Cara Klaim BPJS Untuk Kecelakaan Tunggal

Cara klaim BPJS untuk keceelakaan tunggal

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak

Cara klaim BPJS untuk kecelakaan tunggal. Siapa yang ingin celaka? Tentu tak ada. Namun karena berbagai hal, musibah itu bisa datang begitu saja. Belum lama ini anak lanang mengalaminya. Semua berawal ketika anak lanang naik motor pulang dari les musik yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah.

Ndilalah, anak lanang melalui jalan yang gelap dan berlubang. Padahal frekwensi melewati jalan itu sudah sering. Namun karena di depannya ada motor yang lampunya menyilaukan mata, anak lanang kejeglong dan terjatuh dari motor. Menurut ceritanya kecepatan laju sepeda motornya hanya sekitar 20 km/jam. Tidak kencang sebenarnya.

Namanya juga lagi apes. Pergelangan tangan kirinya mengalami retak tulang dan harus menjalani operasi pemasangan gips. Kami sedih tentu saja. Mengingat anak lanang baru saja masuk SMA baru, suasana baru, dan masih adaptasi kok bisa-bisanya jatuh dari motor. Namun kami tetap bersyukur tidak ada luka dalam yang lain dan masih selamat.

Kronologi Kejadian Kecelakaan Tunggal

Waktu itu menunjukkan pukul delapan malam lebih. Tidak biasanya anak lanang belum pulang dari les musik. Biasanya jam tujuh lewat sedikit sudah sampai dirumah. Saya dan suami bertanya-tanya. Ah, mungkin mampir ke toko alat tulis untuk membeli perlengkapan sekolah pikir saya menghibur untuk mengurangi rasa khawatir.

Lalu saya dan anak wedok pergi ke rumah ibu yang tak jauh dari rumah kami. Tak lupa saya pun menghubungi anak lanang via WA tidak dibaca. Lalu saya telepon tidak diangkat. Hm, kemana ini anak? Mungkin masih di jalan batin saya. Tak lama kemudian saat masih berada dirumah ibu, ada WA masuk.

“Anak lanang jatuh dari motor”

WA dari suami saya. Saya jelas panik. Untuk sesaat bingung mau ngapain. Pikiran saya sudah mengembara kemana-mana. Saya berpikir anak lanang masih di jalan dalam keadaanterjatuh dan belum ada yang mengevakuasi. Pikir saya, suami masih menunggu saya di rumah untuk bersama-sama menuju lokasi anak lanang terjatuh.

Saya punĀ  langsung mengajak anak wedok pulang ke rumah. Namun saya heran melihat sepeda motor anak lanang terparkir di rumah dan yang membuka pintu adalah anak lanang.

“Lho, katanya jatuh?”, tanya saya.

“Ada sedikit masalah,”jawab anak lanang.

Lalu saya melihat kakinya yang lecet-lecet yang sebagian tertutup plester. Katanya setelah terjatuh, anak lanang naik motor mampir ke supermarket dulu untuk membeli plester pembalut luka. Herannya supermarketnya bukan yang dekat dari rumah tapi yang jauh. Oalah..kok ya tidak memberitahu orang rumah kalau jatuh.

Penanganan di Rumah Sakit Terdekat

Anak lanang pun memberitahu kalau pergelangan tangan kirinya sakit. Agak linu katanya. Maka saya pun inisiatif menawarkan untuk periksa ke Rumah Sakit terdekat dan ia pun mau. Lalu kami sekeluarga pergi mengantar anak lanang ke IGD Rumah Sakit. Sampai disana perawat membersihkan lukanya dan ada tindakan rontgen.

Setelah mendapatkan hasil rontgen, dokter jaga pun memberitahukan bahwa tulang pergelangan tangan nak lanang retak. Lalu dokter umum menghubungi dokter spesialis tulang (orthopedi) yang sedang tidak praktek di RS via telepon untuk tindakan selanjutnya apakah perlu digips atau perban elastis biasa.

Lalu dokter orthopedi menyarankan untuk operasi pemasangan gips esok hari, maka malam ini harus menginap. Anak lanang tampak gelisah. Kejadiannya hari Kamis malam, dan besoknya adalah hari Jumat. Ia masih sempat bertanya kedokter apakah ditunda saja pasang gipsnya karena besok harus masuk sekolah dan ada tugas yang belum selesai.

Kebetulan dokter orthopedi bertugas di klinik setiap hari Rabu. Pemasangan gips biasanya berlangsung di klinik. Dokter umum yang sedang berjaga memberitahu bahwa menunda pemasangan gips akan beresiko pada pertumbuhan tulang yang tidak akan sempurna. Dokter pun menyarankan untuk ijin tidak masuk sekolah besok karena kondisinya.

Besok pagi dokter orthopedi akan mengoperasi beberapa pasien yang bermasalah dengan kesehatan tulangnya. Maka anak lanang bisa sekalian pasang gips di ruang operasi. Jadilah kami sepakat anak lanang untuk opname di Rumah Sakit. Sambil menunggu persediaan kamar, saya pun mengurus administrasi.

Penanganan di rumah sakit terdekat

Cara Klaim BPJS di Rumah Sakit Untuk Kecelakaan Tunggal

Awalnya saya masih ragu mau memakai BPJS atau tidak. Namun karena mengingat kondisi keuangan yang sedang tidak baik-baik saja dan kebetulan kami adalah peserta BPJS mandiri yang aktif dengan pembayaran auto debet setiap bulannya maka kami akan menggunakan fasilitas kesehatan itu.

Maka ketika petugas administrasi menanyakan apakah akan mempunyai BPJS saya pun mengangguk. O ya, saya mendaftar BPJS hanya melalui aplikasi JKN dan kartunya saya print. Saya pun mulai mengisi data-data anak lanang. Ternyata ada beberapa syarat yang harus saya lakukan untuk bisa klaim BPJS di Rumah Sakit ini.

Cara klaim BPJS untuk kecelakaan tunggal pada anak saya yang pertama adalah harus minta surat keterangan kecelakaan di kantor kepolisian untuk penolakan Jasa Raharja selama waktu 1×24 jam. Yup, karena anak saya kecelakaan tunggal bukan kecelakaan ganda maka tidak mendapatkan asuransi Jasa Raharja.

Waktu menunjukkan pukul 24.00, maka saya dan suami mengambil keputusan untuk mencari surat keterangan kecelakaan di kantor polisi dan Jasa Raharja besok pagi saja. Sebenarnya kantor polisi buka 24 jam, namun mengingat suami harus jaga di rumah sakit dan saya dengan anak wedok harus pulang malam itu, maka keputusan itu kami buat.

Esok harinya saya pergi ke kantor Polsek untuk minta surat keterangan kecelakaan sebagai pengantar untuk mengajukan penolakan asuransi Jasa Raharja. Ternyata sepeda motor harus kami tinggal di kantor polisi sekitar 3 hari sampai berkas selesai sebagai barang bukti. Begitu surat keterangan saya terima saya pun menuju Samsat untuk urusan Jasa Raharja.

Di kantor Jasa Raharja, saya menunjukkan surat keterangan kecelakaan tunggal dari kantor polisi. Lalu saya pun mendapatkan surat keterangan penolakan santunanĀ  kecelakaan Jasa Raharja. Begitu urusan di kantor polisi dan Jasa Raharja selesai, saya kembali ke bagian administrasi di Rumah Sakit menyerahkan semua berkas yang diperlukan.

Berkas-berkas untuk klaim BPJS itu adalah surat keterangan polisi, surat penolakan Jasa Raharja, Kartu BPJS dan Kartu Identitas Anak (KIA) atau Kartu Keluarga (KK). Setelah semua urusan beres saya pun menjenguk anak lanang di kamar rumah sakit di lantai 2. Ternyata sudah boleh pulang di hari itu juga malam harinya.

Cara klaim BPJS di rumah sakit untuk kecelakaan tunggal

Biaya Perawatan Rumah Sakit

Mau tahu berapa biaya rumah sakit untuk penanganan gips, biaya dokter, biaya rontgen, obat-obatan, biaya kamar dan lain sebagainya? Ternyata 0 rupiah alias gratis karena BPJS telah mengcovernya. Wow! Hanya dengan iuran perbulan sekeluarga yang nominalnya masih jauh dari premi asuransi, biaya perawatan kesehatan anak lanang bisa tercover.

Terus terang, cara klaim BPJS untuk kecelakaan tunggal ini sangat meringankan beban keuangan keluarga kami. Padahal sebelumnya mbak di bagian administrasi memberitahukan bahwa biaya untuk pemasangan gipsnya saja sekitar 3 jutaan, belum biaya yang lainnya. Kalau perkiraan saya ya sekitar 6 jutaan lah total biaya seluruhnya.

Itu hanya perkiraan saja lho. Soalnya saat membayar kemarin tidak ada rinciannya. Mbak bagian administrasi hanya memberitahukan jika tidak ada telepon dari pihak BPJS berarti biaya telah tercover semuanya. Puji Tuhan, padahal kami baru mendaftar BPJS mandiri sekitar setahunan ini dan kalau dihitung nominalnya belum ada 6 jutaan.

Untuk biaya kontrol selanjutnya juga masih gratis. Hanya saja untuk periksa lanjutan yang kedua, saya harus meminta surat rujukan ke Faskes 1. Surat rujukan ini berlaku selama 3 bulan. Jadwal kontrol kurang lebih 2 minggu sekali paska pemasangan gips. Untuk kontrol yang 3 dan terakhir, saya tidak perlu minta surat rujukan lagi karena masih berlaku.

O, ya anak lanang sudah boleh lepas gips setelah kurang lebih sebulan. Selama itu tetap beraktivitas seperti semula yaitu pergi ke sekolah, belajar, berkegiatan, bermain, dan lain sebagainya. Namun tetap harus membatasiĀ  aktivitas yang memberatkan untuk kesehatan tangan kirinya. Belum boleh angkat-angkat barang yang berat.

Biaya perawatan rumah sakit

Demikian cerita pengalaman saya saat mencari syarat cara klaim BPJS untuk kecelakaan tunggal yang menimpa anak lanang saya. Ada berkah dari setiap musibah. Semoga bermanfaat dan tetap jalani hari denganĀ  berwarna. Hati-hati di jalan, dan yang dihati, kapan kita jalan-jalan?

Keep healthy life!

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Lifestyle Blogger. Entrepeneur.

Tinggalkan Balasan