Antara Mimpi, Cita-Cita Dan Profesi

“Apa cita-citamu?”

Pertanyaan ini begitu lekat dalam ingatan, ketika waktu saya kecil ditanya orang dan spontan menjawab menjadi dokter. Yup, seperti kebanyakan anak-anak di jaman dahulu kala, jawaban standar akan cita-cita adalah menjadi dokter, polisi, tentara, guru, dan lain sebagainya. Semua profesi itu merujuk pada suatu pekerjaan tetap yang mempunyai pandangan positif dan dianggap mapan, serta dihormati dalam masyarakat kita.

Semua anggapan itu bagus dan sah-sah saja menurut saya. Tak ada yang salah. Dan tentu saja pola itu terbentuk karena kebiasaan turun temurun dalam keluarga dan lingkungan sekitar. Maka, saat saya kecil pun beranggapan bahwa menjadi dokter adalah pilihan yang tepat. Kesan heroik, mapan, keren dan suka menolong sesama yang ada dalam profesi seorang dokter tampak sangat mempesona sehingga profesi ini menjadi jawaban favorit anak-anak saat ditanya ingin menjadi apa saat sudah besar nanti.

Baca : Lima Kebiasaan Orangtua Pada Anak Yang Sebaiknya Dihindari

Waktu terus berjalan, dan lambat laun lihatlah saya sekarang. Apakah saya menjadi dokter? Tidak. Siapa yang salah? Entahlah. Saya tak akan menyalahkan orangtua saya yang bukan hanya tidak mampu secara materi saat itu, namun kebebasan memilih yang diberikan kepada saya justru membuat saya bingung untuk menentukan pilihan saat itu. Namun sekarang,ย  saya merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orangtuaย  yang telah menghantarkan saya hingga ke titik sekarang.

Terus terang, saya bingung menentukan jurusan saat di SMA. Dari SD sampai kelas satu SMA, peringkat 3 besar selalu saya raih, bahkan predikat juara umumย  dalam bidang akademis juga pernah saya capai dua kali. Saat SD dan SMP, saya pun beberapa kali menjadi wakil sekolah saat mengikuti lomba cerdas cermat, lomba matematika, lomba bahasa Indonesia dan lain sebagainya. Ada yang menang, namun ada juga yang berhasil masuk finalis saja. Semuanya adalah proses yang membuat saya mengerti bahwa kompetisi itu ada untuk membuat saya semakin survive akan hidup ini. Bahwa saya bukanlah yang terhebat, namun selalu ada langit di atas langit. Dan untuk itulah, proses belajar tak akan pernah berhenti sampai kapan pun .

Meskipun cita-cita saya waktu kecil adalah menjadi dokter, namun ekspetasi tak selalu sesuai dengan kenyataan. Hasil psikotes saat saya duduk di bangku SMA menyatakan kemampuan verbal saya lebih tinggi daripada kemampuan eksakta. Ada kemungkinan saya akan lebih berhasil di bidang non eksakta sebesar 60%. Kemungkinan berhasil 40% adalah di bidang eksakta. Sebenarnya hasil psikotes ini bisa menjadi acuan saya untuk meraih cita-cita sesuai dengan minat dan bakat saya.

Polisi Cilik ๐Ÿ™‚

Ya, sebenarnya saya lebih mudah menghafalkan daripada mempelajari rumus-rumus Kimia. Saya juga lebih senang menulis saat pelajaran Bahasa Indonesia, dan guru Bahasa Indonesia saya pernah memuji hasil kerangka pikiran saya saat pelajaran mengarang dan saya diberi nilai A. Saya pun lebih senang membaca dan menulis dalam bahasa Inggris sehingga tak jarang nilai 100 saat ulangan bahasa Inggris sering saya peroleh.

Baca : 4 Cara Membangun Ikatan Batin Dengan Si Buah Hatiย 

Mana pernah saya mendapat nilai seratus saat pelajaran Kimia, Fisika atau Matematika? Nilai saya di bidang eksakta ini masih di bawah nilai pelajaran non eksakta saya. Namun saya mengabaikan akan hal ini. Lalu lambat laun seiring perjalanan waktu, cita-cita saya menjadi dokter saya lupakan begitu saja karena saya sudah minder dengan besarnya biaya pendidikanย  di bidang kedokteran dan merasa pelajarannya tidak akan mudah bagi saya.

Saat kenaikan kelas dua SMA dan ada penjurusan, nilai saya bisa masuk ke semua jurusan. Namun saya akhirnya memilih jurusan A1 yang jelas-jelas lebih banyak pelajaran Fisika dan eksaktanya. Alasannya apa? Karena jurusan A1 itu kelas idaman semua anak. Ya, saya masuk jurusan ini karena lebih mendengarkan suara kebanyakan orang tanpa melihat kemampuan saya.

Ada 3 jurusan di SMA saya waktu itu. A1 (Fisika) satu kelas, A2 (Biologi) dua kelas, A3 (IPS) dua kelas dan A4 (Bahasa) satu kelas. Seharusnya jika saya lebih menonjolkan potensi dan kemampuan dalam diri saya yang lebih kuat di bidang bahasa dan hafalan, saya bisa masuk ke kelas A4 atau A3. Namun, saya tidak berani mengambil keputusan seperti itu. Apalagi ketika mengetahui bahwa murid di kelas A4 hanya bisa dihitung dengan jari. Beda dengan kelas jurusan lainnya yang penuh.

Maka bisa ditebak, saya cukup susah beradapatasi di kelas A1. Gelar juara kelas yang pernah saya raih dari SD hingga kelas satu SMA gugur saat di kelas dua A1. Boro-boro masuk tiga besar, lha wong sepuluh besar aja nggak masuk, bahkan terlempar keluar dari 20 besar. Huwaa..seharusnya saya sadar bahwa saya telah salah masuk jurusan.

Namun nasi sudah menjadi bubur. Saya pun semakin absurd dalam menentukan apa cita-cita saya nanti. Lalu saya pun mengubah haluan cita-cita saya menjadi seorang Apoteker. Maka ketika ada Ujian Masuk Perguruan Tinggi, saya memilih Fakultas Farmasi sebagai pilihan pertama. Lalu pilihan keduanya apa? Saya memilih Fakultas Biologi karena mendengar percakapan seseorang bahwa ada prospek bagus di bidang Biologi lingkungan di masa depan. Lalu saya menjatuhkan pilihan kedua di Fakultas Biologi. Sangat absurd sekali bukan? Tampak sekali bahwa saya bermental plin plan di masa SMA. Galau menentukan pilihan.

Baca : Ini Dia Cara Mendongeng Cerdik Ala Moms Jaman Now

Nasib mengantarkan saya diterima di Fakultas Biologi UGM yang notabene adalah pilihan kedua. Lha kalau tahu begini jadinya,ย mbok yao dari kelas dua SMA saya masuk jurusan A2 (Biologi) ya? Wasting time sekali kan. Jelas sekali nggak fokus haha..

FYI, selain mengikuti UMPTN, saya juga mengikuti tes di Akademi Gizi dan D3 Ekonomi UGM. Ini lagi, apa tujuan saya memilih fakultas ekonomi padahal saya nggak punya basic IPS sama sekali saat SMA? Entahlah. Semakin bingung kan? ๐Ÿ™‚

Ternyata oh ternyata, saya diterima di Akademi Gizi selang sehari sebelum pengumuman UMPTN. Saya sudah hampir daftar ulang di Akademi Gizi karena yakin pasti nggak akan lolos UMPTN. Lha wong yang D3 ekonomi saja saya gagal diterima kok. Wagelasih..

Pun dugaan saya meleset, saya diterima di Biologi UGM dan akhirnya saya memilih kuliah di Biologi UGM dan kesempatan kuliah di AKSI tidak jadi saya ambil.ย  Jujur saja, saya kuliah di Biologiย  tanpa tahu akan kemana dan apa cita-cita saya kelak. Banyak orang yang bertanya, kuliah di Biologi nanti kerjanya dimana? Duh, saya semakin sedih. Hiks.

Hasilnya bisa ditebak. Nilai IPK saya termasuk biasa-biasa saja. Tak ada prestasi yang bisa dibanggakan saat saya kuliah. Praktikum demi praktikum yang cukup banyak membuat saya tak ada waktu untuk ikut kegiatan lain di luar bidang akademis. Maka saya pun menyelesaikan kuliah tepat 5 tahun tanpa target yang pasti. Yang penting lulus, dapat ijasah Sarjana, lalu berburu kerja. Sesimpel itu.

Dunia kerja ternyata semakin sengit dalam kompetisi. Saya selalu gugur di kualifikasi pertama ketika posisi pekerjaan yang bagus di suatu perusahaan selalu mensyaratkan IPK di atas 3 sekian-sekian. Saya gagal di awal kompetisi. Kadang saya menyesal kenapa IPK saya sangat memuaskan saja bukan cumlaude dimana peluang untuk diterima bekerja lebih banyak?

Baca : Yuk, Lindungi Anak Dari Pornografi Dengan Sensor Mandiri

Saya pun sempat ogah-ogahan melamar bekerja. Lalu ada tawaran bekerja dari saudara yang membuat semua orang tercengang. Keadaan memaksa saya untuk bekerja tidak sesuai dengan bidang kuliah saya. Saya seorang Sarjana Sains tapi pernah bekerja sebagai customer service di sebuah distributor resmi handphone, lalu bekerja sebagai kasir di suatu perusahaan di bidang jasa yang mana menyimpang dari disiplin ilmu yang pernah saya pelajari.

Ketika ada beberapa orang yang meremehkan pekerjaan saya, saya tak perlu balik meremehkan. Saya punya prinsip bahwa kuliah adalah proses untuk menuntut ilmu, sedang bekerja di bidang yang jauh dari harapan adalah pilihan untuk bisa bertahan hidup. Segala idealisme bisa tergeser ketika bicara tentang urusan perut. Ya, saya memilih survive dengan kemampuan saya. Karena pekerjaan saya halal, tidak merepotkan orang lain dan saya belajar tentang adaptasi. Nah, ilmu adaptasi yang saya pelajari saat kuliah dulu berguna sebagai bekal dalam kehidupan kan?

Baca : Andro Pengin Bisnis

Adaptasi itu semakin berkembang ketika akhirnya saya dan suami resign dari pekerjaan masing-masing lalu memilih untuk buka usaha bersama. Lalu disinilah, kesukaan saya akan menulis terealisasikan. Saya menemukan passion di bidang menulis dan mantap menjadi Blogger meski masih amatir, di sela-sela rutinitas saya dan suami menjalankan usaha. Saya pun akhirnya nyaman menjadi fulltime mom untuk anak-anak saya karena usahanya dijalankan dari rumah. Sekarang saya tak malu menyebut diri saya sebagai ibu rumah tangga yang nyambi menjadi entrepeneur dan Blogger.

Semacam Balerina ๐Ÿ™‚

Belajar dari pengalaman hidup saya, saya tak ingin anak saya mengalami kebingungan yang sama dalam menentukan cita-cita. Maka saya berusaha untuk melihat minat dan bakat mereka dari sejak usia dini meskipun itu tidak mudah. Saya senang sekali ketika sekolah PAUD anak wedok di TK Theresia, Gunungkidul mengadakan karnaval drumband dan cita-cita belum lama ini.

Anak kelas TK B bermain drum band, sedangkan kelas TK A dan Kelompok Bermain mengikuti karnaval dengan memakai baju profesi. Ada yang memakai baju dokter, perawat, polisi, tentara, pelaut, balerina, baju reog dan lain sebagainya. Anak saya termasuk yang memakai baju ala balerina. Dia yang memilih sendiri baju itu karena ikut-ikutan temannya hahaha..Tak apa, di jaman sekarang menjadi apa dan siapa lebih fleksibel. Yang terpenting adalah melakukan segala hal dengan senang, sungguh-sungguh, konsisten maka niscaya dari passion menjadi hobby dan dari hobby bisa menjadi profesi.

Profesi tak melulu standar seperti jaman dulu. Menjadi content creator seperti Youtuber, Blogger, Content Writer, Admin Social Media, influencerย  pun adalah profesi yang bisa menopang hidup selama masih dibutuhkan. Anak lanang pun saat ditanya apa cita-citanya, jawabnya adalah meneruskan usaha orangtuanya menjadi bakul ban. Sepertinya cita-cita menjadi dokter yang terlalu mainstream sudah berubah haluan. Ya, zaman selalu bergerak dan cita-cita pun bisa mengalami revolusi.

Biarkan anak-anak bermimpi menjadi apa saja sesuai dengan apa yang senang dilakukan tanpa ada paksaan, intimidasi kehendak orang tua akan cita-cita. Karena mereka mempunyai pikiran dan jalan hidupnya sendiri. Merekalah yang akan mewarnai hidupnya dengan passion mereka. Tugas orangtua adalah mendukung dan mengarahkan untuk yang terbaik bagi semuanya.

Baca : 5 Ritual Bayi Yang Perlu Dilakukan

Gantungkan Cita-Citamu Setinggi Langit! (Bung Karno)

TK Theresia Gunungkidul
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

32 thoughts on “Antara Mimpi, Cita-Cita Dan Profesi”

  1. Hebat euy sang juara. Aku SMA A1. Padahal merasa nggak encer2 banget bidang eksa. Tapi memang suka yg sistimatis2. Pun jago juga di bahasa. SMP cita2 jadi guru, SMA jadi Humas Hotel. Pada perjalanannya ilmu komunikasi akhirnya yang aku ambil. Pun nggak pure ngajar. Tapi berdiri depan banyak orang kesampaian juga ngajar MC. Aku setuju jangan batasin anak buat eksplore talenta nya liatin aja karena akan sampai pada pilihan ternyamannya.

  2. Banyak miripnya kisahnya dengan pengalaman hidupku xixixi… Makanya aku ke anak betul2 lihat bakat dan minatnya saja. Si sulung dari sisi IQ tergolong jenius tapi gak suka hitung menghitung, ga aku paksain harus bisa menghitung. Alhamdulillah skrg dia bisa kuliah sesuai dgn minat dan bakatnya gratis di LN dapat uang saku lagi. Jadi semakin yakin klo ke anak liat aja potensinya dimana optimalkan itu… ๐Ÿ™‚

  3. Ceritanya menginspirasi Mbak saya juga belajar dari pengalaman saya ketika menentukan cita-cita dahulu dan dukungan orang tua Sehingga nantinya anak saya pun saya bebaskan untuk memilih cita-cita sesuai yang diinginkannya

  4. Salut sama pemikiran kuliah adalah proses untuk menuntut ilmu, sedang bekerja di bidang yang jauh dari harapan adalah pilihan untuk bisa bertahan hidup.

    Sekarang jamannya memang sudah beda. Anak saya selalu ganti cita2. Tapi bukan sebagai dokter atau polisi, tapi pembuat mobil, tukang bikin rumah, kadang katanya mau jadi tukang membuat susu sapi (apa coba?) hahaha…

  5. Hehehe aku pun berkaca pada diriku sendiri mbak, kepengennya anak2 kalau udah ktemu bakatnya kuarahkan terus ke situ aja. Gak perlu pinter banyak hal, asal ada satu tapi tekun ya gpp. Kalaupun kelak berubah haluan, asal positif ya kudukung ๐Ÿ˜€

  6. Belajar dr pengalaman sendiri ya mbk. Aku jg lg berusaha ni ngenalin bakat minat si kecil ken. Doakan aku bisa ya mbk. Dan makasih share pengalamannya. Pelajaran jg nih buat aku

  7. Memang ada baiknya sekarang memetakan bakat anak sedini mungkin, untuk melihat berbagai potensi yang dimiliki.
    Kalau saya pribadi, passion dari kecil hingga pekerjaan saat ini tidak berubah. masih berada di satu jalur. Semoga anak saya juga menemukan passionnya sedini mungkin

  8. Kebingungan saat memilih jurusan saat di SMU dan kuliah, menurutku karena ketidakpahaman dan keterbatasan informasi yang dimiliki mengenai jadi apa kelak.
    Akupun sama, memilih jurusan hanya berdasarkan yang sedang top saat itu. Padahal, kalau dipikir suka dan tahu pun tidak, hahaha.

    Tulisan yang inspiratif, kakak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *