Merdeka Di Usia 40 Tahun

“Welcome to the fourthy club.”

Demikian ucapan selamat ulang tahun dari teman, saat saya ultah di bulan Juli lalu. Sejujurnya, saya tak ingin menua. Saya ingin selalu tetap segar jiwa dan raga seperti saat remaja. Namun apa daya, seringkali usia tak dapat membohongi. Hati ini serasa sedih ketika frekuensi dipanggil Bu lebih sering daripada yang memanggil Mbak. Tapi, hati ini juga membuncah ketika status ibu membuat saya merasa bahagia berkali lipat dibandingkan saat saya remaja dulu.

Jika umur hanyalah angka-angka, maka usia empat puluh bukanlah usia yang main-main. Dibilang muda kok nanggung, dibilang tua kok ya ada yang lebih tua. Banyak yang bilang, kehidupan yang sesungguhnya dimulai dari usia 40. Ah, masak? Mari kita flash back dulu.

Baca : Bahagia di Usia Cantik

Hari ini saya bercermin. Hobby berlama-lama saat bercerminย  di masa lalu sudah saya tinggalkan. Gaya bercermin saya sekarang beda dengan gaya bercermin saya dua puluh tahun yang lalu. Dulu, saya suka cengar-cengir sendiri saat bercermin. Betah ngaca selama berjam-jam. Menatap lekat setiap bagian inchi wajah saya. Saat rambut masih fresh belum ada uban. Kulit wajah halus mulus tanpa jerawat dan guratan halus. Sebenarnya sudah cukup good looking menurut hemat saya, tapi seringkali masih tidak puas.

Selalu mencari kekurangan yang ada. Hidung yang kurang mancunglah, mata yang sipitlah, bibir yang kurang seksilah, jidat yang semi jenonglah, dan lain sebagainya. Kurang bersyukur. Ukuran kebahagiaan masih sebatas fisik saja. Ada rasa iri pada teman cewek yang cantik. Ditaksir banyak cowok keren. Sedangkan saya cukup menjadi penonton saja, atau malah jadi orang yang dititipi salam untuk teman cantik itu dari cowok pujaan. Duh. Mesakke ya. Ibarat pungguk merindukan bulan.

Baca : Home Sweet Home, Bahagia Di Rumah

Dari ngaca berlama-lama, saya jadi punya kebiasaan ngomong di depan kaca. Berbicaraย  seolah-olah ada yang diajak ngomong. Ya, itu adalah cara saya membangun kepercayaan diri. Ketika saya mendapat tugas dari sekolah kalau besok ada penilaian Bahasa Indonesia tentang public speaking, maka saya berlatih bicara di depan kaca. Seolah-olah ada banyak pasang mata yang melihat ke arah saya. Dan itu kadang efektif menghilangkan rasa minder saya.

Di lain waktu, bisa juga saya marah-marah di depan cermin seolah-olah memarahi seseorang. Faktanya, di dunia nyata saya tidak berani memarahi orang itu. Maka saya mencoba menumpahkan emosi di depan cermin. Nggak efektif sebenarnya, karena orang yang saya marahi tidak tahu menahu. Tapi paling tidak, saya jadi sedikit lega. Mencoba menumpahkan energi negatif saya. Enggak lho, saya nggak gila. Saya masih waras 100%, walaupun kadang suka error akibat multi taskingย tak berkesudahan.

Masihย  soal kaca mengaca bin bercermin. Entah kenapa, di usia saya sekarang ini, ada rasa enggan untuk mengaca lama-lama. Secukupnya saja di pagi hari ketika harus berdandan sebelum keluar rumah mengantar anak sekolah. Ada rasa yang lain ketika melihat uban di rambut yang mulai bermunculan. Ada rasa khawatir ketika kulit wajah tak sehalus dulu, ada bekas jerawat, mulai ada kerut dan sedikit flek hitam. Why? Apakah saya mengalami penuaan dini? Kenapa Sophia Latjuba masih tetap sexy dan sangat muda di usianya yang 48 tahun? Ternyata memang ada effort disana.

Baca : Perbedaan Komunikasi Suami Dan Istri

Saya merasa hidup saya biasa-biasa saja. Santai iya, tapi kadang serius juga. Mengalir, tanpa target yang pasti. Memang ada rencana, tapi saya lebih sering bertindak spontan selain rutinitas. Mungkin saya kurang punya ambisi. Saya tak mau terlalu ngoyo dalam hidup, tapi lebih cenderung menikmati hidup.

Mari kita bahas perjalanan hidup saya yang mungkin tidak terlalu menarik untuk disimak. Saya sekolah SD enam tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan kuliah normal saja selama 5 tahun. Masa gemilang ada di masa SD hingga SMA awal ketika peringkat 3 besar selalu saya raih. Selanjutnya saya adalah manusia biasa saja, ora patio pinter tapi bisa masuk UGM. Dan sekarang jadi anggota KAGAMA tentu saja.

Ketika saya masuk fakultas yang menjadi pilihan kedua karena score tidak mencukupi di pilihan pertama, ya saya terima dengan lapang dada. Masih untung bisa kuliah, yang lain belum tentu bisa mendapat kesempatan ini. Saya jalani segalanya dengan sepenuh hati. Karena ini pilihan saya. Tapi saya kurang maksimal menjalaninya. Jadinya ya, IPK saya sangat memuaskan saja. Nggak sampai Cumlaude. Yo wis ben, ora popo. Sing penting lulus, begitu prinsip saya waktu itu. Woles banget kan? ๐Ÿ™‚

Baca : Nasihat Pernikahan

Maka bisa ditebak, pekerjaan yang saya dapatkan selepas kuliah juga random. Banyak yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu saya. Lha mosok lulusan dari Fakultas Biologi pekerjaannya sebagai Customer Service, lalu jadi Admin, setelah itu jadi Kasir dan berakhir menjadi Bakul Ban lalu nyambi jadi Blogger? Mana bau Biologinya?

Seperti yang sudah-sudah, saya memahami jalan hidup saya sebagai pengamalan ilmu adaptasi di dunia nyata. Yup, saya selalu berusaha untuk dapat menyesuaikan diri dimanapun berada. Semacam mimikri, adaptasinya Bunglon gitu. Saat berada di daerah hijau, maka tubuhnya berubah menjadi hijau. Saat berada di daerah coklat, maka tubuhnya pun menyesuaikan berubah warna coklat. Demi apa? Demi adaptasi dan bisa bertahan hidup dari serangan musuh!

Baca : Manfaat Pertengkaran Suami Istri

Kemudian daripada itu, setelah usia saya memasuki usia 40 tahun saat ini, saya jadi merenung. Benarkah di usia ini babak baru kehidupan saya baru dimulai ataukah saya sudah merdeka? Ya, sepertinya saya sudah mendapatkan segalanya di usia ini, walaupun bukan sesuatu yang wah. Ya, saya bisa merasa sudah merdeka jika saya mampu menghitung segala berkat yang sudah saya terima dari Tuhan selama ini. Ketika saya mampu mengingat segala kebaikan orang lain yang saya yakini adalah utusan Tuhan, disitu saya merasa sangat mensyukuri hidup saya.

Menyempatkan waktu untuk berduaan ๐Ÿ™‚

Saya menikah dengan seseorang yang saya cintai dan mencintai saya. Lalu kami dikaruniai dua anak lelaki dan perempuan. Lalu kami buka usaha bersama dari rumah, punya kebebasan waktu dalam mendidik anak-anak kami. Punya kebebasan finansial, dalam arti kami punya kebebasan mengelola uang meskipun itu uang pinjaman dari bank untuk menjalankan usaha kami. Kami punya kebebasan berpendapat, tidak tergantung pada aturan dan perintah atasan. Kami bebas menentukan kapan saat libur.ย  Dan yang paling penting, saya merasa merdeka ketika bisa menemukan passion saya sebagai Blogger.

Segala kebebasan ini adalah kemerdekaan yang tak terkira bagi saya. Kami bebas bertemu dan mendidik anak-anak kami. Hampir setiap hari kami bertemu, karena saya ataupun suami jarang pergi ke tempat jauh. Kalaupun harus pergi ke tempat yang jauh, biasanya rombongan keluarga diajak.

Baca : Ketika Handphone Pasangan Pakai Password

Tapiii..tidak dalam semua hal, saya merasa sudah merdeka. Memasuki usia 40 tahun ini saya harus mulai aware masalah kesehatanย  juga. Karena berbagai keluhan mulai melanda akhir-akhir ini. Kesehatan itu mahal harganya. Saya akui saat ini jarang sekali berolahraga, makan makanan juga nggak ada pantangan, gaya hidup juga lebih sering duduk dan begadang. Waduh, maka kemarin saya coba-coba melakukan cek rutin yang meliputi cek kadar gula darah, asam urat, kolesterol total dan trigliserida. Dan hasilnya tadaaa…saya harus hati-hati mengatur pola makan karena kolesterol ada di ambang batas. Haduh. Padahal perjalanan sebagai orangtua yang mendididik anak-anak masihlah sangat panjang.

Maka saya harus memerdekakan diri soal kesehatan ini. Mulai berolahraga lagi, jangan mager. Tak apa menyempatkan diri senam dari Youtube di sela-sela kesibukan. Pola makan juga harus diperbanyak konsumsi sayur dan buah. Lalu harus mengurangi segala jenis makanan lemak trans seperti daging kambing, kulit ayam, jeroan, gorengan dan lain sebagainya kalau ingin kadar kolesterol normal kembali. Yup, saya harus mulai disiplin dan jaga diri soal makanan ini. Dampaknya ngeri, gaes.

Wokeh, salam sehat semuanya ya. Cek rutin kesehatan supaya bisa mengontrol tentang pola makan dan pola hidup supaya sehat selalu.

Merdeka! ๐Ÿ™‚

My treasures.. ๐Ÿ™‚
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

28 thoughts on “Merdeka Di Usia 40 Tahun”

  1. Tiga tahun lagi saya akan tiba di usia 40 tahun, jika Allah mengizinkan, dan saya selalu menebak-nebak akan seperti apa saya pada usia itu. bukan penampakkan fisik tapi seperti apa saya menjalani kehidupan. selamat merdeka ya, mba.

  2. Pola makan katanya paling sulit diubah ya mba, dari sekarang aku harus inget inget.. Soalnya saya cinta kulit ayam, apalagi kalau krauk krauk.. Waaaa lupa diri

  3. Hampir sama dengan Mbak Rani. Usia saya tiga tahun lagi juga 40 tahun. Sekarang saja urusan kesehatan sudah sering keluar alarmnya. Btw, salut saya Mbak. Beneran nggak kelihatan udah 40 tahun lho.

  4. Keren, mbak. Ada loh orang-orang yang kesulitan menemukan passionnya. Ada juga yang malah enggak mau mencari tahu apa yang menjadi passionnya dalam hidup. Bagi yang sudah menemukan passion, apapun itu kayaknya udah merdeka menurut saya. Hehehe.

  5. Saya sudah beberapa tahun lewat dari 40 tahun, emang jadi beda sih cara bercermin nya tapi jadi lebih bebas karena anak2 sudah semakin besar. Asal kita mau capek saat masih kecil sudah besar mereka jadi anak2 yang tidak menyusahkan..alhamdulillah 40 tahun ke atas jadi lebih asyik ๐Ÿ™‚

  6. Being 40 itu awal dimulainya kehidupan yg sebenarnya. Karena di usia 40 karakter kita sdh matang dan mampu berpikir baik. Selamat ya mba. Semoga sehat2 selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *