Jangan Biarkan Mereka Bunuh Diri!

“Bunuh diri bukanlah solusi untuk keluar dari masalah”

Akhir-akhir ini beredar berita tentang maraknya orang bunuh diri. Mereka antara lain Vocalis band Linkin Park, suami yang membunuh istrinya kemudian bunuh diri, anak-anak yang terjun dari gedung karena ibunya meninggal, dan lain sebagainya yang membuat miris. Segitu murahkah nyawa dihargai? Dan benarkah depresi bisa menjadi alasan pembenaran untuk bunuh diri? Dan begitu pengecutkah mereka menghadapi kenyataan di dunia ini sehingga lebih baik melarikan diri dari masalah dengan bunuh diri?

Bunuh diri, bisa terjadi dimana saja. Di negara Jepang, terkenal dengan Harakiri, yaitu ritual bunuh diri jika harga dirinya merasa dipermalukan. Tekanan yang begitu kuat, membuat seseorang merasa lebih nyaman jika hidupnya diakhiri begitu saja.

Saya pernah menonton film berjudul “Suicide“. Film ini bersetting di Jepang, dengan anak-anak seumuran SMA sebagai tokoh sentralnya. Pada intinya, film ini bercerita tentang adanya komunitas untuk melakukan bunuh diri bersama-sama. Alasannya kurang bisa diterima nalar. Bahkan mungkin karena alasan yang cukup sepele. Masalah remaja. Namun yang menjadi pokok permasalahan adalah ketika remaja begitu mudahnya di doktrin bahwa bunuh diri bukanlah sesuatu yang berdosa, bukan sesuatu yang memalukan tetapi malah membuat mereka bangga karena dianggap berani mengambil keputusan untuk bunuh diri. Ckckck..begitu mudahnya otak dicuci ya.

Alhasil, rombongan anak SMA di Jepang, masih berseragam sekolah, bersama-sama menabrakkan diri pada kereta api yang sedang melaju di suatu stasiun pada jam yang telah ditentukan. Tragis. Saya ngeri melihat film itu. Saya menjadi sedih dan ngilu. Bagaimana mungkin menentang takdir Tuhan akan kematian?

Baca : Senioritas Boleh Memukul Yunior?

Masa Kini

Maraknya media sosial saat ini pun, berpengaruh baik langsung ataupun tidak langsung pada gaya hidup dan perilaku netizen. Belum lama pula, ada yang menayangkan video live di facebook saat mau gantung diri. Lebih edan lagi. Maksudnya apa coba? Udah bunuh diri, live pula, piye karepe? Hanya untuk gagah-gagahan? Saat mati, apa dia tahu di like dan di share berapa? Lebih mencengangkan lagi, kok yang nge-share juga banyak? Haduh, ini menjadi keprihatinan tersendiri. Coba pikirkan berapa banyak remaja yang pikiran dan mentalnya masih labil ketika melihat video seperti ini. Kalau mau bunuh diri, sendiri aja, nggak usah secara tidak langsung mengajak kepada yang lain. “Nih, aku berani bunuh diri, kamu?” Argh!

Gunungkidul, tempat dimana saya tinggali sekarang, pun termasuk daerah yang tinggi angka bunuh diri. Kondisi geografis yang kering dan susah untuk hidup kala itu, menjadi alasan yang kuat untuk mengakhiri hidup begitu saja. Penyakit yang diderita seseorang pun bisa menjadi alasan untuk mengakhiri hidup begitu saja.  Faktor lain yang menjadi penyebab angka tingginya bunuh diri adalah adanya kepercayaan “pulung gantung”. Yaitu semacam keyakinan, bahwa ada yang mendapat “pulung” untuk melakukan gantung diri setelah melihat cahaya yang berjalan di langit menuju rumahnya. Entahlah, kenapa mitos seperti ini bisa diyakini oleh sebagian orang yang putus asa.

Baca : Yuk, Lindungi Anak dari Pornografi

Saya pernah mendapat undangan syawalan di dusun tempat saya tinggal. Saat itu, seorang ustadz mengatakan bahwa seseorang yang meninggal karena bunuh diri, maka dia akan menjadi orang yang langsung masuk neraka. Tak ada ampun. Apapun alasan bunuh diri itu. Apalagi jika menjadi pelaku bom bunuh diri yang turut membunuh orang lain. Dalam agama Katholik pun, ajarannya sangat menentang siapapun yang melakukan bunuh diri. Pernah seorang Pastor berkata, jika di Gunungkidul ada yang meninggal karena pulung gantung atau bunuh diri, maka beliau tidak akan memberikan pemberkatan jenazah. Saya yakin, semua agama tidak mengijinkan adanya tindak bunuh diri. Karena itu menentang takdir Tuhan.

Di Gunungidul pula, ada suatu komunitas yang concern menangani masalah bunuh diri. Mereka bersama masyarakat berusaha untuk mencegah dan meminimalisir angka bunuh diri yang cukup tinggi di Gunungkidul. Menurut data statistisik, di tahun 2017 ada 26 orang angka bunuh diri di Gunungkidul. Itupun yang tercatat, dan tentunya ada beberapa yang tidak sempat tercatat.

Baca : Pro Kontra Transportasi Online

Depresi

Tak dapat dipungkiri, penyebab utama terjadinya bunuh diri adalah karena depresi. Merasa diri diabaikan, tidak ada yang bisa diajak bicara membuat seseorang merasa sendiri, tak berarti lalu lebih baik ia bunuh diri. Maka, menjadi seseorang mau mendengarkan adalah yang dibutuhkan bagi seseorang yang depresi. Jangan biarkan mereka sendiri. Karena kesepian bisa membunuh. Sebelum terlambat, mari kita peduli pada sesama yang ada di sekitar kita. Buka mata hati kita dan lebih peduli, adakah seseorang yang membutuhkan bahu kita untuk bersandar? Atau telinga kita untuk mendengar keluh kesahnya? Bagikan rasa syukur kita dengan berempati dan peduli, serta lebih peka kepada yang membutuhkan. Karena hanya itu yang mereka butuhkan. Perhatian.

Maka, jika ada yang sampai melakukan bunuh diri dan ia ada di sekitar kita, bisa jadi kita juga punya andil akan hal itu. Kenapa sampai kecolongan? Kenapa kita abai dan lalai memperhatikan? Begitu sibuknyakah kita sampai tak ada waktu untuk menjadi teman berbicara kepada mereka yang putus asa. Yuk, mari kita renungkan. Jangan sampai ada bunuh diri di antara kita.

Keep still alive! 🙂

Credit : www.psychologytoday.com
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *