Kota Udang yang Smart

Saya pernah tinggal di kota Cirebon selama kurang lebih 3 tahun dari tahun 2006 sampai 2009. Secara umum, saya mengenal sedikit seluk beluk kotanya. Sebagai kota perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat, Cirebon menjadi kota transit bagi pelaku bisnis. Iya, Cirebon adalah kota strategis. Mau ke Bandung, atau ke pusat kota Jakarta jaraknya cukup terjangkau. Kereta api Cirebon Express selalu  tersedia dari kelas bisnis dan eksekutif dari stasiun Cirebon tujuan kota Jakarta. Kurang lebih tiga jam jarak tempuh yang diperlukan. Saya ingat, setiap naik kereta api dari Jogja ke Jakarta, stasiun Cirebon merupakan stasiun yang disinggahi paling lama. Itu artinya, stasiun Cirebon dianggap cukup besar dibandingkan dengan stasiun lainnya.

Kesan pertama saat ke kota Cirebon adalah hawanya yang panas. Iya, panas sekali. Pasti deh berkeringat kalau tanpa AC dalam ruangan. Untung, tempat saya bekerja ada AC nya. Jadi adem. Hehehe..Panas yang terjadi mungkin karena kota Cirebon dekat dengan pelabuhan. Selain itu, di kota kurang banyak terdapat pohon. Taman kota hanya ditumbuhi tanaman kecil saja.

Enam tahun yang lalu, saat saya masih tinggal di Cirebon, fasilitas publik sudah lumayan lengkap. Pusat pertokoan ada Grage Mall, Cirebon Mall, PGC ( Pasar Pagi Cirebon ), dan saat itu CSB (Cirebon Super Block ) masih dalam tahap pembangunan. Fasilitas hiburan ada bioskop, dan penginapan ada beberapa hotel berbintang.
Di pusat kota terdapat pula pasar tradisional yang cukup besar. Peninggalan budaya ada dua kraton. Akses antar kota ada stasiun, terminal, dan saat itu ada isu beredar bahwa di Cirebon akan dibangun bandara. Wow..

Lalu bagaimana kondisi kota Cirebon setelah saya tinggal ? Ternyata demikian pesatnya pembangunan. Sekarang CSB sudah jadi, ada tol Cipali dan sudah ada Aston Hotel Cirebon. Tepuk tangan untuk perkembangan ini..plok..plok..plok..
 
Dengan berbagai fasilitas yang sudah ada tersebut, sudah layakkah kota Cirebon menjadi salah satu Smart City di indonesia ? Bisakah Cirebon masuk kategori Smart City..? 
 
Ternyata, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu kota layak mendapatkan gelar sebagai Smart City, antara lain :
 
1. Pemerintahan yang Cerdas

Hukumnya wajib jika Smart City harus mempunyai Smart Government. Suatu pemerintahan kota hendaknya mampu menjadi panjang tangan masyarakat untuk kemajuan kotanya. Di era digital seperti sekarang, seorang Walikota atau Bupati sebaiknya bisa menggunakan sosial media secara bijak. Tentu fungsinya diprioritaskan untuk menampung ide-ide kreatif dari masyarakat khususnya kaum muda untuk bisa berperan aktif bagi kebaikan bersama. Pemerintahan yang demokratis, bebas korupsi dan tidak pro poligami tentu lebih dihargai oleh rakyatnya. Sebab, pernah beredar isu, beberapa waktu lalu salah satu pejabat kota Cirebon yang sudah beristri terlibat hubungan asmara dengan salah satu penyanyi dangdut ibukota. Nah, lho..jangan sampai masalah pribadi seperti ini mencoreng wibawa pemerintah kota Cirebon.

Pemerintahan yang bersih, berwibawa, bertanggung jawab dan lebih mengutamakan kepentingan rakyat harus dijunjung tinggi. Pemerintah yang sehat tentu akan membawa daerah dan masyarakatnya  menjadi sehat pula. 

2. Rakyat yang Cerdas

Rakyat yang bisa mandiri secara finansial merupakan salah satu ciri rakyat yang cerdas. Mereka kreatif dalam berkarya, punya usaha sendiri, dan aktif mencari kredit modal untuk mendukung usaha yang dirintis. Selain rakyat yang punya usaha sendiri, rakyat yang suka menulis hal-hal yang bermanfaat dan men-sharenya di media sosial seperti blog juga termasuk rakyat cerdas. Di Cirebon, rakyat cerdas juga ditandai dengan adanya Komunitas Blogger Cirebon

Dengan eksistensi Blogger, tentu segala informasi dapat di share secara cepat dan akurat. Budaya senang membaca dan menulis dapat melatih kecerdasan dan daya ingat untuk ide-ide yang segar. Untuk mendukung kegiatan Blogger di segala suasana, Smartfren 4G LTE siap menemani segala aktivitas para blogger.


3. Ekonomi yang Cerdas

Perekonomian yang sehat biasanya dapat dilihat dari inovasi-inovasi yang berkembang. Agar mampu bersaing di pasar bebas, tentu dibutuhkan dasar yang kokoh. Salah satu usaha yang cukup dikenal di Cirebon adalah adanya usaha batik Trusmi. Masyarakat sekitar diberdayakan untuk menghasilkan karya batik yang laku dijual dan disukai hingga ke mancanegara. Ini adalah salah satu aset yang harus dikembangkan. 
O,ya..khas Cirebon yang dapat mendukung smart economy adalah kulinernya yang beragam. Mulai dari tahu gejrot, nasi lengko, nasi jamblang, empal gentong, dan makanan khas lainnya yang semuanya itu enak. Iya, saya sudah mencicipi semuanya. Sedap.. 
Contoh usaha lain yang dikembangkan di Cirebon adalah dengan adanya kerajinan rakyat lokal yang mengusung konsep modern. Di desa Tegalwangi, ada sumber daya alam rotan yang bisa dibuat kerajinan dengan harga jual cukup tinggi. Tentunya banyak usaha lain yang diberdayakan oleh masyarakat berdasarkan potensi yang telah ada di daerah tersebut. Bahkan syukur-syukur bisa sampai dieksport. Tentu ini menjadi nilai plus kota Cirebon untuk bisa go public di kancah bisnis internasional. 
4. Mobilitas yang Cerdas

Salah satu ciri suatu kota bisa disebut sebagai “smart city” dapat dilihat dari keadaan lalu lintas di jalan raya. Bagaimana cara orang-orang berkendara, apakah menyebabkan jalan raya semrawut atau tidak, secara tidak langsung menunjukkan cermin budaya daerah tersebut. Sejauh ini, kota Cirebon mempunyai sarana dan prasarana transportasi yang cukup memadai. Terlebih dengan dibangunnya tol Cipali ( Cikopo – Palimanan ) belum lama ini, akses ke luar kota semakin mudah untuk dijangkau. Lebih hemat waktu dan efisien.
Kota Cirebon mempunyai dua stasiun, satu terminal yang cukup layak menjadi sarana publik. Beredar kabar jika Cirebon akan dibangun bandara entah kapan. Semoga saja bisa direalisasikan segera supaya transportasi semakin lancar. Alangkah baiknya jika ada semacam bus seperti Transjakarta supaya masyarakat semakin tertib dan nyaman dalam menggunakan transportasi umum. Bus-bus disediakan jalur khusus dan hanya berhenti di halte yang telah ditentukan. Selama ini angkutan umum di dalam kota masih berupa angkot dan bus kecil.  
Baik pula jika di beberapa titik kota dipasang CCTV supaya pelanggar lalu lintas dapat langsung ditindak sehingga tidak membahayakan pengguna jalan raya lain. Selain itu aksi kejahatan di jalan raya seperti begal misalnya, dapat terekam sehingga pelaku bisa segera diberi sangsi tegas.

5. Lingkungan yang Cerdas

Alangkah nyamannya jika lingkungan sekitar bersih, bebas dari sampah dan udara sejuk karena banyak pohon di tanam di taman kota dan di pinggir-pinggir jalan. Selain bebas polusi, tentunya sehat bagi jiwa dan raga. Perlu diterapkan pula sistem denda bagi pembuang sampah sembarangan.

Tempat wisata di sekitar kota Cirebon juga wajib dijaga kelestariannya. Adalah aset jika wisata Cirebon cukup digandrungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Yang perlu diperhatikan oleh pengelola tempat wisata adalah kebersihan toilet umum. Karena bersih atau tidaknya toilet umum adalah cermin budaya bangsa. Jangan sampai kota Cirebon mendapat julukan yang tidak pantas karena toilet yang kotor.

O,ya saat saya tinggal di Cirebon dulu, masalah banjir saat musim hujan juga cukup mengganggu kenyamanan lingkungan. Semoga saat ini sudah mulai dibenahi masalah penyerapan air ( drainase ) di setiap daerah Cirebon yang rawan banjir.

Tentu lingkungan kota Cirebon akan semakin baik jika disediakan perpustakaan  dan wifi di area tertentu supaya masyarakat semakin cerdas dengan memanfaatkan fasilitas publik. Jika lingkungan sudah nyaman dan rakyatnya cerdas, tentu segala tindak kriminalitas dapat ditekan dan tidak semakin merajalela.

6. Kehidupan yang Cerdas

Masyarakat modern saat ini mempunyai mobilitas yang sangat tinggi. Segala sesuatu semakin dipermudah dengan adanya internet. Mau belanja, mau pesan tiket pesawat, mau makan semuanya tinggal klak klik dan cepat, praktis. Hemat waktu dan tenaga serta biaya. Semakin banyaknya masyarakat berpendidikan tinggi tentu mengubah perilaku masyarakat yang seharusnya semakin mengerti akan budaya.

Budaya Cirebon seperti tari topeng dan lain sebagainya harus dapat dipertahankan bahkan dikembangkan oleh generasi penerus supaya semakin dikenal oleh masyarakat luas. Apalagi Cirebon mempunyai budaya peninggalan Kraton Kasepuhan dan Kraton Kanoman. Keunikan budaya ini bisa mendatangkan turis lokal maupun mancanegara yang bisa meningkatkan penghasilan devisa daerah.
Nah, jika wisatawan semakin banyak datang ke Cirebon, tentu akan banyak membutuhkan hotel sebagai tempat untuk penginapan. Salah satunya adalah Aston Hotel Cirebon, bisa menjadi rekomendasi sebagai hotel terbaik yang memberikan kenyamanan saat berlibur di kota Cirebon. 
Dengan penjelasan diatas, kira-kira apakah kota Cirebon dapat meraih cita-citanya menjadi Smart City. Jawabannya adalah : harus bisa dong !

Sumber referensi :
  1. www.smartcity.jakarta.go.id 
  2. www.cirebon.us
  3. www.smartid.it
  4. www.indohoy.com
  5. www.ekonomi.metrotvnews.com
  6. www.telusuri.org
  7. www.the-patw.com

Share

10 thoughts on “Kota Udang yang Smart”

  1. hehe..mostly warna batiknya cerah mba Arinta, tapi ada juga yang kelabu yaitu batik yang fenomenal "mega mendung"..

    Btw, saya juga suka batik Pekalongan, terutama yg jadi daster..adem dipake.. 🙂

    Salam juga dari Jogja mba.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *