Menjadi Content Creator Itu Mudah

“Membaca Itu Sehat, Menulis Itu Hebat”

(Gol A Gong)

Tanggal 18 hingga 20 Desember yang lalu adalah tanggal bersejarah dalam hidup saya. Tak terduga sebelumnya jika saya berkesempatan mengikuti kelas esai oleh penulis yang tidak asing di negeri ini. Siapakah beliau? Sebut saja namanya Gol A Gong. Dulu terkenal dengan nama Gola Gong. Yup, nama Gola Gong identik dengan Balada Si Roy. Ada yang mengenalnya? Ngacung! Fix, berarti kita seumuran (tuanya

Berlangsung di Jayakarta Hotel, Yogyakarta, Workshop Content Creator yang diselenggarakan oleh Sahabat Keluarga dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Kumpulan Emak Blogger dan Blogger yang sudah berkeluarga sekitar Jogja dan sekitarnya itu berlangsung pada tanggal 18 hingga 20 desember 2018. Nginep? Yup! Sungguh ini adalah me time bergizi yang sangat ditunggu-tunggu oleh seorang ibu seperti saya. Kapan lagi bisa nginep di hotel yang nyaman, mendapat ilmu yang sangat bermanfaat dari ahlinya yang berkompeten? Maka ketika suami memberi ijin dan anak-anak dapat dikondisikan maka saya berangkat. Yeay..

Menulis Esai

Berfoto bersama Gol A Gong

Sering sekali mendengar kata esai tapi terus terang saya belum paham sebenarnya esai itu apa? Panganan opo kuwi? Hush..Ternyata oh ternyata, esai adalah sejenis tulisan jurnalistik. Kalau sering membaca koran pasti sering membaca rubrik opini kan? Nah, esai itu semacam opini yang dituliskan, berawal dari suatu kegelisahan akan keadaan yang terjadi di sekitar kita.

Namun, meskipun yang dituliskan dalam esai itu berupa opini, diperlukan juga riset lapangan, pustaka pendukung dan wawancara. Iya, opini yang ditulis harus berupa fakta, bukan fitnah apalagi hoax. Selain itu tulisan esai harus bersifat subyektif. Fakta yang ada dituliskan dalam bentuk tulisan sastra. Dengan kata lain esai adalah fakta yang dikemas dengan gaya tulisan fiksi. Jadi menarik minat pembaca dan menggelitik. Dan yang terpenting dalam suatu tulisan esai, harus ada solusi. Jadi, jangan cuma curhat aja lalu ditinggal tanpa penyelesaian.

Kang Gol A Gong memberikan contoh trotoar sebagai ide untuk menulis. Bisa diawali dengan bagaimana kondisi dan fungsi trotoar di masa lalu bila dibandingkan dengan trotoar di masa sekarang. Lalu harapan kedepannya, trotoar seperti apa yang diinginkan. Kondisi trotoar di luar negeri bisa dijadikan referensi pembanding.

Contoh lain yang digunakan sebagai ide menulis esai adalah puteri dari kang Gol A Gong. Puterinya yang berusia 10 tahun sudah berinisiatif membuat care box, yaitu kotak yang dibuat dari kardus sebagai tempat  untuk menyisihkan uang jajannya setiap hari. Setelah penuh, uang dari care box diberikan kepada para asisten rumah tangga, petugas kebersihan dan orang-orang yang membutuhkan. Maka Gol A Gong mulai mewawancari anaknya. Teori yang digunakan adalah prinsip 4W+ 1H.

What? Care box.

Who? Puteri Gol A Gong.

Where? Di rumah.

When? Saat puterinya berusia 10 tahun.

How? Maka diceritakanlah bagaimana kronologisnya berdasarkan hasil wawancara.

Kang Gol A Gong mengapresiasi usaha puterinya untuk turut  berbagi dan peduli kepada mereka yang membutuhkan di lingkungan sekitarnya. Meskipun ada rasa cemburu karena di jaman dulu, Gol A Gong harus mencari uang jajan sendiri tanpa harus mengandalkan kekuatan orang tuanya. Namun Gol A Gong bersyukur dan bangga dengan puterinya. Apa yang dilakukan puterinya bisa menjadi inspirasi untuk peduli pada kemiskinan dengan mau berbagi kepada sesama.

Dalam menulis esai, judul yang dipilih sebaiknya singkat padat, tidak lebih dari dua kata. Pastikan memilih judul yang menarik, mengundang tanya karena penasaran. Big no untuk judul yang memberitahu. Belum dibaca bisa langsung bubar dong karena sudah tahu apa yang akan dibaca.

Oh,ya. Tulisan esai ini tergolong dalam creative writing. Yang artinya, penulis dibebaskan untuk menuliskan gagasannya. Meskipun bebas, tetap harus bertanggung jawab pastinya. Esai bisa menjadi salah satu solusi dari setiap permasalahan yang ada. Semua orang boleh menuliskan ide dan gagasannya.

Dimanakah ide itu berada? Ide bisa berada dimana saja. Di pasar, lingkungan sekitar, dalam keluarga dan lain sebagainya. Karena hotel tempat kami menginap dekat dengan Transmart, kami para peserta menulis esai dilepas ke Transmart atas seijin kang Gol A Gong untuk mencari ide. Ternyata memang banyak ide disana. Misalnya tentang jembatan penyeberangan yang menimbulkan kegelisahan karena para pengendara kendaraan seolah tidak peduli kepada penyeberang jalan. Mereka tetap melaju dengan kencang meskipun ada petugas keamanan yang membantu untuk menyeberangkan. Maka timbul ide untuk membuat jembatan penyeberangan di atas jalan bukan sekedar zebra cross yang sepertinya kurang dihargai keberadaannya

Mencari ide di transmart

Masih takut untuk menulis esai? Tenang, ada undang-undangnya kok. Yang penting apa yang ditulis harus dapat dipertanggungjawabkan.

  • UUD 1945, pasal 28 melindungi dalam mengemukakan pendapat baik secara lisan ataupun tertulis
  • Deklarasi Universal Hak-hak Asasi Manusia pasal 29 juga menjamin akan hal ini

Membuat Film  

Mas Iqbal sedang explain cara membuat film (doc : Fuji Rachman Nugroho)

Emak-emak membuat film? Why not? Awalnya saya juga ragu apa iya bisa membuat film? Ternyata dengan learning by doing, siapapun bisa membuat film tak peduli bagaimana hasilnya. Yang penting bisa, ya kan? Kan?

Jadi, kami semua para peserta workshop Content Creator diajak menuju lokasi shooting. Dimana? Tebing Breksi, dong. Disana kami dibebaskan untuk membuat film tentang arti kebebasan dalam waktu yang sangat sempit dan terbatas. Tak peduli apakah kami pernah membuat video atau belum. Tak peduli apakah di smartphone kami ada aplikasi video atau tidak. Pokoknya buat film per kelompok. Haha..sadis ya.

Ternyata the power of kepepet itu memang ada. Tak ada kata tidak bisa. Kami harus mencoba. Dengan smartphone seadanya, aplikasi edit video yang sederhana, dan talent dengan akting pas-pasan, maka kelompok saya ( 4 orang) memutuskan untuk membuat film ala-ala. Karena semuanya serba dadakan, maka kami merasa tidak ada property yang pas untuk mendukung ide membuat film kami. Haha..penuh dengan alasan.

Adalah mas Iqbal, mentor dari Film Maker Muslim yang mendampingi kami. Bersama temannya, mas Iqbal membuat film remaja Islam yang saat itu belum banyak yang membuat. Dapat dikatakan mas Iqbal and friends ini menjadi pioneer dalam membuat film remaja muslim di YouTube. Dengan mengangkat tema film yang sarat dengan pesan yang akan disampaikan, film Cinta Subuh mampu meraih angka 2 juta lebih viewer. Keren ya. Apa rahasianya? Ada deh..

Materi tentang membuat film disampaikan di hotel keesokan harinya. Di Tebing Breksi kami hanya mengambil lokasi untuk pembuatan film. Jadi, dapat dikatakan kami membuat film tanpa tahu bagaimana teorinya. Otodidak pokoknya. Maka acara pemutaran film per kelompok saat di hotel menjadi acara yang sangat seru dan penuh dengan canda tawa. Selain pemutaran film, dalam sesi ini juga dibahas tentang apa saja kekurangan dari film yang dibuat. Shaking, noisy, back light dan istilah-istilah teknis saat pembuatan video menjadi topik masalah yang dibahas.

Ada banyak teori yang awalnya belum tahu sama sekali jadi tahu. Oh, ternyata membuat film itu tidak semudah meonton. Ada banyak hal yang perlu dipersiapkan dari mulai membentuk tim, mencari pemain, membawa peralatan membuat film, lokasi, ide cerita dan lain sebagainya. Banyak pernak-pernik yang harus dipersiapkan.

Tak dapat dipungkiri, saat ini film menjadi tontonan yang menarik. Dengan film, ada banyak pesan yang dapat disampaikan. Siapa saja yang akan menjadi target penonton, bagaimana cara mengemas film yang menarik supaya pesannnya dapat sampai menjadi topik bahasan yang menyenangkan.

Di era digital seperti sekarang, siapa saja bisa membuat film. Tak perlu menunggu punya modal besar baru membuat film, karena dengan small team, small  budget pun bisa berdampak besar atau high impact seperti Cinta Subuh itu. Percaya nggak kalau modal membuat film itu hanya dua ratus ribu rupiah saja? Karena mas Iqbal and friends mempunyai niat untuk memberi moral pesan yang baik untuk penonton, maka segala kemudahan didapatkan. Dari talent yang tidak mau dibayar, dapat alat pinjaman, lokasi shooting yang tidak perlu membayar mahal dan hal lain yang tidak terduga.

Dapat dikatakan film Cinta Subuh adalah film inspiratif, menghibur dan penuh pesan moral untuk para remaja, dan fleksibel untuk ditonton oleh orangtua juga. Jadi semua segmen bisa masuk. Mas Iqbal berpendapat bahwa film dengan cerita konflik di awal dapat menarik minat dan membuat penasaran untuk menonton dari awal sampai akhir. Film yang berpotensi viral biasanya tentang tema harta, wanita, tahta, kontroversi, aneh, pioneer, dan inspiratif yang konsisten.

Karena sekarang peraturan You Tube berbeda, bukan lagi viewer tapi watch time yang menjadi ukuran, maka penting untuk membuat film yang membuat betah penonton melihat dari awal sampai akhir.

Tahapan membuat film dibagi 3 yaitu pra produksi, saat produksi dan post produksi. Pra produksi berupa ide, skenario, brainstorming skenario, casting, reading, cek lokasi, persiapan art, alat, crew, wardrobe, short list atau story board. Produksi saat syuting. Post produksi berupa editing, music, sound mixing, publishing.

Team dalam pembuatan film biasanya ada produser, sutradara, penulis, sinematografi, production designer, line producer, production manager, editor, music score, mixing, colorist, publishing. Semua punya tugas dan tanggung jawabnya masig-masing.

Ada banyak teori teknis saat pengambilan gambar. Termasuk komposisi sinematografi. Komposisi itu berupa :

  • Shot type : extreme long shoot, long shoot, knee shoot, medium shoot, medium close up, close up, big close up, extreme close up, over the shoulder, point of view shoot
  • Camera angle : Bird’s eye view, high angle, eye-level, low angle, frog’s eye view, canted angle
  • The rules of framing : the rule of third, nose room, lead room, head room

Di jaman now, siapa saja bisa membuat film. Semua orang bisa menjadi content creator. Keberadaan YouTube dapat menampung segala kreativitas yang ada. Jangan berpikir sulit, tapi berpikir mudah maka segala ide dapat tertuangkan pada tempatnya. Membuat content yang bermanfaat menjadi tanggung jawab kita semua.

Selamat berkarya!

Berfoto di lokasi syuting Tebing Breksi (doc : Fuji Rachman Nugroho)

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

43 thoughts on “Menjadi Content Creator Itu Mudah”

  1. Betul mbak jadi content creator itu mudah, tergantung kitanya niat atau tidak. Memanfaatkan apa yang ada. Mo ngevlog punyanya hape ya pake hape, ada kamera ya pake kamera pokoknya mulai aja dulu gt

  2. Iya mbak emang betul, tergantung kitanya niat atau tidak. Pokoknya memanfaatkan apa yang ada semaksimal mungkin
    Misal mau ngevlog adanya hape ya pake hape dulu, adanya kamera ya pake kamera. Pokoknya berani mulai dulu aja gt

  3. Fix. Berati kita seumuran. Wkwkwk…

    Oh ya. Bagi bloger mencari ide itu mudah. Tapi create-nya itu sing rada embuh. Hihihi…

    Overall. Suka banget dg semua materi. Terutama tema membuat film. Dan kita sudah bertegur sapa via dumay. Tapi baru kopdaran kemarin.

    Salam
    @nuzululpunya

  4. Menulis atau membuat video semuanya sama-sama butuh dimulai. Skrg alat foto dan video sudah dimudahkan sama smartphone yg kamera, baterai dan storagenya cocok buat moto dan mideo. ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *