Perbedaan Komunikasi Suami dan Istri Yang Sering Membuat Salah Paham

Tuhan menciptakan pria dan wanita dengan berbagai perbedaan supaya saling melengkapi

Beberapa waktu yang lalu, saya mengikuti sarasehan perihal komunikasi. Komunikasi ini berkaitan pula dengan komunikasi dalam hubungan suami istri. Seringkali, sebagai wanita saya suka gagal paham. Kenapa sih, saya yang jungkir balik multitasking dari pagi, sedangkan suami hanya melakukan bebeberapa kegiatan saja sudah seperti kehilangan jenggot kalau istrinya pergi beberapa jam saja keluar rumah? Ternyata ada alasannya. Nanti saya jelaskan.

Pembicara sarasehan ini seorang Psikiater spesialis Kejiwaan. Beliau sudah terbiasa menangani pasien sakit jiwa di RSJ.  Ibu dr. Ida Rochmawati, MSc, Sp. Kj (K) atau biasa dipanggil Bu Ida, sangat cair membawakan materi. Berkali-kali tawa berderai dari peserta yang notabene adalah para suami atau istri yang merasa tersindir. Tentu termasuk saya juga. Hehehe..

Sudah dari ‘sono’nya, alam pria dan wanita berbeda. Perbedaan struktur otak antara pria dan wanita mempengaruhi cara pandang, kemampuan berbahasa dan kemampuan berkomunikasi yang beda pula. Pada pria, otak kiri yang berfungsi atas logika,  lebih dominan. Sedangkan wanita, otak kanan yang dominan, lebih mengedepankan perasaan. Maka, seringkali ada kasus suami istri yang selalu bertengkar karena tidak bisa saling memahami perbedaan itu. Yuk, coba kita pelajari kasus demi kasus yang seringkali terjadi dalam rumah tangga masing-masing.

Baca : Nasihat Pernikahan

Kasus 1 : Logika Vs Perasaan

Credit : www.clipart-library.com

Istri sedang bersedih hati. Bawaannya melow melulu dan cenderung cengeng. Maka pecahlah tangisnya. Istri menangis terisak-isak hingga tersedu-sedu. Suami ada di ruang tamu sedang membaca koran. Saking asyiknya membaca koran, suami kurang peka kalau istrinya sedang menangis. Istri yang inginnya diperhatikan suami semakin jengkel karena suami tampak lebih mementingkan membaca koran. Jangankan ditanya, dilirik pun tidak. Huwaaa..

Analisa pakar :

Istri sedang butuh perhatian. Perasaannya sedang bersedih dan melow. Ekpekstasinya suami langsung mendekat, bertanya kenapa lalu membelai mesra dengan kata-kata lembut. Kenyataannya? Malah cuek bebek, tetap asyik membaca koran. Ternyata koran lebih penting daripada perasaan istri.

Selesai membaca koran, suami baru melihat sekeliling. Logika suami, baca koran ya sampai tuntas. Nggak bisa disambi dengan yang lain. Lalu heran ketika menyadari  istrinya sedang menangis. Tanpa merasa bersalah, suami bertanya,”Kamu kenapa sih? Kok sedih banget kayaknya. Kalau ada masalah, ya dicari solusinya. Nggak usah dipikir dalemlah. Santai saja!”

Melihat reaksi suami demikian, istri semakin keras menangis. Sambil menuding, istri berkata,” Kamu jahat! Nggak punya perasaan!”

Suami :”Lho, kok jadi aku yang jahat? Salahku opo lho!”

Suami berbicara dengan logikanya. Sedangkan istri bicara dengan perasaan. Kalau masing-masing tetap mempertahankan egonya, maka perang bisa terjadi. Piring gelas melayang begitu saja. Hm, memang harus ada yang mengalah. Karena nggak bakalan klop kalau logika dan perasaan bertemu di saat yang tidak tepat.

Baca : Ketika Handphone Pasangan Pakai Password

Kasus 2 : Salah Paham

Credit : www.goodfreephotos.com

Suami sedang banyak uang. Saat jalan-jalan ke toko, suami melihat ada sale baju, sepatu dan tas. Logika suami, karena istrinya belum punya baju warna hijau, tas warna merah dan sepatu warna kuning, maka dibelilah 3 item fashion itu untuk istri tercinta. Jarang-jarang kan memberi surprise kepada istri. Sampai di rumah, istri melongo. Baju hijau, tas merah dan sepatu kuning? Dipikirnya aku ini traffic light apa?

“Pak, matur nuwun ya sudah dibelikan ini semua. Lha tapi, kalau ini kupakai barengan apa Bapak nggak malu kalau istrimu ini dikira lampu stopan di jalan? Traffic light gitu?”

“Kamu kok ngomong gitu sih? Jarang-jarang lho aku belikan kamu pakaian. Mbok ya jangan bikin aku kapok belikan kamu lagi.”

Analisa Pakar :

Suami tersinggung. Merasa jerih payahnya tidak dihargai. Sudah dibelikan, malah maido. Njuk aku kudu piye, jal?

Terjadi gegar kebiasaan disini. Maksud hati memberi surprise, ternyata ditanggapi negatif sama istri. Ambyar jadinya.

Logika suami, tentu menyenangkan istri sekali-kali itu perlu. Maka maksudnya memberi surprise, suami langsung membelikan barang tanpa memikirkan apakah istrinya akan suka atau tidak. Istri senang suami membelikan barang. Namun karena warnanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, spontan istri merasa suami kurang memahami seleranya. Padahal bisa saja kan di mix and match dengan pakaian yang lain.

Istri yang reaksinya spontan, merasa menyesal. Sebenarnya kan bisa saja disimpan dulu barang dari suami. Dipakai sewaktu-waktu kalau ada pertemuan yang mengharuskan pakai dresscode tertentu, kan sudah punya.

Baca : Lakukan 5 Tips Ini Jika Akan Buka Usaha Bersama Pasangan

Kasus 3 : Multitasking

Credit : www.sites.psu.edu

Saat istri menggoreng lauk di dapur, ada telepon berdering. Istri segera menerima telpon dengan tangan kiri, tangan kanan memegang sothil sambil tetap menggoreng. Saat riweuh seperti itu, anaknya menangis. Istri bisa memanggil suami untuk menenangkan anaknya di sela-sela menerima telepon dan menggoreng. Multitasking. Sambil menggoreng, bisa menerima telepon sekaligus memarahi suami supaya mengasuh anak di waktu bersamaan. Hahaha..

Suami, dan kebanyakan pria hanya bisa fokus pada satu hal. Satu persatu tugas diselesaikan, tidak bisa disambi. Dan saat fokus, tidak bisa diganggu gugat. Mana bisa ngutak atik komputer sambil momong anak.  Pasti suami akan memilih salah satu. Ngutak atik komputer tanpa gangguan anak. Atau mengasuh anak tanpa mengutak atik komputer. Sedangkan para istri bisa saja sambil mengetik di laptop, sambil meyusui anaknya kalau masih ASI. Dan semua baik-baik saja.

Itulah mengapa suami saya sering menyuruh saya pulang cepat-cepat saat keluar rumah supaya segera mengambil alih mengasuh anak karena ia harus segera mengerjakan sesuatu. Ingat ya, tidak bisa disambi. Hm..

Analisa Pakar :

Otak wanita memang di design untuk bisa melakukan banyak tugas sekaligus di waktu bersamaan. Sedangkan otak pria lebih dominan untuk fokus pada satu hal saja. Jika dipaksakan untuk melakukan dua atau tiga hal secara bersamaan di waktu yang sama, mereka akan kewalahan dan hasilnya tidak akan bisa maksimal.

Baca : Long Distance Marriage, Siapa Takut?

Kasus 4 : Talk Less Vs Talk Much

Credit : www.macjams.com

Suami istri sedang LDM-an alias Long Distance Marriage alias LDR = Lungo Dewe Rapopo. Maka, mereka sepakat untuk tetap menjalin komunikasi dengan handphone entah telepon atau chat.

Istri : “Hai, Pa..sudah maem? Jangan telat maem lho, nanti sakit maag-nya kambuh.”

Suami : “Belum”

Istri : “Lho kok belum? Ini jam berapa? Tinggalin dulu kerjaannya. Makan dulu yang penting.”

Suami : “Ya”

Istri : “Lagi ngapain sih?”

Suami : “Di warung”

Istri : “Kok belum makan ?”

Nggak dibalas. Istri penasaran.

Istri : “Kok nggak dibalas Pa? Makannya sudah apa belum?”

Istri tambah senewen. Chatnya nggak dibalas. Akhirnya 15 menit kemudian dibalas.

Suami : “Udah”

Istri : “Udah apa? Kok tadi nggak balas chatku? Ngapain aja sih..”

Suami : “Makan”

Baca : Catatan Perjalanan Cinta

Analisa Pakar :

Sudah kodratnya, wanita lebih banyak bicara. Sedangkan pria bicara seperlunya saja. Makanya saya suka sebal kalau sudah panjang-panjang ngetik chat, jawabannya cuma : yo atau huruf Y saja. Duh, nggak ada kata-kata lain apa? Irit banget.

Ternyata memang sudah demikian adanya. Misalnya pria berbicara 5 ribu kata sehari, wanita bisa 3 kali lipatnya menjadi limabelas ribu kata sehari. Data ini diperoleh berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan oleh ahlinya. Jadi, jangan heran kalau suami kita sangat irit berbicara maupun berkomunikasi. Sering kan, ya kita nyerocos ngomong, suami hanya manggut-manggut mendengarkan sambil komentar seadanya hanya jika diminta? Itulah..

Nah, setelah mempelajari berbagai kasus di atas, semoga semakin yakin bahwa perbedaan antara pria dan wanita terlebih setelah menjadi suami istri adalah hal yang hakiki. Saling memahami adalah koentji.

Keep always be a happy couple! 🙂

Credit : www.sitegoogle.com
Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

15 thoughts on “Perbedaan Komunikasi Suami dan Istri Yang Sering Membuat Salah Paham”

  1. waktu baru nikah, aku sering sms panjang lebar kali tinggi cuma buat nanya kabar dll dan klo dibalas “ya” doank, aku suka syedih *drama* … trus ya aku sms lagi panjang kali lebar tinggi mengungkapkan perasaanku yg syedih *lol* … lama2 ya aku yg males sendiri sms2 begitu, berasa waktu terbuang hahaha mending nulis blog aja deh XD

    setelah hape paksu bisa whatsappan, aku prefer kirim message yg to the point misalnya “nitip lauk pulangnya hunn,” ato “pulsa listrik abis” dsb

  2. MBaaak, dalam sehari-hari memang hal itu yang selalu bikin rumah tangga jadi penuh warna warni yak. Tersering mungkin yang wanita multitasking sedangkan pria, lebih memilih fokus pada satu hal untuk dikerjakan. Hm, begitu ya emang sudah kodratnya. Kalau logika dan perasaan, Alhamdulillah sudah mencoba untuk mengubah pola pikirku. Jadi kalau saya lagi sedih, tapi suami kurang peka, saya langsung bilang saja, “Lagi sedih ini, sebabnya ini, kepinginnya begini”. Lumayan plong dan enggak bikin dia bingung.

  3. Hahaha jadi inget dulu waktu baru nikah. Saya sampe baper kalau suami jawab pesan saya cuma singkat-singkat ajan tpi skrang udah ga baper lagi. Udah bisasa soalnya wlwkwk. Ternyata memang bgtu ya cwo

  4. Dulu awal-awal abis nikah, aku sering memendam perasaan. Misal lagi enggak sependapat atau lagi bete karena sikapnya. Tapi lama-lama kerasa juga. Kalo enggak dikomunikasiin, suami mana tahu ya. Hehehe.

  5. Aku ngakak baca contoh yg beli barang2 ala wanita tp warnanya merah kuning ijo wkwkwkwk.. Dulu aku stress mba ama sifat suami yg begitu. Tp skr mah udh biasa.. Malah tenang, krn tipe suami begini setidaknya ga banyak gombal dan lebih sering ngebuktiin kata2nya :).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *