Berapa Harga Diri Saya ?

Voucher Sodexo

Diantara kita, pasti senang jika dihargai oleh orang lain. Entah itu berupa senyuman, ucapan terima kasih atau bentuk perhatian lainnya. Namun apa yang kita rasakan jika yang kita terima sebaliknya ?  Jika ada yang meremehkan, melecehkan bahkan terang-terangan menghina dan membully. Bagaimana reaksi kita ? Actually, kita pasti akan melindungi harga diri kita sendiri.

Pepatah mengatakan :

“Jika tidak ingin dicubit, jangan mencubit”

Itu bisa berarti, apapun yang kita lakukan, akan mendapatkan balasan yang setimpal. Entah sekarang atau nanti.

Tentu sangat menyenangkan jika kita bisa hidup saling menghargai satu sama lain. Saling respek, saling mendukung untuk kebaikan bersama. Alangkah damai dan nyamannya negeri ini jika rakyatnya rukun, aman karena saling menghargai.

Proses untuk bisa menghargai orang lain ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan jika latar belakang kita saling berbeda. Tentu ada rasa jumawa jika ada yang merasa paling diantara yang lain. Merasa paling hebat, paling pintar dan paling segalanya. Orang yang haus akan penghargaan, biasanya akan mudah meremehkan orang lain untuk mendapatkan pengakuan jika dirinya paling hebat.

Belajar Menghargai Diri Sendiri

Untuk bisa menghargai orang lain, tentu kita harus bisa menghargai diri sendiri. Ketika kita merasa percaya diri, nyaman dengan diri sendiri maka akan lebih mudah untuk bisa menghargai orang lain. Ketika kita bisa menerima apapun kekurangan diri sendiri, kita pun bisa memaklumi kekurangan orang lain. Karena kita sudah mengerti dan mengalaminya sendiri.

Orang yang tidak bisa menghargai diri sendiri, biasanya akan masa bodoh dan tidak peduli kepada orang lain. Kecenderungan tidak bisa menghargai menyebabkan orang mudah menyakiti, melukai, membully dan berbuat jahat kepada orang lain. Ini yang bahaya.

Karena di dunia ini berlaku hukum sebab akibat, yang barangsiapa menabur akan menuai. Tentunya kita juga pernah mendengar soal karma. Yang artinya, apa yang akan kamu perbuat, akan kembali lagi kepadamu melalui balasan dari orang lain. Jika kita berbuat kebaikan, akan ada lagi kebaikan yang akan kita terima sekalipun mungkin ada orang yang iri hati dan benci kepada kita. Namun, jika kita berbuat jahat, pasti suatu saat akan ada kejahatan lain yang akan kita terima entah menimpa siapa. Mungkin bukan kita, tapi bagaimana dengan anak cucu kita ? Secara tidak langsung, mereka pun akan menuai resiko dari apa yang telah kita perbuat.

Tak salah jika ada  pepatah yang  mengatakan :

“Kita menanam padi maka akan ada rumput yang ikut tumbuh. Namun ketika kita menanam rumput, tak akan mungkin tumbuh padi bersamanya”

See? Ketika kita menanam kebaikan, akan selalu ada orang jahat yang iri hati mengikuti kita. Ketika kita berbuat jahat, kebaikan tak akan mau mendekat.

Bagi saya, menghargai diri sendiri sama artinya dengan memerdekakan diri dari bullying. Bisa membentengi diri supaya tidak menjadi korban, dan bisa mengendalikan diri untuk tidak menjadi pelaku.

Menghargai Orang Lain

Soal penghargaan atau apresiasi kita kepada orang lain, tentu akan berbeda satu sama lain. Penghargaan ini sifatnya berjenjang. Kita bisa melihat dari seberapa besar karya yang sudah dihasilkan. Kita bisa menghargai secara murah atau mahal tergantung kualitas karya yang dihasilkan oleh orang lain. Soal harga relatif, bisa murah atau mahal. Semakin profesional orang semakin tinggi dihargai.

Namun sebaiknya, soal harga itu tidak lantas menjadi patokan begitu saja. Ibarat minuman bersoda dengan merk yang sama, ia bisa dihargai berbeda di tempat yang berbeda pula. Di pasar, ia dihargai terjangkau. Di cafe, stratanya naik. Di hotel berbintang harganya bisa berlipat – lipat. Dan, orang mau membayar sesuai dengan harga yang sudah ditetapkan dimanapun ia berada. Itulah branding.

Kita pun bisa membangun branding seperti apa sesuai keinginan kita. Ingat peribahasa (lagi) :

“Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”

Saat kita tinggal di kampung, membaur dan ikut kerja bakti itu kewajiban. Saat tinggal di kota, mencampuri urusan orang lain bisa dianggap intimidasi.

Maka menjadi pribadi yang bisa menyesuaikan diri dimanapun dan kapanpun adalah pilihan. Dalam kehidupan ini berlaku hukum sebab akibat. Ketika kita bisa menghargai orang lain dengan baik, maka perlakuan yang sama bahkan lebih tentu akan kita terima. Ketika kita terbiasa meremehkan orang lain, maka orang lain pun akan malas menghargai kita.

Ketika kita menghargai diri sendiri, menggali potensi yang ada dalam diri maka otomatis kita pun bisa menghargai orang lain. Maka akan tercipta sinergi saling menghargai.

Berapa Harga Saya ?

Setelah kita bisa mengenali dan menghargai diri sendiri, maka kita akan menemukan sendiri berapa value kita. Berapa harga yang kita patok supaya orang lain mau membayar kita tanpa ngedumel. Ya tentu kita harus profesional. Harga yang kita patok harus sesuai dengan service yang kita berikan.

Contohnya saja, seorang Blogger mendapat penawaran kerjasama dengan sebuah brand. Pada awalnya tentu saling membentuk kesepakatan yang harus disetujui oleh kedua belah pihak. Tentu keduanya tidak ingin terjadi masalah di suatu hari nanti. Jangan sampai ada salah satu pihak yang merasa dirugikan.

Kembali ke soal berapa harga yang pantas saya berikan sebagai value, tentunya saya harus mengenal diri saya secara utuh. Saya harus tahu dimana letak kelebihan saya yang perlu ditonjolkan dan dimana letak kekurangan saya. Ketika saya fokus dan dianggap expert di satu bidang tertentu, maka saya akan berani memasang tarif expert. Namun jika saya merasa level kemampuan saya di bidang tertentu masih biasa saja, ya jangan berani-beraninya memasang tarif semena-mena. Diupayakan harus balance antara keahlian yang saya miliki dan manfaat yang diperoleh bagi orang lain. Jangan sampai mereka sudah berani bayar mahal tapi manfaat yang diperoleh tidak bisa maksimal.

Saat saya menolong orang lain atau memberikan layanan jasa bisnis tentu beda apresiasi yang saya berikan. Saya tidak masalah jika tanpa dibayar bisa menolong orang lain. Rasa bahagia dan ketentraman jiwa yang saya rasakan itu tidak ternilai harganya dari nilai uang berapapun. Namun, saya juga tidak pernah setengah-setengah dalam berkarya. Meskipun gratis, saya tetap harus memberikan layanan yang maksimal. Karena memang murni untuk pelayanan sosial, bakti sosial yang lebih membawa rasa nyaman dan damai saat bisa memberi tanpa pamrih.

Berikut beberapa tahap yang saya lakukan dalam menghargai orang lain dan bagaimana orang lain seharusnya menghargai saya :

  • Tujuan membantu : murni tanpa pamrih, maka gratis tanpa mengharap imbalan

Iya, saat kita berkecimpung di dunia pelayanan sosial, kita tidak boleh membuat perhitungan berapa waktu, tenaga dan materi yang telah kita keluarkan untuk itu. Lha kan memang tujuannya untuk menolong, bersikap empati kepada yang membutuhkan. Justru kita harus rela kehilangan banyak dari apa yang kita miliki. Remember, bahwa apa yang kita punya saat ini sifatnya hanya sementara, hanya titipan dan sewaktu-waktu bisa diambil oleh Tuhan. Maka sudah layak dan sepantasanya untuk kita bagikan kembali kepada sesama. Supaya lebih bermanfaat.

  • Tujuan bisnis : bayar

Saat kita punya bisnis, tentu tujuannya untuk mendapatkan profit. Maka ada barang, ada harga. Ada jasa, ada invoice. Tak ada yang namanya gratis  dalam bisnis, kecuali potongan harga atau bonus sebagai bagian dari promosi dan marketing. Maka, dalam hubungan bisnis, selalu dituntut sikap yang profesional. Saudara, sahabat, teman dalam bisnis harus saling support tanpa minta gratisan. Artinya, jika ingin sukses, kita harus menetapkan aturan siapapun yang membeli produk atau menggunakan jasa kita tetap harus membayar. Jika tidak membayar, maka dimasukkan dalam hutang. Tapi apa iya tega hutang sama teman sendiri ? Ini bisnis, bro..beda dengan kerja bakti!

  • Menghargai karya : apresiasi, kompensasi

Katakanlah kita suka musik Indonesia. Jika kita mengakui mencintai musik dalam negeri, tentu kita menghargai dengan mensupport untuk beli CD yang asli bukan bajakan. Atau mendownload musik yang berbayar bukan download gratisan yang ilegal. Semua cara penghargaan ini untuk mendukung kemajuan karya anak bangsa. Dengan menghargainya. Sekalipun harga yang asli lebih mahal. Tapi jika memang karya yang dihasilkan bagus, I think worth it.

Menghargai Perbedaan

Indonesia adalah negara yang kaya dengan budaya. Keanekaragaman itu adalah aset bangsa yang sangat membanggakan. Dalam perbedaan budaya yang sangat beragam itu, tersimpan begitu banyak keindahan. Keindahan yang membuat banyak wisatawan mancanegara kagum dan tertarik untuk melihat langsung budaya Indonesia.

Lha, orang luar negeri saja bisa mengapresiasi kebudayaan kita yang beragam kenapa kita yang bangsa sendiri kurang begitu peduli ? Tak jarang kita menjadikan perbedaan suku, agama dan ras menjadi bahan perdebatan yang tak berujung yang pada akhirnya bisa memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Kita baru bereaksi marah ketika kebudayaan kita diklaim oleh negara lain. Seperti batik yang di klaim milik Malaysia, masakan rendang yang diakui di negara lain.

Kita bisa menghargai kebudayaan bangsa sendiri dengan rasa memilki yang tinggi. Caranya dengan mempelajari, nguri-uri budaya sendiri dan melestarikannya. Jangan sampai di generasi keturunan kita, mau belajar budaya Jawa harus pergi ke Suriname. Lho? Padahal yang asli budaya Jawa ada disini. Maka perlu sekali generasi penerus mencintai budayanya sendiri tidak tergerus budaya asing yang masuk seperti film India, drama korea atau girlband atau boyband Korea. Percaya deh, budaya kita sendiri lebih kaya dan menarik kalau generasi muda tidak malu untuk mendalami dan melestarikannya.

Bentuk Penghargaan

Bentuk penghargaan bisa berbeda-beda. Misalnya saja saat kita menolong orang lain, ada yang cukup berterima kasih dan ada pula yang memberi imbalan sepantasnya sebagai bentuk penghargaan.

Dulu, saat saya duduk di bangku SD dan SMP, sering sekali juara kelas. Menduduki peringkat 1 di kelas, juara umum sekolah di bidang prestasi akademik  sudah pernah saya rasakan. Bentuk apresiasi yang saya dapatkan biasanya berupa piagam atau bingkisan berupa peralatan tulis menulis. Plus disiarkan di sekolah.

Sekarang, saat saya menekuni passion sebagai Blogger, banyak apresiasi yang saya dapatkan. Saat mendapat job sponsored post, biasanya bentuk apresiasi yang saya terima berupa uang yang ditransfer. Saat menang lomba blog atau menulis menerima apresiasi berupa barang, uang atau voucher belanja. Belum lama ini saya mendapatkan voucher belanja Sodexo dari menang lomba blog.

Awalnya saya tidak tahu voucher ini harus dibelanjakan dimana. Ada kekhawatiran jangan-jangan tidak bisa digunakan. Ternyata simple sekali, bisa digunakan di 269 Merchants and 14,170 Outlets. Merchant Sodexo banyak tersebar dimana-mana. Mau mengisi  bahan bakar di pom bensin, bisa. Mau belanja di alfamart atau carrefour, bisa banget. Atau mau beli buku di Gramedia, pakai saja voucher Sodexo, nggak akan ditolak. So simple, nggak repot dan gampang digunakan.

Praktis, fleksible, dan memudahkan semua pihak. Banyak keuntungan yang bisa kita peroleh dengan voucher Sodexo ini. Kita tidak perlu membawa banyak uang cash yang artinya lebih aman dan praktis. Voucher ini pun bisa kita berikan kepada orang lain sebagai gift yang tentunya akan disambut sukacita. Kita bisa memesan voucher untuk memberi apresiasi untuk karyawan yang loyal misalnya, dengan jumlah nominal yang bisa kita tetapkan sendiri mulai dari dua puluh lima ribu rupiah.

Pernah lho, waktu acara pernikahan saudara saya, angpau yang diterima ada yang berupa voucher belanja seperti Sodexo ini. Kan bisa langsung dipakai untuk belanja kebutuhan rumah tangga after married. Ya, nggak ! Tepat sasaran, yang artinya cukup efektif dan efisien ya.

sodexo4

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

10 thoughts on “Berapa Harga Diri Saya ?”

  1. Suka dengan falsafah tanaman padi dan rumput. Karena hal ini bisa membentuk kesadaran, meski niat sudah baik, akan selalu diiringi orang2 yang akan menghalangi. Jadi, yaa kaya mengingatkan, This is life dude.

    Repotnya, kalau udah kaya gitu terus jadi ga menghargai diri sendiri gara2 hal sepele, kan jadi gimana gitu…yaa mba.

    Semoga sukses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *