Mendadak di Waduk Sermo

Selepas menghadiri pernikahan saudara di Kecamatan Kokap Kabupaten Kulon Progo Daerah Istimewa Yogyakarta, Andro, anak laki-lakiku tidak mau diam selalu mengajak keluar melihat jembatan yang tidak jauh dari lokasi hajatan. Tak mengherankan, Andro memang selalu ingin tahu tentang hal baru yang dilihatnya. Sesekali tangannya menunjuk air sungai yang ada di bawah jembatan sana.

“Airnya banyak…,” matanya berkedip-kedip. Tangannya berpegangan pada besi jembatan. Aku cukup khawatir ketika kakinya ikut dijulurkan kearah dalam jembatan. Aduh, aku dan suamiku berkolaborasi memegang Andro kuat-kuat. Gerakannya selalu spontan dan mengejutkan. Belum begitu paham akan apa arti bahaya. Setiap diajak beranjak menjauh dari jembatan, pegangannya semakin erat pada besi jembatan. Ketika sedikit dipaksa, tubuhnya meronta-ronta dan tangisnya dikeluarkan sebagai senjata. Aduh..dosaku apa ya, sampai anakku susah diatur begini ?

“Sayang, kita jalan-jalan aja yuk..,” bujukku kepada Andro yang ditanggapi dengan tatapan mata ke arahku. Aku mengangguk dan tersenyum ketika matanya menyiratkan kebimbangan akan tawaranku.

“Ayo, nanti Andro boleh maem es krim..,” bujukku lagi sambil mengingatkan pada makanan favoritnya yang hanya boleh dinikmati sekali-kali itu. Pegangan tangannya pada besi jembatan mengendur dan jemari mungilnya segera menggandeng tanganku dan tangan suamiku beranjak menjauh dari jembatan menuju mobil eyang kakungnya. Fiuh..akhirnya…

Jadilah kami bertiga berputar-putar dengan mobil pinjaman punya eyang kakung Andro. Tak tahu arah tujuan pokoknya mengikuti saja alur jalanan yang cukup menikung dan naik seperti akan menuju puncak. Maklum, namanya juga daerah pegunungan, suasananya cukup sejuk karena pohon-pohon masih banyak yang menjulang dan membentuk barisan seperti hutan yang tidak terlalu lebat.

Andro cukup menikmati perjalanannya sambil sesekali mulut mungilnya bersenandung,” Naik..naik..ke puncak gunung..tinggi..tinggi..sekali…kiri..kanan…kulihat saja…” cukup keras dan melengking suaranya memberi suasana yang menggembirakan. Tak sadar, aku dan suami ikut urun suara membentuk vocal group kecil..lumayan, jadi ada suara tenor, bass dan sopran..hihi..

Kurang lebih lima belas menit perjalanan, kami melihat tulisan “Area Wisata Waduk Sermo”. Wuih..nggak nyangka..ternyata dekat juga dari rumah saudara kami. Selama ini aku memang pernah melihat Sermo dari kejauhan, tapi tidak menyangka jika jaraknya ternyata sedekat ini. Aku jadi ingat, jaman masih kuliah dulu, pernah diajak teman-temanku memancing ikan di Waduk Sermo, tapi sayang, saat itu aku tidak bisa ikut. Aha..jadi rasa penasaranku akan tempat wisata ini akan terpuaskan sebentar lagi..

Yup..jadilah kami masuk ke area wisata Waduk Sermo setelah membayar retribusi tiga ribu rupiah..( murah dan terjangkau kan ? ).

Wah..lumayan juga kalau piknik tanpa rencana seperti ini. Spontan dan terasa ada sensasi tersendiri. Apalagi dilakukan bersama orang-orang tercinta..aih..rasanya tak terlukiskan dengan kata-kata. Soalnya seringkali wisata yang direncanakan banyak yang gagal karena suatu sebab dan akibat. Ini, tanpa rencana malah langsung jadi..lumayan…

Kesan pertama yang kutangkap saat memasuki kawasan ini adalah tempatnya yang cukup bersih dan asri. Menurut http://www.katalogkota.com/, Waduk Sermo merupakan satu-satunya waduk yang terdapat di propinsi DIY dengan luas genangan 157 Ha. Waduk sermo terletak di desa Hargowilis, kecamatan Kokap, kurang lebih 5 km di sebelah barat kota Wates. Keadaan air yang jernih membiru serta bentuknya yang berkelok-kelok menyerupai jari tangan dengan latar belakang perbukitan menoreh yang hijau.

Masih menurut http://www.katalogkota.com/, Waduk Sermo yang berada di Desa Hargowilis ini dibuat dengan membendung Kali Ngrancah. Bendungan yang menghubungkan dua bukit ini berukuran lebar atas delapan meter, lebar bawah 250 meter, panjang 190 meter dan tinggi bendungan 56 meter. Waduk ini dapat menampung air 25 juta meter kubik dengan genangan seluas 157 hektar. Biaya pembangunannya Rp 22 miliar dan diselesaikan dalam waktu dua tahun delapan bulan (1 Maret 1994 hingga Oktober 1996). Untuk pembangunan waduk ini, Pemda Kulonprogo memindahkan 107 KK bertransmigrasi — 100 KK ditransmigrasikan ke Tak Toi Bengkulu dan tujuh kepala keluarga ditransmigrasikan ke PIR kelapa sawit Riau. Wah..dapatkah kita membayangkannya ?
Saat kami bertiga ke waduk ini, suasana tidak terlalu ramai pengunjung, hanya ada beberapa rombongan yang kemudian mengajak kami naik perahu keliling waduk supaya penuh perahunya. Ajakan ini langsung kami iyakan dengan biaya lima ribu rupiah per kepala dan Andro karena masih kecil dihitung tiga ribu rupiah saja.
Jadilah kami bertamasya naik perahu. Ada kengerian juga kalau tiba-tiba perahu yang disambung dengan mesin penggerak ini tiba-tiba tenggelam atau bahan bakarnya habis saat berada di tengah waduk, apalagi hujan rintik-rintik turun saat perahu baru saja meluncur. Wah..bisa berabe deh kalau begitu. Tapi kekhawatiran segera menghilang saat melihat panorama yang indah dari waduk ini dan ada perahu yang berisi rombongan petugas berseragam yang bertuliskan Resque melintas. Aman deh..kalau ada apa-apa pasti segera bisa ditolong.
O,ya..selain bisa berwisata dengan naik perahu, di tempat ini juga boleh mancing, hiking, bersepeda atau juga off road. Nyaman banget deh tempatnya. Pokoknya wisata dadakan ini membuat kami senang dan bahagia, apalagi Andro sempat tertidur saat naik perahu. Ngantuk karena kelelahan atau karena angin semilir yang menyejukkan, Nak ? Hehe..Maklum, kami ini termasuk manusia yang kurang piknik..hehe..
Ini sebagian foto-fotonya, nggak lengkap dan nggak begitu ok, sih..soalnya disambi mengawasi tingkah Andro yang berlari kesana kemari, aduh..capek deh..tapi yang penting happy
Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *