Pengalaman Ikut Rewang Di Gunungkidul

Pengalaman ikut rewang di Gunungkidul

Hidup di desa masih ada tradisi yang namanya “rewang”

Pengalaman ikut rewang di Gunungkidul. Saya rewang selama lima hari berturut-turut saat tetangga punya hajatan pernikahan. Ini merupakan tradisi gotong royong yang hangat dan penuh makna. Suasana rewang  masih banyak dijumpai disini, yang mungkin sudah  tidak seperti di daerah lain. Kegiatan masyarakat ini merupakan tradisi yang masih dilestarikan.

Rewang merupakan wujud kepedulian para tetangga, sanak saudara jika ada kerabat yang mengadakan hajatan pernikahan, sunatan, dan acara syukuran lainnya. Kalau di Gunungkidul, ada juga yang namanya tradisi rasulan, maka ada pula rewang saat acara rasulan atau panen raya di Kabupaten Gunungkidul.

Selama lebih dari sepuluh tahun keluarga kami tinggal di Gunungkidul, saya sudah beberapa kali dimintai tolong tetangga satu Rukun Tetangga (RT) untuk rewang untuk beberapa event. Rewang ini bisa berlangsung selama beberapa hari. Jadi, kami yang dimintai tolong rewang sebaiknya tidak menolak dan menyediakan waktu meskipun kami bekerja.

Jadi, bagi yang bekerja bisa meminta ijin atau mengajukan cuti khusus ke tempat bekerjanya untuk keperluan kegiatan kemasyarakatan, yang punya usaha bisa libur dulu dalam membuka usaha dan lain sebagainya. Kami pernah dimintai tolong untuk rewang dari hari Kamis hingga hari Senin. Berarti total ada 5 hari untuk rewang.

Undangan Ikut Rewang Tak Tertulis Namun Selalu Dipahami

Di Gunungkidul, undangan hajatan pernikahan tak selalu datang dalam bentuk kartu atau pesan resmi. Kadang cukup lewat obrolan singkat di depan rumah atau titipan pesan dari tetangga. Namun, tak jarang dari pihak keluarga langsung yang akan mengadakan acara hajatan. Seperti pengalaman yang saya alami, diundang oleh tetangga yang punya hajat.

Dengan sapaan hangat dan niat untuk bersilaturahmi, sang pengundang bertandang ke rumah saya. Dengan tutur bahasa yang halus dan sopan,menyampaikan dengan baik maksud dan tujuan untuk memohon bantuan waktu, tenaga, pikiran dan materi. Hal ini menjadi kesempatan saya untuk mendapat pengalaman ikut rewang di Gunungkidul.

“Kasuwun mbenjing tanggal tiga dumugi tanggal pitu wanci tabuh enjing dumugi sonten saget dipun wiwiti anggenipun rewang nggih. Nyuwun pangapunten sakderengipun sampun ngrepoti. Matur nuwun”

Terjemahan : Mohon besok tanggal 3 sampai 7 dari jam pagi sampai sore dapat dimulai untuk bantuan rewangnya ya.  Mohon maaf sebelumnya sudah merepotkan. Terima kasih.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi maknanya jelas. Saya diminta bantuannya untuk ikut rewang, membantu hajatan pernikahan tetangga. Bukan sehari, bukan dua hari, melainkan lima hari berturut-turut. Jamnya pun biasanya dari pagi hingga sore. Lalu ada pula yang malamnya datang lagi untuk rewang membuat lemper.

Sebagai orang yang tumbuh di lingkungan desa, saya sudah akrab dengan tradisi ini. Namun tetap saja, menjalani rewang selama lima hari penuh menghadirkan pengalaman yang tak sekadar melelahkan, tapi juga menghangatkan hati. Waktu, tenaga, pikiran dan materi yang biasanya berupa uang tercurah untuk ikut menyumbang kepada pemilik hajatan.

Para ibu, tak perlu khawatir jika harus ikut rewang. Jika ada anak kecil, bisa dibawa asal dapat terkondisikan. Tak perlu khawatir soal makan untuk yang di rumah selama ditinggal rewang seharian, karena siangnya ada ater-ater atau hantaran berupa masakan, lauk pauk serta nasi yang diantar ke rumah.

Para perewang pun, makanan dan minumannya terjamin dari mulai sarapan, pacitan (snack), makan siang hingga makan malam (jika sampai malam) di tempat rewang. Jadi tak perlu khawatir akan kelaparan selama rewang. Semuanya sudah dipikirkan dengan baik oleh pemilik acara. Suasana guyub rukun dapat tercipta dengan baik.

Mengenal Rewang, Tradisi Gotong Royong di Gunungkidul

Rewang merupakan tradisi gotong royong masyarakat Jawa, khususnya di wilayah Gunungkidul, saat ada tetangga yang menggelar hajatan. Biasanya berupa pernikahan, khitanan, atau acara besar keluarga. Tak hanya itu, ada lagi rewang yang sifatnya luas dan umum yaitu rewang saat Rasulan. Rasulan merupakan tradisi tahunan atas panen raya di Gunungkidul.

Di acara kemasyarakatan ini, tak ada upah, tak ada kontrak, dan tak ada kewajiban tertulis. Semua dilakukan atas dasar kebersamaan dan rasa saling memiliki sebagai warga desa. Di tengah zaman yang serba praktis dan instan, rewang menjadi bukti bahwa nilai sosial masih hidup dan dijaga.

Mengenal rewang tradisi gotong royong di Gunungkidul
Mengenal rewang tradisi gotong royong di Gunungkidul

Pengalaman Ikut Rewang di Gunungkidul,  Belajar Menyesuaikan Diri Di Hari Pertama

Hari pertama rewang dimulai pagi-pagi sekali. Dapur hajatan sudah ramai sejak matahari belum tinggi. Beberapa ibu sibuk menyiapkan bumbu, sebagian lainnya membersihkan peralatan masak berukuran besar. Bapak-bapak ada tugas lain sendiri, biasanya mempersipkan soal sarana dan prasarana.

Saya kebagian tugas ringan: mengupas bawang, mencuci sayur, dan membantu menata bahan masakan. Dari sini saya belajar tentang satu hal penting bahwa di rewang, tak ada pekerjaan yang dianggap kecil. Semua saling melengkapi dan penting. Kerjasama yang baik bisa menyatukan semua kebutuhan itu.

Hari Kedua Ikut Rewang Di Gunungkidul, Dapur yang Menjadi Ruang Cerita

Hari kedua, suasana dapur terasa lebih cair. Tawa mulai sering terdengar, candaan kecil muncul di sela kesibukan. Sambil mengaduk masakan, cerita-cerita kehidupan mengalir begitu saja. Biasanya dari berbagai obrolan saat ikut rewang inilah, banyak informasi yang tadinya tidak saya ketahui, jadi tahu.

Tentang anak yang merantau ke kota, tentang panen yang tak menentu, hingga kisah pernikahan zaman dulu yang jauh lebih sederhana.
Dapur rewang bukan hanya tempat memasak, tapi juga ruang berbagi cerita dan pengalaman hidup. Seru namun adapula yang menegangkan jika ceritanya tentang kesedihan.

Saat Lelah Datang Bersamaan, Di Hari Ketiga Pengalaman Ikut Rewang di Gunungkidul

Memasuki hari ketiga, tubuh mulai merasakan lelah. Bangun pagi, bekerja seharian, dan pulang dengan badan pegal menjadi rutinitas. Namun yang membuatku bertahan adalah suasana kebersamaan. Saat satu orang terlihat kelelahan, yang lain otomatis menggantikan. Saat tangan terasa panas, ada segelas teh atau kopi hitam yang tiba-tiba disodorkan.

Saat ikut rewang, lelah terasa lebih ringan karena dibagi bersama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul kalau diibaratkan. Saling bahu membahu bergotong-royong, jenis pekerjaan sebanyak dan seberat apapun dapat terselesaikan bersama.

Hari Keempat Pengalaman Ikut Rewang Di Gunungkidul, Kesibukan Menjelang Hari H

Hari keempat adalah puncak kesibukan. Persiapan semakin padat. Masakan dibuat dalam jumlah besar, jajanan dibungkus rapi, besek disusun satu per satu. Tak ada yang berdiri diam. Semua bergerak sesuai peran masing-masing, meski tanpa komando resmi. Saya melihat bagaimana gotong royong bekerja secara alami tanpa banyak bicara, tanpa banyak aturan.

Di sinilah saya menyadari bahwa rewang bukan sekadar membantu hajatan, melainkan bentuk cinta sosial dan kepedulian yang nyata.

Hari Kelima Pengalaman Ikut Rewang di Gunungkidul, Pulang dengan Hati yang Penuh

Hari terakhir rewang selalu terasa berbeda. Ada rasa lega, ada rasa haru. Setelah semua selesai, kami duduk bersama menikmati hidangan sederhana. Tak ada kemewahan, tapi kehangatannya sulit dijelaskan. Saya pulang dengan badan lelah, namun hati terasa penuh.

Lima hari rewang mengajarkan saya bahwa kebersamaan adalah kekuatan utama masyarakat desa. Selama tradisi ini dipertahankan, kebersamaan ini akan selalu terjaga dengan baik, tak lekang oleh waktu dan zaman.

Pengalaman Ikut Rewang di Gunungkidul Di Tengah Perubahan Zaman

Di era modern, banyak hajatan kini diserahkan sepenuhnya kepada jasa katering dan event organizer. Namun di Gunungkidul, rewang masih bertahan. Bukan karena keterpaksaan, melainkan karena kesadaran bahwa hidup bermasyarakat membutuhkan saling bantu. Rewang menjaga hubungan antar warga agar tetap dekat, tidak berjarak.

Nilai-nilai sosial yang mungkin mulai terkikis oleh perkembangan zaman yang terus bergerak di daerah lain. Namun di Gunungkidul beda. Tak ada spanduk bertuliskan “gotong royong”, tak ada pidato panjang tentang kebersamaan. Namun nilai itu terasa kuat dalam setiap aktivitas rewang.

Warga datang membantu tanpa diminta imbalan, bekerja tanpa menghitung waktu, dan pulang dengan perasaan bahagia itulah esensi rewang.

Tradisi Rewang Di Gunungkidul yang Layak Dijaga

Pengalaman rewang lima hari berturut-turut di Gunungkidul ini bukan hanya cerita tentang dapur dan masakan, melainkan tentang nilai hidup yang semakin langka yaitu empati dan kebersamaan. Selama masih ada warga yang rela datang membantu, selama dapur hajatan tetap terbuka untuk siapa saja, rewang akan terus hidup sebagai identitas desa.

Demikian cerita saya tentang pengalaman ikut rewang di Gunungkidul selama lima hari berturut-turut. Semoga hidup kita makin berwarna, dan tetap semangat dalam segala keadaan.

Berikut video saya tentang suasana rewang di Gunungkidul yang saya unggah di channel YouTube saya. Selamat menonton!

Share

Author: Juliastri Sn

MomBloggerPreneur. Mom of two. Lifestyle Blogger. Entrepeneur.

8 thoughts on “Pengalaman Ikut Rewang Di Gunungkidul”

  1. MAntap sekali rewang sampai 5 hari, acara pernikahannya besar-besaran ya, Mbak?
    Memang riuh di dapur rewang, masak dengan porsi besar, bekerja sama dan jadi guyub antar tetangga.
    Daku belum pernah ikut rewang tapi menyaksikan keramaian dapur rewang saat adik ipar menikah. Di kampung mertua masih ada tradisi rewang, dan masak nasinya masih pakai tungku (kompor tradisional).

    1. Iya, mbak. Nano-nano rasanya. Ada senengnya, ada capeknya juga. Tapi hati dan jiwa rasanya penuh kalau bisa membantu untuk orang lain baik itu tenaga, pikiran, waktu dan materi. Apapun yang bisa bermanfaat bagi sesama 🙂

  2. Wih, yang kerja sampai harus ijin ke tempat kerjanya? Kalau di desaku memang masih ada juga tradisi semacam rewang ini.

    Cuma biasanya emang nggak lama. Kalau acara biasa, kayak nikahan, khitanan, dan lain-lain paling mentok cuma 3 hari. Itupun nggak yang harus ijin nggak kerja. Kita bisa datang setelah pulang kerja.

    Barulah kalau ada yang meninggal bisa sampai 7 harian bantu-bantunya.

    1. Iya, mba. Maklum hidup di desa, tapi bisa juga sih misal nego ke yang punya hajat tapi ya gak enak juga. Kalo mentok ya biasanya cari orang buat nggantiin dan mbayar tenaga pengganti itu..

  3. Di tempatku sekarang kalau ada rewang nggak sampai berhari-hari. Ya kalau sedulur sendiei memang ada yang jauh-jauh hari sudah bantu, tapi karena kebanyakan sudah katering jadi bantu rewangnya pas hari H atau pas bantuin bungkusin ke kotak nasi seandainya manggil tukang masak.

  4. Kalau di Lombok, salah satu sisi negatif _rewang_ dan agak susah dicegah/diberantas, ada sebagian rewang yang malah kemudian membungkusi lauk yang disukai, sebelum gawe..Ini biasanya terjadi pas mepet HDay.
    Sedih ya.
    Akhirnya banyak yang mulai meninggalkan tradisi ini. Niatnya meneruskan tradisi, tapi jadi dibikin malu karena tamu kehabisan lauk.
    Mudah2an banyak daerah yang tetap bisa menjaga tradisi, sepertinya mirip dengan konsep gotong royong, tradisi khas leluhur kita.

    1. Wah, kasihan yang punya hajat kalo begitu. Makanya disini yang pada rewang diberi hantaran makanan nasi dan lauk pauknya buat yang di rumah jadi gak ada yang berani bungkus-bungkus sebelum acara. Kecuali kalo ada sisa setelah acara, itupun seijin yang punya hajat. Karena para rewang juga sudah terjamin di tempat untuk snack, minum, dan makannya selama rewang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *