Melipir Ke Pantai di Masa Pandemi

Ku lari ke hutan, kemudian menyanyiku

Ku lari ke pantai, kemudian teriakku

Sepi-sepi dan sendiri

Aku benci

Rako Prijanto (AADC)

Pantai di Masa Pandemi-Kadang, hidup terasa menantang ketika berani melakukan sesuatu tanpa rencana. Termasuk soal piknik yang sudah ditahan sejak pandemi Covid-19 melanda. Rumah menjadi tempat ternyaman dan aman untuk saat ini. Namun, realita berbicara bahwa berdiam diri saja di rumah dalam waktu yang cukup lama lambat laun berdampak meluas ke berbagai aspek.

Maka, ketika ada kesempatan, segala sesuatu yang tidak direncanakan bisa saja langsung terjadi. Ceritanya, saat peringatan 7 hari ibu mertua, kami sekeluarga melakukan ziarah ke makam ibu di Kokap, Kulon Progo. Setelah itu, kami pun mampir ke Pantai Dewaruci yang tak begitu jauh dari Kokap. Meskipun tergolong dekat jaraknya, ternyata pantai ini sudah masuk ke daerah Kalimalang, kabupaten Purworejo, propinsi Jawa Tengah. Berbeda dengan kabupaten Kulon Progo yang termasuk wilayah Propinsi DIY.

Baca : Pantai di Gunungkidul

Saya baru pertama kali ini ke pantai Dewaruci. Kesan pertama yang saya tangkap saat pertama kali melihat pantai dari kejauhan adalah keindahan yang alami. Langit biru, laut biru, pasir pantai meskipun bukan pasir putih, angin berhembus dan suasana khas pantai lainnya. Waktu itu kami tiba di pantai siang hari. Pantai tak telalu ramai oleh pengunjung.

Para pencari sesuatu

Anak-anak tampak senang bermain setelah sekian lama tidak menjejakkan kakinya di area pantai. Bermain pasir, bermain ombak, lalu mencari-cari sesuatu yang ada di pantai. Anak wedok girang bukan kepalang ketika menemukan kulit kerang di sana-sini. Langit biru, air laut yang biru menambah cerah suasana. Tak lupa protokol kesehatan tetap kami perhatikan. Memakai masker, jaga jarak dan cuci tangan dengan sabun atau memakai hand sanitizer. Memang sedikit repot, tapi itu harus kami lakukan demi kebaikan dan kesehatan bersama. Saling menjaga satu sama lain.

Baca : Mendadak di Waduk Sermo

Di Pantai Dewaruci Ada Apa?

Yang pasti ada di suatu pantai tentu pasir. Pasir di pantai Dewaruci bukan pasir putih. Pasir biasa. Ada beberapa gazebo atau gubug mungil yang tampak terpasang tak jauh dari pantai. Beberapa penjual makanan dan minuman membuka lapak disana. Oh, iya ada juga persewaan naik semacam motor keliling pantai.

Baca : Ngebolang di Bali

Angin bertiup cukup kencang saat kami sampai di pantai. Payung yang dipakai salah satu kerabat kami pun langsung rusak terkena hembusan angin. Rambut saya pun sukses diombang-ambingkan angin yang cukup besar. Bisa cek di video saya ya. Hehe..

Bagaimana dengan ombaknya? Ombak saat itu berdebur cukup sedang. Konon katanya ombak di pantai Dewaruci ini tergolong besar saat pasang. Ada beberapa ayunan dari ban saya lihat saat menuju ke pantai. Saya langsung ingat lagu Goodbye-nya Air Suply. Yes, di video klip lagu itu ada scene orang naik ayunan dari ban. So fenomenal.

Hai..hai.. 🙂

Yang khas saat akan memasuki area pantai Dewaruci ini adalah patung yang ada di depan dekat dengan tulisan besar Dewaruci. Sayang sekali jaraknya lumayan jauh dari tempat parkiran kami. Jadi nggak sempat foto-foto di ikon pantai Dewaruci tersebut. Hanya sempat saya rekam videonya dari dalam mobil saat melintas mencari tempat parkir. Pohon-pohon cemara tampak menghiasi di sekitar pantai. Cukup teduh dan bisa menahan hembusan angin yang kadang cukup besar berhembus.

Baca : 3 Hari 5 Kota Dijelajahi

Sayang sekali waktu kami terbatas. Kami hanya singgah sejenak melihat suasana lalu beranjak pulang. Meski sesaat, rasanya plong sudah bisa piknik tipis-tipis di pantai. Refreshing sekejap mata saya meyebutnya. Tak apa. Sudah cukup membuat segar kok.

Always keep healthy life! 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

44 thoughts on “Melipir Ke Pantai di Masa Pandemi”

  1. Seru bangeeet bisa main – main ke pantai. Saya sampai sekarang masih belum berani ajak anak2 jalan2. Paling mentok jalan2 ke rumah tantenya aja, semoga pandemi ini segera berakhir yaa, heuheu..

  2. Aihhh aku jd bayangin vclipnya mbaa.. dulu suka lagu itu. Hits bgt pada jamannya ya.
    Aku belum mantai nih mbaa, anak2 udah ngajak2 pergi tapi masi beluman. Tantangan piknik jaman skrg yaa mbaa, tetap tidak lupa protokol kesehatan

  3. Beberapa kali saya ikut nyekar ke makam bapak mertua di Kulonprogo, tapi karena waktu terbatas malah belum pernah mampir pantai. Padahal, ke pantai bisa dibilang tinggal belok 🙂

  4. wuah liat ini jadi pengen ikutan kepantai yaaa.. refreshing banget pasti ngeliat laut dan dengerin suara ombak.. Aku belom pernah nih ke dewaruci, makasi sharingnya ya maaaak

  5. Saya pernah nih bareng keluarga ke pantai selama masa pandemi. Baru sekali, itu aja udah senang banget. Tapi yaa gitu, benerbener cari pantai yang sepi, berangkatnya udah sore banget..biar ga kelamaan di sana. Dan pastinya, bawa bekal dari rumah.

  6. Wah serunyaa sudah melipir ke pantai ya mbak.. jogya itu selalu bikin kangen dengan segala tempat wisatanya.. termasuk pantainya.. saat pandemi aku baru main ke curug aja nih hehe.. tetep jalankan protokol kesehatan ya mbak supaya tetap terlindungi dan kita semua senantiasa sehat ya.. aamiin

  7. kalau musim pandemi gini emang paling aman ke pantai sih, at least menurut aku. Baik juga buat keluarga terutama anak, wisata yg cukup murah dan bisa menghirup udara bersih ya.
    Btw pantainya disana termasuk yg bersih ya mba. Itu gubuknya aman, gak keseret ke laut ya? Lucu banget sih ada gubukan gitu 🙂

  8. Udah lama nih enggak main ke pantai… pengen banget ngajak anak-anak main ke pantai, nyari tempat wisata yang aman di masa pandemi ini… tapi nanti dulu deh, huhu…

  9. Wahhh asyik banget yaa udah main di pantai.. aku belum berani nih, Mbak. Soalnya bawa krucils empat, takut gak bisa jaga protokol kesehatan karena lepas pengawasan pas main air dll di pantai. Hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *