berangkat jam 20.00. Jadilah, kami membeli makan dibungkus untuk dimakan di stasiun saja.

Sampai di stasiun, saya takjub karena check in-nya cukup menempelkan kode barcode yang tertera di bukti booking tiket online, lalu ngeprint sendiri tiketnya. Asyiikkk..

Stasiun Tugu juga terlihat bersih dan nyaman. Berbeda dengan tampilan stasiun beberapa tahun yang lalu. Kamar mandinya juga bersih, banyak petugas kebersihan yang siap siaga membersihkan setiap waktu. Tak ada lagi tuh bau pesing dari kamar mandi di Stasiun seperti tahun-tahun yang lalu.

Kereta api Lodaya malam pun datang dari Solo Balapan tepat jam 20.00 dan sepuluh menit kemudian berangkat. Tak ada delay yang cukup berarti. Kalau, dulu kereta datang dua jam kemudian dari jadwal itu biasa, sekarang tak ada kata telat lagi. Wis, jempol deh pokoknya.

Ngecek GPS, ya Dek..Dah sampai mana nih? 🙂

Anak-anak sangat senang dan menikmati naik kereta api. Sampai stasiun Bandung pukul 04.15, sesuai jadwal perkiraan sampai. Hebat ya.

Yang jemput pun sudah stand by, berangkat pukul 03.00 dini hari dari Jabong, Subang katanya. Lebih baik menunggu dari pada telat jemput, begitu quote dari Tante saya. Luar biasa ya.. Salut!

Perjalanan dari stasiun Bandung ke rumah tante saya di Jabong, Subang ternyata cukup 30 menit saja. Dekat ternyata. Jadi daerah Jabong ini ada di tengah-tengah antara kota Bandung dan Subang. Mau ke mana-mana lumayan dekat. Enak, ya.

Baca : Mendadak Di Waduk Sermo

Yuk, Berendam Di Air Panas

Ternyata oh ternyata, rumah Tante saya dekat dengan lokasi wisata Sari Ater, tempat pemandian air panas. Cukup 5 Km saja jaraknya. Kebetulan! Langsung deh kami cuzz kesana. Wuih, ternyata lumayan rame lho. Ah, iya, ini kan weekend, hari Sabtu. Horree..

Yeay..!! 🙂

Sari Ater ini ternyata juga lumayan dekat dengan lokasi wisata Tangkuban Perahu. Sepertinya sih, air panas yang mengalir ini sumbernya juga dari kawah Pegunungan Tangkuban Perahu itu. Ih, beneran panas lho airnya. Mengandung belerang juga. Cocok buat yang kulitnya bermasalah dan gatal-gatal karena alergi. Di sekitar pemandian banyak orang yang menawarkan jasa pijat. Mereka berseragam hitam-hitam. Banyak penawaran terapi pijat untuk berbagai macam penyakit. Kebanyakan bapak-bapak sih pemijatnya.

Enaknya berendam air panas.. 🙂

Harga Tiket Masuk Lokasi Sari Ater ini 35 ribu per orang. Ada tambahan biaya fasilitas kartu untuk masuk seharga 15 ribu, yang akan dikembalikan uangnya saat akan pulang dan kartu dikembalikan.

Jadi ya, selain pemandian air panas, disini ada banyak wahana untuk anak-anak seperti trampoline, flying fox dan lain sebagainya. Karena waktu yang terbatas, kami tidak mencoba wahana itu. Saya dan suami cukup berendam kaki, sedangkan si Sulung mandi air panas di pancuran dan si Kecil tidur 🙂

Apa? Ke Jonggol?

Selesai makan siang, kami segera berangkat menuju daerah Cileungsi, Bogor. Ssstt..ternyata Cileungsi ini dekat daerah Jonggol lho, yang ngehits oleh Wakwau ituh. Perjalanan ditempuh selama 4 jam. Maklum lah, macet di daerah Cikarang. Padahal sebelumnya sih bablas lancar jaya lewat jalan Tol.

Sampai di rumah sepupu, ternyata sudah disiapkan menu masakan beraneka rupa ala Barat gitu. Apa ya namanya, Golden Blue sama Fetucini atau apa atuhlah, sampai lupa namanya saking enaknya. Semacam ayam yang dimasak di open pakai aluminium oil, terus dikasih keju..trus..wis,  pokoke lidah saya sampai terkaget-kaget saking enaknya. Memang, suami Nurul ini jago banget masaknya. Enak, yah..punya suami pinter masak ala chef.

Trus, di rumah Nurul ada Electone nya lho, ada ruangan khusus dengan lampu warna-warna ala ruang karaoke keluarga gitu. Yang main organ tunggal ya suaminya itu. Multitalenta yah..Wis, bawaannya mau pegang mike nyanyi ajah. Dari lagunya Dian Pisesha sampai Didi Kempot. Gayeennggg…

Di rumah Nurul kami nginep semalam. Trus paginya selesai sarapan, segera kami menuju kota Tangerang. Konon, di kota itu kami sudah dibookingin hotel sama yang Nikah. Thank, You, Bro!

Baca : Mau Pintar? Ke Taman Pintar, Yuk!

Let’s go To Tangerang

Kami diantar sama Tante sampai Cibubur Junction, karena Tante mau sekalian bertolak ke Bogor. Sampai di sini, saya dan si kecil segera ke toilet mall untuk numpang pipis. Lha, daripada ngompol, ya kan. Secara si kecil sudah tidak pakai diapers sejak usia 2 tahun. Pernah sih kemarin saya coba pakaikan celana popok yang ada plastik anti airnya waktu ke Balikpapan tempo lalu, khusus cuma waktu perjalanan saja supaya kalau ngompol bajunya nggak basah. Lha  kok kulitnya malah iritasi. Kasihan. Ya sudah, kali ini saya tidak pakaikan popok apapun dengan catatan sudah saya wanti-wanti kalau mau pipis harus bilang jangan langsung ngompol diam-diam.

Selesai acara ke toilet, kami menuju ke area pemberhentian bus TransJakarta di seberang mall. Cuma plang gambar bus berhenti, tanpa bangunan halte dan no petugas. Lha terus? Daftarnya dimana. Saya sempat protes ke suami sepertinya ini salah, tapi suami berkeras katanya ada petugasnya. Lha endi? Yo wis, saya mengalah. Maklum, referensi suami dari Google maps yang sepertinya akurat.

Kita nyethuk disitu. Berdiri, karena memang tak ada tempat duduk. Di pinggir jalan, banyak taksi reguler berkeliaran disitu. Suami sudah coba pakai aplikasi GrabTaxi, tapi tak ada driver yang menyahut. Ya sudah, kami menunggu bus TransJakarta lewat sambil saya menggendong si kecil dalam posisi berdiri dengan barang bawaan satu kopor, satu tas ukuran sedang dan satu ransel anak.

Semenit..dua menit..sampai berpuluh menit bus Trans yang kami nanti tak kunjung jua. Tepat di menit ke-30 muncul seorang ibu energik yang langsung bertanya.

Mau ke UKI? Yuk, patungan taksi saja. Daripada disini lumutan nunggu bus nggak datang-datang..”

Saya segera kode suami untuk naik taksi saja. Si Ibu menawar taksi. Taksi pertama bilang harga 60 ribu sampai ke UKI. Taksi kedua 50 ribu. Masih ditawar 40 ribu sama si Ibu, tapi tidak mau supir taksinya. Akhirnya deal deh di harga 50 ribu dengan catatan yang bayar tol penumpag. Akhirnya Si Ibu setuju bayar tol, dan kami membayar sisanya 30 ribu. Lumayanlah, daripada lumutan hehehe..

Sampai di UKI baru deh ada halte TransJakartanya. Gedhe lho..Kami menuju kesana naik jembatan penyeberangan. Ternyata bayar bus Trans-nya tidak cash seperti saat naik bus TransJogja. Pakai kartu Flazz BCA. Kami beli seharga 40 ribu, sudah ada saldo 20 ribu. Lalu dikurangi 10 ribu lima ratus untuk ongkos naik bus TransJakarta sampai Tangerang. Murah bingits kan..

Jadilah kami naik bus TransJakarta jurusan Grogol. Si Kecil kok ya tidur dalam gendongan. Begitu masuk bus, yang sudah penuh ada seorang perempuan muda yang memberi saya tempat duduk. Wah, baik sekali. Ternyata memang kursi di depan merupakan kursi prioritas untuk ibu hamil, ibu bawa anak dan para manula. Penumpang laki-laki duduk atau berdiri di belakang kursi prioritas. Di dalam bus TransJakarta yang ber-AC ini ada tulisan dilarang makan dan minum, dilarang merokok dan dilarang pacaran/bermesraan di depan umum karena ada gambar cowok dan cewek gandengan yang disilang. Hm..sangat memprioritaskan kenyamanan ya.

Adek tidur mulu.. 🙂

Kami turun di halte Grogol kemudian lanjut ke halte BSD Tangerang. Cukup lama kami menunggu bus jurusan BSD yang datang. Begitu datang, bus langsung penuh. Lagi-lagi ada perempuan baik hati yang memberi saya dan si kecil yang masih tidur dalam gendongan tempat duduknya. So nice..Terima kasih, ya Mbak! 🙂

Perjalanan dari Grogol sampai BSD Tangerang ini sekitar satu jam. Kami cukup kelaparan karena ternyata kami belum sempat makan siang. Oper dari satu bus ke bus TransJakarta berikutnya. Si Kakak sudah mulai ngomel kelaparan. Untung si Kecil tetap tertidur jadi tidak rewel kalau lapar.

Kami turun di BSD Plaza. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Begitu turun,  ada warung bakso. Langsung deh kami masuk ke situ. Beruntung,baksonya enak! Langsung deh kami makan dengan lahap ala orang kelaparan. Si kecil mulai bangun dan mau makan dengan lahap pula. Wah, benar-benar petualangan naik kendaraan umum, ya Nak!

Baksonya banyak. Ada bakso urat yang besar, dan bakso bulat ukuran sedang empat biji. Lengkap dengan mi dan tauge. Bakso enak ini dibandrol dengan harga 16 ribu per porsi. Worth it untuk mengobati rasa lapar kami. Beneran kenyang dan puas lho!

Selesai makan, suami langsung mengaktifkan aplikasi GrabTaxi. Beruntung dapat driver sekitar 10 menit lagi. Harganya cukup murah. Lima belas ribu saja ongkos taksi sampai ke hotel tempat kami menginap di Sapphire Sky. Memang jaraknya cukup dekat sih, tapi karena rute jalannya arus memutar jadi ya sepertinya agak jauh.

Leyeh-Leyeh Di Hotel

Kami check in hotel Sapphire Sky jam 17.30. Hotel bintang tiga ini cukup lengkap dengan fasilitas Wifi, kolam renang dan breakfast seharga 431 ribu. Itu harga promo yang biasanya  lebih dari itu. Kok saya tahu harganya? Kan dibayarin? Hehe..saya mengintip harganya saat check in.

Shower kamar mandi

Sampai di kamar, ada banyak fasilitas yang kami dapatkan khas hotel. Ada AC, TV, bed besar, Air mineral, Alat pemanas air satu set dengan cangkir, kopi, teh, creamer dan gula dalam kemasan kecil. Ada lemari dengan gantungan baju. Lalu ada brankas untuk safe deposit box. Ada juga kulkas kecil.

Adek akrobat ya.. 🙂

Masuk kamar mandi, seperti biasa ada shower dengan air panas dan dingin. Tersedia handuk putih ukuran besar 2, handuk cuci tangan 2, keset 2, tempat sampah, sabun cair dan shampoo yang diletakkan di bawah shower. Di dekat wastafel dan kaca, tersedia hair dryer. Lalu ada sikat gigi dengan pasta giginya, shower cap dan sabun cuci tangan. Cukup lengkap.

Alat ini membantu rambut saya menjadi sedikit lebih rapi 🙂

Menuju Central Restaurant

Jam 19 kurang 20 menit, kami berangkat ke tempat hajat dengan GrabTaxi. Kali ini biayanya 18 ribu. Sopirnya pendiam. Beda dengan sopir Grab tadi siang yang cukup komunikatif. Tapi ya nggak papa, yang penting sampai.

Sampai di tempat, sang pengantin sudah akan masuk memulai acara. Kami masuk di belakang pengantin. Hehe..agak telat. Kami duduk di meja nomor satu. Iya, konsepnya pesta di meja gitu. Satu meja 10 orang. Karena ada yang tidak datang, meja kami hanya ber-8 orang.

Makanan yang disajikan cukup beragam. Mulai dari sup asparagus, nasi goreng, udang, ikan, ayam semuanya ada. Perut sampai nggak cukup.

Abaikan tangan yang menutupi 🙂

Setelah memberi ucapan selamat dan berfoto kepada mempelai, kami kembali ke hotel naik GrabTaxi lagi. Kali ini biayanya 23 ribu. Lebih mahal karena jalan pulangnya lebih jauh, beda  rute dengan saat berangkat.

Sampai di hotel, kami istirahat setelah seharian capek membolang. Senang akhirnya tujuan utama telah berjalan lancar sesuai dengan rencana. Semua terasa dimudahkan.

Pagi harinya, suami dan kakak berenang. Saya dan si kecil di hotel saja. Tahu, nggak..semalam si Kecil mengompol. OMG. Untung nginepnya cuma sehari, Dek..

Kami breakfast bareng dengan teman yang menikah. O,ya belum tahu ya kalau pengantin satu hotel sama kami. Sebelumnya, kami sempat di booking-kan hotel di Sol Marina, beda dengan tempat teman menginap. Ternyata kemudian di cancel yang di Sol Marina trus dipindah ke Sapphire Sky ini. Lha malah kebetulan, kan bisa ngobrol sama mempelai.

Jam dua belas, kami dan pengantin check out. Lalu menuju rumah teman di daerah Karawaci. Karena mobil pengantin penuh dengan barang, maka kami pesan GrabTaxi lagi. Kali ini biayanya 46 ribu. Lumayan jauh, kok ya..

Sampai di rumah teman yang buka usaha rumah makan ini kami istirahat. Selain usaha rumah makan, ternyata teman kami ini juragan kos-kosan. Rumahnya tiga lantai. Lantai satu untuk rumah makan, lantai dua untuk kos-kosan dan lantai tiga untuk tempat tinggal teman kami. Rumahnya bagus. Mirip hotel juga.

Kami makan siang disini. Dimasakkan sama karyawan rumah makan teman kami. Ada onion ring, fuyung hay, kwi tie yaw dan ayam tepung. Rasanya enak.

Pulang Ke Kotaku, Jogja

Jam 15.00 kami menuju ke bandara Cengkareng diantar sang pengantin. Kurang lebih satu jam kami sampai bandara terminal 1A. Saya antri check in, lalu mendapat tiket dan mengurus bagasi.

Boarding pass kami jam 18.30, jadi masih ada waktu untuk makan malam. Kami beli makanan ayam goreng cepat saji dibungkus. Lalu menunggu di ruang tunggu gate A6. Bersyukur Lion Air tidak ada delay. Pesawat kami tepat waktu berangkat jam 19.00. Ada sedikit drama ketika si kecil tidak mau memakai sabuk pengaman dan minta saya pangku. Duh..untung Mbak Pramugari bisa membujuk hingga si kecil mau duduk sendiri. Kan sudah di atas dua setengah tahun. 🙂

Di tengah perjalanan, sempat mengalami cuaca agak buruk sehingga peringatan memakai sabuk pengaman didengungkan beberapa kali. Dan sangat terasa goncangan saat menabrak awan. Wow..saya sampai berdoa penuh harap supaya semuanya baik-baik saja.

Sayonara..

Puji Tuhan, kami mendarat di bandara Adisutjipto sesuai jadwal pukul 20.15 WIB. Pulangnya, kami mencoba pesan GrabTaxi lagi. Barangkali ada yang mau mengantar sampai Gunungkidul. Ajaib, ada driver yang menanggapi. Harga yang tertera di aplikasi 140 ribu. Cukup murah jika harus rental mobil atau pakai taksi regular.

Akhirnya pulanglah kami ke Gunungkidul dengan selamat. Sayangnya, si Kecil muntah di tengah perjalanan. Ups, maaf ya pak Sopir. Mungkin karena kecapekan. Padahal kemarin-kemarin si Kecil baik-baik aja tuh. 🙂

Ongkos taksi Jogja – Wonosari pakai aplikasi Grab

Nah, ini catatan perjalanan yang seru bagi keluarga kami. Bahagia rasanya bisa memenuhi undangan demi menjalin silaturahmi yang baik dengan saudara dan teman. Ada banyak peristiwa yang tak terduga, mendebarkan dan penuh kejutan. Baik bagi si Kecil untuk menambah pengalaman naik kendaraan umum dari ojek, busway, grabtaxi, kereta api sampai pesawat.

Happy Traveling! 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

8 thoughts on “3 Hari, 5 Kota Dijelajahi”

  1. Aku jg pernah ngalamin ank ngompol pas nginep di penginapan mba. Pdhl udh diwanti2 jgn ngompol, kalo mau pipis bilang, ttp aja. :p emaknya yang lgs heboh berusaha bersihin supaya ga ternoda setidaknya wkwkwkwk..

    Aku jg prnh bawa anak ke banyak kota gini dalam waktu singkat. Ini utk ngelatih mereka supaya kuat traveling sih, biar bisa nemenin emaknya ini 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *