Pro Kontra Transportasi Online

IMG-20160329-WA0003

Pro Kontra Transportasi Online – Waktu bergerak cepat. Pola hidup selalu mengalami pergeseran. Pun dunia digital yang tak pernah kehabisan inovasi. Selalu ada penemuan baru yang semakin memudahkan kebutuhan manusia masa kini, seperti aplikasi online yang mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasi-aplikasi online ini merambah ke segala bisnis online, termasuk salah satunya bisnis di dunia transportasi. Gojek, Uber dan Grab adalah contohnya.

Aplikasi transportasi online ini disambut cukup baik di awal kemunculannya.  Konsumen semakin dimanja dengan teknologi yang memudahkan. Bayangkan saja, hanya dengan pencet-pencet gadget, dalam hitungan menit, ojek yang kita pesan langsung muncul di depan mata. Lengkap dengan seragam khusus dan data diri pengendara dari nama dan nomor telepon. Resiko tersesat lebih minim karena dilengkapi dengan GPS. Tak ada juga acara ngotot tawar menawar harga karena sudah tertera sesuai jarak. Konsumen diuntungkan dari segi waktu, biaya dan tentu saja kenyamanan.

Seiring dengan waktu, kehadiran Gojek dan kawan-kawan ini menimbulkan kecemburuan sosial bagi transportasi konvensional yang sudah ada sebelumnya, baik ojek, taksi ataupun angkot. Mereka dituding sebagai biang kerok menurunnya pendapatan mereka. Puncaknya, ada demo besar-besaran yang menolak kehadiran Gojek, Uber dan Grab ini dari sopir taksi konvensional.

Salahkah dengan adanya aplikasi online di bidang transportasi ini ? Tentu saja tidak. Apakah wacana untuk memblokir dan menutup aplikasi transportasi online ini dapat menyelesaikan masalah ? Tentu saja tidak. Ini adalah inovasi yang perlu dikembangkan. Bukti bahwa manusia selalu menginginkan perubahan. Bukan malah mandeg, dengan segala upaya untuk membunuh kreativitasnya.

Namun…

Ada beberapa rambu-rambu yang perlu diperhatikan supaya gesekan-gesekan antar kubu ini tidak terjadi. Sebelum lebih banyak korban berjatuhan sia-sia.

Bukan salah aplikasi online-nya, tapi sistem dan regulasi yang jelas dari pemerintah yang harus segera dibenahi. Pemerintah harus smart menanggapi semua ini. Kalau perlu, pemerintah pun harus menciptakan aplikasi online yang bisa mempercepat proses birokrasi yang selama ini cukup berbelit dengan ping pong sana sini.

Jika ada anggapan pelaku bisnis transportasi dengan aplikasi online ini menyalahi berbagai aturan, ya harus dibuatkan ketentuannya supaya jelas. Pemerintah harus mempunyai data yang lengkap tentang pelaku bisnis transportasi online ini. Mereka harus mendaftarkan diri kepada pemerintah secara resmi sampai disebut legal. Jika tidak terdaftar namun nekad melakukan bisnis ini, maka mereka yang ilegal harus ditindak tegas.

Apa Peran Pemerintah ?

Beberapa aturan yang harus diperhatikan pemerintah, antara lain :

Tentang pembayaran pajak

Harus ada aturan yang memberlakukannya. Para pelaku bisnis transportasi online harus membayar pajak sesuai ketentuan yang berlaku.

Soal harga yang lebih miring dari transportasi konvensional

Harus ada aturan kesetaraan harga supaya bisa bersaing secara sehat

Soal keamanan

Harus diberlakukan standarisasi yang mengacu pada kepentingan konsumen, sehingga jika ada sopir Uber yang memperkosa penumpangnya, lagi-lagi itu soal oknum yang bisa terjadi juga di angkot yang konvensional. Justru jika pemerintah mempunyai data tentang pelaku bisnis transportasi online itu, tindakan hukum bisa segera diberlakukan jika ada yang melanggar.

Bagaimanapun, semua masalah transportasi yang ada di negeri ini bermuara pada urusan perut. Pelaku bisnis konvensional tidak boleh menyerah begitu saja. Belajarlah pada kantor pos yang tidak demo pada email / surat elektronik karena perangko dan bus surat mengalami disfungsi. Sebaliknya, Pos Indonesia melakukan inovasi sesuai perkembangan jaman. Mereka tetap bertahan di tengah gempuran menjamurnya titipan kilat express.  Wesel pun sekarang dilakukan sistem online yang setara dengan sistem transfer bank yang bisa sampai dalam hitungan detik tanpa harus menunggu berhari-hari. Inilah persaingan sehat yang dimaksud. Bukan dengan demo anarkhis yang merugikan pihak lain yang tak bersalah.

Atau, belajar pada minimarket, supermarket, toko grosir pakaian konvensional yang tidak demo untuk menutup toko-toko online yang berjaya. Jika ingin bertahan, harus fleksible mengikuti perkembangan jaman. Jika sekarang jamannya online, ya ikuti sajalah. Toh, tujuannya memang memudahkan semua pihak. Jika ingin tetap bertahan dengan cara konvensional, ya jalanilah dengan sukacita tanpa menyalahkan inovasi baru. Semua punya market place  sendiri-sendiri. Percayalah, rejeki sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa selagi manusia mau berusaha.

Konsumen berhak untuk memilih. Dan tentunya, menjadi konsumen yang cerdas di jaman sekarang ini adalah keharusan. Apalagi pelaku bisnisnya, harus lebih cerdas dong ah..Trus..pemerintahnya..ya harus lebih cerdas lagi karena yang berhak mengatur semuanya.

Jadi, masih mau menyalahkan aplikasi transportasi online ? Tanyakanlah pada rumput yang bergoyang.. 😀

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

8 thoughts on “Pro Kontra Transportasi Online”

  1. Baru kemarin merasakan enaknya order bakso pakai gojek, dan krn ygorder 12 orang jadi ongkir ditanggung bareng2 ga berasa hihihii.. Suka lah pokoknya saya sama yg model online gini 😀

  2. Transportasi online seperti gojek membantu aku yang tiba-tiba sakit sehingga gak bisa nganterin anak -anak sekolah.Atau tiba-tiba motor bocor sehingga gak bisa nganterin pagi-pagi.

  3. Dilema juga ya, antara menikmati dan kasian. kasian ke sopir taksi konvensional yang gak terlalu banyak berubah dari segi finansial padahal mereka sudah kerja tahunan. Tapi gimana lagi, yang online selain biaya gak memberatkan, pelayanan juga nikmat. hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *