Yuk, Pahami Literasi Digital Sebelum Narsis di Media Sosial!

literasi digital

Jarimu, harimaumu

Anonim

Selamat datang di era digital! Era dimana segala informasi bergerak sangat cepat. Secepat kecepatan cahaya. Bisa jadi, kejadian beberapa detik yang lalu tiba-tiba muncul di socmed lalu menyebar dengan sangat cepat dengan berbagai versi di grup-grup WA. Tak jarang, berita-berita itu ada yang ditambah, dikurangi atau bahkan dipelintir sedemikian rupa sehingga muncul sesuatu bernama hoax. Untuk menangkal terjadinya hoax, pengetahuan tentang literasi digital berperan sangat penting disini.

Literasi Digital itu apa sih?

Sebelum tahu arti dari dua kata itu, yuk pilah satu-satu. Literasi artinya baca tulis. Digital artinya komunikasi. Secara sederhana, literasi digital dapat berarti pengetahuan dalam menggunakan alat-alat komunikasi secara bijak, efektif, efisien dan bermanfaat bagi orang lain serta patuh hukum. Kita dapat berperan sebagai pengguna atau pelaku. Sebagai contoh, dalam menggunakan media sosial. Setiap orang bisa menjadi apa dan siapa saja yang diinginkan. Personal branding seperti apa yang diinginkan dapat dibangun dengan mudah.

Di media sosial, siapapun dapat menuliskan apa saja yang ingin ditulisnya. Namun harus diingat, sekali menulis, jejak digital tidak akan hilang selamanya. Jikalau dapat dihapus postingannya, namun sesuatu yang buruk akan dikenang selamanya dalam ingatan. Siapa yang dapat menghapus memori otak seseorang, hayo? Maka, think before posting harus selalu menjadi pegangan sebelum menuliskan sesuatu di sosial media. Karena saat ini, peribahasa “mulutmu harimaumu” sudah berganti menjadi “jarimu harimaumu”

Saya sendiri punya prinsip harus selalu cek dan ricek terhadap suatu berita. Tidak asal share jika belum tahu kebenarannya. Tentu karena saya tak ingin menjadi penyebar berita bohong atau hoax. Karena berita hoax itu sangat menyesatkan dan membahayakan bagi siapa saja yang membacanya. Apalagi sekarang ini ada undang-undang ITE yang dapat menjerat siapa saja yang melanggar hukum dalam menggunakan alat komunikasi digital.

Selain itu, dalam menulis sesuatu di media sosial saya berusaha untuk menjaga perasaan orang lain jangan sampai menimbulkan pertengkaran yang unfaedah. Karena pada dasarnya, saya kurang suka berdebat dengan orang lain. Maka, jika saya sedang sedih atau marah, saya memilih untuk tidak menulis apa-apa di media sosial. Karena saat emosi sedang tidak stabil, segala hal yang tidak diinginkan dapat terjadi.

Minat Baca di Indonesia  

Percaya nggak percaya, minat baca di Indonesia cukup rendah. Menurut data UNESCO, negara Indonesia merupakan negara dengan urutan no 2 dari bawah soal literasi dunia. Minat baca orang Indonesia hanya 0,001% yang artinya dari 1000 orang, hanya 1 orang yang rajin membaca. Duh, miris nggak tuh? Why? Banyak hal bisa melatarbelakangi hal ini. Salah satunya adalah kurangnya akses. Jika kurang akses, daerah yang pelosok tidak dapat terjangkau fasilitas untuk membaca. Ini contoh minat membaca buku lho.

minat baca
Gambar oleh Thought Catalog dari Pixabay

Bagaimana dengan minat membaca di era digital? Sering terjadi, membaca secara lengkap dan utuh suatu berita malas dilakukan. Hanya membaca judulnya saja lalu berasumsi sendiri. Saya sendiri kadang mudah terjebak dengan judul clickbait yang hanya sekedar mencari sensasi berita belaka. Saat dibaca, loh kok beritanya nggak nyambung dengan judulnya? Ternyata para pembuat berita ada yang hanya pengin viral atau mencari banyak pengunjung ke situs webnya dengan cara yang tidak baik.

Membangun Literasi Digital Dimulai dari Keluarga

Anak wedok saya, dari usia balita sudah dapat mengoperasikan gadget untuk melihat channel Youtube idola kesayangannya. Dia paling senang menonton Sara Cute atau film Princess favoritnya. Namanya anak-anak,  pasti rasa ingin tahunya cukup besar. Saya tidak melarang anak menggunakan gadget, lha wong ini era digital kok. Tapi saya dan suami menetapkan aturan yang cukup ketat soal ini. Penggunaaan gadget dibatasi, tidak boleh sampai berjam-jam tanpa pendampingan yang tepat.

Apa saja yang boleh ditonton oleh anak pun harus dipantau. Gadget pun disetting parental. Jangan sampai kecolongan, anak melihat sesuatu yang belum waktunya. Orangtua harus punya sensor mandiri terhadap kebiasaan anak memakai alat komunikasi digital. Masa depannya masih panjang dan demikian berharga, maka mengupayakan yang terbaik di masa ini harus dilakukan. Keluarga berperan sangat penting dalam membangun literasi digital secara sehat dan bijak.

literasi keluarga
Gambar oleh 2081671 dari Pixabay

Bicara tentang akun media sosial, anak-anak saya belum diperkenankan memiliki akun media sosialnya sendiri sebelum berusia 13 tahun. Karena apa? Sebelum usia 13 tahun, anak belum memiliki kecerdasan emosional yang stabil. Pada usia ini, anak lebih efektif bersosialisasi secara nyata daripada di dunia maya. Selain itu, menurut saya di usia ini, penggunaan media sosial belum begitu penting untuknya. Istilahnya ya, nggak socmedan ya nggak papa. Ora pathekan.

Saya sendiri, memulai menulis di blog sejak tahun 2009. Berarti, 12 tahun sudah saya menggeluti dunia blog yang notabene dekat dengan literasi digital. Selama ini, saya berusaha menulis segala sesuatu berdasarkan pengalaman saya pribadi karena lebih mudah mengaplikasikannya. Dari hal yang remeh temeh menurut saya, mungkin malah menjadi sesuatu yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi orang lain. Maka saya sangat senang jika tulisan saya dapat bermanfaat bagi orang lain.

Literasi Digital Harus Digaungkan

Saya suka miris kalau membaca komentar negatif seseorang di suatu postingan orang lain di media sosial. Kata-kata kotor, penghinaan, caci maki, sumpah serapah dan bullying begitu mudah dilontarkan dalam sebuah tulisan. Dibaca banyak orang dan memberikan dampak sosial yang cukup luas. Kenapa jari netizen lebih kejam dari ibukota? Saya sering habis pikir. Apa untungnya bertengkar di media sosial? Itu jika kita mau berpikir secara jernih.

Dalam menggunakan sosial media, ada etikanya. Kita tidak bisa semau gue mengatur orang lain harus sependapat dengan kita. Ada banyak hati dan pikiran yang ingin dihargai. Kalau kita mau dihargai, maka mulailah menghargai orang lain. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan dari orang lain kalau kita sendiri tidak memulai untuk mau berubah ke arah yang lebih baik. Kalau kita mengharapkan orang lain senyum, maka kita senyum duluan. Pasti nanti dia akan senyum.

Etika Menulis di Blog

Demikian pula saat saya menulis di blog juga ada aturannya. Blog yang sifatnya personal ini harus bisa memberikan literasi digital yang baik kepada orang lain. Maka saya pun selalu belajar untuk meningkatkan skill menulis saya. Saya jadi ingat quote dari mas Irwin Andriyanto, coach di Kelas Growth Blogger (KGB) yang mengatakan bahwa “Jangan pernah puas belajar karena hidup adalah aktivitas belajar.” Maka saya tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas belajar di KGB2 ini.

Hari ini, saya dan teman-teman di KBG2 belajar tentang Menulis dan Editing Blogpost yang materinya disampaikan oleh coach Gemaulani yang kemampuan editingnya zero mistake. Iya, lho! Saya merasakan sendiri betapa teliti dan detailnya miss Gilang ini saat mengecek artikel satu demi satu saat kerjasama dalam suatu campaign. Ilmu yang disampaikan pun sangat padat, bernas dan useful sekali. Menurut beliau, blog yang sifatnya personal tetap harus memperhatikan Ejaan Bahasa Indonesia.

Ada beberapa kelebihan menulis berdasarkan tata bahasa antara lain : mudah dipahami, enak dibaca, kemungkinan dilirik editor lebih besar, dan turut mengurangi perdebatan kata-kata yang seharusnya digabung atau dipisah. Banyak hal yang saya pelajari ini merupakan upaya saya untuk menggaungkan literasi digital semakin dikenal masyarakat luas. Saya punya cita-cita, suatu saat tak ada lagi bullying, sumpah serapah atau caci maki di media sosial karena semua paham akan literasi digital.

Salam literasi digital! 😀

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Lifestyle Blogger. Entrepeneur.

62 thoughts on “Yuk, Pahami Literasi Digital Sebelum Narsis di Media Sosial!”

  1. Bener banget kak, zaman sekarang begitu mudahnya jari seseorang mengetik hal-hal yang alih-alih positif justru menyesatkan karena kurangnya membaca informasi

  2. Sudah lama juga ngeblognya ya mba. Pengalaman apa yang paling menyenangkan menjadi blogger mba? Pengin belajar juga nih..

  3. Setuju banget soal minat baca kita yang rendah. Informasi utuh hanya bisa didapat kalau bacanya juga rampung. Kalau membaca cuma sepenggal-sepenggal, tangkapan isinya juga bakal setengah-setengah, kadang malah melenceng jauh. Melek literasi apalagi literasi digital seyogyanya dibarengi kedalaman rasa dan hati juga pikiran jernih.

  4. Bener bgt mba Juli. Zaman skrg udh serba canggih tp byk yg tdk bisa memanfaatkan secara positif. Byk org yg copas berita yg blm tentu benar alias Hoax.
    Smoga mba Juli blogger yg diminati oleh pembaca disegala kalangan. Sukses trs ya..

  5. Wuiiidiiih nice bgt tulisan artikel nya mba Yuli , menarik & menambah wawasan keilmuan kita semua.
    Agar lebih smart dalam literasi media digital

  6. Selalu berpikir dan paham sebelum menulis comment itu sungguh prioritas. Kita pun sesekali merasakan jika kita menjadi orang yang di comment apakah menyinggung perasaannya atau tidak terkadang itu juga penting hehe
    mantap Kak Yuli semoga menjadi influencer yang banyak mengajak kita positif terus . Terus berkarya ya Kak

  7. Wah sedang ikut KGB 2.. selamat menikmati kelas keren tersebut mbak.

    Btw, doa di paragraf penutup aku aminkan ya mbak. Aku juga sedih lihat kondisi sekarang.. banyak yang nggak bisa jaga jempol 🙂

  8. Menjadi blogger merupakan tantangan tersendiri juga buat saya Kak… Hehe karena masih perlu banyak belaar. Baik membuat konten maupun teknisnya. Khususnya teknik menulis nih. Trimakasih sharingnya..

  9. Saat kita sudah bersentuhan dengan yang namanya dunia digital, maka perlu adanya pemahaman baik buruknya sebelum kita narsis di media sosial ya kak, harus memfilter berita yang diterima ya

  10. Bener sekali ,harus cek n ricek untuk nge-share hal yang baru di ketahui pastikan sumber beritanya dan akan menjadi Boomerang kalo itu asal nge-share di era sekarang , apalagi UU ITE sudah berlaku , smoga menjadi pengingat buat kita semua , menjaga jari biar tidak menuju jeruji .. ( makasih tulisannya sangat menginspirasi ) dan koreksi untuk diri ..

  11. Betul banget literasi digital perlu digaungkan. Apalagi zaman sekarang banyak berita yang viral tapi tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

  12. Samaan kita mbak, sejak 2009 :D. Udah lama banget haha. Dan semoga karena kita paham dengan dunia literasi digital kayak sekarang, ngasih tau ke anak-anak juga lebih mudah ya. Karena mereka melihat kita setiap hari dengan handphone atau komputer, ini kesempatan buat meng edukasi mereka gimana caranya biar ngerti digital dengan baik, nggak cuma bisa lenggak lenggok dan selfie aja hehe

  13. Wah tertampar banget sih ini blogging juga salah satu bentuk dari sumbangsih kita kepada masyarakat tentang literasi digital, emang PR bgt sih buatku yg harus lebih sering buku kamus KBBI

    1. Hahaaay, iyaa nih harus nya belajar literasi digital dulu, baru eksis di dumay. Agar bisa meminimalisir terjadinya kesalahaaan hihi

  14. Keren banget artikel nya mba, memang seharusnya kita budayakan membaca atau mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu, daripada menyebarkan berita hoax yg sekarang sdh menjadi trend di masyarakat kita..

    Sukses trs ya mba Yuli, terus berkarya dan menjadi manfaat utk orang2 di sekitar kita❤️❤️

  15. Aduuh bener deh klo main sosmed kudu tau etika. Literasi digitalnya gak boleh di tinggal di lemari. Harus dipake terus atuh. Hehe..
    Aku aja klo mo posting mikirnya lama. Kadang2 akhirnya malah gak jadi posting. Padahal isinya cuma poto jalan2 doang. Haha

  16. Tapi nyatanya banyak anak yang bebas bermain di dunia digital tanpa pengawasan orang tua kak. Punya akun medsos si enggak, tapi mainnya game online hehe

  17. Inilah pentingnya literasi digital, lengkap mbak artikelnya. Semoga dengan digaungkannya literasi digital akan lebih banyak lagi orang yang tidak percaya hoax

  18. Literasi Digital masih harus perlu diedukasi ke seluruh lapisan masyarakat. Sebagai blogger yang paham dunia digital aja, kadang masih banyak yang ngeshare atau komen yang meresahkan, semoga kita dapat menjaga jari jemari kita untuk menebarkan kebaikan dan hal2 positif, menjauhi hoax ya. Aku pun masih belajar terus nih..

  19. Ketika tulisan kita dibaca orang lain dan bermanfaat, tentu rasanya senang sekali ya mbak. Artinya artikel dipercaya sehingga pembaca mencontoh seperti yang ditulis. Makanya mesti dicek n ricek benar atau ga jangan sampai menyesatkan. TFS

  20. Pengguna warga +62 disebut-sebut paling ganas ketika menuliskan komentar. Bahkan ada yang menyamakannya dengan ‘kejamnya’ kehidupan Ibukota.

    Padahal kita sedang menuju 2030 SDGs

    Aku sering bilang ke anak anak, pengguna medsos di Indo mungkin terbesar dan banyak nilai positif yang bisa kita dapatkan tapi tak jarang kita jadi korban dari kegiatan bermedsos, so be awaaaareeee!

  21. Budaya membaca itu memang harus terus digalakkan dalam masyarakat kita ya. Jangan sampai hanya baca berita setengah-setengah jadi memberi kesimpulan yang salah. Etika bermedia sosial juga harus dijaga, berkomentar harus bijak karena pembaca tidak tahu intonasi yang dimaksud oleh penulis.

  22. Iya miris banget memang mbak banyak yang kurang literasi di sosmed apa2 main sebar, forward, screenshot, tanpa baca terlebih dahulu dan tanpa cari tahu sumbernya dari mana. Gemees.

  23. Minat membaca yang rendah di negara +62 menurut saya memang memprihatinkan padahal aktivitas menulis itu ditunjang oleh membaca. Akhirnya inilah yang terjadi, kita akan membaca berbagai komentar yang tanpa etika bahkan ejaan yang salah di dunia maya (biasanya di sosmed akan kita temukan komentar-komentar yang demikian. Kita sebagai pegiat literasi jadi ada PR nih, menularkan kepada masyarakat agar mereka memiliki minat baca yang optimal.

  24. di era sekarang dimana semua ada dalam genggaman emang butuh banget literasi digital ya mbak
    agar kita tidak terkena hal hal yg merugikan
    mulai dari berita hoax hingga cyber crime

  25. Kalau menonton film dokumenter Social Dilemma memang serem sih dunia digital, khususnya medsos. Tetapi, bukan berarti harus berhenti juga. Asalkan literasi digital kita meningkat masih bisa aman

  26. Zaman digital begiin, bagaikan banjir informasi yaa..
    Semua diperoleh dengan mudah.
    Harus banget diseimbangkan dengan membaca berita dari media yang sudah terjamin kebenarannya.

  27. Bener banget, Mbak. Sekarang miris karena banyak yang kalau bikin judul itu bikin orang penasaran, pas dibuka, lah gak nyambung. Tapi kebanyakan orang cuma baca judulnya aja. Jadilah hoax yang mudah menyebar.

    Literasi digital memang perlu digaungkan, biar apa yang ditulis benar-benar dipahami oleh pembaca. Dan pembaca juga baca secara full gak setengah-setengah terus menyimpulkan sendiri.

  28. Entaah berapa jumlah kecepatan suatu berita bisa tersebar di dunia maya ya, saking cepatnya sampai langsung viral dan trending. Dari sini kita perlu banget punya pengetahuan literasi digital supaya gak asal ikut menyebarkan berita yang belum tentu benar. Dengan membangun literasi maka bisa meningkatkan minat baca juga ya

  29. bener mak…menulis di media sosial apalagi blog emang harus berhati-hati. Apalagi sekarang ada UU ITE ya..yang siap menjerat siapa pun yang melanggarnya meskipun niatnya sih mungkin buat iseng aja.

  30. Sekarang eranya digital, jadi mau nggak mau kita harus hati hati dalam menulis di sosial media. Semuanya ada aturannya. Untuk urusan baca info juga sebaiknya jangan setengah setengah, harus tuntas. Terus nggak main asal share info, ini aku jaga banget dari dulu. Itulah pentingnya Literasi digital

  31. Kayaknya orang kita kebanyakan baca di inet daripada buku, hehe.. Lebih murah soalnya. Kadang harga buku memang mahal dulu, andai harga buku murah. Dulu saya lebih banyak berburu buku bekas daripada buku baru. Soalnya harganya jauh banget, dan nggak terjangkau. Tapi memang literasi itu penting banget, apalagi digital yang main ketik pakai jempol, gampang banget.

  32. Jaman sekarang caci maki di medsos dan hoax hoax merajalela. Untungnya saya jarang banget share berita yang belum tentu kebenarannya. Emang literasi digital itu perlu banget.

  33. Iya ya kadang kecanggihan hp yang dipunya gak dibarengi dengan literasi digital yang baik, semoga kita bisa menahan jari kita dari komen negatif & menyakiti orang lain karena kita gak pernah tahu kekuatan mental seseorang menghadapi itu

  34. Mengajarkan Literasi Digital pada anak itu memang punya tantangan tersendiri. Aku pun tidak mengijinkan anak-anak punya sosmed sampai dengan usia nya yang cukup matang. PR memang nih meningkatkan literasi digital di masyarakat kita.

  35. Literasi digital ini emang penting banget Mak untuk menyerap informasi mana yang memang pantas untuk diikuti dan mana yang harus dibuang. Kecepatan delivery dari informasi yang tersebar di media sosial saat ini juga bikin kita jadi overwhelm dan lebih milih shortcut baca judulnya aja. Kalo terlalu reaktif, bakal berpotensi jadi penyebar hoax tuh :((

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *