Antara Saya, Emas Dan Pegadaian

emas pegadaian

Antara Saya, Emas dan Pegadaian – Awal mula perkenalan saya dengan Pegadaian adalah sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu, saya dan suami sangat membutuhkan uang cash untuk membayar tagihan giro di bank. Maklum, sebagai pelaku usaha yang masih pemula, omset toko masih tidak pasti. Hari ini ramai, besok belum tentu, pun sebaliknya. Kepiawaian dalam mengelola keuangan sangat mutlak diperlukan jika tak ingin usaha mengalami kegagalan dini.

Namun, yang namanya kepepet ternyata bisa menyerang siapa saja dan dimana saja. Tak disangka tak dinyana, saya dan suami yang ketiban apesnya. Singkat cerita, hari itu toko tidak begitu ramai. Sedangkan besok pagi ada tagihan dari suplier barang di toko kami uang sejumlah xxxxxxx rupiah. Tagihan berupa bilyet giro itu jatuh tempo besok. Hari ini, kami tidak punya dana sama sekali untuk disetorkan ke bank. Apalagi sejumlah besar tagihan itu.

Ada beberapa alternatif cara yang bisa kami tempuh sebagai solusi dari masalah ini. Pertama, pinjam uang. Tapi ke siapa ? Dan apakah ada yang mau dipinjami uang sejumlah itu dengan jangka waktu yang belum pasti untuk kami lunasi ? Lagipula kami tak ingin menanggung malu bila pinjam uang kepada teman. Kenapa ? Karena ada pepatah yang mengatakan begini :

“Jika ingin merusak pertemanan, pinjamlah uang kepadanya”

Pepatah itu kami pegang teguh walau belum tentu kebenarannya. Tergantung jenis temannya juga, kan. Banyak juga kok yang pertemanannya semakin awet karena saling pinjam meminjami uang. Dengan catatan tak ada yang dirugikan, ya ! Peribahasa itu berlaku hanya jika ada yang  meminjam uang kepada temannya lalu tak ada itikad baik untuk mengembalikan dengan berbagai alasan. Ok, skip. Lebih baik kami mencoba alternatif lain.

Baca juga : Menabung, Yuk !

Saya mencoba menggali aset apa saja milik kami yang bisa diuangkan segera. Banyak barang sebenarnya, tapi yang nilainya naik dan tidak terpengaruh inflasi cuma satu diantara seribu. Saya punya beberapa handphone dari jaman baheula. Saat dimana handphone yang bersuara polyphonic begitu ngehits. Katakan saat itu harga beli 1 juta rupiah, sekarang kalau dijual jadi berapa ? Ada yang mau 50 ribu rupiah saja sudah untung. Aduhai sekali nilai jualnya ya.

hrg emas

Beda dengan emas. Jaman saya masih SD di tahun 80-an, harga emas masih berkisar 30 ribu rupiah. Semakin lama harganya terus naik dari tahun ke tahun hingga di kisaran harga sekarang sekitar 500 ribu rupiah per gramnya. Analoginya, 30 ribu rupiah jaman dulu bisa dibelikan untuk membeli seekor anak kambing, di jaman sekarang pun bisa untuk membeli seekor anak kambing. Dengan nilai yang sama, satu gram emas bisa untuk membeli barang yang sama di jaman yang sudah beda. Ini artinya apa ?

“Emas tidak terpengaruh oleh sesuatu yang bernama inflasi”

Coba kalau saya koleksinya handphone. Bukan investasi tapi malah jadi defisit. Nilai jualnya semakin menurun dan mengarah pada harta tak ada nilainya. Itulah teknologi. Selalu ada yang baru dan yang lama tak akan bertahan dalam nilai yang sama.

invest emas

Maka pilihan saya jatuh pada perhiasan emas milik saya dan anak saya. Aha ! Walaupun hanya beberapa gram saja, namun kalung dan gelang kami cukuplah untuk menutup kekurangan dana besok. Apakah emas-emas itu akan dijual ? Jelas saya menolak tegas jika harus dijual. Emas itu harta simpanan kami. Lha kalau dijual apakah nanti kami sanggup membelinya lagi ? Belum tentu kan.

Dan yang cukup memberatkan untuk melepasnya adalah nilai historis yang terkandung dari emas itu. Ada kalung, cincin,anting dan gelang yang saya beli dari hasil jerih payah saya bekerja sebagai karyawan dulu. Ada juga kalung pemberian bos saya sebagai kenang-kenangan saat saya resign mau buka usaha sendiri. Dan ada pula gelang pemberian dari bos suami saya untuk anak kami. Semuanya sangat berat jika harus dijual.

Di saat galau itulah, sayup-sayup saya mendengar lagu dari Almarhum Gombloh yang berjudul Kugadaikan Cintaku. Seketika itu saya langsung mendapat ide cemerlang. Jika cinta saja bisa digadaikan, apalagi emas !

Pagi harinya, dengan membawa emas simpanan, saya berangkat ke kantor pegadaian terdekat. Petugas menyambut saya dengan ramah dan menanyakan keperluan saya. Ternyata syarat untuk gadai emas sangat gampang. Saya cukup menyerahkan fotocopy KTP yang masih berlaku dan mencantumkan nomor telepon lalu menyerahkan emas saya sebagai barang jaminan kredit pinjaman saya di pegadaian.

Lalu emas saya ditimbang, dan saya menerima uang cash sejumlah 85% dari taksiran harga emas. Prosesnya sangat cepat dan tidak berbelit. Cukup 15 menit saja. Saya pun merasa lega dan aman jika emas saya digadaikan di pegadaian. Yah, hitung-hitung titip barang berharga dan kalau mau ambil barang itu tinggal ditambah bayar sewanya saja.

Apakah biaya administrasi  di Pegadaian mahal ?

Biaya administrasi (sewa modal) di Pegadaian :

  1. Rp 100 rb s/d Rp 5 jt = Rp 15.ooo
  2. Rp 5,010 jt s/d R 10 jt = Rp 25.000
  3. Rp 10,10 jt s/d Rp 20 jt = Rp 40.000
  4. dan seterusnya (biaya administrasi terus bertambah tergantung nilai pinjaman

O,ya maksimal peminjaman kredit di pegadaian ini 4 bulan dan dapat di perpanjang dengan cara membayar sewa modal saja atau mengangsur sebagian uang pinjaman.

Nah, begitu mendapat pinjaman uang dengan jaminan perhiasan emas di Pegadaian, saya langsung menyetorkan uang itu ke bank sebelum dana saya ditarik oleh pemegang bilyet giro dari saya. Bisa gawat kalau telat, Surat Peringatan (SP) dari bank bisa menjadi mimpi buruk buat kami.

Hiii..

Untung ada Pegadaian. Benar-benar klop dengan slogannya. Ada yang tahu slogan Pegadaian itu apa ? Nih, buat yang belum tahu atau yang lupa.

“Pegadaian Mengatasi Masalah Tanpa Masalah”

Apa saja yang bisa digadaikan di Pegadaian ?

Semua barang berharga bisa digadaikan di Pegadaian. Mulai dari emas, kendaraan, televisi, dan barang berharga lainnya. Jika barang yang dijaminkan tidak mampu ditebus, biasanya akan dilelang oleh Pegadaian dan hasil pelelangan digunakan untuk membayar kredit yang dipinjam.

Selain dapat menggadaikan barang untuk mendapat kredit pinjaman, sekarang banyak hal yang bisa dilakukan di Pegadaian. Ada tabungan emas, arisan emas dan bisa pula menitipkan emas di safe deposit box Pegadaian. Keren kan ?

Akhirnya Saya Punya Tabungan Emas !

IMG_20160516_0005

Cerita tentang saya yang menggadaikan emas adalah masa lalu. Puji Tuhan, sekarang usaha mulai berjalan lancar dan saya tidak perlu menggadaikan emas lagi untuk membayar tagihan bank kecuali pas kepepet.

Saya harus mulai memikirkan untuk memperbanyak aset dan investasi. Iya dong, semua orang termasuk pelaku usaha harus punya aset dan investasi. Kita kan tidak pernah tahu dengan kelangsungan usaha. Contohnya saat krisis moneter melanda di tahun 1998, banyak pelaku usaha yang mengalami kebangkrutan. Kalau tidak punya aset dan investasi, apa yang dapat dilakukan ? Nangis sudah pasti !

emas 2

Pada tanggal 16 April 2016 yang lalu, saya mengikuti acara Roadblog 1o kota di Indonesia yang diselenggarakan oleh Excite di Sky Lounge Neo Hotel Yogyakarta. Di acara ini, saya ketiban banyak rejeki. Salah satunya adalah mendapat voucher gratis 50 ribu untuk membuka tabungan emas di Pegadaian. Yup, Pegadaian menjadi salah satu sponsor di acara itu. Pucuk dicinta ulam tiba ! Pas banget karena saya lagi memikirkan cara menambah investasi.

IMG_20160516_0003

Kesempatan ini tak saya sia-siakan. Secara, voucher itu hanya berlaku di tanggal itu. Jadi saya langsung menghubungi petugas pegadaian yang stand by disitu. Saya tinggal menyerahkan KTP untuk di foto copy lalu mengisi formulir pendaftaran. Setelah itu saya diberi surat tanda bukti untuk mengambil buku tabungannya di Pegadaian yang ada di daerah saya yaitu Gunungkidul.

Karena kesibukan, saya baru bisa mengambil buku tabungan emas dua minggu kemudian di kantor Pusat Pegadaian di kota Wonosari, namanya UPC Gunungkidul.

Apa Sih, Tabungan Emas Itu ?

tabungan emas
Sumber gambar dari materi Pegadaian acara Roadblog 2016

Tabungan emas di Pegadaian  adalah salah satu cara menabung dengan saldo nominal  yang dikonversikan menjadi saldo emas. Siapa saja boleh menabung. Tak harus menunggu punya uang banyak, dengan lima ribu rupiah saja sudah bisa. Apa ? Lima ribu ? Iya, lima ribu rupiah itu berarti 0,01 gram emas jika asumsi harga emas sekarang 500 rb/gram.

Harga saldo emas ini update tiap hari. Jika saldo emas kita sudah mencapai minimal 1 gram, dan kebetulan kita lagi butuh uang kita bisa mengambil uang dari tabungan ini dengan cara menjual emas kita kepada pegadaian. Jadi misalnya kita punya saldo 2 gram emas, kita bisa menjual yang 1 gram sesuai harga pasaran emas saat itu. Nanti kalau kita sudah punya uang, kita bisa membelinya kembali dengan cara menambahkan saldo tabungan sesuai harga emas yang berlaku.

emas pgdn
Sumber gambar dari materi Pegadaian acara Roadblog Jogja 2016

Saldo emas yang ada di tabungan ini bisa kita cetak menjadi emas koin atau emas batangan jika saldo sudah mencapai minimal 5 gram. Kenapa harus dicetak ? Karena emas bersertifikat ANTAM yang ada di Pegadaian emas ini bersifat glondongan. Jadi jika kita menginginkan untuk bisa memiliki emas itu untuk kita simpan, kita bisa request kepada Pegadaian untuk mencetak minimal 5 gram.

emas 3

Nah, sudah pada tahu kan cerita antara saya, emas dan Pegadaian.  Banyak sekali manfaat yang bisa kita dapatkan dengan mempunyai tabungan emas itu. Investasi ini bisa menjadi bekal untuk tabungan pendidikan anak nanti yang tentu biayanya sudah sangat “wow”. Kita bisa melawan inflasi dengan investasi emas.

IMG_20160502_103449
Saat menunggu antrian dipanggil petugas untuk mengambil buku tabungan emas di Pegadaian

Nah, Bagaimana ceritamu dengan Pegadaian ? 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

36 thoughts on “Antara Saya, Emas Dan Pegadaian”

  1. Wah, akhirnya punya buku rekening tabungan emas ya, Mba. Keren ya pegadaian, jika yg lain isi rekeningnya adalah mata uang, ini adalah gram emasnya. Keren!

    Sayang di roadblog kemarin, aq ga sempat bikin rekening tabung emas ih!.
    Ah iya, sukses untuk bisnis2nya dan makin banyak tabungan emasnya ya, Mba. 🙂

  2. Tabungan Emas, memang masih terdengar asing di telinga saya. Ternyata benar, karena zaman dulu, saya pernah prakerin di Pegadaian, pekerjaannya hanya tentang gadai menggadai barang-barang elektronik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *