Catatan Perjalanan Cinta : Throw Back, Now and Forever

“Demikianlah, mereka bukan lagi dua, namun menjadi satu dalam ikatan pernikahan. Segala sesuatu yang telah dipersatukan oleh Allah, tak dapat diceraikan oleh manusia”

Tak terasa, tanggal 30 Desember tahun 2017 yang lalu, usia pernikahan saya dan suami memasuki tahun ke-11. Satu dekade lebih satu tahun. Hm..padahal seperti baru kemarin kenalan, pacaran lalu menikah. Sekarang sudah dikaruniai 2 anak yang sangat membanggakan. Anak lanang usia 10 tahun 2 bulan, dan anak wedok usia 3 tahun 9 bulan. Bahagia tiada terperi.

Ada yang bertanya, bagaimana asal muasal cerita saya saat bertemu dengan Pak Suami? Mau tahu, atau mau tahu banget? Hihihi..Sebagai preambule (ada yang ingat istilah ini?) baiklah, saya akan kilas balik perjalanan cinta saya dulu dengan pak suami. FYI, selama 11 tahun pernikahan ditambah masa pacaran selama 7 tahun, berarti fix saya telah mengenal suami selama 18 tahun.

Selama 18 tahun bersama jika dihitung dari pertama kenal, sudah pernah mengalami setiap hari bertemu selama 24 jam dan pernah pula menjalani yang namanya LDR alias Long Distance Relationship a.k.a Lungo Dewe Rapopo. Selama 7 tahun pacaran belum pernah mengalami yang namanya “putus”. Hampir putus sih pernah, tapi ngggak jadi 🙂

Apakah pernah mengalami rasa bosan? Namanya suatu relationship, pasti pernah lah ya namanya jenuh atau bosan melanda. Maklum, namanya juga manusia. Tapi pinter-pinter nyari suasana saja sih, kalau saya. Misalnya kalau setiap hari ketemu saat pacaran dulu, lalu dicoba  ketemunya 3 hari sekali, maka rasa kangen akan datang menggantikan rasa bosan. Begitu..hehehe..

Baiklah, saya akan throw back ya..

Baca : Nasihat Pernikahan

Puisi Cita dalam undangan pernikahan 🙂

Juli 1999

Tanggal 12 Juli saya berulang tahun ke-21. Jauh hari sebelum berulang tahun, saya punya resolusi, di usia 21 tahun harus sudah punya pacar dengan kriteria yang saya tuliskan di buku diary saya. Yup, dulu saya rajin sekali menulis buku diary. Saya punya buku diary warna pink yang harum mewangi dan agenda harian yang saya tulisi setiap hari. Nah, di buku diary itu saya biasa curhat.

Saat itu saya resah gelisah karena belum punya pacar. Maklum, anak kuliah jaman old, ada rasa ngiri melihat teman-teman kuliah sudah punya pacar serius dan berencana untuk menikah beberapa tahun ke depan. Lalu saya kapan? Ada sih, beberapa lelaki yang melakukan PDKT dan menyatakan perasaannya kepada saya dari sejak saya duduk di bangku SMP, tapi kok ndilalah saya merasa belum sreg saja. Karena memang saya punya beberapa kriteria idaman untuk calon pacar saya.

Prinsip saya waktu itu daripada pacaran hanya untuk status tanpa rasa cinta, lebih baik jomblo saja. Duh, kalau ingat, saya ini termasuk jomblo banyak maunya saat itu. Namun bersyukur nggak sampai jadi jomblo ngenes, karena saya dikelilingi keluarga, sahabat dan teman yang membuat hidup saya berwarna. Banyak sekali syarat yang saya tuliskan di diary, namun hanya beberapa yang akan saya tuliskan disini demi  kenyamanan saja sih. Malu saya.

Mau tahu apa kriteria lelaki yang saya tuliskan di diary itu?

  • Pertama, lelaki itu harus satu iman *Ini yang penting*
  • Kedua dari suku Jawa sama seperti saya *Rasis? Enggaklah, supaya nyambung saja sih*
  • Ketiga bukan anak kost *Hihihi..takut ditinggal*
  • Keempat harus good looking *Aduh, namanya juga harapan!*
  • Kelima bintangnya Pisces *Loh? Iya, karena saya Cancer dan hanya Pisces yang mengerti sifat saya*
  • Keenam anak teknik, kalau bisa dari UGM *Supaya satu almamater hehehe..*
  • Ketujuh anak sulung *Karena saya anak bungsu*
  • Kedelapan usianya harus lebih tua dari saya *nggak suka brondong*
  • Kesembilan rahasia
  • Kesepuluh rahasia

Jadi, saya kekeuh dengan kriteria ini. Kesepuluh hal ini menjadi pedoman saya dalam menyeleksi calon pacar serius saya (halah). Selama belum ada lelaki yang  sesuai dengan kriteria tersebut, maka saya tidak akan buru-buru mengambil keputusan iya sebagai jawaban dari seseorang yang menyatakan citanya pada saya. Ya nggak harus saklek memenuhi 10 kriteria itu sih, tapi selama masih ada kesempatan mencari yang bisa memenuhi kualifikasi semuanya, kenapa tidak? Ya, kan? Kan? Kan? *kantong bolong*

Singkat cerita, di hari ulang tahun saya ke-21 yaitu tanggal 12 Juli 1999 *catet* saya berkenalan dengan seorang lelaki bernama Gareng. Iya, beneran saat mengenalkan diri, blio mengaku bernama Gareng. Lalu sekian menit kemudian diralat menjadi nama aslinya. Jadi, diulang lagi perkenalan dan salamannya hehehe..

Di perkenalan ini, sepertinya saya merasa sreg, ada chemistry yang mengarah pada jatuh cinta pada pandangan pertama atau falling in love at the first sight karena memang good looking. Ada tanya dalam hati, mungkinkah ini jodohku? Aih, terlalu buru-buru.

Dari perkenalan itu, ada beberapa kriteria yang sudah masuk. Seiman, jelas iya karena kenalnya di tempat ibadah. Satu suku jelas, karena ternyata rumahnya adalah tempat dimana saya lahir dulu. Jadi, blio adalah mantan tetangga saat saya kecil. Namun, anehnya, saya tidak mengenalnya di masa kecil, tapi orangtua kami sudah saling mengenal. Bukan anak kost juga jelas, karena blio masih tinggal bersama orangtua dan kedua adiknya. Anak sulung? Yup, adiknya 2 laki-laki juga. Anak teknik mesin UGM juga ternyata. Duh..saya semakin deg-degan. Blio juga lebih tua dari saya setahun dan ternyata yang membuat saya hampir pingsan bintangnya adalah Pisces! Ini saya ketahui setelah mengobrol dengannya di pertemuan berikutnya. Bahkan kriteria ke-9 dan ke-10 yang rahasia itu juga masuk. OMG!

Jaman Nom 🙂

Baca : Long Distance Marriage

Inilah Jodohku!

Setelah perkenalan itu, saya dan blio semakin dekat. Kegiatan di paduan suara gereja yang mempertemukan kami membuat hubungan semakin intens. Kami jadi sering berangkat kuliah bareng dan yang menggembirakan di akhir bulan Juli kami jadian setelah saya menjawab ya atas ungkapan perasaannya kepada saya seminggu sebelumnya.

Yup, saya sengaja tidak menjawab langsung saat itu karena saya juga butuh waktu berpikir untuk memastikan apakah blio memang serius kepada saya. Meskipun semua kriteria sudah masuk dan perasaan berbicara, namun logika juga harus jalan kan? Saya tidak ingin kecewa mengingat waktu bertemu dan ungkapan perasaannya terkesan buru-buru. Secepat itukah blio jatuh cinta pada saya? Jatuh cinta pada pandangan pertama juga?

Ternyata, waktu jua yang membuktikan. Selama 7 tahun pacaran, kami jarang bertengkar. Godaan yang datang pun mampu kami lalui dengan baik. Kami lulus menjalani pacaran tanpa putus ataupun selingkuh dengan yang lain. Kami saling setia meskipun pernah menjalani LDR selama beberapa tahun.

Maka, akhirnya saya mantap memilihnya menjadi suami saya. Kami menikah dalam keadaan masih sama-sama menjadi karyawan dengan penghasilan biasa-biasa saja. Modal kami hanya cinta, ketulusan dan kepercayaan. Saya merasa Tuhan sangat baik. Anugerah datang silih berganti meski tak jarang cerita sedih melingkupi keluarga kami juga ada.

Tanggal 30 Desember 2006 kami menikah, tanggal 10 Oktober 2007 anak lelaki kami lahir. Kehamilan pertama diwarnai dengan kebahagiaan dan juga kekhawatiran karena saya sempat mengalami flek di trimester pertama dan mendapat cacar air saat usia kehamilan memasuki 7 bulan. Panik dan takut terjadi apa-apa, namun Tuhan pasti punya rencana indah di balik itu semua.

Oooo..Menikahlah denganku.. 🙂

Dengan berusaha periksa ke dokter yang tepat, semua itu bisa kami lalui dengan baik. Anak lanang lahir secara normal dengan selamat meskipun harus diinduksi karena telat seminggu dari HPL. Begitu lahir, anak lanang diinfus karena gula darah rendah, dioksigen karena nafasnya kurang lancar, diinkubator karena kedinginan dan disinar karena kadar bilirubin tinggi. Namun, akhirnya semua bisa dilewati dan baik-baik saja.

10 Oktober 2009

Keputusan terbesar kami ambil saat anak lanang akan ulang tahun ke-2. Saya dan pak suami nekad resign bareng dari pekerjaan di perusahaan kami masing-masing. Kami bertekad bulat untuk membuka usaha bersama dari nol. Nol, karena modal kami hanya rasa saling percaya, nekad dan kemauan yang kuat. Kami percaya, Tuhan senantiasa membimbing jalan hidup kami.

Kami pindah domisili di daerah yang masih asing. Lalu mengontrak rumah, membuka usaha jualan ban mobil di bekas gudang keramik milik Om dari pihak suami. Tepat saat anak lanang berusia 2 tahun. Lalu perjuangan dimulai.

Tanpa karyawan kami memulai semuanya. Dengan modal tabungan yang tidak seberapa. Hidup dan makan seadanya. Full prihatin. Yang penting waktu bersama keluarga lebih banyak. Sambil menjaga toko, saya momong anak. Kadang anak lanang di rumah yang jaraknya 100 meter dari toko bersama mbak yang momong sampai sore. Suami belajar menambal ban, memasang ban secara otodidak. Semua dilakukan sendiri karena belum bisa menggaji karyawan. Saya menjadi admin sekaligus kasir dan marketing. Product knowledge bisa dipelajari sambil jalan. Pokoknya jalan.

Lambat laun, kami mulai bisa menggaji karyawan. Bank mulai percaya dengan memberikan pinjaman. Dari pinjaman itu dibantu dengan orangtua, kami mulai membangun rumah dan toko di satu tempat. Ruko 2 lantai lebih tepatnya. Lantai atas untuk toko dan lantai bawah untuk hunian kami. Di ruko baru ini, kami punya satu anak lagi. Perempuan. Hidup semakin terasa lengkap. Tuhan teramat baik.

Baca : Home Sweet Home

Now, here we are. Catatan perjalanan hidup kami menjadi saksi sejarah dan perjalanan cinta kami. Yup, semua karena cinta. Maka dalam nama Tuhan, kami sepakat untuk membangun bahtera rumah tangga yang nyaman dan membahagiakan bagi anak-anak kami. Tugas kami sebagai orangtua masih sangatlah panjang. Semoga Tuhan senantiasa memberi kekuatan, kesehatan dan umur yang cukup hingga bisa melihat anak cucu kami bertumbuh bahagia. Amin.

Keep always be happy family! 🙂

Jadi bakul ban 🙂
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

10 thoughts on “Catatan Perjalanan Cinta : Throw Back, Now and Forever”

  1. Hahah kriteria hampir semua ada di suamiku dong, Jawa, Islam, anak teknik ugm & bukan anak kos. Bedanya cuma dia bungsu & aku sulung, lookingnya dari dulu udah endut anet wkwkwkwk. Tapi aku dulu nggak punya kriteria, karena blio dah langsung ngajak ortunya kerumah aja, sementara lainnya cuma gitu2 doang. Sekarang lagi deg2an kriteria anakku kayak apa nih krn blm ada yg main ke rumah scr spesial hehheee. Semoga langgeng ya mak, bahagia selamanya. Aamin. Sudah sempurna, senang melihatnya :))

    1. Hihihi..satu tipe ya, mak Lus. Semoga nanti kriteria anak wedok bisa sesuai dengan pujaan hatinya n langsung dimudahkan ke jenjang berikutnya, ya Mak. Amin. Bahagia selalu juga bwt mak Lus n family :))

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *