Melahirkan Secara Normal Vs Operasi Caesar? Saya Mengalami Keduanya!

Melahirkan Normal Vs Operasi Caesar ?Melahirkan adalah kodrat sebagai seorang wanita. Perkara melahirkan secara normal atau operasi Caesar adalah pilihan. Semua tentu ada alasan yang melatarbelakanginya.  Toh, kenyataannya melahirkan itu sakit. Sakit sekali. Namun, semua rasa sakit itu menghilang begitu saja saat melihat si Kecil telah terlahir sempurna.

Apakah melahirkan secara normal kastanya lebih tinggi daripada melahirkan secara Caesar? Menurut saya, nggak juga sih. Melahirkan secara Caesar itu juga sakit lho. Apalagi sesudah lahiran. Lebih ribet bila dibandingkan lahiran normal. Tidak bisa langsung fit. Harus istirahat dulu, menunggu jahitan di bagian perut kering, sakit tulang punggung akibat dibius, dan resiko bila ada luka jahitan yang menganga. Hii..

Baca : Hamil Itu Keajaiban

Melahirkan Secara Normal

Saya melahirkan anak pertama secara normal. Namun, proses untuk menuju lahiran sangatlah berliku dan mendebarkan. Trimester pertama kehamilan si sulung, saya mengalami flek hingga sedikit pendarahan. Padahal saya masih bekerja. Flek baru berhenti setelah diberi obat penguat oleh dokter dan setelah usia kehamilan diatas 3 bulan atau memasuki trimester dua.

Konon, masalah flek ini berasal dari ketidakseimbangan hormon progesterone dalam tubuh saya saat hamil. Hormon yang membantu perlekatan janin di dinding rahim ini bisa diseimbangkan dengan obat penguat kandungan. Sebenarnya bukan penguat kandungan ya, karena rahim sendiri sudah di-design cukup kuat untuk menampung janin. Hanya istilahnya saja untuk penguat. Lebih tepatnya menyeimbangkan kandungan hormon progesterone.

Baca : Flek Saat Hamil, Ancaman Keguguran?

Setelah usia kehamilan menginjak 3 bulan, janin sudah bisa memproduksi hormon progesterone sehingga obat penguat kandungan sudah tidak diperlukan lagi. Flek bisa berhenti di trimester kedua. Untuk sementara, kehamilan trimester kedua saya relatif aman.

Namun, tak disangka tak dinyana saat usia kehamilan memasuki bulan ke-tujuh atau mitoni, saya terserang cacar air. Maka demi kebaikan saya dan janin, saya menjalani rawat inap di rumah sakit ibu dan anak selama 5 hari.

Ada drama saat saya terkena cacar air di kala hamil. Pak dokter kandungan menyatakan jika ada kemungkinan 10% janin akan terinfeksi virus yang menyebabkan Varicela ini. Imbasnya bisa berupa gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, bahkan bisa berakibat pada hidrocephalus. Deg. Saya dan suami cukup shock mendengar pernyataan ini. Dokter memberi alternatif demi menghindari resiko ini, janin bisa dilahirkan dengan operasi caesar saat usia kandungan  masih 7 bulan. Namun ketika diperkirakan berat badan janin hanya masih 1,5 kg, sang obsgyn tidak berani ambil resiko. Iyalah, merawat bayi prematur dengan berat badan yang rendah tentu sangat beresiko.

Saat itu, kami seperti berada di persimpangan. Ibarat makan buah simalakama. Maju kena mundur kena. Terlepas dari biaya perawatan yang tentu mahal dari mulai operasi caesar, lalu perawatan bayi di dalam inkubator yang tidak cukup sehari, lalu jaminan apakah bayi sehat atau tidak tentu menjadi kekhawatiran yang cukup memusingkan.

Walaupun memilih tetap melanjutkan kehamilan hingga waktunya tiba, tetap menyisakan rasa gambling yang entah. Beragam pertanyaan berkecamuk seperti : Apakah anak saya termasuk dari kemungkinan 10% yang beresiko itu? Apakah saya siap jika melahirkan anak dengan gangguan pendengaran, penglihatan atau hidrocephalus? Nyesek rasanya. Suami pun sampai menangis saat membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.

Baca : Tamu Bulanan Datang di Saat Tidak Tepat

Bagaimanapun, kami  harus segera mengambil keputusan. Toh, kedua opsi itu sama-sama beresiko. Maka saya dan suami sepakat untuk melanjutkan kehamilan hingga tiba waktunya apapun resiko yang akan kami hadapi. Belakangan, obsgyn meralat bahwa kemungkinannya resiko janin terinfeksi hanya 1%, bukan 10% seperti yang pertama kali dikemukakan. Rupanya, pak dokter salah baca. Hm, baiklah. Ralat diterima. Namun, meskipun hanya 1% kemungkinan, jika janin kami yang termasuk dari 1% itu bagaimana? Ya, semua tetap ada resikonya. Baik besar ataupun kecil.

Maka kami pasrah. Kami percaya Tuhan mempunyai rencana yang indah. Lalu kami mencoba mencari opini kedua dari dokter kandungan yang lain. Opini kedua ini cukup melegakan karena saat usia kandungan sudah memasuki trimester ketiga, janin dianggap sudah cukup kuat untuk menghadapi infeksi dari virus Varicela ini. Beda jika saya kena cacar airnya saat usia kandungan masih di trimester pertama. Kemungkinan resiko 1% itu ada.  Tapi apapun kemungkinan itu, kami harus siap menghadapi semuanya.

Kehamilan pertama saya lancar hingga bulan-bulan berikutnya dan saat hpl tiba. Anehnya, saya tidak merasakan tanda-tanda kontraksi seperti orang akan melahirkan di saat hpl. Padahal saya ikut senam hamil, jalan pagi, dan latihan mengejan untuk mempersiapkan kelahiran. Hingga hpl sudah lebih dari seminggu, dokter obsgyn memberi opsi untuk melahirkan dengan induksi. Dengan induksi, ada dua kemungkinan resiko : jika lancar bisa melahirkan secara normal, namun jika ada kendala maka dilakukan operasi caesar sebagai jalan akhir.

Induksi adalah rangsangan supaya terjadi kontraksi pada dinding rahim untuk mempercepat proses melahirkan. Proses induksi ini ada yang berupa perlakuan minum obat (oral) dan secara infus.

Baca : Hanya Keajaiban Yang Bisa

Saya mengalami kedua proses induksi secara oral dan infus. Secara oral, saya menelan pil selama 6 jam sekali supaya terjadi bukaan. Namun sampai obat habis 3 kali minum, hasilnya tidak signifikan. Meskipun perut terasa mulas lima menit sekali,  namun belum ada bukaan sama sekali. Maka dokter menyuruh saya ikut senam hamil lagi.

Perlakuan induksi pun berganti metode. Kali ini dengan infus. Ternyata cukup manjur. Saya mulai bukaan hanya dengan beberapa tetes infus induksi. Maka saat bukaan 6, saya sudah dipersiapkan masuk ke ruang bersalin.

Kecapekan karena perlakuan induksi yang menyakitkan, saya sampai muntah hingga dua kali. Rasanya lunglai. Tak ada tenaga untuk melahirkan. Alhasil, saya kesulitan untuk mengejan. Saat itu kondisi saya sudah bukaan 9.

Dokter sampai meninggalkan saya untuk menolong pasien melahirkan lainnya karena saya tidak berhasil mengejan. Entah kenapa, semua teori saat senam hamil menguap entah kemana.

Berkali-kali saya salah mengejan. Muka saya yang kelihatan mengejan, tapi bagian bawahnya tidak sama sekali. Itu kata para bidan dan suster yang membantu saya menjalani proses melahirkan. Pak suami pun ikut masuk ke ruang bersalin membantu proses persalinan saya yang cukup alot.

Saya tak ingat lagi berapa posisi melahirkan yang saya lakukan. Semuanya zonk. Suami sampai ikutan gemas. Tapi bagaimana lagi. Sarapan yang cuma sedikit saya makan, sudah muntah tadi. Saya tak ada tenaga lagi.

Akhirnya saya harus bisa memotivasi diri sendiri. Saya harus bangkit. Dibantu dengan doa dari saudara-saudara kami yang menunggu di luar, saya serasa mendapat kekuatan. Tiba-tiba saja saya berhasil mengejan sesaat dokter memberi ultimatum jika saya tidak bisa mengejan maka jalan vacum atau operasi caesar sebagai pilihan terakhir. Dokter pun gerak cepat ketika kepala bayi sudah kelihatan langsung dibantu menarik dengan menggunting bagian vagina saya. Kress..cenger..oek..oek…

Segala sakit luar biasa sirna sudah begitu mendengar tangis bayi. Dokter menjahit vagina saya pun sudah tak merasakan sakit. Hanya clekit-clekit seperti digigit semut.

Baca : Jurnal Kelahiran Andro

Persiapan Melahirkan Secara Normal

  • Mengikuti senam hamil
  • Rajin jalan kaki di pagi hari
  • Berlatih mengejan
  • Latihan pernafasan

Keuntungan Melahirkan Secara Normal

  • Rasa sakit menghilang begitu bayi berhasil dilahirkan
  • Dalam waktu sehari sudah bisa berjalan kembali
  • Tak ada keluhan yang cukup menyiksa
  • Dalam waktu seminggu sudah sehat seperti sedia kala
  • Bisa beraktivitas mengurus bayi dan menyusui bayi secara normal kembali dalam waktu singkat setelah melahirkan

Melahirkan Secara Operasi Caesar

Saya mempunyai riwayat kehamilan yang selalu mengalami flek. Dari kehamilan pertama, kedua hingga ketiga saya mengalami flek hingga pendarahan di usia kehamilan trimester pertama. Puncak kejadian dari flek hingga pendarahan ini,saya mengalami keguguran saat kehamilan kedua. Saat usia kehamilan 10 minggu, saya harus merelakan kehilangan janin saya dan harus menjalani kuretase. Sedih, tapi saya yakin Tuhan punya rencana yang begitu indah.

Selang 6 bulan setelah dikuret, saya hamil lagi. Di kehamilan ketiga ini saya tidak ingin keguguran lagi. Maka saya belajar dari pengalaman, begitu test pack positif, saya segera periksa ke dokter kandungan. Sedini mungkin periksa lebih baik daripada terlambat.

Di kehamilan ketiga ini saya juga mengalami flek, namun penangananannya lebih cepat dengan meminum obat penguat kandungan. Dan di kehamilan ini saya memilih untuk bedrest selama 3 bulan. Saya hanya tiduran di tempat tidur tanpa boleh melakukan aktivitas yang membahayakan janin. Segala urusan antar jemput si kakak dan urusan domestik, suami bisa meng-handle. Untunglah. Kami memang tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dengan janin saya.

Kehamilan mulai lancar di usia kehamilan memasuki trimester kedua dan selanjutnya. Seperti meniru sang kakak, si adik juga molor lahirnya dari HPL. Saya harus masuk rumah sakit dan rencana diinduksi di usia kehamilan 41 minggu. Tapi ternyata, kondisi kehamilan saya kali ini berbeda dengan kehamilan yang pertama.

Jika sang kakak cukup kuat mengalami proses induksi selama hampir 24 jam, si adik tidak. Saat rekam jantung, si adik kurang reaktif gerakannya. Itu artinya, dokter tidak berani mengambil resiko induksi begitu saja. Jika dipaksakan, janin bisa mengalami stress. Maka menurut keputusan dokter, saya harus melahirkan di meja operasi. Saya melahirkan dengan cara operasi caesar.

Yang saya ingat saat menjalani operasi caesar adalah ruangan operasi yang sangat dingin dan terang penuh dengan lampu. Saya dibius dua kali di bagian punggung oleh dokter anestesi. Saya masih tersadar saat perut saya dibedah tanpa rasa sakit. Ya, saya sepenuhnya sadar namun bagian perut ke bawah mati rasa karena dibius. Ada pembatas seperti tirai di bagian perut saya sehingga saya tidak bisa melihat secara langsung proses operasi. Saya hanya bisa mendengar secara jelas riuhnya dokter yang minta ini itu pada perawat yang membantu.

Saya merasakan pusing dan mual ingin muntah sesaat setelah dibius. Duh, rasanya campur aduk. Bagaimana mungkin saya bisa muntah jika perut saya sedang dibedah? Saya ingat, ada suster perawat yang menenangkan saya. Hingga kemudian saya seperti tertidur. Saya tak tahu apakah seharusnya saya bisa tertidur atau tetap terjaga. Atau mungkin ini karena pengaruh obat bius. Yang jelas, saya seperti berjalan di alam yang lain, penuh dengan cahaya putih. Saya tersadar ketika mendengar suara tangis bayi yang kemudian disodorkan pipinya kepada saya untuk dicium. Bayi itu sangat cantik. Cocok dengan prediksi jenis kelaminnya saat USG dulu. Perempuan.

Baca : Jurnal Kelahiran Rea

Lalu saya mendengar dokter berkata, “Mbak, berdoa..kenapa ini tidak bisa kontraksi..?”

Dalam keterkejutan, saya berdoa, memohon kemudahan kepada Tuhan. Semoga ini bukan pertanda buruk.

“Mbaknya habis ngapain? Sepertinya kecapekan sampai tidak bisa kontraksi..”

Entahlah, dok. Yang jelas saya sangat sibuk saat hamil dulu. Aktivitas saya sangat padat merayap. Mungkin itu jadi penyebab kenapa rahim saya tidak bisa kontraksi saat ini.

Lalu saya tak ingat apa-apa lagi. Saya kembali berjalan dalam kesunyian, penuh dengan cahaya putih. Rasanya damai, nyaman dan tenteram. Saya ada dimana? Entahlah.

Saya terbangun dalam keadaan menggigil. Dingin sekali rasanya. Tubuh terasa kaku. Tak bisa digerakkan, bahkan untuk sekedar miring ke kiri atau ke kanan. Rasanya nyeri. Aduh!

Hari pertama, saya masih tiduran di tempat tidur. Mencoba miring rasanya sakit sekali. Tapi kata dokter, saya harus melatih supaya otot-otot tidak terlalu lama kaku. Sesakit apapun, saya mencoba untuk bisa miring. Rasanya seperti belajar bergerak dari awal. Sangat beda rasanya saat saya melahirkan secara normal dulu. Tidak sesakit ini setelah melahirkan.

Dokter pun bercerita, saat saya tidak bisa kontraksi kemarin, dokter melakukan segala upaya termasuk dengan penjepitan pembuluh darah yang menghabiskan dua set alat. Dalam keadaan normal, biasanya hanya dibutuhkan satu set alat saja. Bahaya dari tidak terjadinya kontraksi adalah terjadinya pendarahan yang bisa mengancam jiwa saya. Untunglah, saya masih diberi kesempatan menikmati hidup dengan upaya dokter yang berhasil membuat rahim saya kontraksi kembali. Syukurlah..

Pasca menjalani operasi caesar, saya belajar banyak hal secara bersamaan. Melatih otot, gerak, dan berjuang supaya ASI lancar. Karena bayi saya termasuk well baby, yang artinya sehat tanpa harus mendapat perawatan bayi secara khusus seperti kakaknya dulu, jadi bisa langsung disusui setelah saya berada di kamar. Yang artinya saya harus segera memproduksi ASI sebanyak-banyaknya. Rasa sakitnya dobel-dobel. Tapi ini harus saya jalani sebagai seorang ibu. Memang beda rasanya ketika melahirkan secara normal atau pun caesar. Tapi keduanya mempunyai resiko. Jika mengalami pendarahan, nyawa bisa terancam.

Fakta tentang operasi Caesar menurut pengalaman saya, tanpa bermaksud membandingkan demi tujuan yang tak perlu, akan saya tuliskan disini.

Fakta Tentang Operasi Caesar :

  • Biayanya mahal
  • Sebaiknya dilakukan jika ada alasan medis yang kuat demi keselamatan ibu dan bayi
  • Waktu pemulihan lebih lama
  • Daya tahan tubuh menurun setelah operasi caesar, misalnya saya sering terserang masuk angin dan flu, yang dulunya jarang saya alami
  • Resiko infeksi pada bekas sayatan di perut jika kurang menjaga kebersihan
  • Sebaiknya tidak perlu operasi caesar jika ibu dan janin sehat semua, hanya demi mencari tanggal yang pas untuk kelahiran bayi

Nah, Bu Ibu..sudah ada gambaran ya tentang melahirkan secara normal dan operasi caesar. Semua ada resikonya. Tapi selalu yakin bahwa wanita sudah di design oleh Tuhan untuk menjadi makhluk yang kuat. Pasti semua proses itu bisa kita lewati.

Keep strong! 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

27 thoughts on “Melahirkan Secara Normal Vs Operasi Caesar? Saya Mengalami Keduanya!”

  1. aku melahirkan secara normal mba dan pake induksi 3 botol onde mande kalau inget jadi mules sendiri mba hehehe memang sebagai ibu melahirkan itu perjuangan, saya mirip sama mba ga bisa makan malah saya sampe kata bapak muka saya uda kebiruan nahan sakit juga krn induksi.
    Pas bukaan 10 saya ngeden 2x dan itu saya langsung kek budeg sendiri mba mungkin krn kehilangan darah banyak dan saya cape plus ngantuk namun katanya ga bole tidur akhirnya saya beraniin buat lgsg duduk krn saya takut ketiduran yg bisa sebabin kematian.
    Jadi deg2an lagi kalau inget2 itu hehehe

  2. aku nangis bacanya mba, perjuangan seorang ibu. iya aku juga selalu berdoa normal. Karena ngurus anak tiga sendirian, membersihkan rumah sendirian, semua nya, jadi gak kebayang klo aku rapuh, anak aktif2 bgt. jauh dari orangtua. pasti aku bakalan sedih. salam sayang buat anak2 mb juli. kehadiran anak2 adalah hal terindah ya mba.

  3. Luar biasa ya perjuangan ibu2 melahirkan. Betul, Mak Julia…normal dan secar semua ada resikonya. Tergantung kondisi ibu dan bayi. Saya belum pernah secar, tapi pernah operasi pemotongan satu ovarium…duh sakitnya segitu. Gimana yg secar…

  4. Aku nggak ngalamin melahirkan per vaginam. Tapi pas anak pertama ngerasain sakitnya kontraksi dan induksi selama 24 jam. Tiba-tiba aja kontraksi berhenti sementara bukaan nggak nambah. Masih 1 dari pertama kali masuk, pdhl udah induksi dua kali. Dokter pun minta utk sectio, krn air ketuban juga sudah merembes dr sehari sebelumnya. Anak kedua berat badannya sama spt si kakak, selisih umur juga br 2th, kata dokternya lebih aman sectio soalnya kalau mau per vaginam ga boleh ada induksi jika kehamilan pertama sectio, BB bayi nggak boleh lebih dr 3kg, dan selisih umur anak 1 dan ke 2 min. 3th.
    *kasus 11 th yg lalu

  5. Waduw,,moga lain kali obgyn nya lbh teliti ya, kasian pasiennya jadi kepikiran.
    Menurutku melahirkan cesar lebih sakit, duh padahal belum pernah ngerasain mba. Tapi, aku takut banget sama yg namanya operasi.
    Untungnya, anakku lahir normal semua.

  6. Meski sama2 normal dan sama2 sc juga beda2 pengalaman nya ya Mak. Ada temenku yg normal 2jam langsung kluar bayinya. Ada yang kayak aku seharian stlh induksi baru lahir, hehe. Sama kayak Mak Juli, aku juga yg 1 normal ,yg 1 sc. Menurutku enakan normal, karena bisa langsung mandi sdri, jalan dll, ga perlu pakai kateter juga. Sc harus nunggu jahitan settle 24jam baru bisa turun kasur, apalagi scku tetep ngrasain kontraksi dlu smpe bukaan 6. Hoho. Smngt buat smua ibu

    1. Iyess..pengalaman yang sangat berarti, ya mak Dian..bener banget normal lebih cepet pulih. Sakitnya dobel2 ya mak Dian, ngerasain sampe bukaan 6 trus akhirnya sc..semangat ibu-ibu.. 🙂

  7. Dulu waktu hamil Raya pengen banget ngerasain lahiran normal, tapi karena udah mendekati due detak jantung Raya melemah, jadi harus di cesar saat itu juga.. ya pasrah aja.. mikirnya yg penting Raya selamat, dan emang maknyus banget rasanya pas obat biusnya abis tapi harus dipaksain jalan dan pipis harus ke kamar mandi.. hihihihi #glegh

  8. Saya cuman punya pengalaman melahirkan secara normal. Itu saja sudah luar biasa perjuangannya. Sama dengan Mbak saya dulu juga mesti di induksi dulu baru ada bukaan.

  9. Mau melahirkan secara normal ataupun SC keduanya penuh resiko ya mbak, dan bener-bener perjuangan yang luar biasa ya untuk para ibu.. Aku alhamdulillah 2 anak lahiran normal, aku malah takut kalo SC.. Huhuhuu. Mau normal ataupun SC pada akhirnya yang penting ibu dan bayi sehat dan selamat semuanya ya mbaaak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *