Tiga Hari Dua Malam, Ngebolang Di Bali

Dunia tak selebar daun Kelor. Maka jelajahilah selagi ada waktu dan kesempatan

Dua tahun yang lalu, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang wanita dari Bali di ruang tunggu pesawat  bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Saat  itu, saya dan keluarga akan bertolak ke Balikpapan. Kami berbincang ringan hingga pada pertanyaan pernahkah saya ke Bali? Saya menggeleng. Iya, seumur hidup saya belum pernah ke Bali. Semua itu hanya ada dalam wacana saya dari tahun ke tahun tanpa tahu kapan akan tiba realisasinya. Alasan waktu, biaya dan tentu saja keluarga menjadi kendala.  Apalagi saya masih punya balita, tentu hal ini  menjadi bahan pertimbangan.

Perbincangan kami menjadi semakin menarik ketika wanita itu berkata,

“Suatu saat jika ada kesempatan pergi ke Bali, usahakan mengunjungi 3 tempat wisata diantaranya : Tanah lot, Bedugul dan Ubud. Tiga tempat itu cukup mewakili keindahan Pulau Bali yang terkenal sebagai pulau dewata.”

Saya mengendapkan isi perbincangan itu dalam hati dan berharap, semoga suatu saat saya bisa ke Bali. Jika semesta  merestui.

Baca : Mendadak Di Waduk Sermo

Dua  tahun kemudian, tak disangka, impian saya pergi ke Bali terwujud. Berawal dari obrolan singkat dengan suami yang ternyata memberi hasil : kami sekeluarga akan pergi ke Bali tepat saya ulang tahun. Uwow. Kloplah, anak-anak juga masih di penghujung libur panjangnya yang memang belum kemana-mana. Segala ketakutan repot karena masih punya balita tak lagi menjadi halangan karena kami punya tujuan pasti. Piknik! 🙂

Rencana itu disusun kurang lebih sebulan sebelum hari H. Masih ada keraguan juga kira-kira bisa terwujud nggak ya. Maklum, kalau kami pergi liburan ke Bali paling tidak 3 hari, berarti toko juga tutup selama itu. Lalu berpikir siapa yang akan menjaga rumah, dan lain sebagainya yang perlu dipikirkan. Jadi, sebenarnya kami tidak bisa asal pergi begitu saja. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan secara matang.

Maka, perburuan tiket pun dimulai. Setiap hari saya ngecek harga tiket pesawat dari Jogja ke Bali. Berharap mendapatkan harga promo termurah. Saya pun mulai mentargetkan untuk menabung setiap hari. Harga tiket yang berubah setiap hari, selalu naik turun membuat saya dan suami mulai berani berspekulasi sampai akhirnya memutuskan kami membeli tiket pesawat di dua minggu menjelang hari yang kami tentukan untuk berangkat. Benar saja, setelah saya membeli tiket, hari-hari selanjutnya harga tiket mulai melambung tinggi hingga dua kali lipat bahkan lebih. Hm, maklum masih suasana liburan sekolah.

Setelah tiket pesawat dikantongi, langkah selanjutnya adalah berburu penginapan. Kami memilih hotel yang lokasinya tak jauh dari pantai Kuta, dengan harga yang cukup terjangkau menurut kantong kami.  Setelah urusan hotel beres, kami mulai mencari info tentang sewa mobil disana. Yup, kami tidak ikut dalam rombongan tour.

Baca : Ada Apa Dengan Pantai Baron?

Kami nekad ngebolang bersama keluarga, dimana ini adalah pengalaman kami yang pertama berada di Bali. Suami juga sudah rajin melihat Google map. Dimana kami akan stay, mau kemana saja mulai direncanakan jauh-jauh hari. Ya kan nggak lucu kalau sampai tersesat sekeluarga. Sudah tahu saya ini buta arah. Suka bingung mana arah utara, selatan, barat dan timur. Apalagi tenggara, timur laut dan barat daya. Duh, membaca kompas saja suka salah. Eh, malah tsurhat..hahaha..

Waktu tiga hari di Bali sebenarnya masih kurang. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Mumpung masih ada kesempatan, kesehatan dan waktu. Soal uang bisa dicari, tapi kesempatan? Itu prinsip kami soal agenda piknik dan jalan-jalan. Karena pergi ke suatu tempat yang baru, tentu akan memberi banyak wawasan dan pengalaman baru pula. Sehingga harapannya pemikiran bisa semakin terbuka, tidak sempit seperti katak dalam tempurung. Dan yang paling penting refreshing dari segala rutinitas supaya tidak stress.

Beberapa hari menjelang keberangkatan, kami dibuat was-was ketika gunung Agung sempat meletus. Terbayang tiket pesawat dan hotel yang sudah kami pesan. Wah, kami berdoa semoga segala sesuatunya berjalan dengan lancar sesuai rencana. Tak disangka, tak dinyana, saya pun sempat terserang flu dua hari menjelang keberangkatan. Duh, suami sempat mengomel menyalahkan saya yang tak bisa menjaga kesehatan katanya. Takut anak-anak ketularan lalu gagallah segala rencana. Oh, no! saya langsung minum vitamin C dan obat flu. Tak ingin flu menggagalkan rencana kami. Dan puji Tuhan, flu saya berangsur membaik.

Hari H

Menembus awan

Sehari menjelang saya berulang tahun, yaitu tanggal 11 Juli 2018, kami berangkat. Penerbangan yang kami pilih adalah penerbangan pagi jam 06.10. Maka jam 04.30 kami sudah berangkat menuju bandara Adisutjipto Yogyakarta. Check in online sudah kami lakukan malam sebelumnya, jadi sampai di bandara kami tinggal print out tiket dan urusan bagasi.

Anak-anak sudah bangun dari jam 3 dini hari. Niat bener ya. O,ya sebagai info kami berangkat berempat yaitu saya, suami, anak lanang usia 10 tahun dan anak wedok usia 4 tahun. Malam sebelumnya saya dan suami sudah mewanti-wanti anak-anak jangan ada drama ataupun rewel karena kita akan  bersenang-senang di Bali.

Baca : 3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Yippiii..pesawat berangkat tepat waktu no delay. Anak-anak tertidur di pesawat. Lumayanlah perjalanan satu setengah jam untuk meneruskan tidur. Bangunnya kepagian soalnya. Selalu ada rasa syukur yang terselip dalam hati ketika mata ini bisa melihat laut di bawah sana, gunung nan menjulang, rumah-rumah yang tamapak seperti titik di kejauhan, pesawat yang menderu menembus awan. Betapa, dunia maha luas ini adalah Maha Karya Sang Pencipta Agung, dan saya hanya setitik debu. Bukan apa-apa.

Pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul 08.30. Yup, waktu di Bali lebih cepat satu jam bila dibandingkan waktu di Jogja. Puji Tuhan, perjalanan di udara berlangsung dengan lancar dan aman. Sampai di bandara, seperti biasa kami berfoto-foto dulu di spot-spot yang dianggap bagus. Saking asyiknya berfoto sampai lupa kalau belum mengambil koper di bagasi. Alhasil, tinggal koper kami yang tersisa, ditunggui mas petugas bandara nan baik hati. Maafkan kami, ya. Telat ngambil koper.

Kami seperti rombongan anak ngebolang yang tak tahu arah tujuan mau kemana. Hari masih pagi, waktu yang nanggung untuk segera ke hotel karena check in masih jam 14.00. Jadi kami duduk-duduk di bandara, suami survey di mana letak keberangkatan nanti supaya tidak bingung saat akan pulang. Anak lanang minta roti O, saya belikan sebagai pengganjal perut. Roti dari  pesawat sebenarnya masih ada, tapi karena melihat ada stand itu tadi yo wislah. Ora popo, sekali-kali beli makanan di bandara. Namanya saja piknik. Hihihi..

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke hotel saja. Suami inisiatif mencari taksi online di tempat yang sudah ditentukan. Tak lama kami mendapat driver dan bergegas menuju hotel. Sampai di hotel, jam menunjukkan pukul 11. Masih jauh dari waktu check in. Lalu saya mencoba untuk menitipkan koper dan tas dulu ke resepsionis, ternyata diperbolehkan. Yippii, kalau begitu kami akan berjalan ke pantai Kuta dulu sambil menunggu waktu check in tiba.

Yess, kami berempat berjalan kaki menuju pantai Kuta. Jarak yang ditempuh sekitar 600 meter dari hotel menuju pantai. Tak terlalu jauh sih. Kami berjalan di sepanjang trotoar pedestrian. Banyak wisatawan berlalu lalang terutama para turis mancanegara. Duh, suasana di Bali betul-betul ramah bagi para wisatawan. Baru beberapa jam tiba di Bali saja kami sudah mulai kerasan. Hm..

Baca : Wisata Pantai Di Gunungkidul Yang Rekomen Untuk Dikunjungi

Pantai Kuta ini ternyata letaknya di kota Bali. Di pinggir jalan raya. Jadi ya suasananya memang ramai. Tak ada retribusi masuk ke pantai ini, alias gratis. Karena memang pantainya bersifat terbuka. Pantai begini mengingatkan saya akan pantai Kemala di Balikpapan, tak jauh dari kota. Beda dengan pantai di Gunungkidul, yang letaknya masuk ke pedalaman jauh dari kota. Overall, tipe pantainya hampir mirip dari ketiganya. Pasir putih, ombak dan tentu saja para wisatawan.

Pantai Kuta, Bali

Kami hanya menjelajah sebentar ke pantai Kuta. Melihat situasi, sambil gumun. Oh, ternyata seperti ini to Pantai Kuta. Tak beda jauh seperti apa yang dibicarakan banyak orang. Para bule tak malu-malu memakai bikini dan berjemur. Sepertinya mereka senang sekali dengan sinar matahari yang terang benderang. Padahal kalau saya mah, gerah ya. Mana tahan berjemur siang-siang. Tapi mereka sangat enjoy ternyata. Beberapa ibu-ibu menghampiri saya menawarkan jasa kepang rambut. Saya menggeleng. Waktu saya tidak banyak. Sekedar mampir saja kok. Anak wedok pasti juga tidak betah rambutnya di kepang, lha wong mau saya kuncir saja tidak mau. Di kejauhan ada juga beberapa bule yang asyik main surfing. Ombak laut tampak bersahabat siang itu.

Pantai Kuta sangat luas ternyata. Pesisirnya cukup lebar, pantainya memanjang. Dari ujung ke ujung ya lumayan capek kalo mau berjalan. Anak-anak saya belum diperbolehkan main air siang ini. Kan masih melihat, nggak bawa baju ganti juga. Repot kalau main basah-basahan. Nanti sore saja kembali lagi kesini untuk melihat sunset.

Waktu menunjukkan jam 12 siang saat kami mencari tempat makan. Perut sudah mulai keroncongan nih. Tak jauh dari pantai Kuta kami menemukan warung makan yang tak terlalu mahal. Nasi campur cukup 30 ribu rupiah saja harga satu porsinya. Enak dan kenyang.

Kami kembali lagi ke hotel sekitar jam setengah dua. Dan sudah bisa masuk ke kamar. Asiikkk..Kamarnya bagus, bersih dan cukup luas untuk kami berempat. Saya dan suami sengaja memilih kamar dengan twin bed. Cukup untuk saya dan anak wedok, lalu suami dan anak lanang. Sangat worth it. Maka, siang itu kami semua tidur siang. Nyenyak sekali tidurnya, bangun bangun sudah jam empat sore. Lalu persiapan untuk ke pantai Kuta lagi, melihat sunset. Horreee..

Kuta Angel Luxurious Hotel, Bali tempat kami menginap 🙂

Maka kami jalan-jalan sore di sepanjang trotoar. Benar-benar jalan kaki, dan bersyukur si Kecil tidak rewel dan tidak minta digendong. Cukup berjalan sambil digandeng saja hehe..

Berbeda dengan saat ke pantai Kuta siang tadi, sore ini cuacanya lebih teduh. Nyaman untuk sekedar duduk di pasir putih. Anak-anak dibiarkan bermain pasir dan ombak sesukanya sambil dikawal bergantian dengan suami. Saya sudah persiapan membawa handuk dan baju ganti. Mandinya nanti di hotel saja, karena di pemandian pantai Kuta, air yang mengalir hanya diperbolehkan untuk bilas badan saja. Membilas baju dari pasir putih pantai yang melekat tidak diperkenankan.

Baca : Jika Jalan-Jalan Ke Singapura

Kami kembali pulang ke hotel setelah berhasil melihat sunset yang indah di pantai Kuta. Sesampainya di hotel, kami mandi lalu keluar lagi mencari makan malam. Cukup berjalan kaki saja ke arah pasar Kuta. Disana berderet penjual makanan aneka rupa. Anak lanang ingin ayam Betutu, ternyata warung makan khusus ayam Betutu yang ada di sekitar sana tutup. Maka kami mencari alternatif makan lain.

Saya melihat ada warung bakso soto yang ramai sekali. Pembeli datang dan pergi. Saya mengajak suami dan anak-anak untuk makan disana saja. Olala..ternyata tempat duduknya penuh. Jadilah kami mengantri untuk dapat tempat duduk menunggu pembeli lain selesai makan. Beberapa menit kemudian kami mendapat tempat duduk. Cukup lama kami menunggu pesanan soto bakso diantarkan, karena memang banyak antrian. Sekian lama menunggu, akhirnya kami bisa mencicipi soto bakso plus nasi yang aduhai rasanya. Daging sapinya cukup banyak. Cukup membuat perut kenyang. Kami sudah menduga-duga kira-kira berapa ya harganya karena tidak ada tulisan harga yang tertera. Saat membayar, ternyata satu porsi harganya 25 ribu rupiah saja. Cukup terjangkau kan?

Bakso Soto
Bakso soto plus nasi 🙂

Selesai makan, maka saya mengusulkan untuk membeli oleh-oleh saja untuk saudara-saudara di Jogja. Oleh-oleh ala kadarnya saja. Baju batik santai, daster, kaos yang cukup terjangkau harganya. Yang penting harganya bisa ditawar. Based on true story ala nawar saya kalo lagi di pasar Beringharjo Jogja. Untuk oleh-oleh makanannya, saya memilih kacang khas Bali saja. Namanya kacang Disco. Hehe, lucu ya namanya.

Selesai makan dan beli oleh-oleh, maka kami kembali lagi ke hotel. Suami sudah mendapatkan rental mobil beserta sopirnya yang akan menjemput kami besok pagi jam 10 di hotel secara online.  Harganya cukup murah bila dibandingkan dengan rental mobil yang disediakan hotel. Kami  menyewa mobil selama 10 jam. Yup, kami akan tamasya keliling Bali besok. Yeaayyy..

Day 2

Satu Hari Menjelajahi 3 Tempat Wisata : Bedugul, Sangeh dan Tanah Lot

Saya bangun jam setengah tujuh pagi.  Oalah, kecapekan jalan kaki rupanya. Suami sudah bangun duluan. Hari itu, tanggal 12 Juli 2018, saya berulang tahun ke-40. Anak-anak sudah mengucapkan selamat ulang tahun  malam sebelumnya tepat jam 12 malam. Yup, mereka tidurnya kemalaman sementara bapaknya sudah tidur duluan. Maka suami mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya pagi itu, sambil membangunkan saya tidur. Oh, so sweet. Ulang tahun di Bali. Walaupun tak ada kue ultah ataupun lilin yang menyertai, kebersamaan bersama keluarga adalah segala-galanya bagi saya. Lebih penting dari apapun.

Anak-anak masih tertidur. Segera saya dan suami mandi. Eits, sensor karena lagi mandi bareng. Hehe..Selesai  mandi, saya membangunkan anak-anak, menyuruh mereka mandi dan mengajak sarapan di lobby hotel.

Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk keliling Bali. Nggak keliling sih sebenarnya, hanya menjelajah sebagian dari pulau Bali. Tadinya saya pengin ke Bedugul, Tanah Lot dan Ubud. Ternyata, Ubud berlawanan arah dengan Bedugul. Bedugul di arah utara dari Kuta, sedangkan Ubud berada di arah Barat dari Kuta. Jadi tidak bisa ditempuh semuanya hanya dalam satu hari. Driver mobil rental menyarankan untuk ke Pura Ulun di danau Beratan, lalu ke Monkey Forest Sangeh dan terakhir melihat Sunsest di Tanah Lot. Ketiga tempat itu satu arah. Fix, kami setuju.

Baca : Jelajah Kota Blitar

Perjalanan dari Kuta ke Bedugul ditempuh sekitar 2,5 jam. Jalan menuju danau Beratan ini berkelok-kelok seperti perjalanan hendak ke Gunungkidul dari kota Jogja. Tempat wisata ini berada di lereng pegunungan Batur, jadi jalannya menanjak naik serasa berada di puncak. Perjalanan tergolong lancar tanpa ada macet dan halangan yang berarti.

Cuaca di Bedugul ternyata cukup dingin. Padahal waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Tiket masuk ke tempat wisata ini, kami berempat dihitung 50 ribu. Beda dengan harga tiket wisatawan asing. Kami termasuk turis lokal, harganya lebih murah. Lumayan lah ya..

Pemandangan di sini sangatlah indah. Pura Ulun berada di danau Beratan yang luas. Dari kejauhan tampak pegunungan yang tertutup kabut. Anak lanang menghampiri saya.

“Ma, pinjam uang lima puluh ribu..”

“Untuk apa?,” tanya saya.

“Mau viral nggak?,” ujarnya

Saya masih belum paham apa maksudnya. Suami saya mengeluarkan uang lima puluh ribu. Lalu anak lanang menunjuk gambar yang ada di lembaran kertas uang lima puluh ribu itu sambil menunjuk view yang terpampang nyata di depan kami. Sama kan? Aih, baru saya ngeh. Iya, ya. Ternyata gambar yang ada di uang lima puluh ribuan lama itu gambar Pura Ulun di Danau Beratan, Bedugul. Ya disini ini. Maka, tak menunggu waktu lama, langsung saja kami pose dengan uang lima puluh ribu. Beberapa Wisatawan lain melihat ulah kami. Hahaha..Sepertinya mereka pun terinspirasi untuk berpose seperti kami. Dih..GR..

Setelah puas berfoto di Bedugul, perut mulai lapar. Maka kami meluncur ke bawah mencari rumah makan. Kali ini menunya ayam betutu. Driver menunjukkan rumah makan khas ayam Betutu. Hm, sedap. Jadi ayam Betutu ini masakan khas Bali dengan aroma bumbu dan rempah-rempah, agak pedas rasanya. Menurut saya sih, mirip masakan padang gitu. Tapi rasanya beda. Kami pesan ayam betutu setengah ekor untuk kami berempat. Nasi 4 porsi. Lalu ada juga kangkung plencing dan sate lilit. Minumnya jeruk hangat. Total habis 105 ribu rupiah saja. Nikmat dan kenyang.

Mas driver nggak mau diajak makan bersama dengan alasan tadi sudah makan saat kami sibuk berfoto di Bedugul. Ya sudah, kami pun makan, driver menunggu di mobil. Baik sekali drivernya. Dan komunikatif sekali. Banyak info baru yang kami dapatkan dari driver yang masih anak muda Bali ini.

Monkey Forest Sangeh

Pose apa ini @Sangeh Bali

Selesai makan, cuss kami bergegas menuju  ke Monkey Forest Sangeh.  Di tempat ini, banyak sekali monyet yang berkeliaran. Ya, karena di hutan ini tempat mereka tinggal. Hawanya sejuk. Ada Bapak pemandu wisata sekaligus fotografer yang menemani kami disini. Dari Bapak ini pun kami jadi tahu monyet mana yang galak dan monyet mana yang baik. Ah, seperti manusia saja. Ada yang jutek dan ada pula yang ramah. Hehe..

Tiket masuk ke Sangeh ini 35 ribu  untuk kami berempat. Saat kami datang kesini suasana tidak terlalu ramai dengan wisatawan. Kami berfoto-foto dulu di bagian depan yang ada banyak patung monyet. Lalu kami masuk, mulai was-was ada banyak monyet disana. Pemandu wisata memberi makan beberapa monyet dari arah anak lanang. Alhasil, monyet itu naik ke punggung anak lanang. Pemandu wisata berpesan jangan menyentuh monyet, diam saja meskipun monyet itu serta merta naik ke badan kami. Wedew. Kaget sekaligus bingung dan panik mesti ngapain menyergap saya. Monyet itu naik ke pundak saya.

Baca : Ada Apa Dengan Palembang?

Duh, saya mencoba merekam dengan handphone saya, sementara monyet itu makan kacang di atas pundak saya. Hm..Suami pun tak kalah terkejut saat ada monyet naik ke pundak lalu menginjak kepalanya. Hihi..Monyetnya bener-bener deh! Untung si Kecil, anak wedok tidak dinaikin monyet. Pak pemandu wisata bercerita monyetnya sengaja tidak diarahkan ke anak wedok karena khawatir badan kecilnya tak mampu menahan monyet lalu terjatuh. Ya, ya, ya..

Monyetnya nemplok ajah.. 🙂 @MonkeyForestSangeh

Kami pun berkeliling ke hutan monyet Sangeh itu sambil penasaran mau melihat sesuatu yang ada di papan petunjuk. Apa itu? Ternyata ada pohon lanang wadon. Hm, penasaran bagaimana bentuknya? Tadaa..

Pohon Lanang Wadon

Selesai melihat pohon, kami pun menunggu foto candid dari Bapak Pemandu untuk dicetak.  Pinter juga triknya ya, pas monyet-monyet itu naik, difotolah kami. Maka kami pun tertarik mencetaknya. Biaya cetaknya dua puluh ribu satu foto.

Setelah selesai segala urusan di Sangeh, kami pun mencari driver yang setia menunggu di parkiran untuk menuju ke tempat wisata berikutnya. Waktu menunjukkan pukul tiga siang. Kata mas driver, perjalanan dari Sangeh ke Tanah Lot sekitar satu jam. Maka, kami akan sampai disana sekitar jam empat kalau perjalanan lancar tanpa macet. Masih banyak waktu untuk menunggu sunset tiba.

Di dalam mobil, mas driver cerita kalau monyet di Sangeh ini masih termasuk tidak nakal. Biasa saja. Kalau monyet-monyet di Uluwatu, suka usil. Pernah  sandalnya mas driver direbut monyet, dibawa lari tidak dikembalikan bahkan dirusak. Duh, anarkis ya. Ada juga cerita dimana handphone milik pengunjung direbut lalu dibanting monyet. Aduh, untung handphone saya tidak direbut monyet  waktu di Sangeh. Harta yang sangat berharga je.  Tak dapat terbayangkan jika handphone saya direbut. Hiks.

Tanah Lot

Kami tiba di Tanah Lot sesuai waktu yang sudah diperkirkan. Perjalanan lancar jaya tanpa macet. Tiket masuk ke Tanah Lot 75 ribu untuk kami berempat. Mas driver menunggu di parkiran sambil berpesan nanti dikabari saja jika sudah selesai.

Tanah Lot Dua tahun yang lalu saat saya di bandara Jogja hendak pergi ke Balikpapan, berkenalan dengan wanita Bali yang habis berlibur di Jogja dan akan kembali ke Bali. Kami berbincang ringan hingga tiba pada pertanyaan apakah saya sudah pernah ke Bali? Saya menggeleng. Lalu dia bercerita, kalau ada kesempatan berkunjung ke pulau Bali, usahakan untuk mengunjungi 3 tempat wisata yang terkenal indah di Bali yaitu : Tanah Lot, Bedugul dan Ubud. Tak disangka, dua tahun kemudian mimpi itu menjadi nyata. Saya dan keluarga ada rejeki untuk pergi ke Bali dan melihat secara langsung keindahan pura di pinggir laut Tanah Lot dan pura di danau Beratan Bedugul. Sayang sekali, rice terrace di Ubud belum bisa saya saksikan karena keterbatasan waktu. Maybe next time jika semesta merestui 🙂 . . #tanahlot #bali #pulaudewata #wisata #traveling #jalanjalan #piknik #plesiran #holiday #liburan #refreshing #momblogger #socialmediamom

A post shared by Indonesian Lifestyle Blogger (@juliastrisn) on

Saya penasaran sekaligus deg-degan tak sabar ingin melihat seperti apa Tanah Lot secara langsung. Waktu browsing di Google foto yang terpampang nyata tampak sangat indah. Apakah seindah aslinya? Ternyata yes. Pura di tepi laut tampak begitu agung berdiri megah dikelilingi pemandangan yang sangat indah. Amazing. Saya seperti sedang bermimpi. Tak percaya jika mimpi saya menjadi nyata tepat di hari lahir saya. Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.

Suasana Tanah Lot sore itu begitu ramai dengan wisatawan. Ada banyak wisatawan mancanegara. Ada yang dari Jepang ataupun dari Eropa. Semua tampak menikmati keindahan alam di Tanah Lot ini. Semua tampak sumringah. Tak heran jika pulau Bali mendapat julukan Pulau Dewata. Karena memang indah.

Rasa syukur saya semakin bertambah ketika bisa menyaksikan detik-detik saat matahari tenggelam di Tanah Lot.  Sunset ini mengingatkan saya akan alfa dan omega. Bahwa dalam kehidupan ini ada awal dan ada akhir. Semua akan terus berulang hingga pada akhirnya nanti. Bisa menjadi bagian dari proses perjalanan kehidupan itu adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya.

Sunset di Tanah Lot

Hal ini menjadi semacam refleksi bagi saya bahwa ada banyak anugerah yang patut saya syukuri yang sudah boleh saya terima di usia 40 tahun ini. Suami, anak, buka usaha, kesehatan dan kesempatan untuk selalu belajar dan belajar. Saya merasa seperti Julia Roberts dalam film Eat, Pray and Love, yang menemukan cinta sejatinya di Bali. Yup, saya pun merasakan ada banyak cinta di Bali.

Tanah Lot menjadi destinasi terakhir kami di Bali. Kami pun kembali ke hotel jam 8 malam. Tepat 10 jam dari waktu kami menyewa mobil tanpa overtime. Kami sangat berterima kasih kepada mas driver yang sudah mengantar perjalanan wisata kami hari itu. Maka berapapun besarnya tips yang kami berikan rasanya tidak akan pernah bisa sebanding dengan segala pengalaman berharga yang kami dapatkan hari itu.

Day 3 : Goodbye Bali

Uh, andai saja waktu kami bisa lebih panjang di Bali. Saya ingin bisa lebih lama berada di Bali, menghubungi teman-teman dan kerabat yang ada di Bali. Mengurai cerita lama yang pernah tercipta, lalu tertawa bersama sambil menikmati keelokan alam di Bali. Andai saja..

Tapi saya dan suami harus segera kembali ke dunia nyata kami. Anak-anak pun mulai masuk sekolah sebentar lagi. Kembali kepada rutinitas. Bekerja dengan penuh cinta. Kembali kepada tugas dan tanggung jawab kami mendidik anak-anak dengan sepenuh hati. Semuanya adalah anugerah, yang wajib kami tunaikan hingga usai.

Bandara Gusti Ngurah Rai menjadi saksi bisu akan perjalanan singkat kami di Bali. Kami harus kembali. Menanti burung besi yang akan membawa kami pulang. Pukul 15.00, sedikit terlambat dari jadwal yang sudah ditetapkan, kami berada di udara. Menatap hamparan laut dari ketinggian. Kami pernah kesana. Namun masih banyak yang belum kami datangi. Tunggulah kami, entah kapan. Jika usia dan kesempatan menghampiri. Ubud, Uluwatu, Nusa Dua, Jimbaran, Kintamani dan kalian semua tempat di Bali. Bersiaplah untuk kami singgahi. Suatu hari nanti. Tanpa janji.

Boleh dilihat videonya di bawah ini. Mungkin ada yang penasaran. Hehehe..

Salam,

Dari kami yang belum bisa move on dari Bali 🙂

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

47 thoughts on “Tiga Hari Dua Malam, Ngebolang Di Bali”

  1. Wah senangnya, bisa ngebolang sekeluarga. Pastinya sangat menyenangkan. Bali memang indah. Jadi ingin. Ngiri nih bisa foto berlatar belakang sama dengan gambar yang ada di uang Rp.50 ribuan.

  2. Bali memang selalu menjadi destinasi yang paling menarik untuk di kunjungi ya mba. Berbicara soal liburan ke Bali, aku juga belum pernah kesana. Wacana untuk traveling sih ada, tapi belum bisa terealisasi sampai sekarang. Yah, semoga ada rezeki untuk bisa main ke Bali 🙂

  3. Liburan bersama keluarga saja sudah istimewa, apalagi pas di peringatan hari kelahiran.. Di Bali pula.. Berlipat deh kegembiraannya 🙂

  4. Kapan ya aku ke Bali lagi, liat postingan mba jadi pengen kesana lagi deh, secara dulu sempat ke Bali tapi cuma sebentaran aja karena lama di jalan, kami pake mobil dari Blitar dulu. Sebenarnya ga ada rencana sih, itu dadakan banget, tapi maksa harus ke Bali. hehehe….tapi seru sih walau cuma sehari semalam aja.

  5. Waktu blogger cihuy ngadain ngetrip ke Bali sempat galau karena Gunung Agung. Alhamdulillah berhasil juga ke Bali ramai2 meski diselingi drama yang bikin semua peserta trip deg deg der…

    Bali memang bikin kami susah move on juga, hahaha
    Meski sudah 3 malam 4 hari di Bali, masih kuraaang rasanya dan pengen balik lagi

  6. Happynya bisa ke Bali 😀
    Semenjak nikah blm pernah ke Bali lg, moga ada rezeki bisa ke sana sekeluarga 😀
    Bedugul itu eksotis ya mbak, aku malah suka kalau pas ke Bedugul tuh mendung atau gerimis rintik2 gtu hehe 😀
    Wuah harga makanannya di sana murce yaaaaa 😀

  7. Bali salah satu destinasi di Indonesia yang gak akan pernah bosen untuk kita ngebolang yaa , ini 3hari 2malam kumplit banget mbakk. Aku baca ini serasa aku yg lagi ngebolang lohh.. seruu bangett , aaa jd pengen ke bali lagi

  8. Happy deh lihat keluarga Mba.. wajah senang hati riang ya Mba.. semoga next ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke bali ya Mba.. Banyak banget yang masih belum aku explore dibali juga.. dan bali itu memang bikin kangen ya Mba

  9. Bali memang bikin kangen ya Mba.. liburan keluarga ke bali sangat rekomended, banyak tempat2
    Bagus dan aman bagi anak, pantainya.. makanannya.. dan suasanya sangat menyenangkan

  10. Itulah kenapa saya gak mau pergi sendirian jauh-jauh. Buta arah dan gampang panik kalau nyasar hahaha. Bali selalu menyimpan berjuta kenangan ya, Mbak. Jadi suka pengen balik ke sana 🙂

  11. Bali itu ngangenin dan bikin pingin balik ke sana lagi.. Aku juga suka sama Tanah Lot mba, baguuus banget ya kalau dilihat dari atas bukitnya.. Bisa lihat lautan sama puranya.. 🙂 Semoga ada kesempatan lagi ke Bali ya mba.. Harus banget ke Ubud.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *