Empat Obyek Wisata Ini Wajib Dikunjungi Saat Pertama Kali Ke Bali

Siapa yang tidak mengenal Bali? Pulau yang tersohor hingga ke mancanegara ini memiliki daya tarik tersendiri. Saya  “ngidam” untuk bisa ke Bali dari sejak saya masih anak-anak. Nyatanya, keinginan bisa pergi ke Bali baru terwujud tahun lalu bersama keluarga kecil saya. Yup, tahun lalu adalah momen pertama kali saya mengunjungi Bali. Senang?  Senang pakai banget..nget..

Ekspektasi yang ada dalam benak saya tentang Bali tidak berbeda jauh dengan kenyataan yang saya lihat. Kata orang, Bali itu indah. Nyatanya memang indah sekali. Kata orang, Bali itu nyaman dan membuat betah para wisatawan. Nyatanya memang demikian adanya. Tiga hari berada di Bali sungguh sangat kurang bagi saya. Maunya berlama-lama disana, paling tidak seminggu, sebulan, setahun, bahkan kalau ada rejeki bisa tinggal disana pun saya mau. Hahaha..

Kata orang, Bali itu kental dengan adat istiadat dan budaya. Yup, saya mengamininya. Penduduk Bali yang mayoritas beragama Hindu sangat menjunjung tinggi ritual-ritual keagamaannya. Berdasarkan cerita dari driver yang mengantar kami keliling Bali selama seharian, saat hari Nyepi suasananya benar-benar terjaga sepinya. Tak ada aktivitas di luar rumah. Bandara, hotel, pusat keramaian dan tempat wisata pun tutup di hari itu.Semua pihak saling mendukung supaya hari  Nyepi benar-benar dihayati  dan dilaksanakan dengan khidmat.

Maka tak mengherankan jika saya dapat dengan mudah menemukan banyak bangunan Pura di sepanjang jalan yang saya lewati. Hal ini menandakan bahwa masyarakat Bali khususnya yang beragama Hindu dapat beribadah dengan tenang di daerahnya. Mereka menjunjung tinggi adat, budaya dan ritual keagamaannya.

Welcome to Bali

Pertama kali saat saya menginjakkan kaki di tanah Bali, aura nyaman langsung saya rasakan. Orang-orang yang ramah dan menyapa membuat suasana akrab dan penuh dengan kekeluargaan. Dapat dikatakan, orang Bali bersifat fleksible. Di satu sisi menjunjung tinggi adat istiadat dan budayanya, di sisi lain tidak menolak adanya modernisasi. Mungkin karena alasan inilah, para wisatawan dari mancanegara pun sangat senang berlibur di Bali. Karena memang Bali sangat welcome untuk para wisatawan dan siapa saja yang singgah disana.

Tentang Bali yang indah. Apakah benar? Saya baru bisa berkata iya ketika menyaksikannya sendiri. Ada banyak pilihan wisata di Bali. Yang suka pantai, ada banyak pantai disana salah satunya pantai Kuta yang fenomenal. Yang suka hutan, ada Sangeh Monkey Forest. Yang suka alam segar, ada sawah terasering di Ubud. Yang suka danau, ada danau Bedugul beserta pura Ulun di tengahnya. Yang suka keindahan Pura di laut, ada Tanah Lot. Semuanya menjadi paket lengkap yang tak akan habis untuk dinikmati keindahannya.

Awalnya kami bingung, bagaimana dalam waktu 3 hari 2 malam bisa mengunjungi tempat wisata yang terbaik? Maklum, saya dan suami sama-sama baru pertama kali mau ke Bali. Lalu saya ingat beberapa waktu lalu pernah mendapat saran dari seseorang di bandara Jogja jika akan ke Bali, pastikan untuk mengunjungi 3 tempat yang mewakili  keindahan di Bali yaitu : Tanah Lot, Bedugul dan Ubud. Saya penasaran, ada apa saja disana? Maka saran itu saya ingat dan catat baik-baik hingga waktunya tiba.

Naik Apa Ke Bali?

Dapat dikatakan, rencana saya dan keluarga untuk piknik ke Bali cukup singkat. Keinginan untuk kesana sudah lama, namun keputusan untuk bilang yak, kita ke Bali bulan depan itu spontan. Adalah suami saya yang tiba-tiba punya ide untuk mengajak pergi ke Bali bersama anak-anak saat saya berulang tahun. Kebetulan saya berulangtahun di pertengahan bulan Juli, saat anak-anak masih libur kenaikan kelas. 

Maka penyusunan rencana segera dilaksanakan dari soal budget, mau naik apa, mau nginep dimana, mau kemana saja, bagaimana dengan makannya, kendaraan selama disana bagaimana sudah dibicarakan sebulan sebelumnya. Untung sekarang jamannya digital, segala informasi dapat dengan mudah didapat secara online. Dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya, maka kami mempunyai gambaran dan mempunyai banyak pilihan untuk menyesuaikan dengan budget yang ada. Jangan sampai besar pasak daripada tianglah, nanti nggak bisa pulang dong hehe..

Kami sudah memesan hotel dua minggu sebelum hari H. Suami memesan hotel yang tak jauh dari pantai Kuta. Harganya pun sangat terjangkau bagi kantong kami yang pas-pasan. Bayangkan saja, kami dapat hotel bintang 3, lokasi 400 meter dari pantai Kuta, ada fasilitas kolam renang dan include breakfast untuk 2 hari hanya dibanderol  800 ribuan rupiah saja. Bararti per harinya hanya 400 ribuan saja kan? Cucok bingo!

Soal  transportasi, awalnya saya dan suami punya 3 pilihan antara mau naik pesawat, kereta sampai Banyuwangi atau naik bus. Lalu dihitung lagi soal efisiensi harga dan waktu. Kami hanya punya waktu 3 hari 2 malam disana. Kalau naik bus bisa sampai seharian, waktunya habis di jalan. Kalau naik kereta, apa nggak repot bawa-bawa barang dan anak, naik turun dari stasiun kemudian ke pelabuhan untuk pindah naik kapal Ferry?

Kalau naik pesawat, kami hanya butuh waktu 1,5 jam perjalanan. Sehingga masih punya waktu longgar untuk menikmati Bali. Meskipun harga tiket pesawat lebih mahal bila dibandingkan naik bus atau kereta. Tapi kalau dihitung-hitung dengan biaya di perjalanan, waktu yang dipakai, sepertinya naik pesawat adalah pilihan terbaik. Cepat dan praktis. Lain soal jika kami punya banyak waktu dan tujuannya untuk menikmati perjalanan jauh dengan kereta api atau naik bus misalnya.

Nah, soal mencari tiket pesawat, nggak usah bingung-bingung. Buka saja pegipegi.com atau kalau mau praktis silakan install saja aplikasi pegipegi di smartphone Android atau IoS. Ada harga promo tiket pesawat lho. Tinggal dipilih saja kota asal darimana, tujuan kemana, berapa orang yang pergi, lalu tinggal dipilih-dipilih deh mau naik pesawat apa disesuaikan dengan budget, rencana keberangkatan mau jam berapa. Cuss..

Ketika Di Bali

Singkat cerita kami sudah tiba di Bali. Sudah di hotel dan berencana ke pantai Kuta jalan kaki dari hotel. Yup, kami sengaja memilih hotel tak jauh dari pantai Kuta. Jarak hotel ke pantai Kuta hanya sekitar 600 meter. Sambil persiapan untuk ke pantai Kuta, suami mulai sibuk mencari mobil carter yang akan membawa kami keliling Bali besok selama seharian. Hotel juga menyediakan sebenarnya, lengkap dengan paket wisata. Namun sebelum kami memutuskan untuk pakai dari hotel, kami mencoba mencari dulu. Maksud hati kami ingin ke Tanah Lot, Bedugul dan Ubud, namun ternyata Ubud dan Bedugul itu berlawanan arah. Tak akan sampai waktu seharian ke dua tempat wisata itu. Maka plan A berganti ke plan B secara situasional.

When in a hotel..

Suami menemukan rental mobil yang terjangkau dengan kantong kami. Lumayan, harganya lebih murah dari harga paket yang ditawarkan dari hotel. Kami pun punya pilihan mau kemana saja tidak terpaku pada paket wisata yang sudah ditentukan. Maka, kami merekomendasikan jika baru pertama kali ke Bali, tempat wisata yang dapat dikunjungi karena searah jalurnya ada 3 tempat yaitu Bedugul, Sangeh lalu Tanah Lot. Pantai Kuta itu bonus karena dekat dengan hotel. Bisa dijangkau dengan jalan kaki saja. Hehe..

Baiklah, yuk mari kita ulas satu persatu keempat tempat wisata itu.

Pantai Kuta

Yes, We’re here..

Ingat lagunya Andre Hehanusa yang berjudul Kuta Bali? Yang liriknya begini lho :

Di Kuta Bali, kupeluk erat tubuhmu

Di Kuta Bali, cinta kita..

Dan seterusnya ..

Saking menjiwai itu lagu, saya sampai menyanyikan lagu itu saat di pantai Kuta lho. Pantai Kuta ini terletak di pinggir jalan raya. Semacam laut di tengah kota gitu. Mirip pantai Kemala di Balipapan jika sudah pernah kesana.

Kami menikmati suasana sore hingga senja di pantai Kuta. As you know, banyak turis mancanegara disana. Mereka berjemur menikmati sinar matahari dengan memakai pakaian seadanya. Sebagian lagi ada yang bermain surfing, bercanda dengan ombak laut.

Pencitraan 🙂

Pasir putih menghampar luas dari ujung ke ujung pantai yang cukup luas. Ada beberapa lapak penjual baju dan kain khas Bali. Ada juga beberapa penjual jasa kepang mulai menawarkan jasanya. Harganya per kepala 50 ribu rupiah. Kepang kecil-kecil lho, ala Jamaica itu. Tapi saya belum tertarik untuk mencobanya, pun anak wedok lebih memilih bermain pasir dan ombak dengan asyiknya. Bersama kakaknya tentu saja.

Dapat dikatakan, pantai Kuta ini milik publik. Tak ada pungutan biaya atau retribusi untuk masuk kesana. Alias gratis. Siapa saja boleh masuk ke pantai Kuta tanpa membayar sepeser pun. Semua boleh menikmati keindahan pantai Kuta sepuasnya. Kami pun sempat menikmati sunset di Pantai Kuta. Indah..

Saat sang surya kembali ke peraduan..

Danau Beratan Bedugul

Di hari kedua,kami  jadi menyewa mobil beserta drivernya untuk mengantar kami ke tiga tempat wisata. Lama rental mobil selama 10 jam. Kami berangkat pukul 10 pagi dari hotel. Tujuan pertama kami di hari itu adalah menuju Bedugul. Waktu yang diperlukan untuk menuju kesana sekitar 2,5 jam. Jika lancar tanpa macet. Kami beruntung, tidak menemui kemacetan saat itu. Hingga pukul 12.30 kami sudah sampai di Bedugul.

Pura Ulun Danu di Danau Beratan

Kami masuk ke area wisata Danau Beratan. Hawa dingin sejuk menyergap sesaat kami keluar dari mobil. Rasanya lebih dingin dari AC mobil. Maklum, danau Beratan terletak di lereng pegunungan. Pantas saja kami tadi melalui jalan menanjak berkelok-kelok. Mirip jalan di Gunungkidul.

Harga tiket masuk ke danau Beratan itu dibedakan antara turis domestik dan non domestik. Kami berempat (dua dewasa, dua anak-anak) dihitung tiket masuknya 50 ribu rupiah. It’s worth it dengan keindahan yang kami nikmati.

Selamat datang di Danau Beratan Bedugul..

Di kejauhan tampak pegunungan tertutup kabut sejauh mata memandang. Di depan mata tampak danau membentang, di pinggirnya ada pura yang berdiri megah. Yes, Pura Ulun Danu terletak di danau Beratan. Sesuai dengan gambaran yang ada di uang lima puluh ribuan. Maka menjadi kesempatan bagi kami untuk mencocokkan view yang ada dengan uang lima puluh ribu dengan berfoto ria.

Sama kan penampakannya.. 🙂

Saat kami kesana, suasana tampak ramai. Banyak bule dan turis domestik disana. Maklum, masih suasana liburan kok ya. Semua menikmati keindahan alam yang ada dengan mengabadikannya.

Monkey Forest of Sangeh

Setelah makan siang dengan menu khas bali ayam betutu di rumah makan tak jauh dari danau Beratan Bedugul, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih satu jam menuju Sangeh. Ada apa di Sangeh? Konon banyak monyet disana. Kami akan mengunjungi nenek moyang disana haha..

Tiket masuk ke hutan monyet Sangeh seharga 35 ribu rupiah untuk kami berempat. Ada arca monyet besar di bagian depan hutan itu. Kami menyempatkan untuk berfoto-foto dulu. Selesai berfoto, ada seorang Bapak membawa kamera menghampiri kami lalu menemani kami berkeliling hutan sambil bercerita. Tampak beberapa monyet berkeliaran di sekitar kami.

Beberapa monyet menghampiri ketika Bapak itu memberikan makanan berupa kacang. Kami terkejut saat seekor monyet nangkring di pundak anak lanang. Si Bapak menyarankan anak lanang untuk tetap tenang dan jangan sampai monyetnya dipegang. Duh, permintaan yang cukup dilematis. Lha wong monyetnya tanpa permisi nangkring begitu saja sampai ke muka anak lanang, mosok tidak mau dipegang? Kalau tidak sengaja terpegang gimana? Takutnya nanti sang monyet jadi anarkhis kalau dipegang. Hm..

Duh, nyet..please deh.. 😀

Saya bernafas lega saat monyet turun dari pundak anak lanang. Belum puas leganya, saya kembali dikejutkan dengan seeekor monyet yang nangkring ke pundak suami saya. Suami pun tak kalah terkejutnya. Saya  sampai terpekik saking kagetnya. Tak cukup sampai disitu, saya pun kena jatah monyet nangkring di pundak saya. Duh, saya belum siap lho. Untung saja tangan saya tidak refleks memegang si monyet.  Bisa panjang urusannya dah. Untung anak wedok tidak menjadi sasaran monyet nangkring. Kata si Bapak, sengaja dibuat begitu karena anak wedok mqasih kecil. Takutnya terjatuh saat ada monyet nangkring di pundaknya.

Selesai berurusan dengan monyet-monyet, kami pun melanjutkan berkeliling hutan. Konon, di hutan sangeh ini ada pohon lanang dan wadon. Masa sih? Kami jadi penasaran. Si Bapak fotografer yang berperan juga sebagai tour guide mengantar kami ke tempat pohon lanang wadon berada. Oh, ternyata seperti itu to..mirip sih hihi..

Bercengkrama..

Menjelang kami melanjutkan perjalanan, Si Bapak menunjukkan foto-foto candid kami yang diambil saat monyet-monyet itu nangkring di pundak kami. Oh, ternyata semua sudah diatur sedemikian rupa sehingga mendapatkan angle yang pas. Aih, si Bapak kreatif juga ya mencari uang. Maka kami pun tertarik untuk mengambil foto yang dimaksud dengan mengganti ongkos cetak seharga dua puluh ribu rupiah per lembar foto ukuran postcard. Baiklah. Untuk kenang-kenangan kami ambil. Terima kasih, Bapak! Duh, saya lupa namanya siapa!  

Tanah Lot

Perjalanan kami lanjutkan menuju Tanah Lot. Kami sampai disana sekitar pukul 16.00. Masih ada waktu untuk mengejar sunset. Konon, sunset di Tanah Lot indah sekali. Saat kami sampai disana, suasana sangat ramai dan hiruk pikuk. Banyak wisatawan Asia seperti  Jepang, Hongkong dan China. Wisatawan dari mancanegara lainnya juga banyak. Saya melihat dari garis wajahnya saja.  Untuk tahu pastinya sebaiknya kemarin saya tanyakan orangnya langsung ya. Sir or Madam, where do you come from? Haha..

Rame yaa..

Sepanjang jalan kenangan eh..sepanjang jalan menuju ke pantai banyak stand-stand yang berjualan pakaian dan makanan. Pakaian warna-warni dipajang memanjakan mata yang memandang. Jarak dari loket ke patai lumayan jauh ya. Sekitar 300 kilometer kami berjalan. Ah, iya tiket masuk ke Tanah Lot untuk kami berempat dibanderol 75 ribu rupiah.

Saya mulai senang ketika melihat tanda-tanda ada pantai di depan sana. Sejauh mata memandang, tampak bangunan pura yang megah di pinggir laut. Saat itu laut sedang surut, sehingga kami bisa bermain di pantai tanpa ombak besar. Sempat terpikir bagaimana dulu proses pembangunan pura di tepi laut ini.

Tanah Lot

Yang saya lihat di Tanah Lot nih, meskipun di sekitar pura dan pantai menjadi tempat wisata, peraturan tetap berlaku. Tidak sembarangan orang boleh naik ke atas bangunan pura. Ya, karena pura adalah tempat sembahyang umat beragama Hindu. Merupakan tempat yang sakral dan disucikan bagi umat Hindu. Maka sudah selayaknya para wisatawan turut menjaga dan menghormati ritual keagamaan yang ada.

Anak lanang dan anak wedok tampak senang bermain air laut di pantai. Bapaknya sibuk jeprat jepret dengan ponsel mengabadikan momen. Segala pose dan gaya sudah kami coba. Melompat, selfie, wefie, gaya suka-suka pokoknya. Ada beberapa drone yang mengambil video keindahan Tanah Lot dari atas.

O,ya di seberang pantai ada semacam gua yang konon ada ular putihnya. Ada penjaganya disitu. Para wisatawan yang ingin melihat keberadaan ular itu diperbolehkan dengan biaya sukarela. Tapi kami tidak mencoba untuk melihat karena yang mau melihat ular, antriannya mengular.

Tak terasa, waktu sunset tiba. Para wisatawan termasuk kami berdiri di atas karang menyaksikan langsung detik-detik matahari tenggelam menuju ke peraduannya. Sungguh momen langka yang sangat indah. Beruntung sekali saya bisa menjadi saksi kebesaran karya Sang Maha Kuasa.

Ah, Bali. Semoga suatu saat kami bisa kembali.

Sunset di Tanah Lot
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

4 thoughts on “Empat Obyek Wisata Ini Wajib Dikunjungi Saat Pertama Kali Ke Bali”

  1. Dulu waktu ke Bali , nginepnya deket pantai Kuta, tiap pagi pasti mampir ke pantai..enak , adem, seger, suka banget sama pantainya padahal sebelumnya saya gauska pantai karena takut tenggelam hehe..BTW belum pernah sih coba pesan tiket lewat pegi-pegi..makasih infonya mba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *