Cek Kalender Dulu, Liburan Kemudian

Baca buku temanya roman

Mau jalan-jalan cek dulu tanggalan

Saya sekeluarga punya mimpi, someday bisa liburan bersama ke Singapura. Saya dan suami belum menentukan kapan pastinya, yang jelas kalau waktunya serba pas dan uangnya sudah ada, maka kami akan segera berangkat. Target yang kami tetapkan adalah 2 tahun ke depan. Setelah tahun ini pergi ke Bali, bisa jadi tahun depan atau depannya lagi impian berlibur ke Singapura dapat terwujud. Itu harapannya.

Soal biaya, saya sudah menabung dari sekarang. Maka, berburu tiket pesawat dan hotel dengan harga termurah menjadi ekspektasi kami.  Maka, soal waktu menjadi prioritas kedua. Yang penting dicari waktu yang pas libur anak sekolah. Nggak lucu kan, mau berlibur kok malah ngajak anak bolos sekolah. Maka hari kejepit itu biasanya waktu yang pas untuk  segera mengisi liburan. Misalnya pas hari Jumat tanggal merah. Kalau yang kerja atau sekolah 5 hari kan lumayan banget tuh. Bisa liburan 3 hari tanpa bolos atau ambil cuti ya kan.  Atau kalau misalnya mau long holiday, bisa tuh dibablaskan jadi ambil cuti tahunan sekalian.

Maka, keseimbangan itu perlu. Jika niat untuk liburan di hari kejepit nasional, saya harus prepare dari sekarang. Jika misalnya ingin liburan di negeri orang pas hari Natal, saya harus cross check  Natal tahun 2019 itu jatuh pada hari apa. Yuk, mari lihat tanggalan a.ka. kalender. Wah, cucok! Ternyata tanggal 25 Desember 2019 jatuh pada hari Rabu. Kebetulan kan anak-anak saya sekolah di yayasan Katolik, yang mana liburan Natalnya cukup lama meski bukan pas hari kejepit. Biasanya dari tanggal 23 Desember sudah libur sampai tahun baru. Jadi bisa liburan selama kurang lebih seminggu. Bapak ibunya sih nurut anak saja, karena kalau niat libur, tinggal tutup toko saja.

Sekarang, mari kita lihat ada apa di Traveloka. Apakah ada penawaran khusus di hari libur nasional? Jargon “Traveloka dulu liburan kemudian” begitu melekat dalam ingatan.  Ya kayak pengalaman pas liburan di hari ultah saya di Bali bulan Juli lalu. Waktu itu saya pesan tiketnya di Traveloka dua minggu sebelum keberangkatan dan pas dapat tiket murah. Lumayan banget kan, kelebihan biaya untuk tiketnya bisa dialokasikan untuk beli oleh-oleh kepada saudara yang di rumah.

Seperti kebiasaan sebelumnya,  kami sekeluarga merayakan hari Natal di rumah saja. Beribadah ke gereja, setelah itu berkumpul bersama keluarga, makan-makan.  Pengin sih, suatu waktu merayakan Natal di luar negeri. Pengin tahu seperti apa suasananya. Untuk saat ini sih belum perlu White Christmas, yaitu merayakan Natal di daerah bersalju di daerah Eropa misalnya. Yang dekat-dekat saja dulu, lha wong ke Singapura saja belum pernah. Lagian disesuaikan dengan kondisi kantong kan. Karena semuanya butuh biaya.

Saya sering mendengar cerita tentang perayaan Natal di negeri orang seperti Singapura. Saya jadi membayangkan  suasana Orchard Road yang disulap menjadi negeri ajaib bermusim dingin bertabur bintang dan berlian. Serasa di negeri bersalju kan. Apalagi di singapura juga ada suasana Natal khas bangsa Nordik. Dimana ada semacam pameran yang menampilkan banyak keindahan  bunga-bunga cantik yang mekar dan replika desa yang hanya ada di Eropa. Saya pun jadi penasaran,  ingin melihat tenda berbentuk kerucut  disebut Lavvu yang menjadi  tempat tinggal  penduduk asli Sami bangsa Nordik.

Credit : www.lashworldtour.com

Dan yang tak kalah serunya adalah berburu kuliner di Singapura. Hm..yummy! Keindahan dekorasinya tentu akan menambah semarak suasana. Paling cocok untuk berfoto ria segala angle dan belanja penuh diskon tentunya. Meskipun esensi Natal yang sesungguhnya adalah kesederhanaan, namun suasana ceria menjadi mood booster dalam menjalani langkah hidup selanjutnya. Supaya tidak jenuh dengan rutinitas dan akan refresh kembali dalam beraktivitas paska berlibur. Bagaimanapun hidup adalah anugerah dan harus selalu disyukuri.

Jadi, perencanaan itu memang perlu. Karena ini pengalaman ke Singapura untuk yang pertama kali, maka harus dipersiapkan secara matang jauh-jauh hari. Di Singapura tidak ada saudara, mau menginap dimana? Hotel pastinya. Maka baiklah kita hitung untuk estimasi biaya tiket pesawat dan hotelnya.

Wah, ternyata kalau memesan tiket pesawat + hotel sekaligus lebih murah. Langsung dapat potongan harga 20% tanpa kode apapun. Jelas lebih murah dan hemat bila dibandingkan pesannya terpisah antara tiket sendiri dan hotel sendiri. Meskipun sama hotelnya, kalau pesannya terpisah jatuhnya lebih mahal. Jadi lebih mudah dan saving time kalau satu paket kan. Begitu sampai di bandara, nggak perlu pusing lagi cari-cari hotel mau nginep dimana. Sisa biaya kan bisa ditabung lagi untuk next trip tahun depannya lagi.

Apakah pembayarannya nggak ribet? Tenang saja, metode pembayaranannya beragam dan sangat memudahkan. Mau transfer pakai ATM bisa, pakai credit Card bisa. Segala macam bank pun bisa. Jadi rencana traveling bisa lancar jaya tanpa hambatan.

Nah, ayo siapa yang mau liburan di tanggal merah? Segera cek kalender dan  rencanakan mulai dari sekarang. Sebagai acuan, boleh lho lihat disini 

Selamat merencanakan liburan! 🙂

Asyiknya Naik Kereta Api Menuju Ragam Budaya Indonesia, Warisan Dunia Yang Diakui UNESCO

Tahukah Anda? Indonesia kaya akan ragam budaya yang diakui sebagai warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya oleh UNESCO

Mungkin banyak diantara kita yang belum tahu bahwa ragam budaya Indonesia teruatama yang ada di pulau Jawa sudah diakui oleh UNESCO. Yup, UNESCO adalah singkatan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization yang artinya organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan dari Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).

Maka, perlu sesekali piknik yang murah meriah untuk mengunjungi beberapa tempat ragam budaya Indonesia yang merupakan warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO ini. Naik apa? Salah satu transportasi yang asyik, cukup terjangkau harganya, nyaman dan aman tentu saja kereta api.

Yuk, naik kereta api tut..tut..tut..siapa hendak turut *eh, malah nyanyik*

Penasaran nggak sih, mana saja yang termasuk ragam budaya warisan dunia oleh UNESCO itu? Mari kita bahas satu persatu. Mohon disimak, diresapi dan dicatat dalam hati ya *apa sih*

  • Candi Borobudur
Credit : www.kebudayaan.kemdikbud.go.id

UNESCO menetapkan Candi Borobudur sebagai warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya pada tahun 1991. Candi Budha yang terletak di kota Magelang, tengah-tengah antara kota Yogyakarta dan Semarang ini, dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9 Masehi.

Bagaimana caranya untuk menuju candi yang luasnya sekitar 2.500 meter persegi ini? Cara yang paling gampang dan praktis adalah dengan membeli tiket kereta api ke Yogyakarta. Setelah naik kereta api dan turun di stasiun Yogyakarta, langsung saja melanjutkan perjalanan dengan naik bus TransJogja yang memiliki rute ke Candi Borobudur. Cuss..

  • Candi Prambanan
Credit : www.kebudayaan.kemdikbud.go.id

Tak berbeda jauh dengan Candi Borobudur, UNESCO pun menetapkan Candi Prambanan sebagai warisan dunia di tahun yang sama,  yaitu tahun 1991. Candi Hindu yang terletak di daerah perbatasan antara kota Klaten dan Yogyakarta ini turut dijaga kelestariannya oleh dunia.

Untuk menuju ke Candi Prambanan ini, banyak alternatif kereta api yang bisa digunakan, salah satunya adalah Prambanan Ekspress. Turun saja di stasiun Prambanan. Dari situ, nanti tinggal naik becak saja menuju Candi Prambanan karena lokasinya tak begitu jauh dari stasiun.

Pesan tiket kereta apinya gimana? Gampang. Pesan saja di Traveloka. Saya sudah pesan berbagai macam tiket di Traveloka ini. Dan selama ini cukup memuaskan tanpa keluhan. Ada lho pilihan tiket kereta api ke Candi Prambanan. Pembayarannya pun nggak ribet, bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Praktis. Kalau sudah begini booking tiket kereta api semakin mudah dan aman kan? Kan? Kan?

  • Situs Purbakala Sangiran
Credit : @hanungceneel

Saya pernah lho kesini. Di zaman dahulu kala saat saya masih duduk di bangku SMP. Yup, saat study tour dari sekolah. Pertanyaannya, tahun berapakah itu jika saat ini saya sudah berumur 40 tahun? Wah, jadi ketahuan deh berapa umurnya. Hehe..ora popo.

Seseorang bernama P.E.C Schemulling telah berjasa menemukan situs ini di tahun 1883. Setelah dilakukan penelitian bertahun-tahun, akhirnya pada tahun 1977, Pemerintah Indonesia menetapkan situs purbakala Sangiran ini sebagai salah satu Daerah Cagar Budaya.

Di tahun 1996, UNESCO menetapkan Daerah Cagar Budaya Sangiran yang terletak di perbatasan Sragen dan Karanganyar ini sebagai warisan dunia yang harus dijaga kelestariannya.

Untuk bisa sampai ke tempat ini beli saja tiket kereta api ke Solo. Pilih saja tiket kereta api ke Solo Balapan atau Solo Jebres. Kedua tempat ini dekat dengan Sangiran. Lalu naik bus ke tempat wisata purbakala ini.

  • Taman Nasional Ujung Kulon
Credit : www.nusaku.id

Taman Nasional tempat dimana Badak Bercula Satu ini tinggal, memang kaya akan keanekaragaman hayati dan terkenal dengan keindahan alamnya. Di tahun 1991, UNESCO mengakui Taman Nasional Ujung Kulon ini sebagai warisan budaya yang patut dijaga supaya tetap lestari. Disini terdapat pula pulau Peucang yang memiliki pantai berpasir putih nan indah.

Badak Bercula Satu merupakan salah satu hewan yang langka di dunia. Maka Taman Nasional Ujung Kulon dilindungi kelestariannya oleh UNESCO. Pengin nggak melihat Badak Bercula Satu secara live ke tempat ini? Naik saja kereta api jurusan Jakarta, lalu naik bus atau sewa mobil menuju Ujung Kulon. Nggak usah khawatir isi kantong akan terkuras, karena harga tiket kereta apinya cukup terjangkau. Cucok kan?

Nah, kalau bukan kita yang peduli akan warisan dunia, siapa lagi? Sudah selayaknya kita bangga sebagai bangsa Indonesia yang memiliki ragam budaya hingga diakui UNESCO sebagai warisan dunia.

Yuk, ah! Berburu tiket kereta api lalu piknik kemudian 🙂

Benarkah Pariwisata Di Gunungkidul Dapat Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Pedesaan?

Tahun 1997, adalah tahun pertama kali saya mengunjungi Gunungkidul bersama seseorang di masa lalu. Saat itu, jalan menuju ke arah pantai masih tampak begitu sederhana. Pepohonan tampak kering tinggal ranting, tanah kering warna coklat tampak terbelah. Kesan tandus begitu terasa saat itu. Konon, mencari air bersih pun penuh perjuangan karena kekeringan melanda. Kala itu, berita yang beredar tentang Gunungkidul adalah terkenal dengan julukan : daerah tertinggal, daerah kekeringan, daerah dimana tingkat pernikahan dini tinggi, banyak yang bunuh diri, dan perceraian tergolong tinggi.

Namun, disisi lain, kondisi geografis Gunungkidul yang berupa pegunungan nan tandus berkapur, ternyata mampu membentuk insan nan tangguh di tempat perantauan. Ya, tak sedikit orang asli Gunungkidul yang menorehkan suksesnya di daerah lain termasuk ibukota. Mereka terbiasa pulang membawa cerita sukses. Semua itu tak lepas dari kerja keras mereka saat berada di Gunungkidul yang medannya tergolong berat.

Tak disangka tak dinyana, tahun 2009 saya dan suami memutuskan untuk buka usaha di Gunungkidul. Keputusan ini secara otomatis membuat kami harus tinggal dan mengubah KTP kami menjadi domisili Gunungkidul. Ya, jika banyak orang dari Gunungkidul merantau ke kota, saya dan suami kebalikannya. Kami yang asli Jogja dekat daerah Ambarukmo, merantau ke Gunungkidul. Kami mengadu nasib, membabat alas dan nekad untuk buka usaha disini.

Saya jadi tahu kondisi Gunungkidul dari waktu ke waktu. Saat saya datang di tahun 2009, kondisinya tak lagi tandus seperti saat saya pertama kali datang di tahun 1997. Pepohonan mulai menghijau di daerah dekat pantai. Cerita tentang air yang susah didapat pun lambat laun mulai berkurang. PDAM masuk, sumur bor pun sudah banyak yang membuat di daerah tempat kami tinggal.

Para Emak Blogger yang hadir sebagai tamu undangan VIP di acara Dialog Nasional Indonesia Maju

Bicara tentang pantai di Gunungkidul, jaman dahulu kala hanya ada 3 pantai yang dikenal yaitu Baron, Kukup dan Krakal. Lalu mulai ada Sundak. Lalu Indrayanti. Kemudian banyak pantai baru bermunculan. Drini, Sepanjang, Siung, Watu Kodok, Pok Tunggal, Sadranan, Ngobaran, Ngrenehan, Nglulur dan entah berapa pantai lagi yang tak dapat disebutkan satu persatu. Perkembangannya pesat. Pantai di Gunungkidul pun tak kalah elok dengan pantai di Bali. Pasir putih, karang dan alami.

Lalu muncul wisata Goa. Ada goa Pindul, Goa Tanding, Kali Suci, Goa Sriti dan lain-lain. Semua wisata goa itu menarik para wisatawan dari luar daerah Gunungkidul.

Wisata Gunungkidul yang lain yang tak kalah menarik saat ini adalah dibangunnya embung. Embung Nglanggeran contohnya. Embung ini adalah embung yang pertama kali saya kenal. Mampu membuat saya takjub akan keindahannya. Tak heran, desa wisata Nglanggeran diyatakan sebagai desa wisata yang sukses.

Wisata di Gunungkidul semakin booming saat ditemukan adanya taman bunga Amarylis yang instagramable. Lalu menyusul taman bunga Matahari belum lama ini. Ya, keberadaan social media saat ini membuat segala info tentang wisata menjadi cepat tersebar. Hal ini jelas menguntungkan, karena Gunungkidul yang dulu dianggap sebelah mata, sekarang sektor wisatanya menjadi potensi yang tak dapat diremehkan.

Gunungkidul, kini menjadi bagian geopark dunia. Sesuai dengan misi pemerintah di era Bapak Jokowi, sektor pariwisata dan pembangunan desa adalah sektor yang banyak dibiayai bila dibandingkan dengan pembangunan kota. Diperkirakan di tahun 2019 kontribusi ekonomi dari sektor pariwisata akan mengalahkan sektor Migas dan sektor berbasis Sumber Daya Alam untuk pertama kalinya.

Itulah kenapa dana pembangunan desa semakin ditingkatkan dari tahun ke tahun. Keberpihakan pemerintah pada sektor pariwisata desa ditunjukkan dengan data bahwa di tahun 2018, dana desa rata-rata mencapai 800 juta per tahun. Termasuk Gunungkidul, dana desa itu sangat bermanfaat bagi kemajuan perekonomian dan menurunkan angka kemiskinan di Gunungkidul. Tercatat, angka kemiskinan di desa mulai menurun.

Dengan adanya peningkatan sektor pariwisata, diharapkan terjadi pula peningkatan perekonomian masyarakat. Jika perekonomian masyarakat meningkat, maka angka kemiskinan dapat ditekan bahkan dapat dikurangi.

Sektor pariwisata saat ini dan di masa mendatang menjadi andalan ekonomi Indonesia. Indonesia termasuk negara yang mengalami peningkatan ekonomi 5%  dari 7 negara di dunia, disaat negara lainnya sedang mengalami krisis. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Jokowi mampu meninggalkan ketergantungan ekonomi dari SDA dengan  membangun potensi ekonomi yang berbasis pariwisata dan ekonomi pedesaan.

Daerah yang berpotensi pariwisata akan semakin dikembangkan. Di daerah Jogja, akan dibangun 7 pasar digital, 3 diantaranya berada di daerah Gunungkidul. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata di Gunungkidul mempunyai masa depan yang cerah.

Dialog Nasional Indonesia Maju

Bapak Menteri Desa, Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi, Bapak Menteri Pariwisata RI, Ibu Bupati Gunungkidul dan Bapak Wakil Bupati Gunungkidul beserta jajarannya

Bicara tentang pariwisata dan desa tertinggal, saya beruntung karena diundang dan dapat menghadiri event sangat membanggakan tanggal 3o Juli 2018  yang lalu di Gedung Olahraga Siyono, Gunungkidul. Acara yang bertajuk Dialog Nasional Indonesia Maju itu dihadiri oleh Bapak Menteri Pariwisata Dr. Ir. Arief Yahya, M.Sc dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI, Eko Putro Sandjaja, BSEE, MBA, Bupati Gunungkidul Ibu H. Badingah, S.Sos dan Wakil Bupati Gunungkidul Bapak Immawan Wahyudi.

Acara yang dibuka dengan penampilan Campur Sari ini menghadirkan pula Mas Didi Kempot, penyanyi campur sari yang sudah tidak asing lagi namanya. Dalam kesempatan ini pula, mas Didi Kempot tampil sebagai moderator Bapak Menteri dalam dialog nasional tersebut.

Dialog yang dihadiri oleh berbagai kalangan masyarakat Gunung Kidul tersebut berlangsung cukup seru. Dialog yang berlangsung cukup seru karena terjadi komunikasi dua arah dan ada tanya jawab. Pak Menteri bertanya, bagi yang dapat menjawab ada hadiah uang tunai yang cukup lumayan hingga 1 juta rupiah. Demikian pula perwakilan masyarakat yang bertanya dan pertanyaannya dianggap bagus pun mendapat hadiah.

Acara yang berlangsung dari pukul 8 pagi hingga jam 11 siang tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa daerah Gunungkidul, meskipun minim Sumber Daya Alam, namun bisa bangkit perekonomiannya dalam sektor pariwisata dan pedesaan.

Berfoto bersama Bupati Gunungkidul Ibu Badingah dan Wakil Bupati Gunungkidul Bapak Immawan Wahyudi

Tiga Hari Dua Malam, Ngebolang Di Bali

Dunia tak selebar daun Kelor. Maka jelajahilah selagi ada waktu dan kesempatan

Dua tahun yang lalu, secara kebetulan saya bertemu dengan seorang wanita dari Bali di ruang tunggu pesawat  bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Saat  itu, saya dan keluarga akan bertolak ke Balikpapan. Kami berbincang ringan hingga pada pertanyaan pernahkah saya pergi ke Bali? Saya menggeleng. Iya, seumur hidup saya belum pernah ngebolang ke Bali.

Semua itu hanya ada dalam wacana saya dari tahun ke tahun tanpa tahu kapan akan tiba realisasinya. Alasan waktu, biaya dan tentu saja keluarga menjadi kendala. Apalagi saya masih punya balita, tentu hal ini  menjadi bahan pertimbangan. Semoga saja saya dan keluarga bisa piknik ke Bali. Suatu saat.

Perbincangan kami menjadi semakin menarik ketika wanita itu berkata,

“Suatu saat jika ada kesempatan pergi ke Bali, usahakan mengunjungi 3 tempat wisata diantaranya : Tanah lot, Bedugul dan Ubud. Tiga tempat itu cukup mewakili keindahan Pulau Bali yang terkenal sebagai pulau dewata.”

Saya mengendapkan isi perbincangan itu dalam hati dan berharap. Semoga someday saya bisa ke Bali. Jika semesta  merestui.

Baca : Mendadak Di Waduk Sermo

Impian Terwujud

Dua  tahun kemudian, tak disangka, impian saya pergi ke Bali terwujud. Berawal dari obrolan singkat dengan suami yang ternyata memberi hasil : kami sekeluarga akan pergi ke Bali tepat saya ulang tahun. Uwow. Kloplah, anak-anak juga masih di penghujung libur panjangnya yang memang belum kemana-mana. Segala ketakutan repot karena masih punya balita tak lagi menjadi halangan karena kami punya tujuan pasti. Piknik! 🙂

Rencana itu disusun kurang lebih sebulan sebelum hari H. Masih ada keraguan juga kira-kira bisa terwujud nggak ya. Maklum, kalau kami pergi liburan ke Bali paling tidak 3 hari, berarti toko juga tutup selama itu. Lalu berpikir siapa yang akan menjaga rumah, dan lain sebagainya yang perlu dipikirkan. Jadi, sebenarnya kami tidak bisa asal pergi begitu saja. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan secara matang.

Tiket Pesawat ke Bali

Maka, perburuan tiket pun dimulai. Setiap hari saya ngecek harga tiket pesawat dari Jogja ke Bali. Berharap mendapatkan harga promo termurah. Saya pun mulai mentargetkan untuk menabung setiap hari. Harga tiket yang berubah setiap hari, selalu naik turun. Hal ini membuat saya dan suami mulai berani berspekulasi.

Sampai akhirnya kami memutuskan untuk membeli tiket pesawat dua minggu menjelang hari yang kami tentukan untuk berangkat. Benar saja, setelah saya membeli tiket, hari-hari selanjutnya harga tiket mulai melambung tinggi hingga dua kali lipat bahkan lebih. Hm, maklum masih suasana liburan sekolah. Wah, kami cukup beruntung ya.

Setelah kami mengantongi tiket pesawat ke Bali, langkah selanjutnya adalah berburu penginapan. Kami memilih hotel yang lokasinya tak jauh dari pantai Kuta, dengan harga yang cukup terjangkau menurut kantong kami.  Setelah urusan hotel beres, kami mulai mencari info tentang sewa mobil disana. Yup, kami tidak ikut dalam rombongan tour.

Baca : Ada Apa Dengan Pantai Baron?

Rencana Berangkat

Kami nekad ngebolang bersama keluarga, dimana ini adalah pengalaman kami yang pertama berada di Bali. Suami juga sudah rajin melihat Google map. Dimana kami akan stay, mau kemana saja mulai direncanakan jauh-jauh hari. Ya kan nggak lucu kalau sampai tersesat sekeluarga.

Sudah tahu saya ini buta arah. Suka bingung mana arah utara, selatan, barat dan timur. Apalagi tenggara, timur laut dan barat daya. Duh, membaca kompas saja suka salah. Eh, malah tsurhat..hahaha..

Waktu tiga hari di Bali sebenarnya masih kurang. Tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Mumpung masih ada kesempatan, kesehatan dan waktu. Soal uang bisa dicari, tapi kesempatan? Itu prinsip kami soal agenda piknik dan jalan-jalan.

Karena pergi ke suatu tempat yang baru, tentu akan memberi banyak wawasan dan pengalaman baru pula. Sehingga harapannya pemikiran bisa semakin terbuka, tidak sempit seperti katak dalam tempurung. Dan yang paling penting refreshing dari segala rutinitas supaya tidak stress.

Sempat Was-Was

Beberapa hari menjelang keberangkatan, kami dibuat was-was ketika gunung Agung sempat meletus. Terbayang tiket pesawat dan hotel yang sudah kami pesan. Wah, kami berdoa semoga segala sesuatunya berjalan dengan lancar sesuai rencana. Tak disangka, tak dinyana, saya pun sempat terserang flu dua hari menjelang keberangkatan.

Duh, suami sempat mengomel menyalahkan saya yang tak bisa menjaga kesehatan katanya. Takut anak-anak ketularan lalu gagallah segala rencana. Oh, no! saya langsung minum vitamin C dan obat flu. Tak ingin flu menggagalkan rencana kami. Dan puji Tuhan, flu saya berangsur membaik.

Hari H

tiket pesawat ke Bali
Menembus awan

Sehari menjelang saya berulang tahun, yaitu tanggal 11 Juli 2018, kami berangkat. Penerbangan yang kami pilih adalah penerbangan pagi jam 06.10. Maka jam 04.30 kami sudah berangkat menuju bandara Adisutjipto Yogyakarta. Check in online sudah kami lakukan malam sebelumnya, jadi sampai di bandara kami tinggal print out tiket dan urusan bagasi.

Anak-anak sudah bangun dari jam 3 dini hari. Niat bener ya. O,ya sebagai info kami berangkat berempat yaitu saya, suami, anak lanang usia 10 tahun dan anak wedok usia 4 tahun. Malam sebelumnya saya dan suami sudah mewanti-wanti anak-anak jangan ada drama ataupun rewel karena kita akan  bersenang-senang di Bali.

Baca : 3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Pengalaman Naik Pesawat

Yippiii..pesawat berangkat tepat waktu no delay. Anak-anak tertidur di pesawat. Lumayanlah perjalanan satu setengah jam untuk meneruskan tidur. Bangunnya kepagian soalnya. Selalu ada rasa syukur yang terselip dalam hati ketika mata ini bisa melihat laut di bawah sana, gunung nan menjulang, rumah-rumah yang tampak seperti titik di kejauhan, pesawat yang menderu menembus awan. Betapa, dunia maha luas ini adalah Maha Karya Sang Pencipta Agung, dan saya hanya setitik debu. Bukan apa-apa.

Pesawat mendarat di bandara Ngurah Rai Bali sekitar pukul 08.30. Yup, waktu di Bali lebih cepat satu jam bila dibandingkan waktu di Jogja. Puji Tuhan, perjalanan di udara berlangsung dengan lancar dan aman. Sampai di bandara, seperti biasa kami berfoto-foto dulu di spot-spot yang dianggap bagus. Saking asyiknya berfoto sampai lupa kalau belum mengambil koper di bagasi. Alhasil, tinggal koper kami yang tersisa, ditunggui mas petugas bandara nan baik hati. Maafkan kami, ya. Telat ngambil koper.

 

https://www.instagram.com/p/BlE-sikhT0A/?utm_source=ig_web_copy_link

Kami seperti rombongan anak ngebolang yang tak tahu arah tujuan mau kemana. Hari masih pagi, waktu yang nanggung untuk segera ke hotel karena check in masih jam 14.00. Jadi kami duduk-duduk di bandara, suami survey di mana letak keberangkatan nanti supaya tidak bingung saat akan pulang. Anak lanang minta roti O, saya belikan sebagai pengganjal perut. Roti dari  pesawat sebenarnya masih ada, tapi karena melihat ada stand itu tadi yo wislah. Ora popo, sekali-kali beli makanan di bandara. Namanya saja piknik. Hihihi..

Akhirnya kami memutuskan untuk berangkat ke hotel saja. Suami inisiatif mencari taksi online di tempat yang sudah ditentukan. Tak lama kami mendapat driver dan bergegas menuju hotel. Sampai di hotel, jam menunjukkan pukul 11. Masih jauh dari waktu check in. Lalu saya mencoba untuk menitipkan koper dan tas dulu ke resepsionis, ternyata diperbolehkan. Yippii, kalau begitu kami akan berjalan ke pantai Kuta dulu sambil menunggu waktu check in tiba.

Jalan Kaki ke Pantai Kuta

Yess, kami berempat berjalan kaki menuju pantai Kuta. Jarak yang ditempuh sekitar 600 meter dari hotel menuju pantai. Tak terlalu jauh sih. Kami berjalan di sepanjang trotoar pedestrian. Banyak wisatawan berlalu lalang terutama para turis mancanegara. Duh, suasana di Bali betul-betul ramah bagi para wisatawan. Baru beberapa jam tiba di Bali saja kami sudah mulai kerasan. Hm..

Baca : Wisata Pantai Di Gunungkidul Yang Rekomen Untuk Dikunjungi

Pantai Kuta ini ternyata letaknya di kota Bali. Di pinggir jalan raya. Jadi ya suasananya memang ramai. Tak ada retribusi masuk ke pantai ini, alias gratis. Karena memang pantainya bersifat terbuka. Pantai begini mengingatkan saya akan pantai Kemala di Balikpapan, tak jauh dari kota. Beda dengan pantai di Gunungkidul, yang letaknya masuk ke pedalaman jauh dari kota. Overall, tipe pantainya hampir mirip dari ketiganya. Pasir putih, ombak dan tentu saja para wisatawan.

Pantai Kuta Bali
Pantai Kuta, Bali

Suasana di Pantai Kuta

Kami hanya menjelajah sebentar ke pantai Kuta. Melihat situasi, sambil gumun. Oh, ternyata seperti ini to Pantai Kuta. Tak beda jauh seperti apa yang dibicarakan banyak orang. Para bule tak malu-malu memakai bikini dan berjemur. Sepertinya mereka senang sekali dengan sinar matahari yang terang benderang. Padahal kalau saya mah, gerah ya.

Mana tahan berjemur siang-siang. Tapi mereka sangat enjoy ternyata. Beberapa ibu-ibu menghampiri saya menawarkan jasa kepang rambut. Saya menggeleng. Waktu saya tidak banyak. Sekedar mampir saja kok. Anak wedok pasti juga tidak betah rambutnya di kepang, lha wong mau saya kuncir saja tidak mau. Di kejauhan ada juga beberapa bule yang asyik main surfing. Ombak laut tampak bersahabat siang itu.

Pantai Kuta sangat luas ternyata. Pesisirnya cukup lebar, pantainya memanjang. Dari ujung ke ujung ya lumayan capek kalo mau berjalan. Anak-anak saya belum diperbolehkan main air siang ini. Kan masih melihat, nggak bawa baju ganti juga. Repot kalau main basah-basahan. Nanti sore saja kembali lagi kesini untuk melihat sunset.

Waktu menunjukkan jam 12 siang saat kami mencari tempat makan. Perut sudah mulai keroncongan nih. Tak jauh dari pantai Kuta kami menemukan warung makan yang tak terlalu mahal. Nasi campur cukup 30 ribu rupiah saja harga satu porsinya. Enak dan kenyang.

Hotel di Bali

Kami kembali lagi ke hotel sekitar jam setengah dua. Dan sudah bisa masuk ke kamar. Asiikkk..Kamarnya bagus, bersih dan cukup luas untuk kami berempat. Saya dan suami sengaja memilih kamar dengan twin bed. Cukup untuk saya dan anak wedok, lalu suami dan anak lanang. Sangat worth it. Maka, siang itu kami semua tidur siang. Nyenyak sekali tidurnya, bangun bangun sudah jam empat sore. Lalu persiapan untuk ke pantai Kuta lagi, melihat sunset. Horreee..

Hotel di Bali
Kuta Angel Luxurious Hotel, Bali tempat kami menginap 🙂

Maka kami jalan-jalan sore di sepanjang trotoar. Benar-benar jalan kaki, dan bersyukur si Kecil tidak rewel dan tidak minta digendong. Cukup berjalan sambil digandeng saja hehe..

Berbeda dengan saat ke pantai Kuta siang tadi, sore ini cuacanya lebih teduh. Nyaman untuk sekedar duduk di pasir putih. Saya membiarkan anak-anak bermain pasir dan ombak sesukanya. Saya mengawasi anak-anak bermain bergantian dengan suami. Rasanya senang sekali melihat tawa bahagia mereka.

Untuk mengantisipasi baju anak-anak yang basah, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya termasuk membawa handuk dan baju ganti. Mandinya nanti di hotel saja, karena di pemandian pantai Kuta, air yang mengalir hanya diperbolehkan untuk bilas badan saja. Membilas baju dari pasir putih pantai yang melekat tidak diperkenankan.

Kuliner di Bali

Kami kembali pulang ke hotel setelah berhasil melihat sunset yang indah di pantai Kuta. Sesampainya di hotel, kami mandi lalu keluar lagi mencari makan malam. Cukup berjalan kaki saja ke arah pasar Kuta. Disana berderet penjual makanan aneka rupa. Anak lanang ingin ayam Betutu, ternyata warung makan khusus ayam Betutu yang ada di sekitar sana tutup.

Maka kami mencari alternatif makan lain. Saya melihat ada warung bakso soto yang ramai sekali. Pembeli datang dan pergi. Saya mengajak suami dan anak-anak untuk makan disana saja. Olala..ternyata tempat duduknya penuh. Jadilah kami mengantri untuk dapat tempat duduk menunggu pembeli lain selesai makan. Beberapa menit kemudian kami mendapat tempat duduk.

Cukup lama kami menunggu pesanan soto bakso diantarkan, karena memang banyak antrian. Sekian lama menunggu, akhirnya kami bisa mencicipi soto bakso plus nasi yang aduhai rasanya. Daging sapinya cukup banyak. Cukup membuat perut kenyang. Apalagi kuah panas dan sambalnya cukup membuat badan berkeringat dan terasa segar setelahnya.

Apakah makanan ini mahal? Sebelumnya kami sudah menduga-duga kira-kira berapa ya harganya karena tidak ada tulisan harga yang tertera. Saat membayar, ternyata satu porsi harganya 25 ribu rupiah saja. Wow, kami pun tersenyum puas. Cukup terjangkau, bukan?

Kuliner di Bali
Bakso Soto
Kuliner Bali
Bakso soto plus nasi 🙂

Oleh-Oleh di Bali

Selesai makan, maka saya mengusulkan untuk membeli oleh-oleh saja untuk saudara-saudara di Jogja. Oleh-oleh ala kadarnya saja. Baju batik santai, daster, kaos yang cukup terjangkau harganya. Yang penting harganya bisa ditawar. Based on true story ala nawar saya kalo lagi di pasar Beringharjo Jogja. Untuk oleh-oleh makanannya, saya memilih kacang khas Bali saja. Namanya kacang Disco. Hehe, lucu ya namanya.

Selesai makan dan beli oleh-oleh, maka kami kembali lagi ke hotel. Suami sudah mendapatkan rental mobil beserta sopirnya yang akan menjemput kami besok pagi jam 10 di hotel secara online.  Harganya cukup murah bila dibandingkan dengan rental mobil yang disediakan hotel. Kami  menyewa mobil selama 10 jam. Yup, kami akan tamasya keliling Bali besok. Yeaayyy..

Day 2 : Ulang tahun di Bali

Saya bangun jam setengah tujuh pagi.  Oalah, kecapekan jalan kaki rupanya. Suami sudah bangun duluan. Hari itu, tanggal 12 Juli 2018, saya berulang tahun ke-40. Anak-anak sudah mengucapkan selamat ulang tahun  malam sebelumnya tepat jam 12 malam. Yup, mereka tidurnya kemalaman sementara bapaknya sudah tidur duluan.

Maka suami mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya pagi itu, sambil membangunkan saya tidur. Oh, so sweet. Ulang tahun di Bali. Walaupun tak ada kue ultah ataupun lilin yang menyertai, kebersamaan bersama keluarga adalah segala-galanya bagi saya. Lebih penting dari apapun.

Anak-anak masih tertidur. Segera saya dan suami mandi. Eits, sensor karena lagi mandi bareng. Hehe..Selesai  mandi, saya membangunkan anak-anak, menyuruh mereka mandi dan mengajak sarapan di lobby hotel. Selesai sarapan, kami bersiap-siap untuk keliling Bali. Nggak keliling sih sebenarnya, hanya menjelajah sebagian dari pulau Bali.

Tadinya saya pengin ke Bedugul, Tanah Lot dan Ubud. Ternyata, Ubud berlawanan arah dengan Bedugul. Bedugul di arah utara dari Kuta, sedangkan Ubud berada di arah Barat dari Kuta. Jadi tidak bisa ditempuh semuanya hanya dalam satu hari. Driver mobil rental menyarankan untuk ke Pura Ulun di danau Beratan, lalu ke Monkey Forest Sangeh dan terakhir melihat Sunsest di Tanah Lot. Ketiga tempat itu satu arah. Fix, kami setuju.

Baca : Jelajah Kota Blitar

Ke Danau Beratan di Bedugul Bali

Perjalanan dari Kuta ke Bedugul ditempuh sekitar 2,5 jam. Jalan menuju danau Beratan ini berkelok-kelok seperti perjalanan hendak ke Gunungkidul dari kota Jogja. Tempat wisata ini berada di lereng pegunungan Batur, jadi jalannya menanjak naik serasa berada di puncak. Perjalanan tergolong lancar tanpa ada macet dan halangan yang berarti.

Cuaca di Bedugul ternyata cukup dingin. Padahal waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Tiket masuk ke tempat wisata ini, kami berempat dihitung 50 ribu. Beda dengan harga tiket wisatawan asing. Kami termasuk turis lokal, harganya lebih murah. Lumayan lah ya..

Foto Viral

Pemandangan di sini sangatlah indah. Pura Ulun berada di danau Beratan yang luas. Dari kejauhan tampak pegunungan yang tertutup kabut. Anak lanang menghampiri saya.

“Ma, pinjam uang lima puluh ribu..”

“Untuk apa?,” tanya saya.

“Mau viral nggak?,” ujarnya

Saya masih belum paham apa maksudnya. Suami saya mengeluarkan uang lima puluh ribu. Lalu anak lanang menunjuk gambar yang ada di lembaran kertas uang lima puluh ribu itu sambil menunjuk view yang terpampang nyata di depan kami. Sama kan? Aih, baru saya ngeh. Iya, ya.

Ternyata gambar yang ada di uang lima puluh ribuan lama itu gambar Pura Ulun di Danau Beratan, Bedugul. Ya disini ini. Maka, tak menunggu waktu lama, langsung saja kami pose dengan uang lima puluh ribu. Beberapa Wisatawan lain melihat ulah kami. Hahaha..Sepertinya mereka pun terinspirasi untuk berpose seperti kami. Dih..GR..

https://www.instagram.com/p/BlJnS-yB5vc/?utm_source=ig_web_copy_link

Makan ayam Betutu

Setelah puas berfoto di Bedugul, perut mulai lapar. Maka kami meluncur ke bawah mencari rumah makan. Kali ini menunya ayam betutu. Driver menunjukkan rumah makan khas ayam Betutu. Hm, sedap. Jadi ayam Betutu ini masakan khas Bali dengan aroma bumbu dan rempah-rempah, agak pedas rasanya.

Menurut saya sih, mirip masakan padang gitu. Tapi rasanya beda. Kami pesan ayam betutu setengah ekor untuk kami berempat. Nasi 4 porsi. Lalu ada juga kangkung plencing dan sate lilit. Minumnya jeruk hangat. Total habis 105 ribu rupiah saja. Nikmat dan kenyang.

Mas driver nggak mau diajak makan bersama dengan alasan tadi sudah makan saat kami sibuk berfoto di Bedugul. Ya sudah, kami pun makan, driver menunggu di mobil. Baik sekali drivernya. Dan komunikatif sekali. Banyak info baru yang kami dapatkan dari driver yang masih anak muda Bali ini.

Monkey Forest Sangeh

Monkey Forest Sangeh Bali
Pose apa ini @Sangeh Bali

Selesai makan, cuss kami bergegas menuju  ke Monkey Forest Sangeh.  Di tempat ini, banyak sekali monyet yang berkeliaran. Ya, karena di hutan ini tempat mereka tinggal. Hawanya sejuk. Ada Bapak pemandu wisata sekaligus fotografer yang menemani kami disini. Dari Bapak ini pun kami jadi tahu monyet mana yang galak dan monyet mana yang baik. Ah, seperti manusia saja. Ada yang jutek dan ada pula yang ramah. Hehe..

Harga Tiket Masuk ke Sangeh

Tiket masuk ke Sangeh ini 35 ribu  untuk kami berempat. Saat kami datang kesini suasana tidak terlalu ramai dengan wisatawan. Kami berfoto-foto dulu di bagian depan yang ada banyak patung monyet. Lalu kami masuk, mulai was-was ada banyak monyet disana. Pemandu wisata memberi makan beberapa monyet dari arah anak lanang.

Alhasil, monyet itu naik ke punggung anak lanang. Pemandu wisata berpesan jangan menyentuh monyet, diam saja meskipun monyet itu serta merta naik ke badan kami. Wedew. Kaget sekaligus bingung dan panik mesti ngapain menyergap saya. Monyet itu naik ke pundak saya.

Baca : Ada Apa Dengan Palembang?

Duh, saya mencoba merekam dengan handphone saya, sementara monyet itu makan kacang di atas pundak saya. Hm..Suami pun tak kalah terkejut saat ada monyet naik ke pundak lalu menginjak kepalanya. Hihi..Monyetnya bener-bener deh! Untung si Kecil, anak wedok tidak dinaikin monyet. Pak pemandu wisata bercerita monyetnya sengaja tidak diarahkan ke anak wedok karena khawatir badan kecilnya tak mampu menahan monyet lalu terjatuh. Ya, ya, ya..

Monyet di Sangeh Bali
Monyetnya nemplok ajah.. 🙂 @MonkeyForestSangeh

Pohon Lanang Wadon di Sangeh

Kami pun berkeliling ke hutan monyet Sangeh itu sambil penasaran mau melihat sesuatu yang ada di papan petunjuk. Apa itu? Ternyata ada pohon lanang wadon. Hm, penasaran bagaimana bentuknya? Tadaa..

Pohon lanang wadon di Sangeh
Pohon Lanang Wadon

Selesai melihat pohon, kami pun menunggu foto candid dari Bapak Pemandu untuk dicetak.  Pinter juga triknya ya, pas monyet-monyet itu naik, difotolah kami. Maka kami pun tertarik mencetaknya. Biaya cetaknya dua puluh ribu satu foto.

Setelah selesai segala urusan di Sangeh, kami pun mencari driver yang setia menunggu di parkiran untuk menuju ke tempat wisata berikutnya. Waktu menunjukkan pukul tiga siang. Kata mas driver, perjalanan dari Sangeh ke Tanah Lot sekitar satu jam. Maka, kami akan sampai disana sekitar jam empat kalau perjalanan lancar tanpa macet. Masih banyak waktu untuk menunggu sunset tiba.

Cerita seru di mobil

Di dalam mobil, mas driver cerita kalau monyet di Sangeh ini masih termasuk tidak nakal. Biasa saja. Kalau monyet-monyet di Uluwatu, suka usil. Pernah  sandalnya mas driver direbut monyet, dibawa lari tidak dikembalikan bahkan dirusak. Duh, anarkis ya. Ada juga cerita dimana handphone milik pengunjung direbut lalu dibanting monyet.

Aduh, untung handphone saya tidak direbut monyet  waktu di Sangeh. Harta yang sangat berharga je.  Tak dapat terbayangkan jika handphone saya direbut. Hiks.

Tanah Lot di Bali

Kami tiba di Tanah Lot sesuai waktu yang sudah diperkirkan. Perjalanan lancar jaya tanpa macet. Tiket masuk ke Tanah Lot 75 ribu untuk kami berempat. Mas driver menunggu di parkiran sambil berpesan nanti dikabari saja jika sudah selesai.

https://www.instagram.com/p/BlTLvlpn1CL/?utm_source=ig_web_copy_link

Saya penasaran sekaligus deg-degan tak sabar ingin melihat seperti apa Tanah Lot secara langsung. Waktu browsing di Google foto yang terpampang nyata tampak sangat indah. Apakah seindah aslinya? Ternyata yes. Pura di tepi laut tampak begitu agung berdiri megah dikelilingi pemandangan yang sangat indah.

Amazing. Saya seperti sedang bermimpi. Tak percaya jika mimpi saya menjadi nyata tepat di hari lahir saya. Tak henti-hentinya saya bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.

Melihat Sunset di Tanah Lot

Suasana Tanah Lot sore itu begitu ramai dengan wisatawan. Ada banyak wisatawan mancanegara. Ada yang dari Jepang ataupun dari Eropa. Semua tampak menikmati keindahan alam di Tanah Lot ini. Semua tampak sumringah. Tak heran jika pulau Bali mendapat julukan Pulau Dewata. Karena memang indah.

Rasa syukur saya semakin bertambah ketika bisa menyaksikan detik-detik saat matahari tenggelam di Tanah Lot.  Sunset ini mengingatkan saya akan alfa dan omega. Bahwa dalam kehidupan ini ada awal dan ada akhir. Semua akan terus berulang hingga pada akhirnya nanti. Bisa menjadi bagian dari proses perjalanan kehidupan itu adalah hal yang sangat luar biasa bagi saya.

Tanah Lot Bali
Sunset di Tanah Lot

Bersyukur di hari ultah

Hal ini menjadi semacam refleksi bagi saya bahwa ada banyak anugerah yang patut saya syukuri yang sudah boleh saya terima di usia 40 tahun ini. Suami, anak, buka usaha, kesehatan dan kesempatan untuk selalu belajar dan belajar. Saya merasa seperti Julia Roberts dalam film Eat, Pray and Love, yang menemukan cinta sejatinya di Bali. Yup, saya pun merasakan ada banyak cinta di Bali.

Tanah Lot menjadi destinasi terakhir kami di Bali. Kami pun kembali ke hotel jam 8 malam. Tepat 10 jam dari waktu kami menyewa mobil tanpa overtime. Kami sangat berterima kasih kepada mas driver yang sudah mengantar perjalanan wisata kami hari itu. Maka berapapun besarnya tips yang kami berikan rasanya tidak akan pernah bisa sebanding dengan segala pengalaman berharga yang kami dapatkan hari itu.

Day 3 : Goodbye Bali

Uh, andai saja waktu kami bisa lebih panjang di Bali. Saya ingin bisa lebih lama berada di Bali, menghubungi teman-teman dan kerabat yang ada di Bali. Mengurai cerita lama yang pernah tercipta, lalu tertawa bersama sambil menikmati keelokan alam di Bali. Andai saja..

Tapi saya dan suami harus segera kembali ke dunia nyata kami. Anak-anak pun mulai masuk sekolah sebentar lagi. Kembali kepada rutinitas. Bekerja dengan penuh cinta. Kembali kepada tugas dan tanggung jawab kami mendidik anak-anak dengan sepenuh hati. Semuanya adalah anugerah, yang wajib kami tunaikan hingga usai.

Bandara Gusti Ngurah Rai menjadi saksi bisu akan perjalanan singkat kami di Bali. Kami harus kembali. Menanti burung besi yang akan membawa kami pulang. Pukul 15.00, sedikit terlambat dari jadwal yang sudah ditetapkan, kami berada di udara. Menatap hamparan laut dari ketinggian. Kami pernah kesana.

Namun masih banyak yang belum kami datangi. Tunggulah kami, entah kapan. Jika usia dan kesempatan menghampiri. Ubud, Uluwatu, Nusa Dua, Jimbaran, Kintamani dan kalian semua tempat di Bali. Bersiaplah untuk kami singgahi. Suatu hari nanti. Tanpa janji.

Silakan menonton videonya di bawah ini. Mungkin ada yang penasaran. Hehehe..

Salam,

Dari kami yang belum bisa move on dari Bali 🙂

Jika Jalan-Jalan Ke Singapura, Coba Cicipi Kuliner Hawker Stall Yang Mendapat Michelin Star

Jalan-jalan ke luar negeri? Nanti saja lah kalau ada cuti panjang!

Cuti yang pendek biasanya menjadi alasan yang menghambat untuk pergi ke luar negeri, dan lebih memilih jalan-jalan ke tempat lokal di dalam negeri yang dekat saja. Padahal, luar negeri tidak selalu identik dengan negara yang jauh dengan biaya perjalanan yang mahal. Memangnya ada luar negeri yang  dekat dan murah? Ada dong. Pernah mendengar negara Singapura? Dimana itu? Nggak jauh kan? Singapura kan negara tetangga Indonesia yang sudah tersohor.

Di negara Singa ini, wisatawan bisa melakukan banyak hal yang bisa melepas penat dan menjaga kewarasan dari rutinitas sehari-hari. Misalnya, berbelanja di Orchard Road, berfoto kece di Marina Bay Sands, atau menguji adrenalin dengan mencoba wahana semacam bianglala super besar bernama Singapore Flyer.

Nah, jika cuti dari kerja nggak bisa panjang, maka penting untuk mempersiapkan rencana jalan-jalan itu jauh-jauh hari sebelumnya. Misalnya nih, acara memesan tiket Singapore Airlines lebih baik dilakukan sedini mungkin. FYI, maskapai ini menyediakan 4 pilihan kelas yang dapat disesuaikan dengan budget yang disiapkan. Selain itu, jaminan aman dan nyaman sudah ada dalam genggaman. Nah, sisa dana kan bisa dialokasikan untuk icip-icip makanan di Hawker Stall atau kios penjaja makanan yang mendapat Michelin Star.

Apa Sih Michelin Star Itu?

Michelin Star ( credit : www.sethlui.com)

Jadi gini, di Singapura itu ada dua jenis konsep pengelolaan bisnis kuliner. Yang pertama restoran mewah dengan chef handal berpengalaman,  dan yang kedua berupa kios  penjaja makanan yang disebut Hawker Stall. Mungkin kalau disini semacam kuliner kaki lima dan restoran hotel bintang lima, gitu ya!

Adalah perusahaan ban ternama Michelin, sejak tahun 1900 memulai sejarah panjangnya untuk meninjau perusahaan dan mendorong road trip di Perancis. Mulai tahun 2016, Michelin mengirimkan pengulas restoran ke berbagai tempat kuliner di belahan dunia untuk memberikan penilaian dari satu hingga tiga bintang dan diberi nama Michelin Star. Nah, di Singapura yang terkenal dengan menu khasnya yang lezat baik di restoran mewah maupun di kios makanan Hawker Stall, ada yang mendapat Michelin Star. Maka, siapa saja bisa mencoba seperti apa sih lezatnya makanan di Hawker Stall yang mendapat apresiasi dari Michelin Star ini.

Baca juga : 3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Bangganya Singapura

Warga Singapura wajib berbangga karena menjadi satu-satunya negara di dunia yang mendapatkan bintang bergengsi dari Michelin Star. Tak tanggung-tanggung, 2 Hawker Stall mendapat anugerah dari Michelin Star, yaitu Hill Street Tai Hwa Pork Noodles dan Hawker Chan masing-masing meraih satu Michelin Star.

Hill Street Tai Hwa Pork Noodles

Credit : www.timeout.com

Yup, dari namanya kita bisa tahu bahwa makanan yang dijual ini bukanlah makanan halal. Bagi yang non muslim, bisa mencoba kuliner di bawah $5 di tempat ini. Menunya berupa mie kenyal dengan saus asam-gurih, dan topping-nya berupa daging babi, irisan hati, pangsit, dan taburan ikan goreng. Menu ini sudah terkenal sebagai Pork Noodles terbaik di Singapura.

Berdiri sejak tahun 1930-an oleh Tang Joon Teo, sajian kuliner bergaya Teochew ini sanggup menggoyang lidah penikmatnya. Bayangkan saja, untuk mendapatkan semangkuk mie Tai Hwa, pembeli harus rela antri 30 menit hingga 2 jam lamanya saking larisnya.

Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice and Noodle

Credit : www.timeout.com

Ada apa disini? Hong Kong Soya Sauce Chicken Rice and Noodle makin dikenal sejak menerima Michelin Star dari panduan makanan paling bergengsi di dunia. Awalnya, bisnis kuliner ini berupa warung sederhana di jantung Chinatown Singapura. Siapapun dapat merasakan kelezatan berbagai menunya. Misalnya, Soya Sauce Chicken Rice, Soya Sauce Chicken Noodle, Roasted Pork Rice, Char Siew Rice, dan Char Siew Noodles. Semua menu kuliner andalan tersebut dibanderol dengan harga $2-$3. Maka tak mengherankan jika gerai kaki lima yang satu ini dikenal sebagai makanan berbintang Michelin yang termurah di dunia.

Pertanyaannya : Kapan lagi bisa mencicipi makanan murah yang diciptakan oleh chef yang meraih Michelin Star? Maka, tak ada alasan lagi untuk tidak segera hunting tiket Singapore Airlines yang akan membawa siapapun ke Singapura untuk liburan yang akan datang.

Happy traveling!

Ada Apa Dengan Palembang?

 

Apa yang terlintas dalam benak saat terlintas kata “Palembang” ?

Tentu banyak sekali hal yang lekat dalam ingatan. Mulai dari makanan khasnya yang enak bernama Pempek. Lalu ada pula makanan serupa tapi tak sama bernama Tekwan dan Model . Tak ketinggalan kerupuk khas Palembang dari ikan bernama Kemplang. Dan masih banyak makanan lezat lainnya dari Palembang.

Kalau Anda bersama keluarga berencana kesana, jangan lewatkan untuk mengunjungi  jembatan diatas sungai yang fenomenal bernama Jembatan Ampera. Lalu ada sungai terpanjang yang biasa digunakan sebagai wisata air yaitu sungai  Musi. Mau selfie di tempat yang eksotis?  Kambang Iwak Family Park, yaitu danau yang ada di tengah kota bisa jadi pilihan lokasi.  Cheers! 🙂

Jembatan Ampera (Sumber gambar : www.palembang.pro)

Tak cukup itu saja, jika Anda ingin berwisata sejarah, ada Masjid terbesar di Sumsel yaitu Masjid  Agung Sultan Mahmud Badaruddin. Ada Taman Purbakala Sriwijaya. Ada Taman Purbakala Bukit Siguntang. Monumen perjuangan rakyat juga ada. Jangan lupa ke museum tekstil. Ah, iya, ada pabrik  pupuk terbesar yaitu Pupuk Sriwijaya. Apa pula Benteng Kuto Besek? Itu, lho benteng berbahan dasar batu. Mau melihat pemandangan cantik di malam hari? Ke gedung kantor  Walikota saja. Ada sinar sorotnya di puncak gedung yang menambah nuansa cantik pemandangan kota di malam hari.  Masih kurang?

Mari menengok  wisata alamnya.  Ada pantai. Ada pula hutan wisata Punti Kayu. Dan lain-lain.

Mau cari yang khas? Ada kerajinan khas hasil karya masyarakat berupa tenunanyang dibuat secara manual yaitu  Kain  songket.

Tak diragukan lagi, Palembang kaya dengan keberagaman. Ada 5 agama yang hidup berdampingan dengan tentram disana. Ada banyak bangunan bersejarah  peninggalan kerajaan Sriwijaya. Kaya dengan wisata alamnya. Beragam pula budayanya. Lengkap kan?

Palembang, ibukota Sumatera Selatan ini merupakan kota tertua di Indonesia dan termasuk kota terbesar kedua setelah Medan. Kota yang kaya akan sejarah, budaya, kuliner dan wisata yang menjadi daya tarik para wisatawan untuk berkunjung kesana.

Sumber gambar www.tempatwisataseru.com

Hotel yang Murah di Palembang

Jadi bagaimana? Tertarik untuk destinasi ke kota Palembang? Sekali waktu, jika Anda ingin menjelajah kesana, pastikan transportasinya melalui penerbangan atau jalan darat. Lalu, rencanakan pula mau menginap dimana. Kalau ada saudara dan ada yang siap menampung disana mungkin urusan penginapan tidak jadi masalah ya. Tapi kalau murni cuma mau jalan-jalan bersama keluarga dan budget-nya terbatas apa mungkin bisa menginap di hotel ?

Jangan khawatir, di jaman serba digital ini segala sesuatu terasa mudah dan murah. Murah? Memang ada ya hotel yang murah? Hari gini lho..apa-apa serba mahal.

Ada dong! Mau hotel dengan fasilitas wifi, air hangat, lokasi strategis, aman, nyaman dengan harga terjangkau? Airy Rooms jawabannya.

Hotel Airy Rooms dapat dikatakan harganya terjangkau. Sebenarnya apa dan bagaimana sih hotel Airy Rooms itu?

  • Airy Rooms adalah jaringan hotel dan guest house terbesar di Indonesia dengan jumlah properti hotel terbanyak.
  • Fasilitasnya oke, memiliki 7 jaminan fasilitas di setiap kamar : AC, TV layar datar, perlengkapan mandi, tempat tidur bersih, shower air hangat, air minum gratis, dan WiFi gratis
  • Bisa pesan melalui website, Android Apps dan iOS Apps.
  • Pembayaran flexible, bisa bayar lewat bank transfer dan juga kartu kredit.
  • Hotelnya mudah ditemukan.

Nah, tunggu apalagi? Segera jelajahi kota Palembang, dan temukan kenyamanan menginap dengan harga terjangkau hanya di Airy Rooms Palembang.

Selamat berwisata! 🙂

Kesempatan Kedua Itu Bernama Mombassador SGM Eksplor Batch 5

“Kesempatan tidak datang dua kali”

Mombassador SGM Eksplor Batch 5 – Sering mendengar quote diatas? Benar, seringkali kesempatan emas tidak datang dua kali. Namun kali ini, saya mendapatkan kesempatan kedua yang sangat berharga.

Setahun yang lalu saya mendaftar untuk menjadi Mombassador SGM Eksplor Batch 4. Namun sayang seribu sayang, sepertinya saya sedang sibuk dan tidak sempat mengangkat ponsel saat nomor 021-sekian-sekian memanggil hingga missed call. Saat itulah kesempatan emas melayang. Karena nyatanya, saya tidak ditelepon lagi yang ternyata dari panitia acara Mombassador SGM Eksplor Batch 4. Kesempatan emas terlewat, dan saya hanya bisa menatap nanar ketika beberapa teman Blogger di komunitas ada beberapa yang lolos ikut acara seru tersebut seperti mak Irul, mak Yoan dari Jogja.

Tahun berganti, ternyata ada pendaftaran kembali untuk menjadi Mombassador SGM Eksplor Batch 5. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan. Saya langsung mendaftar dengan mengisi form yang di share oleh salah satu komunitas Blogger yang saya ikuti.

Tak disangka tak dinyana, beberapa waktu kemudian saya ditelpon oleh pihak SGM yang menyatakan saya terpilih menjadi salah satu Mombassador SGM Eksplor Batch 5. Olala, betapa girangnya hati saya. Kesempatan kedua akhirnya datang juga. Tentunya karena saya tak pantang menyerah untuk mendaftar kembali. Konon, pendaftar Mombassador SGM Eksplor Batch 5 ini ada 600 orang. Kemudian disaring hingga mengerucut menjadi 92 orang include saya. Yeaayy..

Apa Sih Mombassador SGM?

Mombassador SGM adalah para Bunda terpilih dari seluruh daerah Indonesia dengan latar belakang profesi yang berbeda-beda. Ada yang profesinya Blogger, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, dan lain sebagainya. Kesamaannya, para Bunda tersebut mempunyai anak usia 1-3 tahun, dan concern terhadap nutrisi bangsa. Haruskah anaknya mengkonsumsi susu SGM? Tidak. Apapun merk susunya, boleh mendaftar menjadi Mombassador SGM.

Bunda Nope, matanya kelilipan ya..? 😀 Searah jarum jam para Bunda : Nope, Aulia, Filli, Putri dan saya (Juli)

Acara Mombassador SGM Eksplor ini berlangsung dari tanggal 24-26 Agustus di kota Yogyakarta. Karena saya ada di lantai dua kota Jogja alias di South Mountain aka Gunungkidul, maka saya harus turun gunung dong. Senangnya, sudah ada yang mengantar jemput dari rumah hingga ke tempat acara lho.

Yang dari luar kota Yogyakarta juga ditanggung semua transport dan akomodasinya dari tiket kereta api hingga tiket pesawat tergantung domisilinya. Lha wong dari Semarang saja naik pesawat lho, meskipun lewat Jakarta. Hebat ya..ckckck..Ah, ya peserta Mombassador SGM ini ada yang dari Jakarta, Bandung, Bogor, Jogja, Surabaya, Semarang, Palembang, Makasar, Lombok, Banjarmasin hingga dari Papua juga ada lho. Bisa dibayangkan dong ramenya, saat semua tumplek blek jadi satu. Apalagi para Bunda gitu lho. The power of Mamak lah! 🙂

Hari H

Saya sudah mengantongi ijin dari suami untuk mengikuti acara Mombassador SGM ini jauh-jauh hari ketika saya dinyatakan diterima. Konsekuensinya, tentu anak saya harus ada yang mengurus di rumah. Beruntunglah saya karena ada ibu saya yang ready menjaga anak-anak saya selama Papanya sibuk bekerja di toko menjalankan usaha kami.

Anak-anak juga sudah saya beritahu jauh-jauh hari sebelumnya. Saya mewanti-wanti mereka untuk tidak rewel dan nakal selama saya tinggal. Saya jelaskan bahwa saya akan menginap beberapa hari di Jogja untuk bekerja.

Maka hari H itu tiba. Malam sebelumnya, saya sudah ditelepon pihak travel yang akan menjemput ke rumah besok pagi. Jam 10 lebih sedikit, driver yang menjemput sampai di rumah saya. Sebenarnya jam sepuluh kurang sudah melewati rumah saya, tapi bablas dan sempet kelewatan. Hehehe..

Kemanakah mobil menuju? Coba tebak! Sebutkan salah satu hotel di Jogja yang pernah menjadi lokasi syuting film Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC2)! Itu, lho waktu adegan Cinta ketemu Rangga. Yihhaa..ternyata di Greenhost BoutiqueHotel. Hotel yang view-nya tanaman hijau alami dan konsep bangunannya unfinished gitu. So unique lah..

Saat tiba di hotel, saya langsung disambut dengan panitia yang ramah seperti Bunda Diah Arini,  Bunda Maisa dan para panitia yang lain. Aura kekeluargaan langsung terasa. Saya kemudian  diajak ke suatu ruangan untuk mengisi formulir,  registrasi untuk mengambil goody bag yang berisi kaos tiga buah yang akan dipakai selama acara berlangsung, dompet, uang saku dan name tag.

Setelah selesai mengisi form, maka saya dan Bunda-bunda yang sudah datang dari Papua : Bunda Jean dan Bunda Lia, lalu rombongan Bunda dari Banjarmasin seperti Bunda Nope, Bunda Dian dan lainnya mulai makan siang. Yang sesama Jogja ada Bunda Rini, Bunda Filli, Bunda Putri dan Bunda Noor. Peserta dari kota lainnya belum datang. Bahkan ada kabar, yang dari Bandung pesawatnya sempat delay.

Selesai makan siang, kami disuruh ganti baju dengan kaos dari SGM, lalu memulai sesi pemotretan untuk foto profil. Siapa yang jadi model? Ya, kamilah, para Mombassador SGM Batch 5. Siapa lagi? Gayanya seru-seru deh. Foto profil ini akan dipajang di Fanpage Facebook Aku Anak SGM lho. Hayo, sudah pada like belum? Buruan gih, banyak kuis berhadiah lho, and so pasti jadi banyak pengetahuan diantaranya tentang nutrisi.

FYI, Fanpage Aku Anak SGM ini mendapat penghargaan sebagai akun media sosial yang fast respon lho. Coba aja tanya-tanya, dalam selang waktu maksimal 10 menit pasti dijawab. Keren kan. Karena memang adminnya banyak, para Bunda dengan latar belakang beragam, ada yang yang jadi bidan, ahli gizi dan lain sebagainya. Jadi, kalau para Bunda tentu sudah merasakan galaunya menjadi Bunda kan?

Mejeng dulu ah.. 🙂

Kembali ke laptop! Setelah selesai pemotretan, saya dan Bunda yang lain menuju ke hotel Indies tempat kami akan menginap selama 3 hari 2 malam ke depan. Lho, bukannya di Greenhost? Ternyata memang ada pembagiannya karena peserta Mombassador Batch 5 ini paling banyak bila dibandingkan dengan batch-batch sebelumnya. Jadi ya kami sementara harus terpisah hotel. Tapi ternyata hotel Indies itu tetanggaan sama hotel Greenhost kok. Saling membelakangi. Sebenarnya cuma loncat atau jalan kaki saja cepat sampai, tapi karena kami harus diantar pakai mobil bak puteri raja, maka kesannya agak jauh. Tak apa, toh sambil melihat-lihat keadaan sekitar kan.

Sampai di hotel Indies, teman sekamar saya Bunda Siti dari Bogor belum datang. Jadilah saya sempat bengong sendirian di kamar mau ngapain. Setelah itu saya mencari teman yang ada di kamar lain. Seru deh, ada yang bawa pempek dari Palembang yang dengan sukacita mengundang kami untuk datang ke kamarnya. Siapa yang nolak, coba? Langsung deh kita serrbbuuu… 🙂

Kamar kami di hotel Indies..hm..comfortable 🙂

Malam Pertama

Makan malam bersama di Greenhost hotel. Riuh rendah para Bunda berkumpul jelas tiada duanya. Apalagi acaranya dipandu sama MC yang kocak habis. Acara perkenalan penuh dengan canda tawa. Jadi ice breaking-nya, ada beberapa Bunda maju ke depan, memperkenalkan diri dengan bahasa daerah masing-masing. Lalu peserta lainnya menebak daerah asal Bunda tersebut. Kebanyakan bisa ditebak, karena memang Bunda-Bunda ini wawasannya luas lho.

“Mana hadiahnya?” todong Bunda Upi dari Surabaya yang disuruh maju ke depan.

Namanya juga Emak-Emak yang kebanyakan doyan diskon dan segala hal berbau gratisan. Namanya hadiah tetap jadi incaran dan wajib ditagih. Haha..

Acara benar-benar mencair. Padahal bisa dikatakan semuanya baru kenal disini lho. Kalaupun ada beberapa yang sudah saling kenal, biasanya karena satu komunitas Blogger di dunia maya. Jumpa daratnya juga baru kali ini. Tapi rasanya seperti sudah ratusan tahun mengenal. Duh..lebay 😀 Etapi beneran lho..*teteup*

Mengenalkan diri dengan bahasa daerah masing-masing. Darimana hayo? 🙂

Akhirnya keseruan malam pertama harus ditutup sekitar pukul 22.00. Karena besok paginya para Bunda harus kunjungan ke pabrik susu SGM. Jadi harus mempersiapkan stamina yang cukup.

Sebelum bubar dan kembali ke kamar masing-masing, foto-foto hukumnya wajib dong. Berbagai ekspresi, berbagai teriakan Jogjaaaaa…terasa menggema. Indahnya kebersamaan.

Cheerrrsss.. 🙂

*To Be Continoued* – Day 2 and Day 3

Sumber foto : Dokumen Pribadi, Bunda Diah Arini dan Tim SGM

Mau Wisata Pantai? 5 Pantai Indah Di Gunungkidul Ini Rekomen Untuk Dikunjungi!

Pantai Indah di Gunungkidul – Halo, siapa yang tidak suka wisata pantai? Adakah? Yakin? Bayangkan deh ; debur ombak yang membuih, pasir putih nan terasa lembut di kaki, pemandangan biru langit dan laut yang berpadu, matahari terbit saat sunrise dan matahari terbenam saat sunset, angin sepoi-sepoi, pohon kelapa nan nyiur melambai, nelayan, perahu, ganggang laut, binatang laut, dan suasana pantai lainnya, waahhh…semuanya begitu menyenangkan.

Baca : Ada Apa Dengan Pantai Baron?

Bagi Anda yang sedang liburan di kota Jogja, cobalah destinasi  ke arah Gunungkidul. Untuk mencapai tempat ini diperlukan waktu perjalanan kurang lebih  satu jam dari Jogja. Dengan catatan kalau tidak sedang macet, ya! Maklum, sekarang kalau pas weekend atau liburan, Gunungkidul sering macet. Bukan karena si komo lewat, tapi macetnya ibukota pindah kesini. Kalau nggak percaya lihat saja plat kendaraan yang berlalu lalang di Gunungkidul saat itu, kebanyakan plat luar kota Jogja. Ramai. Tumplek blek disana.

Baca : Mendadak Di Waduk Sermo

Kenapa harus ke Gunungkidul? Karena, Gunungkidul saat ini terkenal dengan wisata pantainya nan elok. Banyak pantai baru ditemukan yang masih bersih dan jauh dari pencemaran. Suasana nan asri dan pasir putih yang bersih ini mengingatkan pada keadaan yang tak jauh beda dengan panorama  pantai-pantai yang ada di pulau Bali. Tak kalah indahlah.

Baca :  3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Penasaran?

Ini dia 5 Pantai di Gunungkidul yang rekomen untuk dikunjungi :

  1. Pantai Sundak

Anak-anak gembira bermain di pantai Sundak 🙂

Pantai ini berada di ujung deretan pantai Baron, Kukup dan Krakal. Di pantai ini terdapat beberapa karang dan pasir putih. Ombaknya bersahabat.  Beberapa wisatawan disini suka bermain air di pinggir pantai. Sensasi kaki saat diguyur ombak meninggalkan kesan yang membahagiakan. Tak jarang, beberapa wisatawan berenang di area aman.

Lupa bawa topi, rok anak pun jadi.. 🙂

  1. Pantai Krakal

Si Kecil in action at Krakal Beach 🙂

Pantai ini berada di sebelah  timur pantai Sundak. Saat ini pantai Krakal banyak berbenah diri. Ada pembangunan baru seperti  jembatan menuju ke atas karang di pantai bagian atas. Waktu saya kesana akhir tahun lalu, ada pembangunan yang sedang dikerjakan untuk kemajuan daerah wisatanya. Struktur pantainya nan landai membuat wisatawan nyaman berenang di bibir pantai.

  1. Pantai Slili

Indahnya mengingatkan pada pantai dimana ya? Pasir putihnya lembut nian.. 🙂

Pantai Slili ini ada di deratan pantai Sadranan. Meskipun tergolong pantai kecil, tapi keindahannya luar biasa. Pemandangannya juga instagramable untuk diabadikan. Lihat saja tekstur pasir putihnya nan lembut. Berasa pengin segera nyebur ya.. 🙂

  1. Pantai Sadranan

Asyiknya main snorkling.. 🙂

Di pantai ini, banyak orang melakukan snorkling. Itu lho, kegiatan menyelam melihat keindahan dalam laut dengan menggunakan alat menyelam. Bagi yang suka petualangan, tentu destinasi ini bisa menjadi referensi.

  1. Pantai Siung

Bentuk karangnya menyerupai bentuk gigi siung ya? 🙂

Pantai ini letaknya paling jauh dari keempat pantai di atas. Namun jauhnya jarak yang ditempuh sepadan dengan keelokan panoramanya. Disini anak-anak bisa bermain istana pasir. Atau berendam di air laut. Suasananya yang yang  tenang dan bersih membuat wisatawan nyaman disini. Namun, agak jauh letaknya, di sebelah sana ada tebing yang cukup curam. Jangan coba-coba untuk menantang maut dengan memanjat tebing curam itu.

Bermandi air laut dan pasir sepuasnya 🙂

Nah, itu dia lima pantai indah di Gunungkidul yang bisa dimasukkan dalam list destinasi pantai. Bingung kesananya naik apa? Tenang, Anda bisa menghubungi  Sewa Mobil di Jogja. Trus nginepnya dimana? Ceki-ceki saja Hotel di Jogja.  Liburan Anda akan terasa menyenangkan.

Happy traveling! 🙂

3 Hari, 5 Kota Dijelajahi

Tiga Hari, Lima kota Dijelajahi – Beberapa minggu yang lalu, saya bersama keluarga melakukan perjalanan ke luar kota yang bisa dibilang cukup melelahkan. Rencana perjalanan ini sebenarnya sudah dipersiapkan sebulan sebelumnya ketika suami menerima surat undangan pernikahan dari temannya di kota Tangerang. Acara puncak digelar hari minggu malam. Maka kami memperkirakan akan berangkat hari Sabtu dan pulang hari Senin. Kami mulai menimbang-nimbang, berapa budget yang perlu kami sediakan, mau naik apa, nginep dimana dan lain sebagainya. Kami berempat : saya, suami, si sulung kelas 3 SD dan si kecil masih Batita.

Ada plan A, B dan C yang kami susun. Semuanya berdasarkan pertimbangan ini itu. Yuk, mari kita bahas satu persatu. 🙂

Plan A

Dari Jogja ke Tangerang naik pesawat pulang pergi.

Dengan catatan : harga pesawat pas promo murah.

Saya sempat mengintip harga pesawat dari satu maskapai penerbangan yang terkenal murah saat promo sebulan sebelumnya, cukup terjangkau, beda tipis dengan harga kereta api eksekutif. Cukup Rp. 320.000 saja. Dari segi waktu jelas ini murah dan selisih  yang cukup lumayan bila dibandingkan dengan kereta api eksekutif tujuan Jakarta seharga Rp. 350.000. Setidaknya kami sudah ada gambaran, tapi tak perlu buru-buru pesan tiket.

Plan B

Dari Jogja ke Jakarta naik kereta api. Lalu naik TransJakarta ke Tangerang

NB : Jika waktunya cukup longgar, tak terburu-buru

Keuntungannya jika naik kereta api, tentu lebih bisa menikmati suasana. Apalagi si kecil belum pernah merasakan naik kereta api. Harapannya, tentu supaya semua senang dan bahagia menikmati perjalanan yang cukup jauh.

Plan C

Dari Wonosari naik bus jurusan Tangerang

NB : Opsi terakhir jika repot harus ke bandara atau ke stasiun dulu yang cukup menyita waktu

Jadi, kondisinya kan saya dan suami itu buka usaha di rumah, ada toko yang harus dijaga. Jika 3 hari toko tutup, bisa dikatakan omset akan menurun cukup lumayan. Kalau rencananya hari Sabtu siang berangkat dari depan rumah, berarti kan toko bisa buka setengah hari tuh. Lalu tinggal duduk manis di depan toko menunggu bus datang langsung deh sampai Jakarta. Iya, lho..hampir setiap saat bus besar jurusan Jakarta lewat di depan toko kami. Jadi kan cukup menghemat waktu ke bandara atau stasiun jika naik pesawat atau kereta api. Berangkat dan pulang sudah langsung sampai depan rumah.

Tapi, naik bus itu kan lumayan melelahkan ya. Perjalanan 10 jam, belum kalau di jalan macet. Lalu jika si kecil muntah bagaimana. Lha wong pernah si Kecil saya ajak naik bus dari Wonosari ke Jogja aja muntah kok. Hadeuh..Terbayang deh repotnya. Hm..sebaiknya naik apa dong?

Baca : Ada Apa Dengan Pantai Baron?

Ternyata Muncul Plan D

Waktu terus berjalan, tinggal menghitung hari nih. Masih bingung belum menentukan pilihan mau pesan tiket apa. Sebelumnya, saya sudah mengontak satu saudara sepupu di Cileungsi barangkali waktunya longgar, saya sekeluarga bisa mampir dan singgah di rumahnya jika urusan sudah kelar. Dia merespon dengan sangat baik dan bersiap akan menjemput di bandara ataupun stasiun atau dimana saja yang dekat daerahnya supaya saya bisa sampai rumahnya. Ok, siap..

Lalu, tak lama berselang, ada pesan via WhatsApp dari mama saudara sepupu yaitu tante saya yang tinggal di Jabong dekat Bandung. Beliau mendengar kalau saya dan keluarga akan ke Jakarta.

Maka muncullah opsi,”Mba Yuli naik kereta api ke Bandung aja, nanti dijemput di stasiun. Nanti siangnya diantarkan ke rumah Nurul (saudara sepupu).”

Hm..saya berembug dengan suami bagaimana sebaiknya dengan masukan seperti ini. Ternyata suami bersedia, dan langsung saya menjawab iya. Segera saya pesan tiket kereta api secara online di tiket.com untuk keberangkatan hari Jumat malam, kereta Lodaya malam bisnis harga 215 ribu. Saat saya pesan , tiket yang eksekutif seharga 285 ribu sudah habis. 🙁 Tentunya lebih nyaman dengan kursi eksekutif ya, apalagi selisih harganya tidak terlalu jauh dengan yang bisnis. Tapi gimana lagi, sudah habis. Yo wis. Karena si Kecil masih batita, maka tidak kena biaya jadi cuma bayar 3 tiket plus ada diskon 15 ribu. Lumayan yah..

Untuk pulangnya, saya pesan tiket pesawat secara online via Traveloka. Hari senin malam pukul 19.00 dengan maskapai penerbangan Lion Air. Harganya 333 ribu, naik 13 ribu dari harga semula 320 ribu. Tak apa, masih terhitung murah. Nah, karena si Kecil sudah diatas 2 tahun, maka tiket pesawatnya sudah bayar full. Jadi kalikan saja 4 x 333 ribu. Ok, fix. Plan D telah dipilih.

Naik Kereta Api..Tut..Tut..Tut..

Tibalah hari jumat yang dinanti. Berhubung mobil lagi rusak dan masuk bengkel, maka kami memutuskan naik kendaraan umum dimulai dari Gunungkidul. Tadinya, saya  bermaksud akan naik GrabTaxi dari Wonosari, tapi ternyata belum ada driver-nya. Ya sudah..

Sekitar jam 15.15, kami diantar naik motor sama karyawan toko kami sampai terminal Wonosari. Iya, kami naik bus jurusan Jogja sampai terminal Jogja. Ongkos bus Wonosari – Jogja 10 ribu/orang. Kami membayar 3 karena si kecil belum kena ongkos. Bus berangkat pukul 15.30. Karena bus berjalan pelan bin lambat, kami sampai terminal Jogja pukul 17.30. Dua jam-an, bo..Biasanya cukup satu jam-an lewat dikit. Hm..

Sampai di terminal Giwangan Jogja, kami langsung menuju halte bus TransJogja. Dengan tiga ribu lima ratus rupiah per orang, kami bisa keliling Jogja dan sampai stasiun Tugu Yogakarta pukul 18.30. Masih cukup waktu untuk makan malam dulu karena kereta api berangkat jam 20.00. Jadilah, kami membeli makan dibungkus untuk dimakan di stasiun saja.

Sampai di stasiun, saya takjub karena check in-nya cukup menempelkan kode barcode yang tertera di bukti booking tiket online, lalu ngeprint sendiri tiketnya. Asyiikkk..

Stasiun Tugu juga terlihat bersih dan nyaman. Berbeda dengan tampilan stasiun beberapa tahun yang lalu. Kamar mandinya juga bersih, banyak petugas kebersihan yang siap siaga membersihkan setiap waktu. Tak ada lagi tuh bau pesing dari kamar mandi di Stasiun seperti tahun-tahun yang lalu.

Kereta api Lodaya malam pun datang dari Solo Balapan tepat jam 20.00 dan sepuluh menit kemudian berangkat. Tak ada delay yang cukup berarti. Kalau, dulu kereta datang dua jam kemudian dari jadwal itu biasa, sekarang tak ada kata telat lagi. Wis, jempol deh pokoknya.

Ngecek GPS, ya Dek..Dah sampai mana nih? 🙂

Anak-anak sangat senang dan menikmati naik kereta api. Sampai stasiun Bandung pukul 04.15, sesuai jadwal perkiraan sampai. Hebat ya.

Yang jemput pun sudah stand by, berangkat pukul 03.00 dini hari dari Jabong, Subang katanya. Lebih baik menunggu dari pada telat jemput, begitu quote dari Tante saya. Luar biasa ya.. Salut!

Perjalanan dari stasiun Bandung ke rumah tante saya di Jabong, Subang ternyata cukup 30 menit saja. Dekat ternyata. Jadi daerah Jabong ini ada di tengah-tengah antara kota Bandung dan Subang. Mau ke mana-mana lumayan dekat. Enak, ya.

Baca : Mendadak Di Waduk Sermo

Yuk, Berendam Di Air Panas

Ternyata oh ternyata, rumah Tante saya dekat dengan lokasi wisata Sari Ater, tempat pemandian air panas. Cukup 5 Km saja jaraknya. Kebetulan! Langsung deh kami cuzz kesana. Wuih, ternyata lumayan rame lho. Ah, iya, ini kan weekend, hari Sabtu. Horree..

Yeay..!! 🙂

Sari Ater ini ternyata juga lumayan dekat dengan lokasi wisata Tangkuban Perahu. Sepertinya sih, air panas yang mengalir ini sumbernya juga dari kawah Pegunungan Tangkuban Perahu itu. Ih, beneran panas lho airnya. Mengandung belerang juga. Cocok buat yang kulitnya bermasalah dan gatal-gatal karena alergi. Di sekitar pemandian banyak orang yang menawarkan jasa pijat. Mereka berseragam hitam-hitam. Banyak penawaran terapi pijat untuk berbagai macam penyakit. Kebanyakan bapak-bapak sih pemijatnya.

Enaknya berendam air panas.. 🙂

Harga Tiket Masuk Lokasi Sari Ater ini 35 ribu per orang. Ada tambahan biaya fasilitas kartu untuk masuk seharga 15 ribu, yang akan dikembalikan uangnya saat akan pulang dan kartu dikembalikan.

Jadi ya, selain pemandian air panas, disini ada banyak wahana untuk anak-anak seperti trampoline, flying fox dan lain sebagainya. Karena waktu yang terbatas, kami tidak mencoba wahana itu. Saya dan suami cukup berendam kaki, sedangkan si Sulung mandi air panas di pancuran dan si Kecil tidur 🙂

Apa? Ke Jonggol?

Selesai makan siang, kami segera berangkat menuju daerah Cileungsi, Bogor. Ssstt..ternyata Cileungsi ini dekat daerah Jonggol lho, yang ngehits oleh Wakwau ituh. Perjalanan ditempuh selama 4 jam. Maklum lah, macet di daerah Cikarang. Padahal sebelumnya sih bablas lancar jaya lewat jalan Tol.

Sampai di rumah sepupu, ternyata sudah disiapkan menu masakan beraneka rupa ala Barat gitu. Apa ya namanya, Golden Blue sama Fetucini atau apa atuhlah, sampai lupa namanya saking enaknya. Semacam ayam yang dimasak di open pakai aluminium oil, terus dikasih keju..trus..wis,  pokoke lidah saya sampai terkaget-kaget saking enaknya. Memang, suami Nurul ini jago banget masaknya. Enak, yah..punya suami pinter masak ala chef.

Trus, di rumah Nurul ada Electone nya lho, ada ruangan khusus dengan lampu warna-warna ala ruang karaoke keluarga gitu. Yang main organ tunggal ya suaminya itu. Multitalenta yah..Wis, bawaannya mau pegang mike nyanyi ajah. Dari lagunya Dian Pisesha sampai Didi Kempot. Gayeennggg…

Di rumah Nurul kami nginep semalam. Trus paginya selesai sarapan, segera kami menuju kota Tangerang. Konon, di kota itu kami sudah dibookingin hotel sama yang Nikah. Thank, You, Bro!

Baca : Mau Pintar? Ke Taman Pintar, Yuk!

Let’s go To Tangerang

Kami diantar sama Tante sampai Cibubur Junction, karena Tante mau sekalian bertolak ke Bogor. Sampai di sini, saya dan si kecil segera ke toilet mall untuk numpang pipis. Lha, daripada ngompol, ya kan. Secara si kecil sudah tidak pakai diapers sejak usia 2 tahun. Pernah sih kemarin saya coba pakaikan celana popok yang ada plastik anti airnya waktu ke Balikpapan tempo lalu, khusus cuma waktu perjalanan saja supaya kalau ngompol bajunya nggak basah. Lha  kok kulitnya malah iritasi. Kasihan. Ya sudah, kali ini saya tidak pakaikan popok apapun dengan catatan sudah saya wanti-wanti kalau mau pipis harus bilang jangan langsung ngompol diam-diam.

Selesai acara ke toilet, kami menuju ke area pemberhentian bus TransJakarta di seberang mall. Cuma plang gambar bus berhenti, tanpa bangunan halte dan no petugas. Lha terus? Daftarnya dimana. Saya sempat protes ke suami sepertinya ini salah, tapi suami berkeras katanya ada petugasnya. Lha endi? Yo wis, saya mengalah. Maklum, referensi suami dari Google maps yang sepertinya akurat.

Kita nyethuk disitu. Berdiri, karena memang tak ada tempat duduk. Di pinggir jalan, banyak taksi reguler berkeliaran disitu. Suami sudah coba pakai aplikasi GrabTaxi, tapi tak ada driver yang menyahut. Ya sudah, kami menunggu bus TransJakarta lewat sambil saya menggendong si kecil dalam posisi berdiri dengan barang bawaan satu kopor, satu tas ukuran sedang dan satu ransel anak.

Semenit..dua menit..sampai berpuluh menit bus Trans yang kami nanti tak kunjung jua. Tepat di menit ke-30 muncul seorang ibu energik yang langsung bertanya.

Mau ke UKI? Yuk, patungan taksi saja. Daripada disini lumutan nunggu bus nggak datang-datang..”

Saya segera kode suami untuk naik taksi saja. Si Ibu menawar taksi. Taksi pertama bilang harga 60 ribu sampai ke UKI. Taksi kedua 50 ribu. Masih ditawar 40 ribu sama si Ibu, tapi tidak mau supir taksinya. Akhirnya deal deh di harga 50 ribu dengan catatan yang bayar tol penumpag. Akhirnya Si Ibu setuju bayar tol, dan kami membayar sisanya 30 ribu. Lumayanlah, daripada lumutan hehehe..

Sampai di UKI baru deh ada halte TransJakartanya. Gedhe lho..Kami menuju kesana naik jembatan penyeberangan. Ternyata bayar bus Trans-nya tidak cash seperti saat naik bus TransJogja. Pakai kartu Flazz BCA. Kami beli seharga 40 ribu, sudah ada saldo 20 ribu. Lalu dikurangi 10 ribu lima ratus untuk ongkos naik bus TransJakarta sampai Tangerang. Murah bingits kan..

Jadilah kami naik bus TransJakarta jurusan Grogol. Si Kecil kok ya tidur dalam gendongan. Begitu masuk bus, yang sudah penuh ada seorang perempuan muda yang memberi saya tempat duduk. Wah, baik sekali. Ternyata memang kursi di depan merupakan kursi prioritas untuk ibu hamil, ibu bawa anak dan para manula. Penumpang laki-laki duduk atau berdiri di belakang kursi prioritas. Di dalam bus TransJakarta yang ber-AC ini ada tulisan dilarang makan dan minum, dilarang merokok dan dilarang pacaran/bermesraan di depan umum karena ada gambar cowok dan cewek gandengan yang disilang. Hm..sangat memprioritaskan kenyamanan ya.

Adek tidur mulu.. 🙂

Kami turun di halte Grogol kemudian lanjut ke halte BSD Tangerang. Cukup lama kami menunggu bus jurusan BSD yang datang. Begitu datang, bus langsung penuh. Lagi-lagi ada perempuan baik hati yang memberi saya dan si kecil yang masih tidur dalam gendongan tempat duduknya. So nice..Terima kasih, ya Mbak! 🙂

Perjalanan dari Grogol sampai BSD Tangerang ini sekitar satu jam. Kami cukup kelaparan karena ternyata kami belum sempat makan siang. Oper dari satu bus ke bus TransJakarta berikutnya. Si Kakak sudah mulai ngomel kelaparan. Untung si Kecil tetap tertidur jadi tidak rewel kalau lapar.

Kami turun di BSD Plaza. Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30. Begitu turun,  ada warung bakso. Langsung deh kami masuk ke situ. Beruntung,baksonya enak! Langsung deh kami makan dengan lahap ala orang kelaparan. Si kecil mulai bangun dan mau makan dengan lahap pula. Wah, benar-benar petualangan naik kendaraan umum, ya Nak!

Baksonya banyak. Ada bakso urat yang besar, dan bakso bulat ukuran sedang empat biji. Lengkap dengan mi dan tauge. Bakso enak ini dibandrol dengan harga 16 ribu per porsi. Worth it untuk mengobati rasa lapar kami. Beneran kenyang dan puas lho!

Selesai makan, suami langsung mengaktifkan aplikasi GrabTaxi. Beruntung dapat driver sekitar 10 menit lagi. Harganya cukup murah. Lima belas ribu saja ongkos taksi sampai ke hotel tempat kami menginap di Sapphire Sky. Memang jaraknya cukup dekat sih, tapi karena rute jalannya arus memutar jadi ya sepertinya agak jauh.

Leyeh-Leyeh Di Hotel

Kami check in hotel Sapphire Sky jam 17.30. Hotel bintang tiga ini cukup lengkap dengan fasilitas Wifi, kolam renang dan breakfast seharga 431 ribu. Itu harga promo yang biasanya  lebih dari itu. Kok saya tahu harganya? Kan dibayarin? Hehe..saya mengintip harganya saat check in.

Shower kamar mandi

Sampai di kamar, ada banyak fasilitas yang kami dapatkan khas hotel. Ada AC, TV, bed besar, Air mineral, Alat pemanas air satu set dengan cangkir, kopi, teh, creamer dan gula dalam kemasan kecil. Ada lemari dengan gantungan baju. Lalu ada brankas untuk safe deposit box. Ada juga kulkas kecil.

Adek akrobat ya.. 🙂

Masuk kamar mandi, seperti biasa ada shower dengan air panas dan dingin. Tersedia handuk putih ukuran besar 2, handuk cuci tangan 2, keset 2, tempat sampah, sabun cair dan shampoo yang diletakkan di bawah shower. Di dekat wastafel dan kaca, tersedia hair dryer. Lalu ada sikat gigi dengan pasta giginya, shower cap dan sabun cuci tangan. Cukup lengkap.

Alat ini membantu rambut saya menjadi sedikit lebih rapi 🙂

Menuju Central Restaurant

Jam 19 kurang 20 menit, kami berangkat ke tempat hajat dengan GrabTaxi. Kali ini biayanya 18 ribu. Sopirnya pendiam. Beda dengan sopir Grab tadi siang yang cukup komunikatif. Tapi ya nggak papa, yang penting sampai.

Sampai di tempat, sang pengantin sudah akan masuk memulai acara. Kami masuk di belakang pengantin. Hehe..agak telat. Kami duduk di meja nomor satu. Iya, konsepnya pesta di meja gitu. Satu meja 10 orang. Karena ada yang tidak datang, meja kami hanya ber-8 orang.

Makanan yang disajikan cukup beragam. Mulai dari sup asparagus, nasi goreng, udang, ikan, ayam semuanya ada. Perut sampai nggak cukup.

Abaikan tangan yang menutupi 🙂

Setelah memberi ucapan selamat dan berfoto kepada mempelai, kami kembali ke hotel naik GrabTaxi lagi. Kali ini biayanya 23 ribu. Lebih mahal karena jalan pulangnya lebih jauh, beda  rute dengan saat berangkat.

Sampai di hotel, kami istirahat setelah seharian capek membolang. Senang akhirnya tujuan utama telah berjalan lancar sesuai dengan rencana. Semua terasa dimudahkan.

Pagi harinya, suami dan kakak berenang. Saya dan si kecil di hotel saja. Tahu, nggak..semalam si Kecil mengompol. OMG. Untung nginepnya cuma sehari, Dek..

Kami breakfast bareng dengan teman yang menikah. O,ya belum tahu ya kalau pengantin satu hotel sama kami. Sebelumnya, kami sempat di booking-kan hotel di Sol Marina, beda dengan tempat teman menginap. Ternyata kemudian di cancel yang di Sol Marina trus dipindah ke Sapphire Sky ini. Lha malah kebetulan, kan bisa ngobrol sama mempelai.

Jam dua belas, kami dan pengantin check out. Lalu menuju rumah teman di daerah Karawaci. Karena mobil pengantin penuh dengan barang, maka kami pesan GrabTaxi lagi. Kali ini biayanya 46 ribu. Lumayan jauh, kok ya..

Sampai di rumah teman yang buka usaha rumah makan ini kami istirahat. Selain usaha rumah makan, ternyata teman kami ini juragan kos-kosan. Rumahnya tiga lantai. Lantai satu untuk rumah makan, lantai dua untuk kos-kosan dan lantai tiga untuk tempat tinggal teman kami. Rumahnya bagus. Mirip hotel juga.

Kami makan siang disini. Dimasakkan sama karyawan rumah makan teman kami. Ada onion ring, fuyung hay, kwi tie yaw dan ayam tepung. Rasanya enak.

Pulang Ke Kotaku, Jogja

Jam 15.00 kami menuju ke bandara Cengkareng diantar sang pengantin. Kurang lebih satu jam kami sampai bandara terminal 1A. Saya antri check in, lalu mendapat tiket dan mengurus bagasi.

Boarding pass kami jam 18.30, jadi masih ada waktu untuk makan malam. Kami beli makanan ayam goreng cepat saji dibungkus. Lalu menunggu di ruang tunggu gate A6. Bersyukur Lion Air tidak ada delay. Pesawat kami tepat waktu berangkat jam 19.00. Ada sedikit drama ketika si kecil tidak mau memakai sabuk pengaman dan minta saya pangku. Duh..untung Mbak Pramugari bisa membujuk hingga si kecil mau duduk sendiri. Kan sudah di atas dua setengah tahun. 🙂

Di tengah perjalanan, sempat mengalami cuaca agak buruk sehingga peringatan memakai sabuk pengaman didengungkan beberapa kali. Dan sangat terasa goncangan saat menabrak awan. Wow..saya sampai berdoa penuh harap supaya semuanya baik-baik saja.

Sayonara..

Puji Tuhan, kami mendarat di bandara Adisutjipto sesuai jadwal pukul 20.15 WIB. Pulangnya, kami mencoba pesan GrabTaxi lagi. Barangkali ada yang mau mengantar sampai Gunungkidul. Ajaib, ada driver yang menanggapi. Harga yang tertera di aplikasi 140 ribu. Cukup murah jika harus rental mobil atau pakai taksi regular.

Akhirnya pulanglah kami ke Gunungkidul dengan selamat. Sayangnya, si Kecil muntah di tengah perjalanan. Ups, maaf ya pak Sopir. Mungkin karena kecapekan. Padahal kemarin-kemarin si Kecil baik-baik aja tuh. 🙂

Ongkos taksi Jogja – Wonosari pakai aplikasi Grab

Nah, ini catatan perjalanan yang seru bagi keluarga kami. Bahagia rasanya bisa memenuhi undangan demi menjalin silaturahmi yang baik dengan saudara dan teman. Ada banyak peristiwa yang tak terduga, mendebarkan dan penuh kejutan. Baik bagi si Kecil untuk menambah pengalaman naik kendaraan umum dari ojek, busway, grabtaxi, kereta api sampai pesawat.

Happy Traveling! 🙂

Tips Berlibur Ke Pantai Tanpa Demam

tempra

Liburan bagi keluarga kami itu penting. Kenapa? Karena ibarat mesin yang sering dipakai bisa aus dan rusak jika tidak dirawat, demikian halnya dengan tubuh kita. Setelah lelah jiwa raga untuk bekerja mencari nafkah, tubuh menuntut haknya untuk rehat sejenak. Lepas dari segala kesibukan untuk mencapai keseimbangaan. Refreshing tujuannya. Sudah layak dan sepantasnya jika tubuh bekerja keras,  maka perlu mendapatkan reward.

Keluarga kami tidak punya jadwal khusus kapan sebaiknya liburan. Biasanya sih spontanitas lebih sering terjadi daripada dengan rencana jauh-jauh hari. Maklum, keluarga kami tinggal di daerah pegunungan yang banyak terdapat pantainya. Setiap hari raya, sudah dipastikan banyak mobil plat luar kota yang memenuhi jalan dan membuat macet di daerah kami.

Bisa dikatakan liburan yang terjadi di keluarga kami adalah dalam rangka mengantar saudara dari luar kota yang datang mengunjungi tempat tinggal kami. Jadi sifatnya temporer dan random. Jangan heran jika minggu ini kami pergi ke pantai bersama keluarga, minggu depannya bisa ke pantai lagi karena pas ada saudara yang mengajak liburan ke pantai. Sebagai tuan rumah yang baik tentu dengan senang hati akan mengantar tamu kemana saja.

Nah, seminggu yang lalu ada saudara dari ibukota datang berkunjung ke tempat kami. As usual, kami mengantar request saudara untuk menikmati keindahan pantai. Si kecil selalu senang dan takjub melihat keindahan pantai. Tak ketinggalan sang kakak langsung nyemplung berenang sesampainya di pantai. 🙂

Kondisi cuaca yang tidak menentu saat ini membuat kesehatan keluarga terutama anak menjadi ikut-ikutan tidak stabil. Bisa dibayangkan jika punya anak kecil yang rentan sakit, maka wisata dadakan ini bisa terancam batal jika salah satu dari anggota keluarga kami sakit.

Syukurlah, kondisi kesehatan anak-anak kami waktu liburan kemarin cukup fit. Bahkan si kecil ikut bermain air di pinggir pantai. Lalu ikut jalan kaki yang lumayan jaraknya untuk mencari view yang bagus dari ketinggian pantai. Sejauh tak ada keluhan dari si Kecil yang cukup berarti, saya dan suami menganggap semua menyambut dengan cerah ceria dan riang gembira dan baik-baik saja.

Si Kecil bermain pasir di pesisir :)
Si Kecil bermain pasir di pesisir 🙂

Repot nggak sih, liburan bersama balita di alam terbuka seperti pantai ini? Ya, repot kalau mikirnya bukan untuk piknik. Tapi kan tujuannya memang untuk senang-senang ya dinikmati saja. Karena si Kecil pun butuh hiburan, ekplorasi lingkungan  baru yang tidak melulu di sekitar rumah saja.

Di pantai, si Kecil bisa bermain membuat istana pasir putih bersama kakaknya. Kan bagus untuk perkembangan motoriknya. Si Kecil juga bisa belajar mengenal tekstur bahwa pasir ini lebih lembut bila dibandingkan dengan kerikil atau batu.

img_20150625_141446
Anak lanang bermain pasir di pantai

Nah, perlengkapan apa saja sih yang perlu dibawa supaya anak menikmati liburan di pantai?

Kalau saya, perlu memastikan untuk membawa barang-barang yang ada di list ini saat liburan ke pantai :

  1. Mainan seperti sendok, serok, cetakan
  2. Baju ganti
  3. Handuk dan perlengkapan mandi
  4. Makanan
  5. Perlengkapan P3K termasuk Tempra
  6. Kamera
  7. Kantong plastik untuk baju basah dan tempat sampah

Anak-anak senang sekali bermain di pantai. Namun sayang sekali, beberapa hari setelah liburan ke pantai, si kecil sakit panas. Mungkin kecapekan. Pada saat seperti ini, saya tidak boleh panik. Demam atau sakit panas adalah gejala awal terjadinya infeksi di dalam tubuh. Ada berbagai macam penyebab panas dalam tubuh anak.

Baca : Saat Anak Demam

Berikut beberapa hal yang saya lakukan saat anak sakit panas :

  • Kenali jenis panas apakah karena kecapekan, virus atau gejala penyakit tertentu
  • Ukur suhu tubuh secara berkala
  • Jika suhu masih dibawah 38°C belum perlu minum obat penurun panas
  • Saat suhu diatas 38°C segera beri obat penurun panas seperti Tempra
  • Jika masih demam selama 2 hari, segera periksa ke dokter

Must have item di rumah :

  • Termometer suhu tubuh
  • Obat penurun panas (Tempra)

Warning :

  • Jangan sampai terlambat memberi obat penurun panas sampai suhu sudah diambang batas >37°C
  • Jangan sampai anak mengalami kejang karena suhu yang tinggi
  • Jika rencana dibawa ke RS, pastikan sudah ada pertolongan pertama di rumah dengan memberinya obat penurun panas jika suhu tubuh sudah di atas ambang batas

Pernah ada cerita kejadian, anak sakit panas tinggi namun tidak diberi obat penurun panas. Suhu sudah di atas 38°C, namun orang tuanya berpikir karena nanti mau dibawa ke RS, maka tidak perlu diberi obat sendiri. Ternyata belum sampai rumah sakit anak langsung kejang, dan terlambat untuk disembuhkan. Hati-hati jika kejang tidak segera  ditangani, bisa menyerang syaraf bahkan bisa menyebabkan kelumpuhan. Jadi penting bagi orang tua untuk memberi tindakan preventif pada anak saat demam sebelum dibawa ke RS.

Obat penurun panas biasanya mengandung Paracetamol.  Paracetamol bekerja sebagai antipiretika pada pusat pengaturan suhu di otak dan analgetika dengan meningkatkan ambang rasa sakit. Selama ini, anak saya cocok menggunakan obat penurun panas  Tempra. Tempra cepat menurunkan demam. Tempra aman dikonsumsi, tidak menimbulkan iritasi lambung dan telah direkomendasi secara turun temurun. Jangan biarkan demam mengganggu liburan keluarga.

Terima kasih Tempra, anak saya sehat kembali dari demam. 🙂

www.juliastrisn.com
Terima kasih Tempra 🙂

“Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho.”