Cerita Tentang Pengalaman Mendapat Beasiswa Dari SD Sampai Perguruan Tinggi

Beasiswa. Siapa yang tak ingin mendapatkannya? ย Selain prestise dianggap cerdas, beasiswa membantu urusan kelancaran study. Kebetulan sekali saya mendapat anugerah beasiswa dari SD sampai waktu kuliah. Pemberi beasiswa beda-beda. Ada yang diajukan pihak sekolah dan ada pula yang mengajukan sendiri. Syaratnya? Mempunyai prestasi akademik dan orang tua tergolong kurang mampu.

Yup, keluarga saya adalah keluarga yang sangat bersahaja. Mendiang Bapak bukanlah pegawai golongan tinggi. Buruh biasa yang harus bekerja keras menghidupi kelima anaknya yang harus makan dan sekolah.

Maka saya sangat bersyukur ketika prestasi saya di sekolah selalu masuk 3 besar dari SD sampai SMA awal. Hal ini menjadi modal utama untuk bisa mendapatkan beasiswa.

Waktu saya SD ada dua beasiswa yang saya dapatkan. Beasiswa pertama dari yayasan Reksa Putra dan beasiswa kedua dari perusahaan BATN.

Beasiswa ini memberi subsidi untuk uang sekolah seperti SPP dan sisanya untuk uang buku. Sangat membantu kegiatan belajar di sekolah.

Saat di SMP, meskipun saya masuk 3 besar dan menyandang gelar juara umum, ternyata tidak ada beasiswa di sekolah. Tapi, saya masih di supply dari Reksa Putra. Yang dari BATN hanya satu tahun. Sebenarnya, yayasan Reksa Putra hanya memberi beasiswa untuk siswa SD. Namun, karena melihat nilai akademik saya yang stabil dan tidak sampai hati dengan kondisi keluarga kami, salah satu karyawan Reksa Putra tetap memberikan beasiswa kepada saya dan teman saya dengan uang pribadi sampai saya lulus SMP. Bukan dari Yayasan. Namanya pak Eli. Baik sekali yah!ย So lucky me..

Saat saya masuk SMA, kelas dua dan tiga saya mendapatkan beasiswa yang diajukan oleh pihak sekolah dari Depdikbud. Saya ingat, nominal saat itu 30 ribu per bulan yang dibayarkan setiap 6 bulan sekali. Bagi saya, mendapat sejumlah uang di tahun 1994 dan 1995 adalah hal yang sangat patut disyukuri. Karena SPP saat itu 6 ribu, maka sisa uang beasiswa ini bisa saya tabung.

Beasiswa Saat di Perguruan Tinggi

Saya ingat, tahun 1996 bisa masuk UGM dengan jalur UMPTN adalah kebanggaan dan prestasi bagi saya. Saat SMA, saya tidak mampu ikut les ini itu karena masalah biaya.

Maka saya belajar soal-soal Sipenmaru dari tahun-tahun sebelumnya, pinjaman dari tetangga yang sudah berhasil masuk UGM.

Uang masuk UGM saat itu sebesar 400 ribu, digunakan untuk biaya pendaftaran, jaket almamater dan lain-lainnya. Uang SPP sebesar 250 ribu per semester. Bandingkan dengan biaya kuliah di kampus serupa sekarang. Uwow kan..

Karena saya kuliah di fakultas Biologi, maka keperluan lain yang harus dipenuhi adalah buku-buku dan uang untuk praktikum. Jumlahnya lumayan banyak. Maka saya tidak bisa hanya mengandalkan biaya dari orangtua atau dari kakak-kakak saya yang sudah bekerja. Tentu mereka juga mempunyai kebutuhannya sendiri. Maka saya pun berburu beasiswa untuk meringankan beban semuanya.

Awal kuliah, IPK saya berada di taraf sedang-sedang saja. Hanya memuaskan. Bukan sangat memuaskan atau cumlaude. Beberapa beasiswa di kampus mensyaratkan nilai IPK di atas 2,5. Saya sedih, nilai IPK saya masih di bawah itu. Hiks. Ini akibat jurusan kuliah saya tidak sesuai passion. Jujur, fakultas Biologi adalah pilihan kedua saya. Pilihan pertama adalah Farmasi, namun score UMPTN saya tidak cukup untuk bisa masuk fakultas idaman. Maka, saya harus legowo ketika bisa masuk ke fakultas pilihan kedua.

Baca : Senioritas : Boleh Memukul Yunior?

Ibarat maju kena mundur kena, saya menjalani kuliah dengan setengah hati. Ditambah, fakultas Biologi ini jam terbang praktikumnya sangat tinggi. Kapan ada waktu untuk bermain dan ikut kegiatan UKM di gelanggang atau di fakultas sendiri? Waktu habis terkuras untuk praktikum. Inilah alasan kenapa nilai IPK saya di semester awal hanya memuaskan saudara-saudara. *malah pidato* *siapa yang tanya* ๐Ÿ™‚

Nilai IPK saya yang mefet, menjadi penghambat ย untuk berburu beasiswa. Namun seiring berjalannya waktu, tak disangka tak dinyana, ada beasiswa yang mensyaratkan hanya dengan IPK minimal 2,00 saja. Apa itu? Ternyata bukan sembarang beasiswa. Namanya BKM, singkatan dari Beasiswa Kerja Mahasiswa. Jadi, mahasiswa ย yang ber-IPK minimal 2,00 bisa mengajukan diri untuk mendapatkan beasiswa BKM untuk mendapatkan uang senilai 60 ribu rupiah per bulan. Nilai yang sangat berarti bagi saya. Namun, ada syaratnya nih. Para penerima beasiswa harus mau bekerja di perpustakaan atau laboratorium kampus setempat.

Waktu bekerjanya sih fleksible, bisa dilakukan di sela-sela waktu kosong kuliah. Boleh berapa jam sehari. Mau satu jam, atau dua jam asalkan syarat minimal jam per bulan bisa mencapai 36 jam (kalau tidak salah, lupa-lupa ingat, sudah 20 tahun yang lalu soalnya).

Maka saya pun memilih bekerja di perpustakaan. Ternyata, bekerja di perpustakaan sangat mengasyikkan. Selain bisa sambil baca buku, saya bisa membantu pekerjaan para pustakawan sekaligus belajar. Yup, saya jadi belajar melabeli, entry data buku, dan melayani para mahasiswa yang meminjam atau mengembalikan buku. Saya jadi tahu data teman-teman saya yang molor mengembalikan buku sampai kena denda. Hehehe..

Karena keasyikan, saya bisa bekerja di perpustakaan berjam-jam. Ya maklum, biasanya kan ada jeda waktu antara kuliah dan praktikum. Maka saya memanfaatkan waktu kosong menunggu praktikum di siang hari ย di perpustakaan daripada saya harus pulang ke rumah dulu yang cukup jauh jaraknya dari kampus. Serba nanggung sih, misalnya ada kuliah pagi jam 7.00-9.00. Lalu tak ada jadwal kuliah lagi, tapi ada praktikum jam 13.00. Maka, waktu 4 jam cukup nanggung jika saya pulang. Untuk perjalanan saja waktu sudah habis di jalan.

Baca : Yuk, Lindungi Anak Dari Pornografi

Bayangkan saja. Rumah saya di daerah Babarsari. Saya biasa naik dan pulang dari kampus dengan bis kota jalur 10. Jalur 10 itu sangat jarang lewat karena tergolong bus yang rutenya paling jauh. Rutenya dari Kledokan tempat saya naik, lalu lewat Babarsari, terus ke timur melewati Maguwo, ring road utara, lalu jalan Kaliurang, baru masuk daerah kampus Biologi deh. Waktu perjalanan bisa hampir satu jam belum termasuk waktu menunggu busnya.

Makanya, kalau ada kuliah jam 7.00, saya harus stand ย by menunggu bus paling telat jam 06.00. Itupun kalau beruntung langsung dapat bus, maka jam 07.00 tepat bisa sampai kampus. Namun begitu saya telat sedikit, ditambah bus yang ditunggu lama, lalu ternyata penuh, maka saya harus merelakan diri untuk bergelantungan di pintu bus sampai akhirnya banyak yang turun di kampus UPN atau Atmajaya Babarsari, baru deh saya bisa bernafas lega ketika ada tempat duduk yang kosong.

Kalau ternyata busnya masih penuh dengan penumpang, ya saya tetap berdiri. Maka, capek saya akan berlipat ganda ketika sampai di kampus pun kuliah sudah dimulai dan saya telat. Kalau pas dosennya baik sih, no problem tetap masuk meskipun telat. Kalau pas jadwal kuliah dengan dosen killer, maka saya akan mlipir, nggak jadi masuk kelas karena percuma juga, pasti saya akan diusir keluar karena telat. Boro-boro bisa titip tanda tangan, lha wong di absen satu-satu kayak jaman SD. Gawat kan!

Nah, kembali ke cerita beasiswa di atas. Daripada saya menunggu waktu praktikum dengan pulang ke rumah hanya wasting time di jalan, maka saya menghabiskan waktu dengan bekerja di perpustakaan. Lumayan, kan empat jam itu tidak terasa. Tahu-tahu sudah habis saja waktunya.

Saya mendapat Beasiswa BKM ini selama dua tahun. Dan itu batas maksimalnya. Jadi, jika saya sudah dua tahun mendapat BKM, maka saya tidak bisa memperpanjang lagi. Kesempatan diberikan kepada mahasiswa yang lain.

Maka saya pun harus berburu beasiswa yang lain. Kebetulan, IPK saya mulai mengalami peningkatan. Nggak terlalu banyak sih, tapi sudah naik level menjadi sangat memuakkan..eh..sangat memuaskan. Lumayanlah.

Serba kebetulan, UGM membuka lowongan beasiswa UGM. Syaratnya IPK minimal 2,5. Yess..syarat pertama sudah saya kantongi. Lalu syarat berikutnya adalah menyertakan slip gaji orang tua dan surat keterangan tidak mampu dari RT, RW, Dukuh sampai Kelurahan. Saya memenuhi semua persyaratan itu. ย Termasuk fotocopy surat kematian Bapak saya. Iya, Bapak saya meninggal saat saya semester 3. Maka, saya harus survive mencari beasiswa sekalipun harus menahan perasaan saat mencari surat keterangan tidak mampu. Tapi ini kan kenyataan, kenapa harus malu? Maka saya pun maju pantang mundur.

Puji Tuhan, Tuhan mengabulkan doa saya. Saya lolos mendapatkan beasiswa UGM. Nominalnya lebih besar dari beasiswa sebelumnya. Seratus ribu per bulan. Jumlah yang patut di syukuri. Saya bisa menabung dan memenuhi kebutuhan penting berkaitan dengan kuliah saya. Satu tahun saya mendapatkan beasiswa UGM, kemudian tahun berikutnya saya mengajukan persyaratan lagi untuk diperpanjang. Puji Tuhan, masih bisa diperpanjang. Jadi saya bisa mendapat beasiswa UGM selama 2 tahun.

Namun, karena bulan Agustus 2001 saya sudah dinyatakan lulus meskipun baru akan wisuda bulan November, maka jatah beasiswa saya yang masih 4 bulan tidak bisa diambil. Yup, karena saya sudah lulus. Beasiswa hanya berlaku bagi yang masih status mahasiswa belum lulus. Jadi saya harus merelakan uang empat ratus ribu rupiah yang hangus. Hiks..sedih tapi pasti akan ada rejeki yang lain.

Mengenang saat-saat saya bisa mendapatkan semua beasiswa itu membuat saya bahagia. Ternyata, kalau kita mau berusaha dan berjuang, selalu ada jalan dan rejeki di luar sana. Tuhan maha Baik. Sungguh Maha Baik. Berkat semua beasiswa itu, saya bisa menjadi seorang Sarjana Sains. Dan saya bisa melanjutkan hidup bersama keluarga yang selalu support segala usaha saya. Pernah terbersit untuk mencari beasiswa melanjutkan S2, namun sepertinya masa itu sudah lewat. Karena faktor U. Iya, faktor umur. Karena biasanya kan beasiswa S2 syarat maksimal umur 35 tahun. Dan saya sudah melewati itu.

Nah, cerita saya semoga bisa bermanfaat ya. Teruslah berjuang melanjutkan hidup yang lebih baik. ๐Ÿ™‚

Share

Author: Juliastri Sn

Mom of two. Blogger. Entrepeneur.

24 thoughts on “Cerita Tentang Pengalaman Mendapat Beasiswa Dari SD Sampai Perguruan Tinggi”

  1. Beasiswa itu memang berarti bgt ya mak…aku jg dulu pas kuliah S1 dapat beasiswa. Skrg udah kerja pgn skul S2 tp pengen yg dari dpt beasiswa aja..hahaha…cm kok msh males huntingnya ya

  2. Ya ampun maak…keren banget dari SD sampe kuliah beasiswa teruuus.
    Aku dapet juga 2 kali mak. Waktu SD karena jadi siswa berprestasi dari kantor bapak, dan yang kedua dari indofood pas kuliah, dapetnya satu juta klo gak salah. Dulu aku ngejar lulus 4 tahun soalnya klo enggak keburu bapak pensiun. Mau gak mau kudu selesein kuliah cepet cepet. Makasih maaak…menginspirasiiii

  3. OMG asyique banget mak beasiswa dari SD sampe kuliah. Aku pernah dapet pas kelas 3 SMA itu pun aku pakai buat jajan (saya tau ini salah,,,). Karna dari SD sampe SMA aku nyisih in uang saku sendiri buat bayar SPP, dapat uang tambahan dari babe itu kalo buat bayar buku materi dan LKS. Dan bersyukur banget kuliah biaya dari hasil keringat sendiri.

  4. aku spt beasiswa pas smp dan kuliah alhamdulilah y mba bisa meringankan beban ortu seengaknya ga bikin ortu tercekik dg biaya pendidikan. aku bersyukur masih bisa sekolah tinggi terlebih dpt jg beasiswa.
    kisah mb inspiratif patut ditiru u/ tidak menyerah

  5. Wah keren bgt kerja kerasmu mbak. Ipkku dulu cukup tinggi, tp aku n suami selow bgt, nggak mikir berburu beasiswa. Klo suami sih ipknya jg mefet2, heheee. Skrg aku n suami srg memotivasi anak utk nyari beasiswa meski kami sanggup membiayai krn kami ingin dia jd org yg kompetitif n struggle. Request dong beasiswa apa aja yg ada di ugm, tips n persiapannya. Thank you.
    Note: komen sebelumnya dihapus saja. Blm selesai sdh kepencet. Maaf.

    1. Hai, mak Lusi..karena kuasa Tuhan aku bisa dapet beasiswa.. ๐Ÿ™‚

      Di UGM banyak banget beasiswa, mak..jamanku dulu setiap ada lowongan beasiswa, infonya selalu dipajang di papan pengumuman fakultas. Aku rajin liat tiap hari, kali aja ada yang sesuai syaratnya. Syarat standart sih biasanya IPK minimal. Trus ada keterangan nominal tiap bulannya dapat berapa. Semakin tinggi syarat IPK-nya, semakin besar jumlah nominal beasiswanya. Biasanya lho..

      Jenis beasiswanya ada dari kampus sendiri seperti beasiswa UGM, PPA (Peningkatan Prestasi Akademik), dan lainnya

      Kalau beasiswa yang dari perusahaan-perusahaan juga banyak seperti ASTRA, Sampoerna,BCA, Bank-bank swasta dan lain-lain

      Intinya sih rajin lihat pegumuman di kampus atau di gedung rektorat, karena biasanya ada batas pendaftaran dari tanggal berapa sampai tanggal sekian. Yang penting semua persyaratan masuk, tanggal masukin jangan telat.

      Kalau jaman sekarang mungkin malah bisa via online. Lebih banyak pilihan. Pokonya harus proaktif cari informasi.

      Semoga bermanfaat, mak Lus.. ๐Ÿ™‚

  6. Sekarang beasiswa makin buanyak banget diperguruan tinggi. Dulu bnyak temen yang lebih pinter tp males bgt ngurus2 administrasi beasiswa. Akhirnya bukan hanya modal pintar tp kita mau meluangkan waktu untuk berjuang atau tidak.

    Keren banget dirimu, mak, aku cuma dapet SD dan kuliah itu aja udah buangga bgt wkwkwkwkw

  7. keren banget mbak dari SD sampai kuliah dapet beasiswa, dari 6 bersaudara di rumah yg pernah nyicipin beasiswa itu 2 adikku yg sekarang udah lulus kuliah … yg satu beasiswa sedari awal masuk fakultas hukum univ indonesia dan dapat uang juga, yg satu lagi beasiswa dari fakultas ilmu budaya univ indonesia di pertengahan semester dan dapat uang juga … biarpun aku gak pernah dapet beasiswa tapi aku bahagia liat 2 adikku pinter2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *