Ada Apa di Gedong Songo Semarang?

Seringlah pergi keluar, dan lihat betapa luasnya dunia, tak selebar daun Kelor

Julipedia

Kendaraan serupa travel colt berkapasitas kurang lebih sepuluh orang itu telah sampai mengantar rombongan kami ke tempat tujuan. Gedong Songo. Suatu tempat wisata yang cukup tersohor di Bandungan, kabupaten Semarang. Tempat yang merupakan perpaduan antara wisata alam, sejarah namun mengikuti perkembangan jaman itu tampak luas sejauh mata memandang. Cuaca gerimis langsung menyambut kedatangan kami, dan disambut pula dengan barisan para mantan ibu-ibu yang menyewakan payungnya untuk melindungi kami dari air hujan. Fix, harga sewa payung seharga 10 ribu rupiah. Daripada basah, mending merogoh kocek segitu.

Lalu kami membeli tiket masuk di loket. Harga tiket masuknya 10 ribu rupiah. Cukup terjangkau ya. Murah meriah. Tak jauh dari area Candi, ada tempat wisata baru yang sepertinya lebih cocok untuk berfoto-foto yang instagramable. Namun saya tidak sempat pergi kesana. Hanya mendapat info, untuk masuk ke Ayana harga tiket masuknya 25 ribu rupiah, bebas mengambil spot foto dimana saja, kecuali ada bagian khusus yang harus membayar lagi. Tempat kekinian, dengan harga yang kekinian juga. Ye kan? 🙂

Ada Candi

Pose keluarga Cemana di Candi Gedong Songo

Kembali ke Gedong Songo. Di tempat ini ada 9 candi yang letaknya cukup berjauhan dan semakin jauh semakin menanjak lokasinya. Konon, candi peninggalan agama Hindu pada jaman Wangsa Syailendra abad ke-9 ini ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804. Candi yang terletak di ketinggian 1.200 m2 di atas permukaan laut ini memiliki suhu yang cukup dingin (kisaran 19-27 derajad Celcius). Konon kabarnya pula, Candi ini memiliki kesamaan struktur dengan candi di Dieng. Ada yang pernah ke Dieng? Saya kok belum ya. Hiks. Jadi pengin kesana, mau membuktikan persamaan struktur bangunan Candi di Gedong Songo dan di Dieng hehehe..

Candi pertama yaitu Candi gedong Songo I berhasil saya lihat bersama keluarga. Lalu kami berfoto disana. Bentuk candi cukup khas ya, seperti kebanyakan candi Hindu umumnya, bentuk persegi panjang dengan stupa yang agak meruncing di bagian atasnya. Kalau candi Budha kan stupanya bentuk bulat. Coba bayangkan bentuk candi Borobudur seperti apa. Nah, seperti itulah kira-kira.

Naik Kuda

Berhubung cuaca kurang cerah, ditambah badan ini kurang begitu fit, maka.. Ah, iya just info saya ini lagi flu sudah hampir sebulan nggak sembuh-sembuh. Batuk pilek, ditambah hidung buntet, suara bindeng yang entah kenapa susah disembuhinnya. Sepertinya virusnya tergolong nekad deh. Padahal sudah saya genjot multivitamin dan pola makan mengurangi gorengan segala lho. Eh, lha kok anak lanang kena cacar air, lalu nular ke adiknya. Setelah dua minggu hampir sembuh, anak lanang kena demam lagi dan (((lagi-lagi))) nular ke adiknya yang baru saja sembuh dari cacar air dan kok bapaknya anak-anak ikutan ketularan. Duh…sampai 3 minggu tidak masuk sekolah lho. Saya sudah takut demamnya sampai suhu 39-40 derajat Celcius. Ternyata demam karena mau batuk pilek. Tapi kan saya jadi merawat 3 pasien sekaligus. Hm..

Padahal agenda piknik ini sudah dijadwalkan jauh-jauh hari sebelum negara api sakit flu menyerang. Maka begitu ada tanda-tanda mau sembuh meskipun belum total jadilah kita ikut rombongan piknik. Tapi, bapaknya yang belum sembuh betul nih. Bliaunya angkat tangan kalau harus jalan kaki naik-naik ke puncak gunung demi melihat candi lainnya.

Pucuk dicinta ulam tiba. Disitu ada bapak-bapak yang menawarkan jasa naik kuda. Hm, good idea. Lalu negosiasi terjadi. Ternyata ada beberapa paket penawaran harga naik kuda. Yang pertama berdasarkan jarak lokasi, lalu berat badan juga berpengaruh terhadap harga. Misalnya nih, paket ke Candi 2 dihargain 80 ribu untuk yang berat badan dibawah 70 kg. Jika diatas 70 kg harganya 100 ribu. Nah, kami pilih paket yang ke pemandian air panas. Harga normal sih 100 ribu, tapi karena kita semua berat badannya di atas 70 kg maka jadi 120 ribu. Iyess, bapaknya dan anak lanang kan badannya tinggi besar, di atas 70 kg semua. Saya sebenarnya punya berat badan cukup ideal tidak sampai 70 kg, tapi ditambah anak wedok yang masih umur 5 tahun, jadi 70 kg lebih. Lha iya kan, masak anak kecil naik kuda sendiri. Maka demi amannnya, saya dan anak wedok naik satu kuda bersama. Maka tinggal dikalikan saja 120 ribu kali 3 = keliling Candi Songo menuju tempat pemandian air panas. Pulangnya melewati candi 2 dan candi 3.

Asyiknya naik kuda 🙂

Bagaimana rasanya naik kuda? Hanya satu kata : seru! Meskipun agak deg-degan juga sih. Takut kudanya khilaf lalu terjatuh. Karena sempat beberapa kali kudanya berhenti, mungkin kecapekan. Lalu dikasih rumput sama pemandunya, baru mau jalan lagi. Ketika jalanan menurun, ternyata ada posisi tubuh yang yang harus dilakukan. Kaki saya lurus ke depan, lalu tubuh condong ke belakang. Mungkin maksudnya untuk mengerem lajunya kuda. Sedangkan saat jalanan menurun posisi tubuh penumpang ya biasa saja, kaki di pelana dan tangan memegang tali pegangan. Kalau sudah biasa naik kuda, mungkin bisa dikendalikan pakai tali kendali.

Awalnya saya cukup blank saat menaiki kuda, bingung harus bagaimana bersikap. Takut jatuh. Apalagi saya kan berdua sama anak wedok, yang katanya tempat duduknya terlalu sempit hehehe..Ada juga kekhawatiran kalau tiba-tiba kudanya kebelet BAB lalu nungging, dan sudah pasti seperti apa nasib penumpangnya kelak. Namun syukurlah hal itu tidak terjadi. Maka konvoi naik kuda itu pun berlangsung. Saya dan anak wedok (satu kuda) berada di barisan paling depan, lalu di belakang kami ada anak lanang yang naik kuda sendiri bersama pemandu, dan paling belakang adalah bapaknya anak-anak yang ikutan naik kuda juga, bersama pemandu tentu saja.

Saya cukup menyesal tidak mengabadikan momen naik kuda ini dengan seksama. Hanya ambil gambar dari handphone seperlunya, itu pun sambil cemas takut jatuh. Mestinya kalau diambil videonya secara lengkap pasti bagus karena viewnya memang pemandangan indah. Saya pun tak sempat mengabadikan foto candi ke-3 dan ke-4 saat melewatinya karena kudanya pas tidak bisa diajak kerjasama. Maka tak sempat saya pegang hape. Hadeuh..Padahal bagus sekali angle fotonya. Lha tapi daripada jatuh ya kan? Hm..

Ada Pemandian Air Panas

Bisa berfoto keluarga formasi lengkap adalah kemewahan 🙂

Aroma belerang langsung menyengat begitu kami tiba di tempat pemandian air panas. Dari kejauhan tampak asap kabut putih dari kawah yang ada di lereng gunung itu. Yup, disana memang ada sumber air panas alami yang mengandung belerang. Dengan berendam air panas mengandung belerang ini, konon segala penyakit kulit bisa sembuh. Sebenarnya ini momen yang pas banget untuk berendam air panas untuk anak-anak saya. Maklum, baru saja mereka sembuh dari sakit cacar air. Kan bisa untuk menghilangkan bekas lukanya. Namun ternyata anak lanang tidak mau, pun anak wedok malah takut untuk ke bawah. Jadi ya sudah, saya tidak akan memaksa. Kami akhirnya hanya berfoto-foto saja, sementara kuda di parkiran menunggu. Yup, perjalanan kami belum usai.

Berapa harga tiket untuk bisa berendam di air panas ini? Cukup 5 ribu rupiah saja. Dari luar saya bisa melihat ada beberapa orang yang berendam disana. Cukup banyak sih, mungkin sekitar 10 orang. Mereka tampak khusyuk berendam. Sepertinya enak ya, saya pun pengin. Tapi sayang anak-anak nggak ada yang mau. Hiks..

Setelah dari pemandian air panas, kami pun naik kuda lagi. melanjutkan perjalanan hingga ke tempat pertama kali kami naik kuda. Banyak kesan yang kami dapatkan dari candi Gedong Songo. Semua pengalaman itu menjadi bekal hidup anak-anak kami kelak. Untuk mengukir cerita dan kenangan indah yang pernah ada di masa kecil mereka. Sekaligus menemui hal-hal baru yang penting untuk menambah wawasan mereka. Jangankan anak kecil, lha wong saya yang sudah dewasa saja senang kok. Betul, pergi jauh dari rumah ke tempat wisata itu bisa merefresh segala pikiran menjadi lebih segar sehingga bisa bersemangat untuk melanjutkan aktivitas sehari-hari selanjutnya.

Happy traveling! 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

54 thoughts on “Ada Apa di Gedong Songo Semarang?”

  1. Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara.

    Komplek candi ini di buat berderet dari bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi.

    Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa.

    Konon ini untuk persembahan juga? Wallahu alam

  2. Banyaaaakkk banget destinasi wisataa di sekitaran Semarang yg sangat menarik ya Mbaaa
    Selama ini aku puter2 di sekitaran simpang lima doang sih.
    Pengin ke sini suatu hari nanti

  3. Wah, Main ke Kabupaten Semarang to Mbak Jul, pemandangan Gedong Songo memang luar biasa indah, udaranya sejuk apalagi kalau pas berkabut makin terasa keindahannya

  4. Yah…mudik lalu sempat mampir ke Semarang, tapi hanya sempat ke Lawang Sewu, next kalau mudik lagi kepingin juga menjelajahi destinasi wisata di Semarang seperti Candi Gedong Songo ini, soalnya aku suka banget mengunjungi tempat bersejarah, melihat peradaban zaman dahulu sebagai sarana untuk belajar tentang masa depan. Ada pemandian air panasnya ya mbak, wah cocok nih buat bantu menuntaskan alergi anakku.

  5. wah asyik juga ya udaranya seger, oh ya aku paling suka lihat candi kesannya selalu megah dan suak membayangkan orang2 yang membuatnya

  6. Wah pengin nih liburan ke tempat wisata gedong songo Semarang, jadi nggak cuma liat pantai aja liburannya 😀
    Ngebayangin berendam di pemandian air panas, asyik juga ya, capek pegel2 di badan sepertinya bakal hilang deh, badan jadi fresh lagi. Eh tapi kalau suami atau anak-anak nggak mau nemeni ya males juga berendam sendirian haha

  7. Mba, aku juga takut bahkan ga mau lagi sih naik kuda,,baca mba takut kudanya nungging krn pengen bab aku jadi ngakak ngebayanginnya..

    seru nih yah mba sayang yah ga sempet berendemnya padahal htmnya mursidah :p

  8. saya belum ke keduanya mbak, baik candi gedong songo maupun dieng.

    Unik juga ya tarif naik kudanya, berdasarkan berat badan. Dan emak-emak nggak mau rugi dong ya, anak kecil jangan naik sendiri hehehe….

  9. Bagus banget tempatnya aku udah lama banget gak kesemarang soalnya kan emang aku ga ada sodara disana pengen kesemarang jadinya kak

  10. Beberapa kali menyaksikan pemadangan di sekitar Candi Gedong Songo dan aktivitas berkuda jadi semakin ingin untuk liburan ke sana.

  11. Kalau wisata Candi khususnya di daerah Jawa, rata2 memang masih sangat terawat, bagus dan eksotis. Lebih memesona juga buat anak-anak. Apalagi daerah Yogya, Jawa Tengah ya. Selain candi selalu ada obyek pendukung yang nggak kalah memikat. Gedong Songo memang termasuk yang masih memikat wisatawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *