Andro Mau Bisnis…

Andro terlelap dalam pangkuanku. Melihat wajahnya saat tidur begitu, ibaku tumbuh. Dia bagaikan malaikat kecil yang memberi kedamaian. Beda sekali saat dia terjaga, tingkah polahnya sangat aktif. Membuatku berkali-kali harus mengejarnya, berteriak, dan akhirnya kelelahan saat menjaganya. Baru kusadari ternyata tidak gampang menjadi seorang ibu. Butuh pengorbanan dan waktu. Ada kalanya terselip rasa bangga saat banyak orang melihat Andro berkata,” Duh, cakepnya, anak siapa ini ?”

“Mama..mau pergi kerja ya..?”

Ucap Andro setiap kali melihatku sudah rapi hendak berangkat kerja.

“Iya..mama mau bisnis..”, ucapku tanpa dipikir.

“Bisnis..? Mama..Andro mau ikut bisnis. Andro ikut mama bisnis..”

Andro merengek berulang-ulang. Aku tertawa. Tak menyangka Andro meniru ucapanku.

“Sayang, mama mau kerja, bisnis, cari uang buat beli susunya Andro..”

Tampak Andro berpikir sejenak.

“Beli telur juga kan, Ma ? Beli mainan, beli baju, beli vitamin, beli rumah, beli mobil..”

Ah..pemahaman luar biasa, nak. Tak kukira sedemikian cepatnya pola pikirmu. Berapa waktu yang telah terlewat tanpa sempat kulihat perkembangannya. Memang, jarak toko dan rumah tidak seberapa. Tapi meninggalkan Andro beberapa jam saat bekerja membuatku kehilangan beberapa momen baru yang kadang tidak sempat aku ketahui. Aku sebagai ibunya tidak menjadi yang pertama atas perkembangannya. Selalu aku ketahui dari mbak Ikem, yang mengasuh Andro dari pagi hingga sore.

“Tadi dik Andro main sandiwara sendiri Bu, bicara sendiri kalau mama lagi kerja, cari uang..trus liat gambar-gambar..”

“Tapi nggak rewel kan ?”

“Nggak Bu, tadi asyik nyanyi dan mewarnai sendiri..”

Syukurlah, Andro bukan tipe anak yang suka rewel. Walau kadang ada sifat manja, tapi saat diberi pengertian, dia akan mengerti. Sesekali aku ajak Andro ke toko supaya melihat kegiatan ayah ibunya berjualan mencari uang. Saat akan tutup toko pun, Andro paling semangat membantu ayahnya menggelindingkan ban-ban ke dalam. Andro hanya tertawa saat tangan-tangannya menghitam kena kotoran yang menempel di ban.

“Nanti cuci tangan..”, katanya sambil menatapku dan ayahnya.

Ah..Andro, masih panjang perjalanan hidupmu. Masih panjang pula perjuangan ayah dan ibumu dalam merintis usaha bersama ini.

Mungkin beda saat di zona nyaman menjadi karyawan dulu, yang bisa kita prediksi penghasilan setiap bulannya. Tapi sekarang, saat toko ramai ataupun sepi, berkawan dengan ketidak pastian, kita harus siap menghadapi semuanya. Semua demi meraih impian kita bersama, Nak..kita berjuang bareng-bareng dari nol..Okey..?

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *