Lakukan Hal Ini Jika Bayi Belum Lahir Tapi HPL Sudah Lewat!

Banyak cerita tentang proses kelahiran yag mengharukan

Dua anak saya lahir lewat seminggu dari HPL. Saya tidak tahu apa penyebabnya, yang jelas hal itu sangat meresahkan. Saya tidak merasakan perut mulas secara alami saat HPL tiba. Jadi nggak ada drama kelahiran dimana tiba-tiba perut mulas tengah malam, lalu membangunkan suami untuk antar ke rumah sakit dalam kondisi masih awut-awutan karena emergency.

Dapat dikatakan, proses kelahiran kedua anak saya begitu terencana, terstruktur dan otomatis. Saya masih bisa mandi, dandan dan ikut senam hamil di rumah sakit menjelang kelahiran anak pertama saya. Lha gimana, begitu HPL tiba, namun saya tidak merasakan perut mulas, saya dan suami segera inisiatif pergi ke dokter kandungan. Lalu kata dokter, jika dalam lima hari ke depan tetap tidak merasakan tanda-tanda mau lahiran seperti perut kontraksi, harap segera datang ke rumah sakit untuk proses kelahiran yang harus terjadi. Ya kelahiran yang diharapkan sesungguhnya terjadi secara alami. Namun jika tidak kunjung datang yang namanya perut kontraksi, maka perlakuan induksi atau operasi caesar menjadi alternatif cara yang harus diambil.

Anak lanang dan anak wedok 🙂

Baca : Hamil Itu Keajaiban 

Saya masih ingat, saat mengandung anak pertama, yaitu anak lanang, saya sudah melakukan banyak hal. Dari usia kandungan tujuh bulan, saya rajin jalan pagi hampir setiap hari. Rutin minum air kelapa, minum VCO saat usia kandungan sembilan bulan keatas, yang konon dapat melancarkan proses kelahiran. Saya pun sudah menyiapkan satu tas berisi baju saya dan perlengkapannya, beserta perlengkapan si jabang bayi jika tiba-tiba saya harus segera melahirkan di saat genting. Namun, tetap saja saya tidak merasakan apa-apa saat HPL tiba.

Anak lanang diperkirakan lahir tanggal 3 Oktober. Ternyata lahir tanggal 10 Oktober. Secara normal setelah melalui proses induksi hampir 24 jam yang cukup meyakitkan dan melelahkan. Ya, setelah menjalani serangkaian tes dari cek ketersediaan air ketuban, rekam jantung bayi, saya dinyatakan siap menjalani induksi, yaitu proses memacu hormon Prostaglandin agar otot rahim berkontraksi secara oral (obat-obatan), infus, atau vaginal. Jadi ketika proses induksi dengan obat atau secara oral sampai 4 kali tanpa hasil, dalam arti saya belum bukaan sedikitpun, maka ditempuh jalan dengan induksi secara infus.

Baca : Perbedaan Kehamilan Bayi Perempuan dan Laki-laki

Jangan ditanya bagaimana rasa sakit kontraksi setiap lima menit sekali. Saya sampai kehabisan tenaga dan sempat muntah dua kali di detik-detik anak lanang mau lahir ke dunia. Sempat diultimatum dokter untuk menjalani operasi di bukaan ke 9 ketika saya salah mengejan. Wah, untung akhirnya anak lanang bisa lahir ke dunia secara normal. Saya tidak dapat membayangkan sakit dobel yang harus saya rasakan jika harus induksi dan operasi caesar. Yang pasti saya merasakan lega luar biasa ketika anak lanang bisa lahir secara normal setelah menjalani proses induksi yang cukup panjang.

Berbekal pengalaman dari anak pertama yang lahir lewat dari HPL, lha kok ndilalah untuk anak kedua, ketiga ding tepatnya karena yang kedua pernah mengalami keguguran, mengalami hal yang sama. Seperti de javu saat anak wedok masih anteng di dalam perut meskipun HPL sudah lewat beberapa hari. Maka saya pun lebih santai menghadapinya. Sudah sedikit hafal. Saya mematuhi anjuran dokter untuk segera datang ke rumah sakit jika perut mulai kontraksi, atau jika tidak ada gerakan bayi di dalam perut, atau jika lima hari dari HPL tidak ada tanda-tanda mau melahirkan.

Baik, saya tidak merasakan perut kontraksi. Bayi masih aktif menendang-nendang di dalam perut. Tapi tanda-tanda mau melahirkan secara alami tidak ada.  Maka saya segera ke rumah sakit, menemui dokter yang sama, yang membantu saya melahirkan anak lanang saat pertama kali melahirkan dulu. Saya sudah siap jika harus menjalani proses induksi seperti yang terdahulu. Tapi ternyata dugaan saya salah.

Persiapan melahirkan anak wedok secara operasi caesar

Anak wedok tidak dilahirkan melalui proses induksi karena kurang reaktif saat rekam jantung. Lalu keputusannya adalah saya harus melahirkan dengan jalan operasi caesar. Wah, mau tak mau saya harus menjalaninya demi kebaikan sang jabang bayi. Dan saya bersyukur, semuanya berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Meskipun ternyata, operasi caesar itu juga sakit lho sesudahnya. Saya merasakan sakit meskipun untuk berbaring ke kiri atau ke kanan. Badan rasanya kaku, mau turun dari tempat tidur saja butuh perjuangan ekstra. Proses pemulihannya lebih lama. Sedangkan kalau melahirkan secara nomal, sakitnya sat pas melahirkan saja. Sesudahnya tidak merasakan sakit lagi, bisa beraktivitas kembali.  Lebih cepat pulih seperti sedia kala. Itu yang saya rasakan karena saya mengalami keduanya.

Anak wedok 🙂

Baca : Flek Saat Hamil, Ancaman Keguguran?

Resiko Bayi Lahir Lewat HPL

Setiap ibu pasti menginginkan dapat melahirkan secara normal tanpa masalah. Namun kenyataan seringkali berbeda dengan ekspektasi. Ketika bayi tak kunjung lahir, pasti ada rasa khawatir, was-was dan deg-degan. Kondisi psikologis ini dapat berdampak buruk untuk perkembangan bayi di dalam perut. Maka, segala upaya harus dilakukan demi kebaikan untuk sang ibu maupun buah hatinya.

Ketika bayi terlalu lama di dalam perut, ada beberapa kemungkinan yang perlu diwaspadai yaitu :

  • Plasenta tua

Hal ini dapat mempengaruhi asupan nutrisi untuk bayi. Plasenta yang tua tidak dapat maksimal lagi fungsinya dalam mentransfer nutrisi terbaik. Bayi bisa kekurangan nutrisi dan oksigen yang dapat berakibat pada penyusutan berat badan bayi, mempengaruhi gerakan bayi dan kesejahteraan bayi di dalam perut.

  • Masalah gizi

Ketika bayi tidak cukup menerima nutrisi, kebutuhan gizinya tidak dapat terpenuhi dengan baik. Ketika lahir nanti, bayi harus dipantau kebutuhan gizinya supaya tidak ada masalah berkaitan dengan proses tumbuh kembangnya

  • Kesulitan bernafas

Bayi dapat mengalami kemungkinan menghirup dan menelan mekonium (tinja pertama) yang dapat menyebabkan gangguan fungsi paru-paru dan  kesulitan bernafas

  • Lapisan lemak menghilang

Saat lapisan lemak menghilang, kulit bayi dapat mengalami kekeringan, mengerut, pecah-pecah dan kulit mengelupas

  • Keracunan

Saat air ketuban berkurang atau berubah warna menjadi hijau, hal ini dapat membahayakan karena bayi bisa mengalami keracunan. Keracunan  dapat menyebabkan bayi meninggal di dalam kandungan.

Baca : Jenis Makanan Yang Tidak Boleh Dikonsumsi Saat Hamil

Nah, demi menghindari berbagai resiko diatas, maka beberapa hal ini yang perlu dilakukan jika bayi belum juga lahir melewati HPL :

  1. Berdoa dan pasrah kepada Tuhan
  2. Mohon doa orangtua
  3. Konsultasi dengan dokter
  4. Cek kondisi kehamilan termasuk bagaimana BB bayi, kondisi ketersediaan air ketuban dan bagaimana warnanya
  5. Siap dengan segala kemungkinan apakah harus menunggu melahirkan secara alami, dengan induksi atau operasi caesar
  6. Lakukan yang terbaik untuk menyambut kelahiran sang buah hati

Semoga para ibu diberikan segala kemudahan dari proses kehamilan hingga melahirkan, ya para Bunda. Terus semangat dengan segala proses yang harus dijalani.

Selamat menjadi Ibu! 🙂

Bersama suami dan kedua anak yang lahir lewat HPL semua 🙂
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

2 thoughts on “Lakukan Hal Ini Jika Bayi Belum Lahir Tapi HPL Sudah Lewat!”

  1. Anak pertama saya seminggu lebih lewat HPL baru dia lahir Bun, sampai biru lho mukanya, hehehe. Kalau yang kedua sesar karena air ketubannya rembes. Sama ya Bun kita pernah merasakan dua proses kelahiran, normal dan sesar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *