4 Cara Membangun Ikatan Batin Dengan Si Buah Hati

Menjadi seorang ibu dengan dua anak yang lucu adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Tuhan mempercayakan sepasang buah hati laki-laki dan perempuan dalam keluarga kecil saya. Bersama suami, kami tak henti-hentinya senantiasa bersyukur dan bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk sang buah hati semampu kami.

Banyak hal yang harus saya pelajari supaya bisa mendidik anak dengan baik dan benar. Sering dalam hati saya bertanya, apakah pola asuh yang saya terapkan selama ini sudah benar? Karena mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Dan memang tidak ada sekolah pedidikan khusus menjadi orangtua. Semuanya dijalani dengan metode learning by doing namun jangan pernah menjadikan anak sebagai bahan percobaan. Nah, susah kan?

Saya hanya ingin, ada rasa saling percaya antara ibu dan anak. Ketika saling percaya sudah terjalin dengan baik, maka akan timbul suatu ikatan atau bonding yang tak mudah dipisahkan. Hubungan yang dilandasi dengan ikatan batin yang kuat, akan mudah diatasi jika ada masalah. Karena dengan komunikasi yang baik, masalah akan bisa diurai satu persatu. Ibarat suatu bangunan, supaya tumbuh kokoh diperlukan dasar pondasi yang kuat. Maka jika bisa diandaikan, bonding atau ikatan batin antara ibu dan anak adalah dasar untuk melanjutkan hubungan selanjutnya.

Ada 4 cara yang sedang saya lakukan untuk membuat anak dekat kepada orangtuanya terlebih saya sebagai ibunya. Namun tidak menutup kemungkinan ada cara lain yang bisa dilakukan selain yang saya sebutkan  ini.

Berikut cara saya membangun ikatan (bonding)  bersama buah hati :

  • Memposisikan diri sebagai teman

Ada kalanya, saya tidak ingin anak takut kepada orangtua. Saya ingin anak terbiasa untuk tertawa, bercanda bersama dalam kehangatan. Saat seperti ini, tak ada jarak yang membuat perbedaan. Bermain bersama, berolahraga bersama dalam keceriaan.

  • Mendengarkan anak bercerita

Rasanya ngilu kalau anak lebih nyaman bercerita kepada orang lain daripada kepada ibunya. Yang saya harapkan, saya bisa menjadi orang pertama yang tahu anak saya bagaimana, ada perkembangan apa.  Saya ingin, sayalah orang pertama yang mendengar cerita dan keluh kesah anak saya. Maka saya akan selalu berupaya menjadi pendengar yang baik. Karena dengan mendengarkan, anak akan merasa dihargai dan ada rasa percaya untuk mengeluarkan isi hatinya dengan bercerita tanpa ragu kepada saya.

  • Mendongengkan

Di usia balita, penting sekali menstimulasi daya imajinasi si kecil dengan di dongengkan. Dongeng, bisa membantu pola pikir anak untuk berkembang. Selain itu, dengan mendongeng, ikatan batin atau bonding antara ibu dan anak akan senantiasa terjaga supaya tidak mudah lepas.

  • Berteman dengan temannya

Saat usia anak masih kecil, ibunyalah yang menjadi role model. Di usia ini, anak seakan tak mau lepas dari ibunya. Maunya nempel terus. Namun ketika anak mulai mengenal sekolah, mengenal berteman dan persahabatan, maka lambat laun peran ibu tergantikan dengan teman atau sahabatnya. Mungkin karena lebih nyaman dan nyambung dengan teman sebaya. Untuk itu, supaya saya tidak kehilangan kedekatan dengan anak, saya pun harus mengenal dan bisa  berteman dengan temannya supaya saya tetap bisa memantau bagaimana perkembangan anak saya.

 

Kedekatan Ibu dan Anak Saat Anak Sakit

Ikatan atau bonding semakin terasa ketika anak saya sakit. Saya ikut merasakan kesedihan anak saya saat sakit. Di saat seperti ini, mood saya bisa langsung down. Bagaimana mungkin saya bisa berkonsentrasi mengerjakan sesuatu jika anak saya sedang merasakan sakit.

Sakit yang biasa diderita anak saya adalah demam, batuk dan pilek. Hal yang paling bikin panik adalah ketika anak sakit panas. Saya rela begdang semalaman demi menunggu detik demi detik berlalu dan berharap suhu di termometer bisa turun dibawah angka 38 derajat Celcius.

Pengalaman saya beberapa waktu yang lalu ketika si kecil demam, saya memberi obat penurun panas ketika suhu badannya di ambang batas 38 derajat ke atas. Jika masih di bawah suhu 38 derajat, saya tidak memberinya obat. Selama anak masih mau makan dan ceria, saya akan  memberi asupan nutrisi yang bergizi supaya anak tidak jatuh sakit.

Maka, saya mulai was-was ketika suhu badan si Kecil menunjukkan angka 38 derajat Celcius. Segera saya meminumkan obat penurun panas Tempra Syrup rasa anggur yang ternyata disukai rasanya sama anak saya. Saya bersyukur, tak ada drama susah minum obat di rumah saya. Bahkan kadang si Kecil yang inisiatif sendiri minta diminumkan obat saat badannya panas. Hahaha..

Kenapa Harus Tempra? 

Selama ini, saya mengenal Tempra sebagai obat penurun panas yang berkualitas baik. Dan yang terpenting, Tempra aman dikonsumsi oleh anak-anak karena aman di lambung. Selain itu, kadang saya suka lupa saat anak minum obat berupa syrup, ada aturan harus dikocok dulu supaya larut semua. Nah, Tempra  syrup beda. Kelupaan mengocok pun tak jadi masalah, karena tidak perlu dikocok, larut 100%. Ah, lega. Praktis ya!

Tempra syrup mengandung Paracetamol yang bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengeturan suhu di otak dan juga untuk analgetika untuk meningkatkan ambang rasa sakit.

Ada lagi nih kelebihan obat penurun panas Tempra syrup ini. Dosis yang disarankan sesuai umur sudah tepat. Artinya dosis tepat tidak menimbulkan over dosis atau kurang dosis. Jadi ikuti saja aturan pemakaiannya, dijamin dosisnya tepat. Sehingga dengan dosis tepat, harapannya si buah hati cepat sembuh.  Masalah dosis ini memang penting ya. Karena jika anak terbiasa minum obat dosis tinggi supaya anak cepat sembuh, efeknya tidak baik ke depannya. Bisa menimbulkan keracunan hati jika over dosis paracetamol.

Yuk, selalu jaga kesehatan buah hati. Keep healthy life! 🙂

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Tempra

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

10 thoughts on “4 Cara Membangun Ikatan Batin Dengan Si Buah Hati”

  1. iyes..
    jadikan anak teman..biar dia merasa nyaman
    bahkan saat demampun..berada di dekat kita baginya adalah obat tersendiri
    namun tetap sedia tempra di rumah
    saya jg begitu..setidaknya yg ukuran kecil untuk stand by

  2. Setuju dengan tipsnya mbak. Saya juga berusaha menjalin kedekatan dg anak dengan cara membangun kepercayaan dan mendengarkan keluh kesahnya…dan alhamdulillah anak saya jadi jujur. Dia sering menceritakan apa yg dialaminya dan sering bertanya hal2 yg dianggapnya kurang mengerti.

  3. Saya juga selalu berusaha menjadi teman anak, Mbak. Begitu pula berusaha berteman dengan teman-teman mereka. Tujuannya hanya agar mereka tahu bahwa orang tua berusaha memposisikan diri sejajar dengan anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *