Ini Dia Masalah dan Solusi Pasca Menyapih!

paska menyapih

 

Suka Duka Ibu Pasca Menyapih

Proses penyapihan anak di usia 2 tahun selalu menyisakan cerita suka dan duka. Sukanya tentu karena bisa berhasil melalui proses yang tak mudah. Mulai dari menyiapkan mental ibu dan anak, menyamakan keduanya dalam kondisi sehat dan tentu segala upaya yang tidak cukup satu kali dua kali lalu berhasil. Saya saja gagal maning gagal maning sampai target menyapih molor 3 bulan. Yup, anak saya usia 2 tahun lewat 3 bulan baru bisa disapih.

Baca : Serba Serbi Menyapih

Saat menyapih, kondisi tubuh ibu ikut berproses. Perubahan fisik yang langsung kentara adalah payudara membengkak. Hal ini terjadi karena ASI masih aktif diproduksi, namun sudah tidak diperlukan tubuh lagi. Kondisi payudara yang membengkak, biasanya diikuti rasa nyeri yang membuat tidak nyaman sang ibu. Tak jarang,  tubuh pun rasanya panas dingin seperti demam.

Namun, sebaiknya kita harus tenang saat menghadapi permasalahan ini. Karena dibalik masalah, pasti ada solusi.

Nah, ini dia beberapa hal yang saya lakukan untuk mengatasi payudara bengkak berdasarkan masukan dari berbagai pihak yang mensupport saat saya agak stress pasca menyusui :

  • Kompres payudara dengan air dingin

Cara ini saya lakukan untuk mengurangi dan sedikit demi sedikit menghentikan produksi ASI. Tidak dianjurkan mengompres payudara dengan air hangat karena justru akan merangsang kembali tersedianya ASI. Padahal tujuan menyapih kan untuk menghentikan produksi ASI, ya.. 🙂

  • Perah ASI sedikit saja

Jika tidak tahan dengan rasa nyeri yang cukup menyiksa, coba keluarkan  dengan peras sedikit ASI, memakai tangan saja. Tidak perlu menggunakan alat pumping ASI. Usahakan jangan sampai payudara kosong. Karena jika dikosongkan, maka ASI akan berproduksi dan penuh kembali. Tujuan memerah sedikit hanya untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah terjadinya penggumpalan atau pengerasan payudara yang bisa memicu terjadinya kanker jika ASI tidak dikeluarkan.

Baca : Tips Supaya ASI Lancar

  • Tenangkan Pikiran

Sama seperti saat awal menyusui, setelah berhasil menyapih ibu pun harus tenang. Selain perubahan fisik, perubahan hormon juga ikut mempengaruhi kondisi kejiwaan ibu. Saat ASI diproduksi, akan diproduksi pula hormon yang membuat rasa senang sehingga ibu menyusui akan merasa happy meskipun capek. Ketika produksi ASI dihentikan saat proses menyapih, maka hormon yang menyebabkan rasa tenang dan senang perlahan ikut berkurang. Hal ini yang kadang bisa membuat ibu sedih, tidak nyaman dan bahkan ada yang sampai depresi.  Nah, sebaiknya ibu bisa menjaga pola pikir untuk tetap tenang karena proses ini sifatnya sementara dan tentu akan berakhir dengan sendirinya kan. Lama tidaknya proses pemulihan paska menyapih ini masing-masing orang tidak sama tergantung pada kondisi tubuh. Saya sendiri butuh waktu sekitar satu minggu sampai payudara saya normal kembali dari kondisi bengkak.

Baca : Hore..Masuk Majalah!

Perubahan Kebiasaan Anak

Saat ibu sibuk dengan kondisi fisik dan perubahan hormon paska menyapih, sang anak juga perlu mendapat perhatian yang lebih. Ajak anggota keluarga yang lain untuk membantu dan mendukung proses penyapihan ini supaya berjalan lancar dan tidak menimbulkan masalah baru.

Berdasarkan pengalaman saya sendiri, ada beberapa hal yang membuat anak saya mengalami banyak perubahan di luar kebiasaannya.

Baca : Seven Habits For Toddlers

Perubahan-perubahan itu antara lain :

  • Tidur Larut Malam

Terus terang, paska disapih, anak saya mengalami perubahan pola tidur. Saat masih menyusu ASI dulu, biasanya paling malam jam 22.00 anak saya sudah tidur. Meskipun siangnya tidur siang. Kebiasaan menyusu sebelum tidur membuatnya mudah terlelap. Saat tengah malam kebangun pun, bisa langsung tertidur kembali ketika disusui ASI.

Namun saat berhasil disapih, anak saya harus adaptasi membiasakan diri minum susu formula dari gelas. Awalnya agak sulit membiasakan dirinya minum susu formula sebelum tidur. Hampir selalu tidak pernah dihabiskan. Hanya diminum sedikit. Alhasil, malamnya akan sulit tidur. Tidurnya larut sekali, diatas jam 22.00. Pernah saya sampai kecapekan menungguinya baru bisa tidur jam 01.00. Duh !

Baca : Obrolan Bocah

  • Rewel kebangun Tengah Malam

Karena minum susu formulanya hanya sedikit sebelum tidur, maka bisa dipastikan si Kecil kehausan dan akan kebangun tengah malam. Bangunnya pun pakai drama menangis dan tidak sabar saat menunggu dibuatkan susu formula. Dalam kondisi sama-sama mengantuk, saya menyendoki mulutnya dengan susu formula. Awalnya jerit-jerit menolak minum susu sampai saya bingung harus bagaimana. Digendong menangis, diberi susu mulutnya tidak mau membuka. Sampai kelelahan, baru mau diberi susu sedikit demi sedikit. Mungkin si kecil kagol, harus susah payah menahan haus dan minum sedikit demi sedikit. Maunya langsung kenyang dan bisa tidur lagi. Atau senyaman saat menyusu dulu. Saya bisa menyusui sambil tiduran dan si kecil pun bisa langsung pulas.

Baca : 5 Ritual Bayi Yang Perlu Dilakukan

  • Bangun tidur kesiangan

Karena tidurnya begadang, ditambah kebangun tengah malam dengan rewel, maka keesokan harinya si Kecil akan bangun kesiangan. Biasanya, paling cepat jam 9.00 baru bangun. Saya tidak tega membangunkannya pagi-pagi karena pasti jumlah tidurnya akan berkurang. Jika si kecil kurang tidur, maka akan rewel sepanjang hari. Itu artinya, segala kegiatan saya akan terbengkalai dan saya akan mudah terpancing emosi karena saya juga lelah menjaganya semalaman.

Solusi

Karena saya dan suami tidak mau didera repot secara terus menerus, maka kami harus mencari solusi atas perubahan pola tidur si Kecil yang merembet kemana-mana. Siapa sih yang mau begadang terus menerus hampir setiap hari ? Atau mendengar tangis rewel bayi tengah malam di saat semua orang terlelap tidur ? Semua tenaga bisa terkuras habis. Dan semua kegiatan saya di malam hari jelas terganggu. Entah itu ngeblog atau kebiasaan berdua dengan suami. Lha, kalau si Kecil nggak tidur-tidur? Capek, deh..

Baca : Ritual Bersama Si Kecil

Tentu kita tidak mau si kecil puya pola tidur seperti kelelawar. Aktif di malam hari dan tidur di siang hari. Jelas pola tidur seperti ini tidak sehat. Tidur malam sebelum jam 24.00 itu penting sekali. Karena jam biologis  manusia yang tepat untuk istirahat, dimana organ tubuh seperti empedu dan jantung mengeluarkan racun di rentang waktu 24.00 hingga jam 01.00 dini hari. Sehingga begadang apalagi pada anak batita tentu bisa berdampak buruk pada kesehatannya kelak.

Maka saya dan suami sepakat untuk mulai memperbaiki pola tidur si kecil. Saat si Kecil bangun kesiangan hingga pukul 10.00, maka diusahakan agar si Kecil tidak usah tidur siang. Sehingga jam 08.00 malam sudah tidur sampai keesokan harinya. Walaupun mungkin kebangun tengah malam, namun biasanya tidak pakai rewel dan hanya sebentar saja bangun untuk minum lalu tertidur kembali.

Baca : Anakku Hiperaktif?

Kalau terpaksanya si Kecil ngantuk berat sehingga tidur siang, di sekitar jam 15.00, maka usahakan hanya tidur maksimal 1 jam. Lebih dari waktu itu, bangunkan. Karena dijamin, jika tidur siangnya terlalu lama, maka akan begadang malam harinya.

Nah, ketika sudah terbiasa tidur di bawah jam 22.00, maka pola tidurnya mulai teratur. Jika pagi hari susah bangun an ada indikasi untuk bangun kesiangan, sebaiknya dibangunkan saja. Sebagai orang tua, kadangkala harus berani bersikap tega demi kebaikan anaknya. Tak masalah jika siangnya si Kecil mengantuk dan tidur lagi. Yang penting sudah bangun pagi. O,ya..upayakan siang hari diperbanyak kegiatan supaya capek dan bisa tidur awal malam harinya. Lebih baik aktif bermain di siang hari daripada malam hari masih mengajak bermain. Saya sampai mengajak si Kecil dan kakaknya jalan-jalan sore keliling desa supaya capek dan bisa tidur tepat pada waktunya.

JJS, salah satu upaya supaya si Kecil capek dan bisa tidur malam tepat waktu
JJS, salah satu upaya supaya si Kecil capek dan bisa tidur malam tepat waktu

Jika kebutuhan tidur si Kecil tercukupi sekitar 10-13 jam sehari, maka bisa dipastikan tidak mudah rewel. Namun jika jam tidurnya kurang, siap-siap saja menghadapi kerewelannya yang tak jarang berakhir tantrum. Hm..

Baca : Hindari Stress Mental Pada Anak

Percayalah, tidur yang cukup adalah cara untuk menjaga kondisi kesehatan semuanya, baik si Kecil maupun orang tua.

Nah, demikian sedikit cerita saya paska menyapih anak. Sebaiknya memang dengan cara Weaning with Love baik saat menyapih dan pasca penyapihannya. Karena memang hanya cinta yang bisa menjadi solusi bagi permasalahan ibu dan anak ini.

Bagaimana dengan cerita ibu-ibu yang lain? Yuk, sharing!

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

7 thoughts on “Ini Dia Masalah dan Solusi Pasca Menyapih!”

  1. Hai mba Julia…emang jadi emak ribetnyaaa..tapi harus dinikmati kan ya. Saya masih 6 bulan lagi dari rencana menyapih diumur 2 tahun nanti. Semoga nggak banyak drama 🙂

  2. Hallo mbak, salam kenal. 2 minggu lagi anak kedua saya genap 2 tahun. Sekarang kami sedang mempersiapkan diri untuk proses WWL. Saya merasa akan lebih susah menyapih anak kedua ini dibanding kakaknya. Karena sampai 2 tahun dia full ASIX, dan hanya saya yang mengasuh, karena kami tinggal berempat saja. Selain ASI, anak saya hanya mengkonsumsi air putih atau jus buah, sufor selalu ditolak. Maka dari itu, saya butuh energi ekstra untuk menyapih dalam kondisi siap dan “waras” (gak emosional). Doakan saya berhasil ya Mbak 🙂

    1. Halo, salam kenal juga Mba Damar,

      Wow..harus perjuangan ekstra dari sekarang Mba..Coba kalo si Kecil tidak mau sufor, bisa diberi susu UHT, mungkin bisa suka..Pelan-pelan, kalau sudah mau, coba diberi sufor lagi..Nanti bisa repot kalo sudah disapih tapi tidak mau minum susu..

      Semangat, mba..saya doakan berhasil ya! 🙂

  3. Anak saya seminggu ini bru d sapih…smpe td mlm masi tantrum…krn dy kl mlm jg mw minum apapun…pdhal udh d sediain sgala ksukaan dy..payudara saya jg masi trs bengkak pdhal kt org2 sminggu ini masi trs bgni…d kompres air hangat mendingan tpi stlhnya bengkak lg..semoga tips dr bunda bs sya praktekin yaa..makasii bun..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *